Setelah issue gempa/ tsunami Cilegon dan Anyer reda, dan issue di Jakarta
menghangat, saya coba berbagi pengalaman. Sabtu - Minggu (22-23 Agustus)lalu
saya dan 2 anak saya (kelas 1 SMU dan 2 SMP)berada di Mutiara Carita. Memang
sudah agak lama saya rencanakan menutup liburan sekolah anak2 ke Carita dan
Krakatau, agak sayang kalau dibatalkan. Kebetulan ada expat satu kantor yg
ingin mengunjungi Krakatau juga. Jadilah kami berlima (plus adik) berada di
Mutiara Carita.

Suasananya sepi dan agak mencekam, menurut petugas hotel, isu-isu gempa dan
tsunami telah mematikan aktifitas di seputaran pantai barat ini. Bahkan
sehari sebelumnya, masyarakat dari Labuan sampai Anyer berhamburan mengungsi
ke bukit2. Di Mutiara Carita sendiri, 2 group tamu (dari bank) telah
membatalkan acaranya. Jadilah cuma kami berlima yang tinggal di sana. 

Malam Minggu-nya bbrpa karyawan hotel menanyai saya kenapa orang lain pergi
menghindar, kami malah mendekat. Terlihat wajah mereka was-was, mungkin
ingin kabur juga, tapi tidak berani meninggalkan hotel. Ada juga wartawan
dari koran local Banten yg berkeinginan bergabung ke Krakatau besoknya (saya
persilakan saja). Jadilah malam itu, setelah makan malam saya bikin
sosialisasi kecil ke karyawan hotel (receptionist, office boy, satpam ----
ada sekitar 5 orang) ttg gempa dan tanda-tanda tsunami seperti banyak
dibahas di milist ini. Malamnya, sempat was-was juga hati ini ketika baca
email Pak Awang yg mencurigai jangan2 gempa Selat Sunda 19 Juli lalu adalah
fore-shock sebelum gempa utamanya. Malam itu kami tidur dengan tenang walau
hati agak deg-degan (masih manusia biasa juga ternyata......). Anak-anak
saya lihat mendengkur ...... tidak peduli dengan isu-isu menghobihkan itu.

Paginya cuaca agak mendung, tapi matahari tetap bersinar. Jam 7 pagi kami
meninggalkan Carita (si wartawan ternyata tidak nongol ...... mungkin takut
kali...), didampingi oleh 2 awak boat dan 1 guide dari hotel. Laut tenang
sekali...... sekali2 boat kami diikuti oleh ikan terbang yang
meloncat-loncat searah haluan boat. Jam 8.30 kami mendarat di Krakatau,
setelah basa-basi sebentar dengan petugas Cagar Alam di sana, langsung kami
mendaki Krakatau. Anak2 dan si expat kawan saya terlihat menikmati sekali
perjalanan ini (sudah lupa akan isu-isu gempa/ tsunami). Setelah menikmati
suasana di atas, jam 11.30 kami sudah turun lagi ke pantai, sambil membawa
souvenir basalt scoria kecil-kecil (juga pumice - yg bertebaran di sepanjang
pantai). Yang menarik, kami tidak melihat ketakutan/ was2 pada para petugas
CA (mungkin mereka tidak pernah tahu kalau di pantai Jawa orang2 pada
ketakutan).

Setelah sekali berkeliling pulau sambil mengamati gunung api yg pernah
menggegerkan dunia dengan letusannya di 1883, kami kembali ke Carita. Laut
tetap tenang, dan hanya sekali-sekali gelombang agak besar menghempas
lambung boat. Alahamdulillah, dengan selamat kami kembali ke Carita sekitar
jam 13.00, disambut hangat oleh karywan hotel. Anak-anak sangat menikmati
sekali penutupan liburan ini, sambil mengenal gunung api, laut dan cagar
alam. 

Walau saya tidak berani memastikan bahwa gempa/ tsunami tidak akan terjadi
di Selat Sunda, tetapi keterangan saya ke bbrp karywan hotel cukup merasuk,
bahwa setelah gempa 19 July lalu masih perlu waktu agak lama (?) untuk ada
gempa lagi...... kecuali kecurigaan Pak Awang ttg fore shock benar (??).

Sekedar berbagi cerita.

Salam - Daru    

-----Original Message-----
From: Ariadi Subandrio [mailto:[EMAIL PROTECTED] 
Sent: Tuesday, July 25, 2006 3:51 PM
To: [email protected]
Subject: [iagi-net-l] Opini Gempa diantara Eksekutif Muda Jakarta

Tadi siang beredar issue akan datangnya gempa, konon para eksekutif muda
pada berlarian...
   
  Memang. Siapa yang tak cemas dengan gempa, hampir semua orang, tetapi
dengan lebih mempercayai berita kurang bertanggung jawab seperti dari sms
liar dengan mendasarkan hasil2 ramalan si A si B rasanya kok menjadi
aneh...seperti yang terjadi pada para kaum terpelajar di Jakarta tadi siang
yang rame2 "nunggu datang"nya gempa dengan berkumpul di lobby gedung2 tinggi
di kawasan Kuningan. 
   
  Rasa2nya para intelektual muda yang banyak berada di ruang gedung-gudeng
jangkung Jakarta sudah paham bahwa gempa tak bisa diramalkan lokasi tepat
tempatnya mau pun kapan waktu terjadinya gempa... mereka bukan orang2 yang
miskin informasi dan mereka bukan manusia2 yang susah pengertian, namun
fakta menunjukkan bahwa "kekuatan sosialisasi ramalan gempa dari si A si B"
lebih kuat merasuk daripada penjelasan2 para pakar kebumian....
   
  Masih sebuah tantangan tentang sosialisasi....
   
  salam,
  ar-
  (di negeri yang susah saling percaya, peramalan menjadi lahan subur.....
   
   




---------------------------------------------------------------------
-----  PIT IAGI ke 35 di Pekanbaru
-----  Call For Papers until 26 May 2006             
-----  Submit to: [EMAIL PROTECTED]    
---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke