Kenyataan tidak bisa dipungkiri bahwa AS masih mendominasi kekuatan dunia saat ini. Melakukan tindakan yang berlawanan dengan kebijakan AS atau mencari dukungan lawan AS tentu akan mengalami banyak kendala. Meminta bantuan AS juga bukan solusi yang baik buat Indonesia, kenyataannya Indonesia bukan "good boy" di mata AS. Indonesia tidak pernah menjadi teman dekat AS karena kebijakannya yang menentang Israel, anak emas AS saat ini. Menurut saya, dukungan dari negara bukan AS tapi yang sepaham AS akan lebih aman dijadikan partner. Kalau India sedang bermasalah dengan Pakistan, sehingga bisa menimbulkan konflik dukung mendukung. Yang resikonya minimal keliatannya kerja sama dengan Jepang, selain negara ini tidak mempersenjatai derinya dengan peralatan perang (diharapkan bebas isu senjata nuklir), tehnologinya maju, dekat dengan AS, dan setahu saya banyak ahli nuklir Indonesia menyelesaikan sekolah dan bekerja di Jepang. Kalau Cina keliatannya tidak disukai AS, karena pertumbuhan ekonominya yang pesat menyebabkan AS cemburu dan berusaha meredam dengan berbagai cara (walaupun kenyataannya tidak mampu), masih patut dipertimbangkan. Salam BPJ
Rovicky Dwi Putrohari <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Nuklir Indonesia, menggandeng siapa ? Masuk era Nuklir Energy, merupakan entry door memasuki dunia baru. Namun didalam dunia masadepan akan sangat mungkin ditentukan saat ini. Indonesia yg belum memiliki pengalaman dalam bidang energi nuklir perlu 'menggandeng' kawan dalam mengembangkannya Nah siapa teman yang sejati ? Iran, Amerika, Cina, Jepang atau India ? Setelah ada indikasi Indonesia akan bekerja sama dengan Iran dalam teknologi Nuklir sebagai pembangkit Listrik seperti yg dikutip dari Detik.com Tuesday, 27 June 2006 Luhur Hertanto - detikcom (sumber: Detikcom 27 Juni 2006 ) Jakarta - Pemerintah berniat mempercepat pengadaan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) yang semula ditargetkan paling lambat realisasinya pada 2016 menjadi 2011. Nah, untuk partnernya, Indonesia menjajaki kemungkinan kerjasama dengan Iran. Percepatan target yang tertuang dalam Kebijakan Energi Nasional ini dimaksudkan untuk mengantisipasi lonjakan permintaan energi listrik yang pada tahun 2009 diperkirakan mencapai 3.000 mega watt. Kali ini lagi-lagi Amerika ndak mau ketinggalan untuk "ngrecokin" Indonesia lagi dalam mengadakan kerjasama Internasional. Seperti yg ditulis oleh gatra sebulan setelah indikasi kerjasama Indonesia dengan Iran. http://www.gatra.com/artikel.php?id=96257 RI-AS Jajaki Kerja Sama Nuklir Washington, 15 Juli 2006 15:58 Pemerintah Indonesia menjajaki peluang kerja sama dengan Amerika Serikat (AS) dalam membangun pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN). Penjajakan awal ini dilakukan Menteri Riset dan Teknologi (Menristek), Kusmayanto Kadiman dengan penasihat senior tenaga nuklir dari Departemen Energi AS, dan pihak Nuclear Energy Institute (NEI) di Washington DC, hari Jum`at (14/7). * Menarik juga menggandeng Iran.* Malaysia secara terbuka mendukung negara-negara Islam. Dan akhirnya mendapatkan lisensi untuk mengexplorasi-eksploitasi di negara-negara Islam di Afrika termasuk Sudan dll. Dengan begini produksi Petronas secara global telah meningkat tajam melebihi 1 Juta barel/day. Jauh diatas Indonesia secara keseluruhan. 'Menggandeng siapa', dalampercaturan global akan sangat menentukan ketergantungan dan aliainsi. Malaysia cukup 'cerdik' untuk berani menyatakan mendukung negara Islam hingga sukses masuk ke negara-negara Islam di Afrika dimana sumber migasnya masih belum banyak disentuh tangan-tangan 'barat'. Salah satunya di Sudan, yang sudah mulai akan memproduksi 250.000 Barrel perhari. Nah, Indonesia mau tetep ambigu dengan mengangkangi keduanya atau malah justru terinjak keduanya, itu sangat tergantung kita. Mungkin sebentar lagi negara-negara lain akan "merayu" Indonesia untuk berkongsi dalam pengembangan energi maju ini. Siapa mau ?? Jerman, India, Cina, Jepang ? Hayooo tunjukin teknologimu, nanti aku contek ! upst !!! -- http://rovicky.wordpress.com/ --------------------------------- Do you Yahoo!? Everyone is raving about the all-new Yahoo! Mail Beta.

