Sebenernya bukan "sporadis radikal", aku lebih suka "partial selektif". Maksudku beberapa perusahaan yg melakukan reformasi soal remunerasi ini tidak menjalankan komprehensig karena masalahnya menjadi tidak sederhana ketika harus digeneralisasikan. Hal ini disebabkan adanya perbedaan demand-supply dari satu profesi dengan lainnya. kalau tolok ukurnya mengeralisasikan semua profesi menjadi sama dan sejajar menjadi tidak imbang dengan demand-supply diluar. Artinya setia perusahaan akan mencoba memberikan retention program yg berbeda-beda.
Misalnya Profesi Drilling Engineer yg langka namun juga kebutuhan perusahaan meningkat disaat sibuk drilling. Program drilling bisa saja dalam satu tahun atau dua tahun hanya empat sampai enambulan saja. Selepasnya hanya masalah invoicing dan administratif. Tipe pekerjaan DE seperti ini tidak dapat dibandingkan dengan profesi lainnya. Sehingga saat ini banyak DE kontrakan jangka pendek bahkan daily rates dengan USD. Berbeda dengan G&G dimana projectnya relatif lebih lama, satu hingga dua tahun lamanya. i.e untuk study regional, prospect generation-maturation dsb membutuhkan waktu cukup lama. namun utk 3D modeling saat ini ada yg bisa menyeleseikan dalam waktu 3-4 bulan (tergantung persiapan perusahaannya juga tentunya). Juga shorterm project inversion yg dikerjakan inhouse dapat hanya memakan waktu 3-4 bulan, selanjutnya interpretasi dikerjakan oleh internal resources. Yg ingin saya tekankan adalah bahwa didalam profesi G&G pun ada perbedaan sevara selektif. Demikian juga Engineer. Entah mengapa profesi RE beberapa bulan lalu sangat langka di Indonesia maupun Malaysia. Setahuku bebrapa perusahaan di Jakarta skrg sudah berani memberikan adjusment utk profesionalnya. Bahkan beberapa berani bersaing dengan remunerasi di Petronas. Yang perlu diperhatikan adalah bahwa kalau di luar Indonesia statusnya kontrak (gajian 12 x), kalau di JKT masih mungkin permanen dengan gajian 14-15 x karena bonus2 sebagai peg permanen. Yang seringkali kalau dhitung masalah pengeluaran kumpeni (employee related cost) tidak banyak berbeda untuk mempekerjakan org Indonesia lewat kontrak maupun permanen. Tetapi di sisi pegawai perhitungannya akan sangat bervariasi. Kang Noor, kalau saat ini sistem karier kayaknya lebih ditentukan pegawainya bukan oleh perusahaan lagi. Self starter, self educated lebih beguna ketimbang mengandalkan 'sumbangan' perusahaan. Ini jelas bukan hal ideal untuk Indoensia yg belum siap dengan persaingan global. salam RDP On 7/9/06, Noor Syarifuddin <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Pak Hendra, Syukur kalau sampeyan dan mungkin beberapa rekan yang lainsudah merasakan trend itu, karena mungkin baru sebagian orang yang berkesempatan mengalaminya. Terlepas dari mobilitas pegawai yang begitu tinggi, rasanya kok (dari jauh) saya belum melihat ada perubahan yang sistematik dan berarti dalam sistem karier dan remunerasi pegawai nasional. Jadi solusinya masih bersifat masih sporadis dan belum komprehensif. Mungkin ada rekan lain yang ingin urun rembug ? salam, *mantan peserta demo keliling kuningan plaza "pimpinan" pak adb...
-- http://rovicky.wordpress.com/

