Di sepanjang pantai selatan Jawa dan barat Sumatra yang rawan tsunami banyak 
pantai wisata. Kebanyakan yang berada di pantai, nelayan, apalagi yang lagi 
berenang di pantai, tidak merasakan gempa, sehingga tidak mengantisipasi adanya 
tsunami. Mungkin sudah saatnya pemerintah atau pihak yang berwenang membuat 
alarm  gempa di semua wisata pantai yang menyala bila terjadi gempa, mengingat 
tenggang waktu antara gempa dan tsunami relatif singkat. Sehingga nantinya 
kalau terjadi gempa, tanpa harus menunggu tsunami datang, semua orang yang 
berada dekat pantai sempat menyelamatkan diri.
   
  Kita masih bersyukur karena terjadinya gempa bukan sehari sebelumnya. 
Diperkirakan akan jatuh korban lebih banyak kalau terjadi pada hari libur, 
karena akan lebih banyak wisatawan yang pergi ke pantai.
   
  Salam
  BPJ

Awang Satyana <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
  Sampai hampir pukul 01.00 dini hari ini (Selasa 18 Juli 2006), saat tulisan 
ini dibuat, jumlah korban tewas telah mencapai 86 orang, tersebar dari pantai 
selatan Garut, Cipatujah, Pangandaran, Cilacap, sampai Gunung Kidul. Bilangan 
ini masih akan bertambah terus sebab puluhan orang dilaporkan hilang. Korban 
tewas bertambah dengan cepat, pukul 17.50 tadi sore (Senin 17 Juli 2006) korban 
tewas masih 5 orang seperti disampaikan Presiden Susilo Bambang Yudoyono di 
dalam acara Keterangan Pers di Istana. Korban tewas terutama karena direnggut 
tsunami dan tertimpa bangunan.

Data gempa dari BMG dan USGS sepakat mencantumkan episentrum gempa kali ini di 
Lautan Hindia selatan Jawa Barat sekitar 200 km selatan garis pantai sekitar 
Garut selatan dan 50 km di sebelah utara jalur Palung Sunda. Kekuatan gempa 
menurut BMG adalah 6.8 SR (skala Richter), sumber gempa pada kedalaman 33 km 
(MetroTV dan wawancara interaktif Radio El Shinta dengan Pak Fauzi BMG). 
Berdasarkan NEIC (National Earthquake Information Center) USGS (United States 
Geological Survey), kekuatan gempa adalah 7.1 Mw (momen magnitude – memang Mw 
selalu berangka lebih besar daripada SR) berasal dari kedalaman 48.6 km. Sampai 
pukul 23.30 tadi (Senin 17 Juli 2006) gempa susulan telah tercatat 10 kali 
dengan kekuatan 5.0-6.0 SR. Dilaporkan pula bahwa gempa skala kecil dilaporkan 
terjadi di selatan Trenggalek, Jawa Timur.

Mengapa gempa ini menimbulkan tsunami ? Karena, semua syarat terjadinya tsunami 
dipenuhinya. Gempa ini terhitung dangkal (33 km), kuat (6.8 SR), terjadi di 
laut, dan mekanisme pematahan batuan pada sumber gempa ini adalah penyesaran 
naik (berdasarkan focal mechanism/momen tensor solution-nya). Tsunami di 
pantai-pantai dengan korban tewas tercatat dengan ketinggian gelombang 1-2 
meter (info sesaat dari orang-orang di wilayah tsunami sekitar 
Pangandaran-Cilacap yang berhasil diwawancarai El Shinta secara jarak jauh 
melaporkan gelombang tsunami setinggi 5-7 meter). Seorang narapidana Nusa 
Kambangan yang sedang bekerja di luar penjara dilaporkan ketakutan-panik dan 
malahan bunuh diri dengan menjatuhkan diri ke dalam sumur.

Gelombang tsunami juga teramati di Bali pada ketinggian 20 cm, di Pulau 
Christmas setinggi 60 cm, dan di Pulau Cocos 10 cm. Pulau Christmas dan Pulau 
Cocos terletak di sebelah baratdaya sumber gempa. Tsunami juga tercatat di 
baratlaut pantai Australia. Menurut sebuah sumber lembaga geosains di 
Australia, wilayah pengaruh tsunami gempa kali ini adalah seluas radius 1100 km 
dari titik episentrum.

Bagaimana posisi seismotektonik “gempa Pangandaran” ini ? Plotting episentrum 
gempa ini pada peta2 tektonik Indonesia selatan Jawa (misal pada peta Hamilton, 
1979) dengan segera menunjukkan bahwa episentrum/hiposentrum terjadi pada jalur 
non-volcanic outer arc ridge di selatan Jawa. Ini adalah jalur terusan pulau2 
barat Sumatra Simeulue-Nias-Mentawai-Enggano yang menerus ke Jawa sebagai 
submarine ridge. Wilayah ini disusun oleh melange hasil prisma akresi 
konvergensi Lempeng Hindia dengan bagian Lempeng Asia (Mikro-Lempeng Sunda). 
Sumber gempa terjadi sekitar 50 km utara Palung Sunda pada kedalaman 33 km – 
mengindikasi bahwa sumber gempa berasal dari pematahan segmen kerak Bumi pada 
overriding plate di atas Lempeng Hindia yang menunjam/menyusup di bawahnya.

Ke baratdaya dari wilayah ini banyak oceanic plateaux sekitar Pulau Cocos yang 
kelak (relatif dalam periode geologi) akan menghentikan sejenak proses 
penunjaman Lempeng Hindia di bawah Mikro-Lempeng Sunda dan kerak akresinya. 
Untuk suatu periode nanti wilayah2 ini akan menjadi “seismic gap zones” yang 
“aseismic”, tetapi yang selanjutnya justru akan menjadi wilayah2 pencetus gempa 
besar saat rupture mesti terjadi.

Bencana ini sekali lagi menunjukkan kepada kita, sudah saatnya wilayah selatan 
Jawa mendapatkan perhatian yang layak dalam segi seismotektonik sesering 
seperti yang dilakukan di wilayah sebelah barat Sumatra. Pengetahuan kita untuk 
selatan Jawa minimal, padahal penduduknya cukup banyak.

We are living and sleeping with earthquakes, be ready !

awang

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

                        
---------------------------------
See the all-new, redesigned Yahoo.com.  Check it out.

Kirim email ke