Yakin, di suban, sebelum brf, shale compactionnya normal? A R I E F B U D I M A N Pertamina - Eksplorasi Sumatra Phone : (021) 350 2150 ext.1782 Mobile : 0813 1770 4257 / (021) 70 23 73 63
-----Original Message----- From: Shofiyuddin [mailto:[EMAIL PROTECTED] Sent: Friday, June 16, 2006 6:54 PM To: [email protected] Subject: Re: [iagi-net-l] Mengebor karbonat Mau sharing nih. 1. Kapan kita set casing. a. Pernah nyambi jadi "wellsite geologist gelap" untuk sumur dekat kota subang, dimana casing bisa di set di sekitar 15 meter diatas formasi karbonate parigi yang diperkirakan berisi gas. Korelasi dengan sumur sekitarnya menunjukkan bahwa (mudah mudahan gak salah), lubang tetep aman di set sampai disekitar 45 meter diatas parigi, karena dari log composite yang ada tidak ada keterangan bahwa ada masalah dengan well testing di pariginya. b. Di daerah ramba, ada baturaja klastik (cemented sandstone, tapi masih bagus permeabilitasnya) yang overlying diatas facies karbonat nya. Saya set casing persis masuk baturaja karbonatenya sekitar setengah meter saja dan itu aman. Karena drilling masih menggunakan kelly system, drilling setengah meter masih bisa terdeteksi dengan baik. c. di daerah suban, set casing sampai masuk sekitar 5 meter di baturaja masih oke. diatas baturaja suban ada shale yang cukup tebal (50 meter?) yang menunjukkan trend kompaksi normal (semakin resistive menuju ke baturajanya). Kita udah memberi aba aba ke drilling untuk menyiapkan lcm sebelum masuk ke brfnya. Pengalaman sumur sebelah, shale akan menjadi problem sewaktu melakukan open hole test kalo kita set casing masih belum menutup shale tersebut. jadi lebih aman masuk sedikit ke karbonate dan set casing. 2. Jenis LCM. Jenis yang paling sering digunakan adalah kalsium karbonat ditambah beberapa mika dan fiber. cuma harus hati hati kalo kita menggunakan LWD/MWD karena bisa jadi akan nge plug screen alat alat itu. 3. Blind drill vs LCM. Serngkali kalo sudah patah arang, blind drill adalah pilihan terbaik karena akan ngirit cost. problem nanti waktu logging kemungkinan stuck menjadi menjadi besar karena differential sticking. beberapa kali dilakukan under-pressure logging untuk menjaga lubang masih terisi oleh mud. Untuk formasi yang resistive seperti granite dan karbonat, pemilihan tool resistivity menjadi sulit karena kalo menggunakan laterolog rasanya gak mungkin mengingat selama blind drilling menggunakan air tawar sementara kalo menggunakan induction, formation resistivity melebihi 200 ohm. jadi dua duanya gak masuk spek tool sama sekali dan perhitungan log analysisnya menjadi gak menentu. Semoga membantu Salam Shofi On 6/16/06, sugeng.hartono <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Pak Amin, > > Untuk urusan ini, kawan-2 drilling lebih paham. > Misalnya untuk sumur dangkal (3000 ft), sebelum pemboran masuk karbonat > rangkaian pipa akan dicabut, nozle pada drilling bit akan dilepas, lalu > pemboran dilanjutkan. Karena nozle sudah dilepas maka tekanan pada lubang > bit-nozle berkurang sehingga tidak akan terjadi loss. > Untuk sumur dalam (9000 ft) pemboran hanya dianjurkan menembus karbona max > 10 ft saja; setelah logging, pipa casing akan diset dan disement. > Selanjutnya pemboran di dalam karbonat akan menggunakan lumpur yang lebih > ringan, ini untuk menghindari loss. > Menunggu pemboran sampai tembus karbonat (dan hanya boleh dibor 10' ft > saja) > menjadi tugas wellsite geologist. Repotnya kalau ternyata kedalaman > karbonat > jauh lebih dalam dari perkiraan (prognosis). > Ada yang mencoba pipa casing di-set +/- 200 ft di atas karbonat (kalau ini > mah wellsite geologist sama sekali tidak ada beban); namun setelah ada > masalah dengan lempung (swelling shale problem) barulah pipa casing di-set > 10 ft masuk ke dalam karbonate. > > Jenis LCM yang dipakai biasanya disesuaikan dengan jenis fracture di > karbonat, ada kwik-seal, frac-seal (kasar,sedang, halus), wall nut, serbuk > gergaji, CaCO3, LCP-2000 (sejenis gel).l Intinya untuk menyumbat retakan > formasi. > Kawan drilling biasanya belajar dari pengalaman. Misalnya kalau membor di > suatu lapangan (karbonat) selalu mendapat problem loss, maka mereka akan > bertanya kepada geologist: Interval mana saja yang berproduksi; maksudnya > kalau di bawah sana sudah tidak ada hidrokarbon (di bawah OWC misalnya) > dan > tidak perlu diproduksi, mengapa mesti dibor dan selalu ada problem loss > (biaya menjadi lebih mahal). Dari jawaban geologist, mereka mengusulkan > untuk membor hanya sampai lapisan yang produktif saja. Hasilnya: tidak > pernah ada problem loss. > > Tetapi mereka juga pernah lakukan "blind drilling" artinya membor terus > (sambil dipompakan air) walaupun tidak ada cutting sample yang naik ke > permukaan. Setelah sampai kedalaman tertentu, mereka bisa lalukan logging > (dalam lubang sumur hanya berisi air, tidak ada loss pada saat keadaan > statik), lalu di-set pipa casing. > > Salam, > Sugeng > > > Shofi --------------------------------------------------------------------- ----- PIT IAGI ke 35 di Pekanbaru ----- Call For Papers until 26 May 2006 ----- Submit to: [EMAIL PROTECTED] --------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id Visit IAGI Website: http://iagi.or.id Pembayaran iuran anggota ditujukan ke: Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta No. Rek: 123 0085005314 Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Bank BCA KCP. Manara Mulia No. Rekening: 255-1088580 A/n: Shinta Damayanti IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi ---------------------------------------------------------------------

