Abah, Ya, seingat saya juga di Jawa Barat wilayah Sukabumilah yang paling sering diguncang gempa. Saya pikir, ke selatan ke wilayah zone penunjaman sekarang yang letaknya 300 km di selatan garis pantai Jabar, ada satu barier yang kuat buat meredam gelombang gempa kalau ada episentrum laut di selatan Jabar. Barrier itu adalah Plato Jampang yang berisi batuan Paleogen, bahkan belakangan dicurigai keraknya kontinen berdasarkan pemodelan gayaberat regional (komunikasi dengan Eko Widianto, 2005; lihat juga Widianto, 2004 PIT IAGI Bandung). Pantai selatan Jabar tak membentuk indentasi seperti pantai selatan Jateng, mestinya ia lebih aman. Pantai selatan Jateng bisa dibilang tanpa barrier ke selatan.
Hanya, dari mana masuknya guncangan2 yang menggoyang Sukabumi selama ini. Justru itulah dia : Sesar Cimandiri ! Inilah jalan masuk gelombang gempa menuju Sukabumi. Seperti sesar Opak di Yogya selatan, sesar Cimandiri bermula sebagai sesar normal yang membatasi plato Jampang di utara dan masuk ke depresi Bogor di utaranya. Bermula sebagai normal fault, tetapi ia telah berkali-kali teraktifkan ulang sebagai sinistral fault gara-gara dibangkitkan Sesar Pelabuhan Ratu dan Sesar Ujung Kulon ke sebelah barat. Di wilayah Selat Sunda berkumpul sesar2 mendatar besar. Sesar Sumatra menyodok dari Teluk Semangko masuk ke selat Sunda sampai di barat Krakatau. Lalu, dextral fault besar ini relay off-stepping (estafet dalam wrench tectonism biasa seperti itu) ke selatan, menyambung dan menjadi sesar Ujung Kulon. Akibat relay off-stepping dextral slip ini maka terbukalah Selat Sunda menjadi pull-apart basin. Inilah sesar2 utama : Sumatra-Ujung Kulon (dextral). Dan, sesar mendatar tak akan berdiri sendiri, ia punya antitetik yang sinistral yang arahnya hampir tegak lurus terhadap master fault. Nah, terbentuklah Sesar Pelabuhan Ratu yang sinistral dan menggeser sedikit (mengidentasi) Teluk Pelabuhan Ratu sedikit ke arah darat. Makin ke darat, estafet deformasi diteruskan oleh Sesar Cimandiri, reactivated sinistral fault. Dan, seperti sungai Opak, sungai Cimandiri pun terbentuk di atasnya : zone lemah sih. Maka, kalau ada episentrum di selatan Selat Sunda dan di di barat Pelabuhan Ratu, maka gelombang jelas bisa menjalar via Pelabuhan ratu Fault, via Cimandiri Fault, dan menggoyang wilayah sebelah-menyebelah Sesar Cimandiri : Pelabuhan Ratu, Jampang Tengah, Sukabumi, Cibadak dan sekitarnya. Gempa di Cianjur Selatan apakah akan mempengaruhi Bandung. Harus dilihat dulu di mana episentrumnya, apakah ada sesar penghubung antara episentrum-Bandung, dan litologi apa yang melandasi sepanjang jalan penghubung itu. Kalau episentrum di laut selatan Cinajur, kecil kemungkinan berpengaruh ke Bandung karena ada barrier yang bagus : Plato Jampang. Kalau episentrum di daratan dekat Bandung, biasanya itu gempa dalam sebab Benioff zone sudah menukukik >200 km di bawah Bandung, efeknya akan kecil. Reaktivasi sesar Lembang bisa saja, kalau ada episentrum di dekatnya dan sesar Lembang teraktifkan ulang sebagai strike-slip fault. Tapi, lagi2 itu akan gempa dalam. Suatu simulasi akan bagus sekali sebab kemungkinan tsunami pun harus disimulasi. Semoga kelak eksperimen seperti sand-box modelling bisa juga dipakai untuk simulasi gempa, di mana episentrum, di mana relay faults, dan sebagainya. Salam, awang -----Original Message----- From: [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED] Sent: Tuesday, May 30, 2006 8:47 AM To: [email protected] Subject: RE: [iagi-net-l] Mengapa pengamatan kita terlepas ? > Awang dan rekan rekan Saya jadi berfikir , kalau kita lihat kebelakang betapa seringnya daerah selatan Sukabumi , Cibadak diserang gempa ,walaupun korban-nya tidak sebesar gempa 27 Mei yl. Seingat saya ada patahan aktif disitu yi Patahan Cimandiri, apakah ada kesamaan dengan apa yang terjadi kemarin ? Saya tidak tahu epicentrum gempa Sukabumi waktu itu dimana ? Melihat intensitas gempa dapat menjalar agak jauh keutara , bagaimana pengaruhnya JIKA ada gempa besar di sekitar pantai Bandung Selatan/Cianjur Selatan ? Apakah juga dapat mengaktifitasi patahan Lembang ? Atau akan tertahan oleh jajaran gunung api diselatan Bandung ? Kalau melihat akibat gempa di Joyakarta , maka akibatnya akan lebih hebat kalau itu menimpa Bandung. Bayangkan saja bangunan diutara Bandung yang berdiri diatas batuan vulkanik kwarter dengan fondasi beton. Memang benar kita sebagai ahli pemerhati alam mempunyai kewajiban moril yang didasarkan akan ke"profesian" kita. Saya sependapat bahwa kita harus melakukan "aksi yang dapat menyebabkan idee kita didengar" , sebagaimana dikatakan oleh RDP. Mungkin salah satu-nya dengan menyebar luaskan kesadaran akan kenyataan bahwa kita memang hidup didaerah "geological hazard". Boleh ndak ya kita melakukan stimulasi umpamanya bila ada gempa dengan kekuatan 6,-- Skala Richter di Pemeungpeuk atau mana saja dan menggambarkan kerusakan yang mungkin akan timbul . Kira - kira kalau ini dilakukan apa yang akan terjadi ? Kepaniklan atau malahan KE-ARIEFAN ? Si-Abah ___________________________________________________________________________ Setiap gempa habis menewaskan ribuan saudara-saudara kita sebangsa dan > setanah air, sedih sekali rasanya... Ini bencana geologi, dan kita > menyebut diri kita ahli geologi ?! > > Apa yang bisa kita perbuat dengan prediksi/precaution/forecasting bencana > yang satu ini ? Ingat selalu, ini tanggung jawab kita sebagai geologist > yang telah memutuskan hidupnya untuk membaca alam. Sekalipun alam itu > lembaran bukunya sudah hilang di sana-sini, sudah sobek, yang ada pun > tintanya sudah kabur. Tetap saja, tak ada orang lain yang menekuni gempa > selain geologist dan geophysicist. Jadi, harapan besar ditaruh kepada > kita. > > Berminggu-minggu saudara2 kita menatapkan mukanya ke Merapi, kita semua > juga mau tak mau melihat Merapi karena pemberitaannya yang sangat luas. > Hm...tak disangka-sangka, dari balik punggung kita justru serangan datang > saat saudara2 kita tak bersiap sedikitpun, saat masih menggeliat dari > tidur yang lelap, dan dalam 57 detik saja 26.000 rumah diratakan Bumi. > Miris melihat mayat2 kaku diangkut keluar dari puing-puing bangunan. > > Tak ada yang menduganya, tak ada geologist satu pun yang menduganya. Kita > hanya tahu jalur selatan Jawa rawan gempa. Dan, penelitian kegempaan Jawa > minimal sekali, kalah jauh dengan barat Sumatra. Berapa banyak survey > geomarin dari berbagai negara pernah melintas di barat Sumatra, dan berapa > banyak di selatan Jawa ? Perbandingannya jomplang. > > Setiap sehabis gempa kita belajar. Banyak paper ditulis sehabis tsunami > Aceh. Para ahli geologi tersulut sesaat, tapi tak lama kemudian > memudar...ini sudah karakter kitakah ?! > > Di mana di selatan Jawa tempat2 interplate coupling, seismic gap area, > wilayah2 yang siap rupture dan menyemburkan malapetaka ke darat ? Tidak > diketahui. Di barat Sumatra, hal ini diketahui di beberapa tempat. Di mana > di selatan Jawa sesar-sesar yang bisa jadi "death line" saat terjadi > estafet front rupture dari titik gempa ke daratan ? Ada, tetapi belum > dipetakan dan diwaspadai. Sesar Opak salah satunya, Sesar Girindulu > mungkin. Di mana di selatan Jawa yang bisa meredam gempa, tetapi di mana > juga yang malah bisa memperkuat gempa ? Ini berhubungan dengan litologi > penyusun. Bisa dibuat, tetapi belum dilakukan. > > Saat ini, gempa Yogya paling tidak memberikan pelajaran kepada kita : > jangan lengah, selalu waspada, jangan terlepas lagi pengamatan kita, dan > jangan hanya gaung di muka ke belakangnya memudar. > > Dan, ini, semua wilayah indentasi di selatan Jawa secara seismik bisa > berbahaya; kalau ada sesar2 model Sesar Opak bisa berbahaya lagi. Wilayah2 > seperti Kutowinangun-Kutoarjo-Purwodadi menjadi berbahaya sebab ia ada di > sedimen lunak yang diapit dua masif karbonat (Sentolo dan Karangbolong). > Pacitan boleh jadi berbahaya, tapi ia sempit dan didominasi batuan keras. > Di Jawa Timur, yang berbahaya dari pelajaran Yogya ini adalah indentasi > antara Lumajang-jember-Puger. Walaupun ada Nusa Barung sebagai barriernya, > kalau episentrum terjadi di dekat Puger bagaimana, dan jelas indentasi di > wilayah ini dibentuk sesar2 tegak utara-selatan. Tinggal dicari wilayah2 > inter-plate coupling di depan daerah2 ini. Kalau ada, kapan kira2 pecah > sebab laju kompresi dan slip vectornya saya pikir bisa diukur dengan GPS. > > Betul kata Pak Rovicky, masih banyak PR-nya, sementara kemampuan kita > terbatas... > > Salam, > awang > > > > -----Original Message----- > From: Rovicky Dwi Putrohari [mailto:[EMAIL PROTECTED] > Sent: Monday, May 29, 2006 1:42 PM > To: [email protected]; HAGI-Net; [EMAIL PROTECTED] > Subject: [iagi-net-l] Mengapa pengamatan kita terlepas ? > > Gempa Yogyakarta menelan korban lebih dari 4000 nyawa manusia. > Peristiwa ini sangat mengagetkan dan menggegerkan siapa saja. > Bagaimana tidak, ketika semua mata tertuju pada Gunung Merapi yag > sedang bergejolak tiba-tiba sebuah daerah patahan (fault/rupture zone) > bergetar dengan kekuatan 6.3 Skala Richter dengan kedalaman 10 Km > (USGS) dengan daya rusak 6 hingga 7 skala MMI. > > Zona patahan penyebab gempa. > > Zona patahan (fault zone) ini sebenarnya sudah lama diketahui dan > dipetakan oleh ahli-ahli geologi. Lembar peta yogyakarta yang > diperbaharui dari peta-peta sebelumnya oleh Wartono (1995) juga sudah > memetakan zona patahan ini. Hampir semua mahasiswa geologi di > Yogyakarta mengenali patahan ini. Patahan ini memisahkan dataran > tinggi Wonosari yg bagian teratasnya terdiri atas singkapan > Batugamping Wonosari dengan dataran landai Yogyakarta yg merupakan > kaki Gunung Merapi. > > Mengapa pengamatan kita terlepas ? > > Daerah ini sebelumnya dikenal daerah dikenal "aman" terhadap gempa > bumi. Bahkan peta geologi teknik yg terbitkan oleh DGTL juga tidak > menyebutkan bahya gempa ini. > http://www.dgtl.esdm.go.id/peta_web/GT_YOGYA.html Bahaya-bahaya yg > disebutkan dalam peta itu adalah bahaya kebencanaan geologi yang > meliputi: bahaya letusan dan aliran lahar gunung Merapi, potensi > lempung mengembang, dan kerentanan terhadap kejadian longsoran. > Bencana bencana lain seolah terlewat dalam pemikiran. > > Selama ini belum ada catatan sejarah dari gempa tektonik yang merusak > di Yogyakarta. Sehingga bencana yg berhubungan dengan aktifitas Gunung > Merapi lebih menyita perhatian dibandingkan bencana gempa. Gunung > Merapi sangat sering menunjukkan aktifitasnya, bahkan menjadi sebuah > Gunung Api teraktif di dunia. Ketiadaan catatan khusus mengenai gempa > ini mungkin beberapa gempa yg terjadi dimasa lalu selalu dikaitkan > dengan kegiatan Merapi, sehingga kebencanaan gempa di Yogyakarta > tertutupi (overlooked). > > Banyak bangunan-bangunan tua (lebih dari 300 tahun) yg berada di > KotaGede serta Surakarta yang ikut roboh. Disini ada dua hal yg perlu > diketahui, yaitu : bangunan tersebut barangkali memang sudah tua dan > rapuh, dan yang kedua selama 350 tahun terakhir memang tidak tercatat > adanya gempa merusak. Dan barangkali inilah pertanda mengapa > kewaspadaan bahaya gempa tidak tercatat di daerah ini. > > Ada pelajaran baru buat kita semua, tentusaja. > • Sebuah patahan yg diperkirakan pasif (nonaktif) sangat mungkin > menjadi aktif karena trigger-triger tertentu, mungkin saja Patahan > Opak ini terpicu oleh aktifitas Gunung Merapi, atau juga saling > mempengaruhi. Bahaya bencana alam dapat terjadi dimana-mana dan tidak > disangka-sangka. > • Perlu perubahan carapandang suatu daerah dengan memperhatikan > potential desaster tidak hanya berdasarkan catatan sejarah (tertulis). > Banyak rekaman-rekaman geologi yg harus dipelajari seperti rekaman > gempa yg ada di batugamping terumbu yg usianya dalam jangka ribuan > tahun. > • Adanya beberapa patahan-patahan pasif yang paralel dan > berpasangan dengan Patahan Opak ini yg perlu diperhatikan, misal > Patahan Grindulu yg membentang sejajar dengan Patahan Opak dari daerah > Pacitan kearah Timur-laut. Kajian sejarah kegempaan yang terekam dalam > tanah berusia ribuan tahun sepangang sungai grindulu barangkali dapat > membantu memerikan periodisasi kegempaan di daerah ini. > > Masih banyak PeeR yang harus kita lakukan bersama. > > --------------------------------------------------------------------- > ----- PIT IAGI ke 35 di Pekanbaru > ----- Call For Papers until 26 May 2006 > ----- Submit to: [EMAIL PROTECTED] > --------------------------------------------------------------------- > To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id > To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id > Visit IAGI Website: http://iagi.or.id > Pembayaran iuran anggota ditujukan ke: > Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta > No. Rek: 123 0085005314 > Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) > Bank BCA KCP. Manara Mulia > No. Rekening: 255-1088580 > A/n: Shinta Damayanti > IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ > IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi > --------------------------------------------------------------------- > > > -- > No virus found in this incoming message. > Checked by AVG Free Edition. > Version: 7.1.394 / Virus Database: 268.7.3/350 - Release Date: 5/28/2006 > > > -- > No virus found in this outgoing message. > Checked by AVG Free Edition. > Version: 7.1.394 / Virus Database: 268.7.3/350 - Release Date: 5/28/2006 > > > --------------------------------------------------------------------- > ----- PIT IAGI ke 35 di Pekanbaru > ----- Call For Papers until 26 May 2006 > ----- Submit to: [EMAIL PROTECTED] > --------------------------------------------------------------------- > To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id > To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id > Visit IAGI Website: http://iagi.or.id > Pembayaran iuran anggota ditujukan ke: > Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta > No. Rek: 123 0085005314 > Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) > Bank BCA KCP. Manara Mulia > No. Rekening: 255-1088580 > A/n: Shinta Damayanti > IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ > IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi > --------------------------------------------------------------------- > > --------------------------------------------------------------------- ----- PIT IAGI ke 35 di Pekanbaru ----- Call For Papers until 26 May 2006 ----- Submit to: [EMAIL PROTECTED] --------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id Visit IAGI Website: http://iagi.or.id Pembayaran iuran anggota ditujukan ke: Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta No. Rek: 123 0085005314 Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Bank BCA KCP. Manara Mulia No. Rekening: 255-1088580 A/n: Shinta Damayanti IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi --------------------------------------------------------------------- -- No virus found in this incoming message. Checked by AVG Free Edition. Version: 7.1.394 / Virus Database: 268.7.4/351 - Release Date: 5/29/2006 -- No virus found in this outgoing message. Checked by AVG Free Edition. Version: 7.1.394 / Virus Database: 268.7.4/351 - Release Date: 5/29/2006 --------------------------------------------------------------------- ----- PIT IAGI ke 35 di Pekanbaru ----- Call For Papers until 26 May 2006 ----- Submit to: [EMAIL PROTECTED] --------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id Visit IAGI Website: http://iagi.or.id Pembayaran iuran anggota ditujukan ke: Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta No. Rek: 123 0085005314 Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Bank BCA KCP. Manara Mulia No. Rekening: 255-1088580 A/n: Shinta Damayanti IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi ---------------------------------------------------------------------

