Lha kalo proses pengeborannya yang menjadi pangkal persoalan maka itu urusan 
petroleum engineer atau drilling engineer, mereka bukan geologist jadi mereka 
juga bukan anggota IAGI, karena itu IAGI yha gak usah ikut2 best effort 
melindunginya.

-----Original Message-----
From: liamsi [mailto:[EMAIL PROTECTED] 
Sent: Wednesday, July 12, 2006 7:16 PM
To: [email protected]
Subject: Re: [iagi-net-l] Re: MENGEBOR TANPA CASING (?) / LALAI MEMASANG CASING 
(?)

Di Liputan Enam sore tadi ada wawancara Panglima ABRI ttg Senjata simpanan,
setelah dengar wawancara tadi kayaknya Kasus Lumpur ini ada persamaannya dg
Kasus senjata. Kalu Lumpur ini disimpulkan karena Akibat alam/Gempa maka
semua persolalan hukum Batal , yang salah ya Alam. Begitu juga dg senjata
simpanan , dikatakan kalau ini disimpulkan kesalahan yang menyimpan , maka
persoalan hukumnya batal , kasus ditutup  lha yang menyimpan sudah mati.
Apa juga gitu nanti ending dua duanya ?
Kalau geolog dianalogikan dg dokter yang memeriksa pasien tadi  , mestinya
disamping tidak dituntut juga menerima ucapan terima kasih ( lha kok enek
tenan ), lihat saja kasus dokter tadi kalau pasiennya meninggal kan biasanya
keluarganya pasang iklan ucapan terima kasih termasuk kpd dokter yang
merawatnya.
Nanti jangan jangan setiap ada kesalahan profesi semua ber analogi kepada
Dokter tadi
Keterangan panjang lebar  apapun  tentang genesa/proses/kejadian lumpur
akhirnya harus diambil  kesimpulan dg tegas  bahwa ini karena alam atau
kesalahan manusianya/ proses pengeborannya. disinilah kadang kadang geolog
itu berputar putar dg segala teori dan data.sehingga dalam keraguan terus
kalau  menyimpulkan, padahal ini sebagai dasar untuk penyidikan selanjutnya,
makanya polisi menyimpulkan sendiri bahwa ini kesalahan manusia dan
berakibat adanya pasal pasal pidana yang dilanggar,  keterkaitan institusi
yang terlibat baik ditingkat operator/pelaksana , management maupun pemberi
kuasa.
( memang bener geologi itu bukan ilmu eksak , makanya susah untuk
menyimpulkan sesuatu dg tegas / debateble terus.)

ISM

----- Original Message ----- 
From: "Achmad Luthfi" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[email protected]>
Sent: Wednesday, July 12, 2006 5:28 PM
Subject: RE: [iagi-net-l] Re: MENGEBOR TANPA CASING (?) / LALAI MEMASANG
CASING (?)


Lha susahnya ilmiah kegeologian sangat sulit dicerna oleh logika awam, coba
sebelum terjadi tsunami di Aceh, kalo kita bicara pergerakan lempeng
samudera yang bertumbukan dengan lempeng benua akan terjadi gempa dahsya
dibawah laut yang mengakibatkan terjadi tsunami pasti masyarakat awam akan
bilang opo iku geologi wong edan. Tapi setelah terjadi tsunami aceh
perbincangan masyarakat tentang tsunami begitu intens bahkan mereke
bercerita fenomena tektonik lempeng seolah2 melebihi geologist
pengetahuannya. Korelasi dengan ini kemarin juga begitu wakil IAGI
menjelaskan fenomena "mud volcano dan diapiric shale" kepada Polda Jatim,
yha harus menggunakan bahas ilmiah popular yang terkait dengan tingkat
pemahaman para Serse. Bahkan dicontohkan begini, kalo dalam dunia kedokteran
seorang dokter mengatakan bahwa sang pasien yg dia tangani dinyatakan
menderita usus buntu, kemudian dioperasi dan ternyata bukan usus buntu
kemudian pasien meninggal, ternyata dokter tdk bias dituntut krn sebelum
operasi dijalankan ada surat pernyataan yg hrs ditandatangani keluarga
pasien apapun yg terjadi tdk akan menuntut dokter. Apakah dalam pemboran
eksplorasi/pengembangan bias dilakukan seperti dokter tadi? lha kalo
prognosis berdasarkan interpretasi geologi/geofisika berbeda dengan
kenyataan kemudia yg melakukan interpretasi didakwa melkukan kesalahan, maka
kata kawan kita tsb bahwa yang salah adalah kurikulum yg dijarakan di PT
yang disetujui oleh Menteri Pendidikan...lha mestinya Menteri Pendidikan
juga harus ikut bertanggung jawab dan bias dituntut..yha itulah sekelumit yg
bias diceritakan. Memang IAGI tdk punya budget khusus utk pembelaan hokum,
tapi saya yakin dari kawan2 IKADIN ataupun LBH bila IAGI secara resmi minta
bantuan mereka juga tdk menutup mata.

Salam,


-----Original Message-----
From: Rovicky Dwi Putrohari [mailto:[EMAIL PROTECTED]
Sent: Wednesday, July 12, 2006 1:36 PM
To: [email protected]
Subject: [iagi-net-l] Re: MENGEBOR TANPA CASING (?) / LALAI MEMASANG CASING
(?)

Aku kok lebih sreg kalao IAGI memihak ilmiahnya. Atau ikutan judge
dalam kajian scientificnya. Bs saja kajiannya akan memberatkan publik
atau memberatkan bisa saja memberatkan perusahaan. Dalam kasus Buyat
IAGI memberikan kajian ilmiah yg "kebetulan" meringankan pengusaha.
Tapi mungin juga spt kasus tambang "liar" spertinya IAGI lebih condong
ke penataan pemerintah yg lemah. Suatu saat mungkin pihak investor yg
terbuktu tidak tepat dalam operasi. Itu semua konsekuensi logis dari
kajian sains ilmiahnya IAGI.

Aku pikir tdk mudah bagi iagi sebagai "pembela" tapi mungkin IAGI
lebih "mudah" menjeadi pencerah dalam sisi ilmiah ketimbang membela
salah satu sisi.

Just my 2cents

Rdp

On 7/12/06, Muhammadi Darissalam <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Setuju mas Subandrio, asosiasi harus memberikan "perlindungan" kepada
> anggotanya.
>
>   Lumpur Porong adalah musibah, pelajaran mahal bagi kita semua dalam
> perencanaan dan pelaksanaan
>   Bisa dikatakan musibah semi nasional.
>   Harus cepat ditangani, kalau perlu 2orang penting (dan punya sense of
> cricis) yang bisa mengambil keputusan soal biaya dan teknik harus
dilokasi.
>   Atau pemerintah ambil alih penanganannya, sehingga bisa semua sektor
> bergerak.
>   Data harus terbuka, jadi semua bisa tahu masalahnya, sehingga
> orang/company di sekitarnya yang punya data lainnya bisa support dan bisa
> belajar (mungkin orang yang sedang mengamati gunung api, survey geofisika
> dll).
>   Bukannya malahan cari siapa yang salah, debat cost recovery apa bukan,
> pidana apa perdata, itu nanti.
>
>   Mereka (orang2 yang terlibat dlm pekerjaan) cari cadangan energi
> (kebutuhan vital semua warga negara), kerja dengan prosedur yang panjang,
> dari mendapatkan daerah, prospect generation, drilling program sampai
> eksekusinya. Banyak ahli dan birokrat terlibat.
>
>   Jangan cari kambing hitam orang bawahan, mereka semua kerja dengan
> prosedur dan perintah. Kalau ada penyimpangan program mesti panjang
> ceritanya sebelum di eksekusi.
>   Orang yang paling konservativ, kaku, sabar tapi dapat ambil keputusan
> dengan cepat dalam bekerja biasanya orang drilling.  Kadang2 mereka
> mementingkan keselamatan, juga asal sumurnya slamet (meskipun tidak bisa
> diproduksikan karena sesuatu salah handling di lumpur atau apa).
>
>   Monggo, assosiasi lebih aktif membela yang lemah.
>   Mungkin juga musibah ini tidak hanya karena sumur, mungkin dipercepat
oleh
> gempa, mungkin memang sudah waktunya (melampai titik kritis dlm mencari
> kesetimbangan baru, apanya? ya), mungkin............ Walhu alam wong di
> dalam tanah.
>
>   Wassalam,
>   md
>
>
> Ariadi Subandrio <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>   Sharing idea,
> Terlepas dari siapapun yang menjadi tersangka dalam kasus lumpur porong,
> apakah orang-orang yang menangani surface atau pun orang2 sub-surface, tak
> adakah tim pembelaan hukum dari IAGI..... mengingat masalah lumpur porong
> adalah problema bawah permukaan yang menjadi domain para ahli kebumian,
> IAGI.......
>
> Rasa2nya kok sudah perlu bagi IAGI (+HAGI+IATMI barangkali) untuk
memberikan
> perlindungan hukum anggotanya atau pun geologists dan para ahli kebumian
> Indonesia pada umumnya. Pembicaraan SALAH atau BENAR adalah produk hukum
> nantinya, yang penting proses pembelaan hukum penting diberikan oleh
> asosiasi ini bagi para ahli kebumian..... inilah wadah, inilah organisasi,
> inilah asosiasi yang mengayomi warga/anggotanya...
>
>
> lam-salam,
> ar-
>
>
> [EMAIL PROTECTED] wrote:
>
> Ada yang punya press release Lapindo 15/06/06 ?
> Kalau boleh saya minta ke Japri saja .
>
> Si-Abah
>
> ________________________________________________________________________
>
> MENGEBOR TANPA CASING (?) / LALAI MEMASANG CASING (?)
> *andang bachtiar - arema*
>
> Istilah "mengebor tanpa casing" atau "lalai memasang casing" - sehingga
> mengakibatkan kejadian munculnya lumpur dalam skala massif ke permukaan -
> yang dijadikan argumen dari tuduhan banyak pihak (termasuk kepolisian)
> terhadap Lapindo merupakan istilah yang membingungkan. Karena sebenarnya
> yang terjadi adalah: dalam mengebor sumur Banjar-Panji-1 Lapindo "sudah"
> memasang casing 30 inchi pada kedalaman 150 feet, casing 20 inchi pada
1195
> feet, casing (liner) 16 inchi pada 2385 feet dan casing 13-3/8 inchi pada
> 3580 feet (Bahan presentasi Lapindo Press Rilis ke wartawan, 15 Juni
2006).
>
> Nah, ketika mereka mengebor lapisan bumi dari kedalaman 3580 feet sampai
ke
> 9297 feet, mereka "belum" memasang casing 9-5/8 inchi yang rencananya akan
> dipasang précis di kedalaman batas antara Formasi Kalibeng Bawah dengan
> Formasi Kujung, yang dalam hal ini ternyata ketemunya di kedalaman 9297
feet
> tersebut. Dalam teknik pengeboran lapisan bumi, tentunya kita tidak
mengebor
> lapisan baru dengan memasang casing menembus lapisan terlebih dulu, tapi
> setelah menembus/membuka lapisan baru tersebut menjadi lubang - barulah
kita
> turunkan casing untuk menahan lubang supaya tidak runtuh, dan supaya dapat
> digunakan dalam proses eksplorasi selanjutnya (testing, produksi dsb).
>
> Ada juga argumen yang dipicu oleh bocornya surat internal partner (Medco)
ke
> media massa (Kompas, 14 Juni 2006) yang menyebutkan bahwa pada 18 Mei
2006,
> Medco sudah mengingatkan Lapindo sebagai operator untuk konsisten pada
> program, yaitu memasang casing 9-5/8 inchi di kedalaman 8500 feet.
Maksudnya
> mungkin setelah memasang casing untuk melindungi lubang dari 3580 s/d 8500
> feet itu, maka diperkirakan operasi pemboran akan aman di
> kedalaman-kedalaman berikutnya. Belum tentu juga! Pada saat itu mereka
belum
> mengetahui sampai berapa dalam lagi mereka harus mengebor dalam kondisi
> tekanan tinggi (over-pressure) sehinga mencapai puncak Formasi Kujung yang
> relatif tekanannya lebih rendah dari Formasi Kalibeng yang sedang mereka
> tembus di kedalaman 8000-9000an feet tersebut. Yang menarik lagi dari
> argumen-argumen yang mendasari surat yang "bocor" tersebut adalah:
>
> 1.. Sebenarnya bagaimana bunyi program casing 9-5/8 yang tertulis dalam
> > buku program pemboran Banjar-Panji-1?
> > 1.. Kalau bunyinya: "Pasang casing di kedalaman +/- 8500 feet atau
> > apabila telah menembus puncak dari Formasi Kujung; tergantung dari mana
> > yang
> > dicapai terlebih dulu" maka dalam hal kedalaman 8500 feet telah dicapai
> > tapi
> > belum menyentuh puncak dari Formasi Kujung, seharusnyalah pemboran
> > dihentikan untuk evaluasi dalam rangka memasang casing.
> > 2.. Tetapi kalau bunyinya: "Pasang casing di puncak Formasi Kujung
> > yang
> > diperkirakan pada kedalaman +/-8500 feet", maka pemasangan casing pada
> > kedalaman 8500 feet bukan sesuatu yang mandatory (harus dilakukan)
tetapi
> > hanya perkiraan saja; sementara tujuan utamanya adalah memasang casing
di
> > puncak Formasi Kujung yang dalam hal ini ditembus pada kedalaman 9297
feet
> > (pada saat terjadi loss-circulation atau terhisapnya lumpur ke dalam
> > lubang
> > pemboran karena diasumsikan sudah memasuki Formasi Kujung yang sangat
> > berongga).
> > 2.. Menurut informasi internal dari Lapindo bahwa sebenarnyalah mereka
> > berhenti mengebor pada kedalaman +/- 8700 feet, yaitu setelah menembus
> > 8500
> > feet tapi belum juga mendapatkan puncak Formasi Kujung (informasi ini
> > harus
> > dicek kebenarannya dengan melihat Daily Drilling Report). Dalam operasi
> > pemboran, diperlukan "rat-hole" (lubang tambahan di bawah target
> > penghentian
> > pemboran) untuk mendapatkan informasi lengkap dari kedalaman target yang
> > bisa di-cover oleh panjangnya alat logging (perekam sifat lapisan batuan
> > di
> > lubang pemboran). Dalam hal ini rat-hole tersebut panjangnya 200 feet
> > dibawah 8500 feet. Data keratan batuan (cuttings) dari kedalaman +/-
6100
> > feet sampai 8700 feet semuanya menunjukkan bahwa sumur Banjar-Panji-1
> > menembus lapisan batupasir pada interval tersebut. Demikian juga info
yang
> > didapat dari alat perekam lapisan batuan (logging) juga menunjukkan hal
> > yang
> > sama (open hole log ini-pun harus di-cek kebenaran interpretasinya)
> > 3.. Karena ternyata masih belum menembus puncak Formasi Kujung
> > (dibuktikan
> > dengan terus menerus munculnya lapisan batupasir s/d kedalaman 8700
feet),
> > dan karena masih berada pada interval batupasir (yang secara prosedur
> > teknis
> > keselamatan pemboran TIDAK COCOK UNTUK DIPASANGI CASING-SHOE karena
> > kekuatannya terhadap tekanan akan sangat lemah dibandingkan dengan
> > batulempung), dan juga belajar dari pengalaman pemboran Porong-1 yang
> > memasang casing 9-5/8" masih di interval overpressure Kalibeng -
> > menyisakan
> > puluhan feet overpressure Kalibeng Clay untuk dibor lagi sebelum tembus
> > Formasi Kujung - dan setelah itu mengalami "loss" dan "kick"
> > berulang-ulang
> > ketika sudah menembus Kujung (sehingga harus merelakan sumur Porong-1
> > sebagai sumur gagal: disemen "plug" dan ditinggalkan), maka keputusan
> > untuk
> > tidak memasang casing 9-5/8" di 8500 feet merupakan keputusan yang
SANGAT
> > RASIONAL, TEKNIKAL, DAN AMAN (SAFE) pada waktu itu.
> > 4.. Tentu saja keputusan untuk meneruskan pemboran tanpa memasang casing
> > 9-5/8" terlebih dulu (setelah run logging pada 8700-an feet) harus
> > didasarkan pada prasayat (asumsi) bahwa:
> > 1.. Seluruh rangkaian casing dangkal sampai intermediate (30", 20",
> > 16",
> > dan 13-3/8") telah terpasang dan TERSEMENKAN dengan sempurna, sehingga
> > kalau
> > terjadi tendangan (kick) dari daerah lubang terbuka di bawah
casing-casing
> > tersebut, maka rangkaian casing tidak akan goyang, rusak, atau bahkan
> > jebol.
> > Perlu dicatat bahwa pada waktu mengebor Porong-1, Huffco Brantas juga
> > mengalami loss & kick yang dapat diatasi di permukaan dan tidak
> > menyebabkan
> > retakan di bawah permukaan (underground blow-out) karena casing-casing
> > dangkal & intermediate-nya terpasang sempurna.
> > 2.. Kekuatan menahan tekanan pada sepatu casing (casing-shoe) yang
> > terdalam (yaitu 13-3/8" pada 3580 feet) - yang diukur dari proses
Leak-Off
> > Test (LOT) sebelum mengebor lebih dalam dari 3580 feet - benar-benar
> > seperti
> > yang dituliskan dalam laporan pemboran, yaitu: 16.4 ppg EMW, dan
maksimum
> > berat lumpur yang dipakai dalam pemboran berikutnya sampai kedalaman
> > maksimum 9580 feet tidak melebih 15.4 ppg (dengan menghitung ECD
tambahan
> > 1
> > ppg).
> > 5.. Prasyarat (asumsi) butir 4-a merupakan prasyarat mutlak yang harus
> > diyakinkan pada waktu selesai logging pada 8700 feet dan memutuskan
untuk
> > terus mengebor sampai ketemu puncak Formasi Kujung. Apabila pada waktu
itu
> > (bahkan pada waktu di awal-awal pengeboran interval 3580-8700 feet)
proses
> > evaluasi kekuatan casing-casing yang sudah terpasang tidak dilakukan
atau
> > dilakukan dengan seadanya atau dilakukan tanpa mempertimbangkan lebih
> > lanjut
> > tentang factor keamanan-nya lebih rinci, maka hal ini patut disayangkan.
> > Pada kenyataannya terjadinya under-ground blow-out mengindikasikan bahwa
> > casing 13-3/8" telah rusak dan bahkan "menjepit" pipa pada waktu mereka
> > memutuskan untuk mencabut rangkaian pipa secara keseluruhan (Lihat Bahan
> > presentasi Lapindo Press Rilis ke wartawan, 15 Juni 2006). Apabila pada
> > saat
> > itu telah diyakini (dan diketahui) bahwa kondisi casing yang telah
> > terpasang
> > TIDAK AMAN, maka selayaknyalah pengeboran dihentikan saja dan dicarikan
> > rekayasa untuk memperbaiki kondisi casing yang tidak aman tersebut, ..
> > sampai aman,.. baru diteruskan pemborannya. Tetapi apabila kondisi
casing
> > yang tidak aman tersebut TIDAK BISA DIAKALI (tidak bisa dikoreksi), maka
> > pilihan terburuknya adalah menge-"plug" lubang dengan semen, merancang
> > ulang
> > disain casing dan mengimplementasikannya di casing-casing dangkal, baik
> > dengan meneruskan pemboran di lubang yang lama, maupun side-track,
> > ataupun.
> > membuat lubang baru.
> > 6.. Prasyarat (asumsi) butir 4-b merupakan prasyarat yang harus diikuti
> > pada waktu sudah memutuskan untuk mengebor lanjut dari 8700 feet-an
sampai
> > ketemu dengan puncak Formasi Kujung. Apabila sampai kedalaman 9580 feet
> > dan
> > berat lumpur sudah 15.4 ppg tetapi tetap belum menembus Formasi Kujung
> > (karena prediksi dari seismic meleset), maka mau tidak mau pengeboran
> > harus
> > dihentikan. Selanjutnya: plug dengan semen, mau tinggalkan sumur atau
> > side-track (tentunya setelah evaluasi seismic lagi) terserah kepada
> > operator, tergantung seberapa kuat secara ekonomis Lapindo berani
beresiko
> > lagi dengan ketidakpastian interpretasi tsb).
> > 7.. Yang terjadi ternyata: pada 9297 feet matabor menembus formasi yang
> > menyebabkan LOSS CIRCULATION (dengan berat lumpur 14.7ppg??), yang besar
> > kemungkinan itulah puncak dari Formasi Kujung yang ditunggu-tunggu.
> > Prosedur
> > yang dilakukan pada waktu itu adalah mengatasi loss dengan LCM,
membuatnya
> > menjadi static, kemudian mencabut rangkaian untuk diganti dengan
> > Open-ended
> > Drill-pipe dalam rangka menyemen-plug zona loss Kujung tersebut. Barulah
> > setelah zona loss ditutup semen, maka casing 9-5/8" akan dipasang précis
> > di
> > puncak Formasi Kujung tsb. NOTHING WRONG dengan rencana tersebut. Malah
> > memang sebenarnya itulah yang harus dilakukan.
> > 8.. Tetapi dalam proses mengimplementasikan rencana tersebut terjadilah
> > hal-hal dibawah ini:
> > 1.. Tendangan (kick) pada waktu matabor sdh diangkat pada kedalaman
> > 4241
> > feet (masih di open-hole). è Ini kemungkinan disebabkan oleh kecepatan
> > POOH
> > yang terlalu cepat (effek swabbing), atau pada saat akan mencabut,
hi-vis
> > pill tidak cukup berat menahan tekanan formasi (dari sepanjang interval
> > 4241-9297 yang terbuka tersebut)
> > 2.. Tendangan dapat diatasi dengan menutup BOP, menyalurkan ke
> > diverter
> > yang keluar berupa gas H2S dan air. Ini juga OK, sesuai dengan prosedur.
> > Hanya saja setelah itu dihitunglah killing mud berdasarkan info SIDP dan
> > SICP yang kemungkinan hasil perhitungannya dan juga "the real" killing
mud
> > yang dimasukkan beratnya melebihi kekuatan daya dukung casing shoe di
3580
> > feet,.. sehingga menyebabkan retakan di sekitar casing shoe, goyangnya
> > casing 13-3/8" (mungkin semennya kurang =è musti diteliti juga) yang
terus
> > merembet ke atas, akhirnya muncul ke permukaan membawa lumpur dari
> > Kalibeng
> > Clay (2000-6000 feet). Harap dicatat: letak casing shoe 13-3/8" ada di
> > tengah-atas dari interval Lempung Kalibeng ini, sehingga
material-material
> > inilah yang akhirnya terbawa ke permukaan.
> > 3.. Menganggap bahwa kick sudah bisa diatasi, maka usaha pencabutan
> > rangkaian pemboran diteruskan. Tetapi yang terjadi: STUCK di dalam
casing.
> > Hal ini ada 2 kemungkinan penyebabnya: "pack-off" dari cutting, material
> > batuan yang ikut terbawa ke atas pada waktu kick telah membuat casing
> > menjadi "choked-off" sehingga menyempit, atau terjadi CASING COLLAPSE,
> > yaitu
> > casingnya mengkerut di titik terjadinya stuck karena ada tendangan
tekanan
> > dari samping yang tidak dapat ditahan karena semennya tidak bagus.
Manakah
> > diantara keduanya yang benar: SNUBBING UNIT akan menjawabnya. Jika
> > snubbing
> > unit dapat melewati titik jepitan hanya dengan "washing" the hole maka
> > berarti telah terjadi "pack-off" tapi bila snubbing unit tidak bias
> > melewatinya, berarti casingnya memang telah mengkerut.
> > Dari uraian diatas, secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa
> > permasalahannya bukan karena tidak memasang casing 9-5/8" di 8500 feet.
> > Tapi
> > karena masalah-masalah lain. Tentunya Tim Investigasi-lah (Pak Rudi
> > Rubiandini dkk) yang nantinya dapat menjelaskan secara rinci kepada kita
> > semua apa sebenarnya masalah yang terjadi. Merekalah yang punya
previllege
> > melihat dan menelisik data-data yang ada. Kita hanya dapat mengamati
dari
> > kejauhan sambil mencoba menganalisis dari info-info berseliweran yang
> > keabsahannya belum tentu benar. Hanya saja, kalau menggunakan
> > logika-logika
> > operasional pemboran secara umum, maka hal-hal seperti diataslah yang
> > dapat
> > kita sumbangkan kepada anda semua. Belum tentu benar. Harus diTEST ,
DICEK
> > ,
> > DIKRITISI dengan menengok, memeriksa, melihat data2nya langsung.
> >
> >
> >
> > Jakarta, 7 Juli 2006
> >
> > ADB
>
>
> ---------------------------------
> How low will we go? Check out Yahoo! Messenger's low PC-to-Phone call
rates.
>
>  __________________________________________________
> Do You Yahoo!?
> Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around
> http://mail.yahoo.com
>


-- 
http://rovicky.wordpress.com/

---------------------------------------------------------------------
-----  PIT IAGI ke 35 di Pekanbaru
-----  Call For Papers until 26 May 2006
-----  Submit to: [EMAIL PROTECTED]
---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------


---------------------------------------------------------------------
-----  PIT IAGI ke 35 di Pekanbaru
-----  Call For Papers until 26 May 2006
-----  Submit to: [EMAIL PROTECTED]
---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------



---------------------------------------------------------------------
-----  PIT IAGI ke 35 di Pekanbaru
-----  Call For Papers until 26 May 2006             
-----  Submit to: [EMAIL PROTECTED]    
---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------


---------------------------------------------------------------------
-----  PIT IAGI ke 35 di Pekanbaru
-----  Call For Papers until 26 May 2006
-----  Submit to: [EMAIL PROTECTED]
---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke