Pak Yo Sumartojo,
Kembali ke persoalan serpih minyak di US, kalau boleh saya tahu:
1. Apa sebenarnya yang dimaksud dengan cara ekstraksi ramah lingkungan?
Apakah surface mining yang dimaksud sebagi tidak ramah lingkungan berikut
proses-proses selanjutnya hingga siap menjadi marketable?
Berikut saya kopikan link mengenai isu lingkungan dari industri oil shale
dari Greenpeace Australia
http://www.greenpeace.org.au/climate/pdfs/Nofutureinshaleoil.pdf

2. Sampai dimana teknologi utk mengekstraksi minyak dari oil shale tanpa
harus menambang (baik open pit/underground)? Apakah diperkirakan masih ada
dampak-dampak terhadap lingkungan seperti subsidence meski lapisannya
terletak ratusan bahkan ribuan meter dari permukaan?

Sekian dan terima kasih sebelumnya.

Salam, Noel





On 7/14/06, Yo Sumartojo <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

Rekan-rekan geologiawan,

Menanggapi komentar rekan "liamsi" (maaf, saya tidak tahu nama yang
sebenarnya dari rekan ini),

Dalam bidang energi, memang methan lapisan batubara (CBM, coal-bed
methane) merupakan salah satu sumber energi untuk gas. Di Indonesia, kalau
masih aktif, Dr. Hadianto (Direktorat Sumber Daya Mineral?) pernah merintis
kerja-sama dengan Jawatan Geologi Amerika Serikat di Denver, Colorado untuk
menyelidiki CBM di Indonesia. Saya tidak tahu status dari proyek ini, karena
kalau tidak salah, Dr. Hadianto ditarik menjadi seorang birokrat di Jakarta.

Profesi geologiawan di A.S. dalam dunia energi tidak melonjak walau
kebutuhan untuk mencari sumber-sumber baru minyak dan gas juga naik. Tetapi
yang "ngetren" yalah pekerjaan dalam bidang lingkungan, terutama bagi mereka
yang bersedia melintas batas profesi tradisional. Misalnya geologiawan yang
mempunyai pengalaman atau ketrampilan dalam bidang permodelan komputer,
geologi airtanah, remediasi pencemaran (walau ini adalah bidang
keinsinyuran, tetapi banyak geologiawan yang menceburkan diri dalam bidang
ini), penilaian risiko lingkungan (environmental risk assessment), dsb.,
dsb.

Secara pribadi, walau keahlian saya formal adalah mineralogi, sayapun
pernah bekerja sebagai geologiawan minyak, geologiawan lingkungan dan juga
sebagai insinyur lingkungan (karena latar belakang lulusan Tambang ITB
1962). Jadi untuk mencari hidup (bagi saya untuk mencari sebungkus nasi),
banyaklah geologiawan di A.S. yang dulunya bekerja dibidang geologi
minyak, berubah profesi menjadi geologiawan lingkungan. Tidak banyak
bedanya, asal bersedia belajar bahan-bahan pengetahuan baru.

Ini hanya sebagai pembanding ceritera dari seberang, tanpa ada maksud
lain.

salam,

Yo Sumartojo




---------------------------------------------------------------------
-----  PIT IAGI ke 35 di Pekanbaru
-----  Call For Papers until 26 May 2006
-----  Submit to: [EMAIL PROTECTED]
---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------


Kirim email ke