Pak Awang,
Setuju dengan resume stratigrafi tersebut. Memang dulunya saat mau
ngebor Porong-1, Huffco mempergunakan referensi dari hail paleontology
yang di publish oleh Mobil pasca BD-1 yang mengatakan bahwa tidak ada
time gap post carbonat-nya (ada dalam publikasi mereka di IPA, tahun
89/90?), cuma seingat saya itu kemudian direvisi dengan menyebutkan
keberadaan hiatus besar tersebut. Cuma, sumur Porong-1 sudah keburu
ditajak.
Hasil ini yang kemudian mendorong Huffco saat mengebor sumur Porong-1
melakukan hot-shot paleontology analysis dan juga seismic while drilling
(ini karena memprediksikan adanya abnormal zone disekitar 1500 msec).
Hasil hot-shot analysis memang mengejutkan, karena prospek Porong
menjadi sangat riskan terhadap seal failure dan trap integrity-nya
sangat rentan. Dulu, Huffco berpendapat bahwa pada saat migrasi terjadi,
si Porong build-up sudah ter-expose (seingat saya, litologi-nya sudah
menjadi dolomit). Hasil seismic while drilling dipergunakan untuk
prediksi top build-up, dan, ndak jelek-jelek amat hasilnya.
Paleontology di Porong juga menunjukkan Pliosen didaerah tersebut sudah
"wassalam"...atau tidak pernah diendapkan, atau totally gone.
Mengapa hiatus sebesar itu bisa terjadi? Hmm, flattening ke arah barat
menunjukkan sedikitnya 4000 feet sedimen telah hilang. Jadi, daerah
subzone Solo disini pernah terangkat, lalu turun cepat skali pada saat
Plistosen Bawah (untuk "banci"-nya, yah, dibilang "latest Pliocene") dan
diisi oleh endapan-endapan laut dalam, diendapkan dalam waktu yang
relatif singkat.
Juga kalau dirunut kearah Barat lagi, kelihatannya sedimen-sedimen
tersebut (Pucangan - Kabuh - Notopuro) merupakan suatu sistim "time
transgressive".
Barangkali pak Awang bisa share dengan model-model Kembang Baru, Grigis
Barat, Mudi, etc? Umurnya kapan, sealnya juga kapan?
Model subsurface yang disebut diatas yang menjadikan Huffco berpikir
lead BP sharing seal risk dan trap integrity yang sama dengan Porong-1.
Kalau diapiric fluid, mungkin kah asalnya justru dari sedimen-sedimen
dibawah build-up tersebut? Barangkali dari Oligocene atau justru dari
Eocenenya?
Bambang

-----Original Message-----
From: Awang Harun Satyana [mailto:[EMAIL PROTECTED] 
Sent: Monday, August 07, 2006 4:03 PM
To: [email protected]
Subject: RE: [iagi-net-l] Pendapat IAGI u/ Lumpur Porong

Oki, tak perlu membawa nama2 Wonocolo, Ngrayong, Paciran, Mundu ke
wilayah sekitar Banjar Panji ini. Itu nama2 khas Rembang Zone kan dan
sedikit Selat Madura. Stratigrafi Banjar Panji di selatan Zone Kendeng
dan sedikit masuk ke Solo Depression ini sudah sangat berlainan walaupun
secara umur bisa ekivalen dengan Rembang. Sebaiknya kita memakai
stratigrafi lokal untuk menghindarkan kekeliruan dan kebingungan.

Berdasarkan data biostrat terbaru sumur Banjar Panji-1, formasi batuan
di kedalaman 6000-9000 ft yang dicurigai sebagai asal lumpur dan dari
diskusi2 di berbagai milis disebut sebagai Formasi Kalibeng, ternyata
masih berumur Pucangan (Plistosen Bawah). Suatu penemuan yang
mengejutkan !

Saya cek data isotop strontium 87Sr/86Sr yang ada untuk sumur Porong-1.
Di puncak karbonat dari sebuah SWC-nya diukur umur absolute dari fragmen
ganggang merah, menghasilkan umur 16 Ma (late Early Miocene). Itu adalah
umur ekivalen Tuban atau Rancak reef di Jawa Timur. Saya lebih suka
menyebut bahwa Porong-1 menembus reef umur Wonosari.

Tiga feet saja di dalam lapisan klastik di atas top karbonat ini, sebuah
SWC diukur lagi umur absolutnya, dan menghasilkan umur 3 Ma (Pliosen
Akhir). Dari 16 Ma, langsung ke 3 Ma ?! Sedimen di atas eq. Wonosari di
Porong-1 itu adalah sedimen Sonde/Jombang/Notopuro yang sedikit lebih
tua daripada Pucangan. Tak ada Wonocolo, tak ada Kalibeng, tak ada
Ngrayong. Bagaimana hiatus sebesar itu bisa terjadi ?

Kembali ke sumur Banjar Panji-1. Apakah Kujung sudah ditembus ? Tak akan
ada yang bisa memastikan sebab sampel karbonat tidak ada, umur
absolutnya tak bisa diketahui. Maka, karbonat di TD sumur Banjar Panji
itu bisa semuda Klitik carbonates (sekitar 6 Ma), bisa Wonosari
carbonates (17-14 Ma), bisa juga Prupuh (sekitar 20 Ma). 

Yang jelas, stratigrafi Banjar Panji lebih kompleks daripada yang kita
bayangkan. Dan umur sedimen Plistosen-Pliosen bisa sangat tebal di sini
sebab kita tahu ini wilayah sedimentasi sangat cepat, sehingga
mobilisasi lempung yang tak stabil sering muncul di beberapa tempat.
Kita sudah tahu ini wilayah dengan kejadian diapirism dan mud volcano
yang sangat mungkin. Coba kita lihat seismik yang melintasi Porong, dulu
ini suka disebut collapse structure, tetapi sekarang rasanya itu mud
volcano cratering. 

Salam,
Awang

-----Original Message-----
From: oki musakti [mailto:[EMAIL PROTECTED] 
Sent: Monday, August 07, 2006 2:40 PM
To: [email protected]
Subject: Re: [iagi-net-l] Pendapat IAGI u/ Lumpur Porong

4 - 5 km kira-kira 13000 -16000 feet. Gak salah ...? 
  Ini ketebalan lumpur (Plestosen, ekuvalen Lidah ?) nya saja.
   
  Belum kalau hitung tebalnya Wonocolo, Ngrayonkg/OK equivalent,
Mundu-Paciran dll.
  
Lha depth nya Kujung (Early Miocene) di Banjar Panji itu berapa sih...?
   
  Salam
  Oki
Ariadi Subandrio <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
  
Dia mengatakan kesamaan struktur lumpur juga diperkuat adanya kesamaan
geologis. "Di bawah Porong hingga Gunung Anyar ada semacam tangki besar
seperti gorong-gorong yang luasnya 200 kilometer persegi dengan
ketebalan 4-5 kilometer. Lumpur keluar dari tangki tersebut," ujar Edy. 

                
---------------------------------
Do you Yahoo!?
 Get on board. You're invited to try the new Yahoo! Mail Beta.


---------------------------------------------------------------------
-----  PIT IAGI ke 35 di Pekanbaru
-----  Call For Papers until 26 May 2006             
-----  Submit to: [EMAIL PROTECTED]    
---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------

----------------------------------------------------------------------
This e-mail, including any attached files, may contain confidential and 
privileged information for the sole use of the intended recipient.  Any review, 
use, distribution, or disclosure by others is strictly prohibited.  If you are 
not the intended recipient (or authorized to receive information for the 
intended recipient), please contact the sender by reply e-mail and delete all 
copies of this message.

---------------------------------------------------------------------
-----  PIT IAGI ke 35 di Pekanbaru
-----  Call For Papers until 26 May 2006
-----  Submit to: [EMAIL PROTECTED]
---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke