----- Original Message ----- From: "Hery Harjono" <[EMAIL PROTECTED]> To: <[EMAIL PROTECTED]> Sent: Friday, June 02, 2006 10:08 AM Subject: Re: [HAGI-Network] Mengapa pengamatan kita terlepas ?
> Wa alaikum salam ww., Pak Untung. > Lama juga tidak bertemu Bapak. Saya baru pulang dari Beijing jadi DELRI pada > pertemuan ASEAN-CHINA on Disaster Reduction. Saya juga memakai peta gravity > Bapak. Banyak membantu Pak. Mudah-mudahan jadi pahala yang tidak ada > habisnya Pak. > > Terimakasih atas usulan Bapak agar saya dapat mengkoordinir teman-teman muda > untuk ketemu. Pada dasarnya IAGI sudah melakukan [Kemarin di BPPT]. namun, > bisa saja kami fasilitasi IAGI dan HAGI untuk mengumpulkan teman-teman di > Cisitu Pak [Piye mas Djedi, Kang Wawan, mas Edi Prasetyo. Mas Lutfi]. Dan > Bandung adalah gudangnya ahli-ahli kebumian. > > Cerita di Beijing, menarik Pak. Saya hanya mikir, kan mestinya kalau mau > belajar disaster itu ya di Indoensia paling tidak untuk ASEAN..... Jangan > sampai nanti belajar gempa dan longsor di Malaysia...! Saya kira kita bisa > membuat training-training internasional maupun pendidikan pasca Sarjana > dalam kaitannya dengan kebencanaan ini [ITB dan UGM sudah siap saya kira. > Geologi UGM juga sudah masuk jaringan ASEAN kalau nggak salah]. > > Baik, Pak. Ini harus berangkat ke Jakarta. Semoga Bapak sehat-sehat saja. > Wah, tidak kebayang ketika pertamakali belajar gravity bersama Pak Wimpy > [deputi Ekuin], Pak Djoko [sudah rektor], Pak Kirno [Mabes AL] dan Pak Pudjo > [hilang kontak] pada hari Minggu. Sambil piknik kita ngukur gravityd i > kamojang [Masih ingat Pak?]. Matur nuwun > Was w w > Hery > > > ----- Original Message ----- > From: "M Untung" <[EMAIL PROTECTED]> > To: <[EMAIL PROTECTED]> > Sent: Thursday, June 01, 2006 9:49 PM > Subject: Re: [HAGI-Network] Mengapa pengamatan kita terlepas ? > > > > Pak Hery, > > Assalaam'ulaikum wr.wb., > > Apa khabar? Sehat-sehat saja, bukan? Saya mengikuti diskusi di e-mail > > mengenai gempa Bantul. Rame. Saya kira baik sekali. Orang-orang bisa > > mengemukakan pendapatnya. Sebenarnya data cukup banyak tentang gempa > > Bantul > > ini. Kita harus bicara "What to do". Bukan diskusi tentang hakekat gempa > > ini > > saja. Gempa pasti akan datang suatu ketika. (Lihat saja sejarah yang > > ditulis Sdr. Wahyu Triyoso). Dari sejarah ini kita tahu bahwa daerah > > Bantul > > dan daerah lain yang mirip dengan Bantul ini adalah rentan terhadap gempa. > > Menurut tafsiran saya tahun 1973 Bantul adalah suatu terban dibatasi oleh > > sesar tidak aktif di timur kearah timur-laut dari laut sampai Prambanan. > > Sesar ini mungkin berawal di laut. . (Lihat Penyelidikan Gayaberat di > > daerah > > Yogyakarta-Wonosari, Jawa Tengah, 1973. Penulisnya M. Untung, K. Udjang > > dan > > E. Ruswandi). Mitigasinya bagaimana. > > Bagaimana kalau Pak Hery mengumpulkan orang dari beberapa instansi yang > > peduli terhadap gempa ini untuk memecahkan masalah "what to do" tadi. > > Jadi, > > kalau ada gempa tidak banyak korban atau sama sekali tidak ada korban. Ini > > bisa dilakukan bila kita betul-betul "concern" terhadap ini. Orang-orang > > insiyur sipil perlu diminta pendapatnya. Saya usulkan pak Hery yang > > mengkoordinir untuk mengumpulkan teman-teman karena yang paling senior > > diantara teman-teman muda itu. Hasilnya kita berikan kepada penguasa untuk > > dilaksanakan apa yang kita usulkan. Begitulah Pak Hery. Sampai ketemu dan > > Wassalaam'ulaikum wr.wb. > > M. Untung > > ----- Original Message ----- > > From: "Hery Harjono" <[EMAIL PROTECTED]> > > To: <[EMAIL PROTECTED]> > > Sent: Monday, May 29, 2006 9:04 PM > > Subject: Re: [HAGI-Network] Mengapa pengamatan kita terlepas ? > > > > > >> Info u/ mas Rovicky, > >> Jogja pernah dilanda gempa hebat tahun 1867. Bisa jadi sebelum itu juga > > ada. > >> danny Hilman pada tanggal 25 April di Jogjakarta kebetulan > > mempresentasikan > >> gempa 1867 ini pada International Symposium on Geothechnical Hazard: > >> Prevention, Mitigation and Engineering Response yang diselenggarakan oleh > >> LIPI, IAGI, CODATA dan Int. En. Geology Assoc. Terimakasih semoga > >> bermanfaat. > >> Salam, > >> Hery Harjono > >> > >> > >> ----- Original Message ----- > >> From: "Rovicky Dwi Putrohari" <[EMAIL PROTECTED]> > >> To: <[EMAIL PROTECTED]> > >> Sent: Monday, May 29, 2006 1:41 PM > >> Subject: [HAGI-Network] Mengapa pengamatan kita terlepas ? > >> > >> > >> Gempa Yogyakarta menelan korban lebih dari 4000 nyawa manusia. > >> Peristiwa ini sangat mengagetkan dan menggegerkan siapa saja. > >> Bagaimana tidak, ketika semua mata tertuju pada Gunung Merapi yag > >> sedang bergejolak tiba-tiba sebuah daerah patahan (fault/rupture zone) > >> bergetar dengan kekuatan 6.3 Skala Richter dengan kedalaman 10 Km > >> (USGS) dengan daya rusak 6 hingga 7 skala MMI. > >> > >> Zona patahan penyebab gempa. > >> > >> Zona patahan (fault zone) ini sebenarnya sudah lama diketahui dan > >> dipetakan oleh ahli-ahli geologi. Lembar peta yogyakarta yang > >> diperbaharui dari peta-peta sebelumnya oleh Wartono (1995) juga sudah > >> memetakan zona patahan ini. Hampir semua mahasiswa geologi di > >> Yogyakarta mengenali patahan ini. Patahan ini memisahkan dataran > >> tinggi Wonosari yg bagian teratasnya terdiri atas singkapan > >> Batugamping Wonosari dengan dataran landai Yogyakarta yg merupakan > >> kaki Gunung Merapi. > >> > >> Mengapa pengamatan kita terlepas ? > >> > >> Daerah ini sebelumnya dikenal daerah dikenal "aman" terhadap gempa > >> bumi. Bahkan peta geologi teknik yg terbitkan oleh DGTL juga tidak > >> menyebutkan bahya gempa ini. > >> http://www.dgtl.esdm.go.id/peta_web/GT_YOGYA.html Bahaya-bahaya yg > >> disebutkan dalam peta itu adalah bahaya kebencanaan geologi yang > >> meliputi: bahaya letusan dan aliran lahar gunung Merapi, potensi > >> lempung mengembang, dan kerentanan terhadap kejadian longsoran. > >> Bencana bencana lain seolah terlewat dalam pemikiran. > >> > >> Selama ini belum ada catatan sejarah dari gempa tektonik yang merusak > >> di Yogyakarta. Sehingga bencana yg berhubungan dengan aktifitas Gunung > >> Merapi lebih menyita perhatian dibandingkan bencana gempa. Gunung > >> Merapi sangat sering menunjukkan aktifitasnya, bahkan menjadi sebuah > >> Gunung Api teraktif di dunia. Ketiadaan catatan khusus mengenai gempa > >> ini mungkin beberapa gempa yg terjadi dimasa lalu selalu dikaitkan > >> dengan kegiatan Merapi, sehingga kebencanaan gempa di Yogyakarta > >> tertutupi (overlooked). > >> > >> Banyak bangunan-bangunan tua (lebih dari 300 tahun) yg berada di > >> KotaGede serta Surakarta yang ikut roboh. Disini ada dua hal yg perlu > >> diketahui, yaitu : bangunan tersebut barangkali memang sudah tua dan > >> rapuh, dan yang kedua selama 350 tahun terakhir memang tidak tercatat > >> adanya gempa merusak. Dan barangkali inilah pertanda mengapa > >> kewaspadaan bahaya gempa tidak tercatat di daerah ini. > >> > >> Ada pelajaran baru buat kita semua, tentusaja. > >> • Sebuah patahan yg diperkirakan pasif (nonaktif) sangat mungkin > >> menjadi aktif karena trigger-triger tertentu, mungkin saja Patahan > >> Opak ini terpicu oleh aktifitas Gunung Merapi, atau juga saling > >> mempengaruhi. Bahaya bencana alam dapat terjadi dimana-mana dan tidak > >> disangka-sangka. > >> • Perlu perubahan carapandang suatu daerah dengan memperhatikan > >> potential desaster tidak hanya berdasarkan catatan sejarah (tertulis). > >> Banyak rekaman-rekaman geologi yg harus dipelajari seperti rekaman > >> gempa yg ada di batugamping terumbu yg usianya dalam jangka ribuan > >> tahun. > >> • Adanya beberapa patahan-patahan pasif yang paralel dan > >> berpasangan dengan Patahan Opak ini yg perlu diperhatikan, misal > >> Patahan Grindulu yg membentang sejajar dengan Patahan Opak dari daerah > >> Pacitan kearah Timur-laut. Kajian sejarah kegempaan yang terekam dalam > >> tanah berusia ribuan tahun sepangang sungai grindulu barangkali dapat > >> membantu memerikan periodisasi kegempaan di daerah ini. > >> > >> Masih banyak PeeR yang harus kita lakukan bersama. > >> > >> ------ https://www.lists.uni-karlsruhe.de/warc/hagi.html ------ > >> > >> ------ https://www.lists.uni-karlsruhe.de/warc/hagi.html ------ > >> > > > > ------ https://www.lists.uni-karlsruhe.de/warc/hagi.html ------ > > > > ------ https://www.lists.uni-karlsruhe.de/warc/hagi.html ------ > --------------------------------------------------------------------- ----- PIT IAGI ke 35 di Pekanbaru ----- Call For Papers until 26 May 2006 ----- Submit to: [EMAIL PROTECTED] --------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id Visit IAGI Website: http://iagi.or.id Pembayaran iuran anggota ditujukan ke: Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta No. Rek: 123 0085005314 Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Bank BCA KCP. Manara Mulia No. Rekening: 255-1088580 A/n: Shinta Damayanti IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi ---------------------------------------------------------------------

