Wawanacara dengan Radio 68H, pagi hari jam 7:30, Selasa 20 Juni 2006

 

Radio:  Dan saudara,... kita  akan segera berbincang bersama dengan pakar 
geologi dari Institut Teknologi Bandung pak Andang Bachtiar. Selamat pagi pak 
Andang.

 

ADB: Selamat pagi, koreksi pak, saya bukan dari Instiut Teknologi Bandung, saya 
lulusan Institut Teknologi Bandung. Tapi sekarang saya tidak berafiliasi secara 
resmi dengan Institut Teknologi Bandung.

 

Radio: Jadi lulusan, alumni dari ITB, pak Andang Bachtiar.

 

ADB: Betul!

 

Radio: Kalau dari kasus Lapindo ini, apa yang anda lihat, pak Andang?

 

ADB: Yang saya lihat di sana semburan lumpur, disebut sebagai extrusi lumpur ke 
permukaan, biasa disebut sebagai mud volcano yang di trigger oleh instability 
atau dipicu oleh ketidakstabilan kondisi bawah permukaan. Nah ketidakstabilan 
bawah permukaan itu bisa diakibatkan oleh macem-macem, salah satunya bisa oleh 
induksi dari proses buatan manusia, misalnya pemboran.

 

Radio: Ada laporan menyimpulkan kalau ini disebabkan oleh gempa.

 

ADB: Betul! Lha salah satunya pemboran, nah,.. salah duanya oleh gempa..itu 
tadi belum selesai..saya. Jadi bisa juga diakibatkan oleh gempa. Tapi banyak 
kontra argumen terhadap gempa itu. Karena kalau gempa itu...  misalnya 
dikaitkan dengan gempa dari Bantul ke Klaten itu pada 2 hari sebelumnya, itu 
toh dari antara Klaten sampai ke Porong itu banyak sekali lokasi-lokasi yang 
sama dengan lokasi pemboran Banjar Panji, tapi juga tidak mengalami hal yang 
sama. Jadi tidak terjadi apapun juga. Itu kontra argumennya pak. Jadi ini masih 
harus diberikan bukti-bukti lebih lanjut kalau itu karena gempa.

Tapi kalau itu karena pemboran, itu juga bisa diperiksa langsung di data-data 
kronologis pemboran, data lumpur, data pada waktu mereka memasukkan bit atau 
pahat pemboran kemudian terjadi loss di bawah, kemudian terjadi tendangan dari 
lumpur ke atas, kemudian terjadi jepitan dari pipa dsb. Dan pada saat hampir 
bersamaan kemudian terjadi munculnya gelembung dan lumpur dan gas di 150 meter 
di Selatan dari lokasi. Nah itu itu semua serba co-incidence dan itu mestinya 
juga kemungkinan ada kaitannya dan itu perlu diteliti lebih detil dan saya 
lihat, juga saya dengar  tim-tim itu sekarang sedang meneliti itu. Dan kemaren 
pak mentri juga mengatakan kemungkinan besar itu karena proses pemboran. Tapi 
detilnya seperi apa, itu kayaknya hari Jumat kayaknya itu baru keluar (hasil 
analisisnya).

 

Radio: Kalau dari catatan anda sendirir pernah nggak di daerah lain atau di 
tempat-tempat lain hal ini terjadi.

 

ADB: Untuk underground blowout dan blowout seperti ini pernah terjadi dan 
sering terjadi di seluruh Indonesia, di proses-proses pemboran explorasi, di 
pemboran pengembangan, itu biasa terjadi. Bukan dalam artian itu merupakan 
sesuatu hal yang biasa, tetapi karena kondisi di bawah permukaan itu sedemikian 
rupa, kemudian prosedur operasi pemboran itu kadang-kadang juga agak 
terlewatkan, dan (maka dari) itu terjadilah yang namanya blowout di permukaan, 
atau semburan liar ke permukaan maupun underground blowout di bawah permukaan.

Tetapi yang khusus mengalirkan lumpur seperti ini, ini baru pertama kali ini, 
menurut catatan saya sepanjang hidup saya dan kerja saya di berbagai macem 
bidang terutama di oil & gas, itu baru terjadi. Biasanya blowout yang terjadi 
atau underground blowout yang terjadi itu hanya meretakkan lokasi di sekitar 
lokasi (pemboran). Retak, kemudian keluar air dari formasi di bawah permukaan, 
setelah itu selesai, mungkin sebulan gitu, ... kemudian di injeksi di sumur 
pemborannya sendiri, kemudian tertutup dsb. 

Tapi karena ini mentrigger atau memicu suatu lapisan di dalam sana yang isinya 
itu lumpur atau mud  atau lempung yang overpressure sehingga dia keluar terus 
menerus seperti ini. Ini baru pertama kali yang saya lihat.

 

Radio: Oke pak Andang, dari sub kontraktor mengatakan, saat melakukan pemboran 
Lapindo tidak memasang casing. Sebenarnya apa fungsi casing ini?

 

ADB: Aaah,.. itu informasi yang salah pengertian tentang istilah sub kontraktor 
, itu bukan sub kontraktor itu pak.  Saya baca di koran juga dan saya denger 
juga  dan saya lihat juga file nyaa nggak tahu wartawan ini ada aja, dapet aja  
file-file surat mereka itu. Medco itu itu bukan sub kontraktor, tetapi partner, 
jadi partner dari Lapindo dalam Pengeboran itu...Jadi Lapindo sendiri adalah 
operator ,partnernya  adalah Santos dan Medco,....jadi bukan sub kontraktornnya 
Lapindo itu pak, bukan!. Dan dikatakan itu tidak memasang casing, Bukan! Salah 
juga.  Itu bukan tidak memasang casing, tapi tidak melakukan prosedur yang 
dituliskan di dalam perencanaan semula. Jadi memasang casing sampai 8500, 
tetapi itu mereka meneruskan sampai 9297 baru rencananya akan memasang casing,. 
Jadi ada perubahan dari rencana semula, dan itu diingatkan secara verbal pada 
waktu rapat mereka tanggal 18 (Mei) di lapangan kira-2 gini, jadi bukan tidak 
memasang cassing. Selubung sudah dipasang di atas, selubung 30, terus selubung 
20 inch, terus selubung 13 3/8 inchi dipasang di 3580 yang saya tahu, kemudian 
dari 3580 harusnya programnya itu sampai 8500 mereka harus memasang casing, 
atau..di programnya disebutkan juga atau kalau ketemu top nya dari formasi 
Kujung, nah, sampai 8500 mereka belum ketemu itu. Dan di 8500 mereka ketemu 
batu pasir yang dalam strategi pemboran kalau kita ketemu batu pasir akan 
sangat janggal dan akan sangat bahaya kalau kita memasang casing di situ, 
makanya mereka terus. Itu saya ngga mbelain mereka ya tapi...orang pemboran dan 
ininya..tapi saya pikir waktu itu kan tidak memperkirakan bahwasannya akan ada 
suatu kejadian yang seperti ini. Jadi mereka..saya pikir terus (ngebor), dan 
itu makanya Medco juga pada 5 Juni itu mengeluarkan surat bahwa mereka sudah  
ck...mengingatkan itu, bahwa di 8500 harusnya pasang cassing. Kira-kira begitu 
pak.

 

Radio: Ya pak Andang, fungsi dari casing apa

 

ADB Fungsi dari cassing.... ya.. sebagai selubung. Cassing itu selubung. Jadi 
kalau kita ngebor itu kan telanjang, waktu dibor itu batunya di sekitar lubang 
pemboran itu nggak tertahan, hanya tertahan oleh lumpur.  Untuk membuat dia 
menjadi kuat penahannya, setelah dibor sampai kedalaman tertentu, dengan 
perhitungan tekanan dan kedalamam tertentu maka harus dipasang casing atau 
selubung untuk supaya lubang bor itu ngga runtuh ke dalem. Selubung itu juga 
akhirnya disemen antara bagian pinggirnya selubung dengan lubang sedemikian 
rupa sehingga terjadi ikatan antara selubung dengan dinding dari lubang, 
jadi...   supaya lubangnya kuat, nggak runtuh..juga untuk tujuan tujuan2 
nantinya kalau ketemu minyak.. Nah itu tujuan safety pada waktu memasukkan pipa 
 namanya string yang lebih dalam untuk mennge-tap atau mengambil minyak atau 
gas dari bawah permukaan. Jadi kira-kira begitu, selubung itu untuk melindungi 
lubang.

 

Radio: Jadi bisa digunakan untuk mencegah lumpur muncrat seperti sekarang?

 

ADB: Aa,.. tidak secara langsung, jadi selubung itu bukan dipakai untuk 
mencegah lumpur muncrat ya, tetapi selubung itu dipakai supaya lubang yang 
terbuka itu menjadi aman. Menjadi aman itu dalam artian dia tidak longsor, 
kalau tidak longsor dia tidak menghisap lumpur, kalau tidak menghisap lumpur 
dia tidak membuat suatu tendangan, kalau tidak membuat suatu tendangan sehingga 
dia tidak menjadi underground blowout,  kalau tidak membuat underground blowout 
berarti dia tidak meretakkan sesuatu di sekitar lubang, kalau tidak meretakkan 
sesuatu berarti dia tidak akan keluar gas atau lumpur ke sekitar lubang. 
Kira-kira begitu, jadi tidak secara langsung, mengerti nggak maksud saya..?

 

Radio: Ya, mengerti...Kalau dalam catatan anda sendiri pak Andang, Lapindo 
Brantas ini....Cukup seringkah mereka lakukan seperti ini?

 

ADB: Aaa.. maksud anda melakukan apa pak?

 

Radio: EE Pemboran seperti ini ..

 

ADB: Aaa, kalau pemboran masuk ke Kujung. Yang Kujung...Itu Kujung itu 
seringkali dianggap formasi yang tricky, atau penuh tipuan atau berbahaya, 
atau...pokoknya mengerikanlah kalau kita masuk ke Kujung itu. Karena kalau kita 
masuk ke Kujung di manapun juga..kayak di Cepu itu pak...Cepu itu..Banyu urip 
yang di Exxon itu masuk Kujung, di Petrocina, Mudi Sukowati itu juga masuk 
Kujung. Jadi Kujung itu sekaligus berkah, sekaligus ada bahaya. Dan Lapindo itu 
masuk Kujung itu  baru 2 kali pak. Yang pertama itu di Porong, sekitar 5 Km di 
Utaranya , dan itu gagal. Yang kedua  itu di sini, di Banjar Panji. Dan 
sekarang bukan hanya gagal, tetapi mengandung bahaya sekarang itu. Kalau dulu 
itu gagal karena mereka mempunyai problem yaitu kick and loss  , kick and loss. 
Artinya: mereka kehilangan lumpur-ketendang, kehilangan lumpur - ketendang, 
tapi tidak sampai mengganggu permukaan. Dan itu biasa terjadi, emang 
tantangannya  ngebor explorasi itu kayak gitu. 

 

Radio: Pak Andang, kalau  lumpur keluar  dari ngebor seperti ini, apa yang 
dapat dilakukan untuk menghentikannya

 

ADB: Yang pertama adalah konfirmasi tentang kondisi bawah permukaan, tentang 
mana zona yang rusak, mana zona yang tidak rusak, retakan-retakannya di mana, 
keluarnya ke permukaan itu di posisi mana saja itu dikaitkan dengan bawah 
permukaan, baru kemudian direncanakan...:oke, kalau itu asalnya dari sumur... 
maka kita masukkan..apa namanya..kalau nggak salah sekarang sekarang dimasukkan 
RIG atau snubbing unit untuk menembus lubang yang ditembus sumur itu pada 
kedalaman yang katanya nih..6100 untuk di plug semen. Diharapkan  sumber dari 
tekanan yang ada di sumur itu...  yang nyamping segala macem itu.. akan 
berhenti sehingga semburannya  juga berhenti. Itu salah satu alternatif. Tetapi 
itu menurut saya, itu harus di dasari oleh analisis di bawah permukaannya 
secara benar, dalam artian begini: belum tentu di kedalaman 6100 itulah sumber 
masalahnya, harus ada tempat-tempat alternatif lain yang salah satunya  mungkin 
juga dia diakibatkan oleh lapisan lumpur sendiri di kedalaman 2000 sampai 6000, 
sehingga meskipun 6100 ditutup oleh tim ESDM kalau nggak salah, mau masuk ke 
situ   dipimpin oleh pak Rudi Rubiandini, itu kalau 6100 ditutup ternyata 
masalahnya bukan di situ, tetapi di kedalaman 2000 sampai 6000, ya sama aja itu 
harus ada plan B yaitu bagaimana supaya kerusakan di 2000 sampai 6000 bisa 
ditutup. Kalau 2000-6000 itu juga bukan masalahnya, itu ada plan C juga ... 
kalau ini diakibatkan oleh yang disebut sebagai mud diapir, yaitu ada recharge 
atau pasokan terus menerus lumpur dari bawah untuk naik ke atas, sehingga 
harusnya ada 3 alternatif itu dilakukan. Mudah-mudahan aja  kawan-kawan 
drilling engineering di ESDM maupun BPMigas sudah diinformasikan ini oleh tim 
dari ITS-ITB maupun dari Ikatan Ahli Geologi Indonesia kalau nggak salah. Itu 
mereka juga sudah membicarakan bahwa alternatifnya itu harus beberapa. Jadi 
bukan single alternative seperti itu, karena analisis bawah permukaan harus 
firm dulu, harus jelas dulu sebelum di masukkan RIG untuk menembus di mana 
kira-kira zona yang harus dimatikan. Kira-kira begitu.

 

Radio: Oke, dan pak Andang terimakasih dan selamat pagi pak Andang.

 

ADB: Oke, selamat pagi.



adb/arema

Kirim email ke