peduli terhadap gempa ini untuk memecahkan masalah "what to do" tadi.
 Jadi,kalau ada gempa tidak banyak korban atau sama sekali tidak ada korban.
> Ini bisa dilakukan bila kita betul-betul "concern" terhadap ini.
Orang-orang insiyur sipil perlu diminta pendapatnya.
============================================
Di SCTV tadi telah turun langsung dilapangan ( daerah Mbantul ) Ahli banguan
/ teknik sipil memberikan petunjuk cara membangun kembali rumah di daerah
itu, yaitu dengan menaruh pasir di bawah fondasi rumah untuk meredam getaran
kalau ada gempa, kemudian rumah tsb harus dibikin solid dg memasang slop
slop / tulang tulang beton.dll.
Sebetulnya peran teknik sipil sangat utama dalam masalah mitigasi bencana
gempa bumi, namun kelihatannya beritanya kurang begitu ramai, tidak seramai
perdebataan penyebab gempanya.dimedia media, padahal masyarakat sangat
membutuhkannya petunjuk praktis dalam pembangunannya .daripada mengetahui
penyebab gempanya

ISM

> > > Assalaam'ulaikum wr.wb.,
> > > Apa khabar? Sehat-sehat saja, bukan?  Saya mengikuti diskusi di e-mail
> > > mengenai gempa Bantul. Rame. Saya kira baik sekali. Orang-orang bisa
> > > mengemukakan pendapatnya. Sebenarnya data cukup banyak tentang gempa
> > > Bantul
> > > ini. Kita harus bicara "What to do". Bukan diskusi tentang hakekat
gempa
> > > ini
> > > saja. Gempa  pasti akan datang suatu ketika. (Lihat saja sejarah yang
> > > ditulis Sdr. Wahyu Triyoso). Dari sejarah ini kita tahu bahwa daerah
> > > Bantul
> > > dan daerah lain yang mirip dengan Bantul ini adalah rentan terhadap
> gempa.
> > > Menurut tafsiran saya tahun 1973 Bantul adalah suatu terban dibatasi
> oleh
> > > sesar tidak aktif di timur kearah timur-laut dari laut sampai
Prambanan.
> > > Sesar ini mungkin berawal di laut. . (Lihat Penyelidikan Gayaberat di
> > > daerah
> > > Yogyakarta-Wonosari, Jawa  Tengah, 1973. Penulisnya M. Untung, K.
Udjang
> > > dan
> > > E. Ruswandi). Mitigasinya bagaimana.
> > > Bagaimana kalau Pak Hery mengumpulkan orang dari beberapa instansi
yang
> > > peduli terhadap gempa ini untuk memecahkan masalah "what to do" tadi.
> > > Jadi,
> > > kalau ada gempa tidak banyak korban atau sama sekali tidak ada korban.
> Ini
> > > bisa dilakukan bila kita betul-betul "concern" terhadap ini.
Orang-orang
> > > insiyur sipil perlu diminta pendapatnya. Saya usulkan pak Hery yang
> > > mengkoordinir untuk mengumpulkan teman-teman karena yang paling senior
> > > diantara teman-teman muda itu. Hasilnya kita berikan kepada penguasa
> untuk
> > > dilaksanakan apa yang kita usulkan. Begitulah Pak Hery. Sampai ketemu
> dan
> > > Wassalaam'ulaikum wr.wb.
> > > M. Untung
> > > ----- Original Message -----
> > > From: "Hery Harjono" <[EMAIL PROTECTED]>
> > > To: <[EMAIL PROTECTED]>
> > > Sent: Monday, May 29, 2006 9:04 PM
> > > Subject: Re: [HAGI-Network] Mengapa pengamatan kita terlepas ?
> > >
> > >
> > >> Info u/ mas Rovicky,
> > >> Jogja pernah dilanda gempa hebat tahun 1867. Bisa jadi sebelum itu
juga
> > > ada.
> > >> danny Hilman pada tanggal 25 April di Jogjakarta kebetulan
> > > mempresentasikan
> > >> gempa 1867 ini pada International Symposium on Geothechnical Hazard:
> > >> Prevention, Mitigation and Engineering Response yang diselenggarakan
> oleh
> > >> LIPI, IAGI, CODATA dan Int. En. Geology Assoc. Terimakasih semoga
> > >> bermanfaat.
> > >> Salam,
> > >> Hery Harjono
> > >>
> > >>
> > >> ----- Original Message -----
> > >> From: "Rovicky Dwi Putrohari" <[EMAIL PROTECTED]>
> > >> To: <[EMAIL PROTECTED]>
> > >> Sent: Monday, May 29, 2006 1:41 PM
> > >> Subject: [HAGI-Network] Mengapa pengamatan kita terlepas ?
> > >>
> > >>
> > >> Gempa Yogyakarta menelan korban lebih dari 4000 nyawa manusia.
> > >> Peristiwa ini sangat mengagetkan dan menggegerkan siapa saja.
> > >> Bagaimana tidak, ketika semua mata tertuju pada Gunung Merapi yag
> > >> sedang bergejolak tiba-tiba sebuah daerah patahan (fault/rupture
zone)
> > >> bergetar dengan kekuatan 6.3 Skala Richter dengan kedalaman 10 Km
> > >> (USGS) dengan daya rusak 6 hingga 7 skala MMI.
> > >>
> > >>  Zona patahan penyebab gempa.
> > >>
> > >>  Zona patahan (fault zone) ini sebenarnya sudah lama diketahui dan
> > >> dipetakan oleh ahli-ahli geologi. Lembar peta yogyakarta yang
> > >> diperbaharui dari peta-peta sebelumnya oleh Wartono (1995) juga sudah
> > >> memetakan zona patahan ini. Hampir semua mahasiswa geologi di
> > >> Yogyakarta mengenali patahan ini. Patahan ini memisahkan dataran
> > >> tinggi Wonosari yg bagian teratasnya terdiri atas singkapan
> > >> Batugamping Wonosari dengan dataran landai Yogyakarta yg merupakan
> > >> kaki Gunung Merapi.
> > >>
> > >>  Mengapa pengamatan kita terlepas ?
> > >>
> > >>  Daerah ini sebelumnya dikenal daerah dikenal "aman" terhadap gempa
> > >> bumi. Bahkan peta geologi teknik yg terbitkan oleh DGTL juga tidak
> > >> menyebutkan bahya gempa ini.
> > >> http://www.dgtl.esdm.go.id/peta_web/GT_YOGYA.html Bahaya-bahaya yg
> > >> disebutkan dalam peta itu adalah bahaya kebencanaan geologi yang
> > >> meliputi: bahaya letusan dan aliran lahar gunung Merapi, potensi
> > >> lempung mengembang, dan kerentanan terhadap kejadian longsoran.
> > >> Bencana bencana lain seolah terlewat dalam pemikiran.
> > >>
> > >>  Selama ini belum ada catatan sejarah dari gempa tektonik yang
merusak
> > >> di Yogyakarta. Sehingga bencana yg berhubungan dengan aktifitas
Gunung
> > >> Merapi lebih menyita perhatian dibandingkan bencana gempa. Gunung
> > >> Merapi sangat sering menunjukkan aktifitasnya, bahkan menjadi sebuah
> > >> Gunung Api teraktif di dunia. Ketiadaan catatan khusus mengenai gempa
> > >> ini mungkin beberapa gempa yg terjadi dimasa lalu selalu dikaitkan
> > >> dengan kegiatan Merapi, sehingga kebencanaan gempa di Yogyakarta
> > >> tertutupi (overlooked).
> > >>
> > >>  Banyak bangunan-bangunan tua (lebih dari 300 tahun) yg berada di
> > >> KotaGede serta Surakarta yang ikut roboh. Disini ada dua hal yg perlu
> > >> diketahui, yaitu : bangunan tersebut barangkali memang sudah tua dan
> > >> rapuh, dan yang kedua selama 350 tahun terakhir memang tidak tercatat
> > >> adanya gempa merusak. Dan barangkali inilah pertanda mengapa
> > >> kewaspadaan bahaya gempa tidak tercatat di daerah ini.
> > >>
> > >>  Ada pelajaran baru buat kita semua, tentusaja.
> > >>  •    Sebuah patahan yg diperkirakan pasif (nonaktif) sangat mungkin
> > >> menjadi aktif karena trigger-triger tertentu, mungkin saja Patahan
> > >> Opak ini terpicu oleh aktifitas Gunung Merapi, atau juga saling
> > >> mempengaruhi. Bahaya bencana alam dapat terjadi dimana-mana dan tidak
> > >> disangka-sangka.
> > >>  •    Perlu perubahan carapandang suatu daerah dengan memperhatikan
> > >> potential desaster tidak hanya berdasarkan catatan sejarah
(tertulis).
> > >> Banyak rekaman-rekaman geologi yg harus dipelajari seperti rekaman
> > >> gempa yg ada di batugamping terumbu yg usianya dalam jangka ribuan
> > >> tahun.
> > >>  •    Adanya beberapa patahan-patahan pasif yang paralel dan
> > >> berpasangan dengan Patahan Opak ini yg perlu diperhatikan, misal
> > >> Patahan Grindulu yg membentang sejajar dengan Patahan Opak dari
daerah
> > >> Pacitan kearah Timur-laut. Kajian sejarah kegempaan yang terekam
dalam
> > >> tanah berusia ribuan tahun sepangang sungai grindulu barangkali dapat
> > >> membantu memerikan periodisasi kegempaan di daerah ini.
> > >>
> > >>  Masih banyak PeeR yang harus kita lakukan bersama.
> > >>
> > >> ------ https://www.lists.uni-karlsruhe.de/warc/hagi.html ------
> > >>
> > >> ------ https://www.lists.uni-karlsruhe.de/warc/hagi.html ------
> > >>
> > >
> > > ------ https://www.lists.uni-karlsruhe.de/warc/hagi.html ------
> > >
> >
> > ------ https://www.lists.uni-karlsruhe.de/warc/hagi.html ------
> >
>
>
> ---------------------------------------------------------------------
> -----  PIT IAGI ke 35 di Pekanbaru
> -----  Call For Papers until 26 May 2006
> -----  Submit to: [EMAIL PROTECTED]
> ---------------------------------------------------------------------
> To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
> To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
> Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
> Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
> Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
> No. Rek: 123 0085005314
> Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
> Bank BCA KCP. Manara Mulia
> No. Rekening: 255-1088580
> A/n: Shinta Damayanti
> IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
> IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
> ---------------------------------------------------------------------
>
>


---------------------------------------------------------------------
-----  PIT IAGI ke 35 di Pekanbaru
-----  Call For Papers until 26 May 2006             
-----  Submit to: [EMAIL PROTECTED]    
---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke