Bung Vicky ....
Kebangsaan tentu saja tidak semudah diukur dengan pembelian bendera merah
putih atau besar kecilnya sumbangan tujuh belasan, tapi saya kira
kertersediaan lapangan kerja dan ketercukupan kebutuhan hidup, dengan
sendirinya akan membuat orang merasa bangga menjadi suatu bangsa. Ini cuma
pendapat saya lho ya ....

Nah, masalahnya, definisi ke'butuh'an bangsa kita ini sudah terkontaminasi
sedemikian rupa menjadi ke'ingin'an. Dan semua juga tahu bahwa yang namanya
ke'ingin'an manusia itu tidak ada batasnya, mungkin kalau bisa disebut
batas, hanyalah tembok kuburan yang bisa membatasi ke'ingin'an manusia.

So, apa salahnya berke'ingin'an tanpa batas ?! Tentu tidak menjadi masalah
besar kalau negara sudah kaya. Masalahanya jelas, resources bangsa kita ini,
saat ini sangat terbatas, apalagi setelah dihantam berbagai krisis dan
bencana. Sebagai akibatnya, sebagian orang mencukupi ke'ingin'annya dengan
cara mengambil jatah orang lain (kalau tidak mau disebut mencuri).

Seandainya, kita ini masih menyisakan sedikit sisa paham sosialis, dalam
arti negara masih bisa mengontrol cara hidup masyarakat, tepatnya, karena
negara masih melarat, maka ke'butuh'an hidup sebagai bangsa harus sedikit
ditekan, lebih persisnya lagi, sebagai bangsa kita harus bisa menurunkan
'life expectation' dan 'life satisfaction' untuk saat ini, sampai nanti
dinaikan lagi bila sudah merata dan negara sudah cukup kaya. Tapi, hare
gene, apa ya bisa negara Indonesia mengontrol gaya hidup masyarakatnya
.......

Dalam hal ini, aku salut sama Cina, komunis boleh bubar, sosialis bisa
dibuang ke tempat sampah, namun kekuasaan negara untuk mengontrol gaya hidup
rakyatnya, tetap dipertahankan. Meskipun cina mempunyai cadangan devisa
lebih dari 800 Milyard dollar (mohon dikoreksi kalau salah), masih bisa kita
lihat begitu banyaknya orang naik sepeda onthel yang sudah karaten
sana-sini, begitu banyaknya orang yang mau jalan kaki kekantor untuk jarak
2-3 kilo. Coba bandingkan dengan sebagian masyarakat kita, telung atus meter
aja penginya naik mikrolet atau ojek.

Kembali ke masalah kebangsaan, kalau kita merasa puas dengan kehidupan kita,
nggak usah dipaksa-nggak usah ditanya, kita akan sangat nasionalis dengan
sendirinya. Getho bung menurut saya ?!

By the way, apakah masih banyak TKI dikirim dengan bas dari pabriknya untuk
ikut upacara bendera di Wisma Duta ?!

Salam

DR
----- Original Message ----- 
From: "Rovicky Dwi Putrohari" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[email protected]>; "migas indonesia"
<[EMAIL PROTECTED]>; <[EMAIL PROTECTED]>;
<[EMAIL PROTECTED]>; "HAGI-Net" <[EMAIL PROTECTED]>;
<[EMAIL PROTECTED]>; <[email protected]>;
<[EMAIL PROTECTED]>; <[EMAIL PROTECTED]>;
<[EMAIL PROTECTED]>; <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Friday, August 25, 2006 1:34 PM
Subject: [iagi-net-l] kebangsaan dan kebanggaan sebagai bangsa Indonesia


> Baru seminggu yang lalu Indonesia merayakan kemerdekaannya yang ke 61.
Namun
> selalu saja beritanya disoroti dengan terpuruknya rasa kebanggaa dan
> kebangsaan Indonesia. Termasuk Polling di Kompas.com  (status 25/8/06 jam
> 11.30 adalah 34 % Bangga dan 66 % Tidak dari 30.958 responden.). Di
Jakarta
> penjual bendera saat ini barangkali sedang menghitung hasil penjualannya,
yg
> mungkin saja keuntungannya menurun sesuai dengan polling itu ... ah aku
tak
> tahu.
>
> Di seberang pulau lain di kota Kualalumpur, saat ini sedang menyambut
> perayaan kemerdekaan Malaysia yang ke 49 tanggal 31 Agustus nanti.
Persiapan
> sudah terlihat disana sini bahkan dibeberapa tempat penjualan pom bensin
> dibagikan gratis bendera, sebagai penghias mobil.
> Bendera dibagi gratis ?
> Iya .... "gratis" setelah membeli bensin (petrol) tentusaja. Tapi tidak
> perlu membeli dari kocek sendiri.
> Tidak ada penjual bendera, tidak ada terlihat penjual tiang bendera di
> Kualalumpur ini tidak seperti Jakarta ....
>
> Nah rakyat yang mana yang masih memilki rasa kebangsaan, kebanggaan untuk
> "membeli" bendera sendiri  ?
>
> Ah, masak sih rasa bangga dan kebangsaan hanya ditunjukin dengan membeli
> bendera ?
> Buat aku sih iya ... oarang Indonesia memiliki rasa kebanggsaan lebih dari
> Malaysia ... aku kampungan ya ? .....  mungkin anda berpikir lain, ya
jelas
> ndak apa-apa berpikir lain ... tapi itu lah demokrasi yg ada di Indonesia.
> Kita diberi hak untuk berpikir berbeda ... walaupun sekedar soal
kebanggaan
> yg diekspresikan dengan membeli bendera.
>
> Yang mungkin tidak ada disana.
>
> Salam
>
> RDP
> ---
> http://rovicky.wordpress.com
>


---------------------------------------------------------------------
-----  PIT IAGI ke 35 di Pekanbaru
-----  Call For Papers until 26 May 2006             
-----  Submit to: [EMAIL PROTECTED]    
---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke