Untuk pembuatan tanggul perlu dihitung secara ekonomis, safety dan daya dukung tanggul tersebut. Namun sepertinya saya pesimis dengan pembuatan tanggul ini untuk jangka waktu yang lama. Pipanisasipun ada segi negatifnya kalau terjadi sedimentasi di dalam pipa atau pengeroposan pipa itu sendiri yang akhirnya juga ada kebocoran, disamping itu harus ada maintenance pipanya. Jadi pipanisasi juga akan menyerap dana yang besar. Mengingat sifat lumpur yang cair, maka untuk memindahkanya sebaiknya mengikuti sifat lumpur itu sendiri yang mengalir ke arah tempat yang lebih rendah. Kita hanya memberikan path nya berupa canal. Oleh karena itu untuk dalam waktu pendek ini saya setuju dialirkan ke laut saja dengan membuar canal yang lurus ke arah Timur berjarak kurang dari 20 km. Hal ini bisa bertahan lama, malahan bisa diharapkan membentuk suatu delta yang nantinya bisa sebagai daerah hunian (ini dari segi positifnya).
Best Regards, Gantok Subiyantoro -----Original Message----- From: [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED] Sent: Tuesday, August 29, 2006 1:36 PM To: [email protected] Subject: Re: [iagi-net-l] Pandangan dari atas. Menurut saya ide membuat selubung di setiap lobang semburan dengan ide meninggikan tanggul sedikit berbeda karena kalo menggunakan selubung. Memang gaya yang bekerja ke bawah di tiap titik sama rho-ge-ha, tapi gaya yang bekerja ke samping tentunya dipengaruhi volume dan sangat berbeda, dimana gaya ke samping kalo menggunakan selubung bisa diabaikan. Ide membuat selubung ini kayaknya lebih bisa diterima dan lebih murah, tetapi ada tantangannya yaitu menentukan geometri lubang semburan. Mungkin bisa mengadopsi cara monitoring untuk fracturing yang menggunakan micro seismic dimana kita mencoba untuk mengidentifikasi focal mechanism-2 yang ada disekitar permukaan di seputar lobang-2 semburan. Problemnya , bisakah kita meletakkan geophone di dalam lumpur panas ini, tahan nggak yah. Dulu Geofisika UGM pernah mencoba untuk mendeteksi zona fracturing dari geophone yang diletakkan di surface, hasilnya kurang begitu robust karena frekuensi tingginya nggak ketangkap dikarenakan kedlaman reservoir, nah ini "zona fracturing" nya di sekitar permukaan... Bisa dong dicoba lagi ? salam, Fauzi |---------+---------------------------> | | "Rovicky Dwi | | | Putrohari" | | | <[EMAIL PROTECTED]| | | om> | | | | | | 29/08/2006 01:12| | | PM | | | Please respond | | | to iagi-net | | | | |---------+---------------------------> >----------------------------------------------------------------------- ------------------------------------------------| | | | To: [email protected] | | cc: | | Subject: Re: [iagi-net-l] Pandangan dari atas. | >----------------------------------------------------------------------- ------------------------------------------------| Den Bagus Arif, Meninggikan tanggul itu memang yg mudah. Dengan catatan tanggul dibuat sesuai dengan peruntukannya. maksudku tanggul yg selama ini dibuat adalah peninggian dari tanggul darurat dimana, dasar tanggul tidak tertanam. handicapnya hanyalah rembesan seperti yg saya wanti2 sebelumnya dan terbukti dari foto2 itu. Bahwa gorong-gorong menjadi penyebab ambrol dan jebolnya tanggul. Mekanisme rembesannya ya masih berkutet karena rumus hidrostatik. Wah ampuh tenan rumus "rho ge ha " ini. digambarku aku tulis H dan Rho (BJ) saja. Soale grafitasi ini relatip konstant ditempat itu. Kendala lainnya dengan selubung jebolnya lubang lama yg pernah muncrat juga. Ini menandakan dibawah sono banyak rekahan2nya. Mungkin dicoba dideteksi saja dengan metode seismic ya ... hehehehe ... ya tinggal naruh geophone aja trus dimonitor. kan harga geophone juga ga mahal kok. Sapa tahu bisa jadi thesisnya dosen ITS ... Terinya mestinya seperti teori gunungapi yg memonitor bawah permukaan. Tremor2 kecil yg terrekam aku rasa dapat dipakai sebagai acuan teoritis. Soal cost Kalau melihat kerusakan lokal disini mnurutku masih relatif kecil, tetapi "colateral damage" karena terganggunya nadi transportasi ini yg sulit diperkirakan. rdp On 8/29/06, Arief Budiman <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Kang Vicky, > Melanjutkan ide pembicaraan tentang pembangunan "selubung" lumpur > untuk menciptakan kondisi hidrostatik lumpur di lokasi semburan, yg memiliki risiko kegagalan yg paling kecil adalah dengan meninggikan tanggul yg ada sampai 2 atau 3 meter di atas semburan maksimal. Namun yg aku tidak tahu adalah berapa estimasi biayanya, dan akankah lapindo mau/mampu membiayainya? Untuk itu adakah gambar dari permukaan yg menunjukkan geometri dan dimensi tanggul yg sekarang ada? Mas soffian atau yg lain yg bekecimpung di bidang geologi teknik mungkin punya rekan civil engineer yg dapat membuat perkiraan tentang biayanya? Hehehe jangan sampe saya usul sesuatu yg gak mungkin atau naif secara ekonomi. > > > Catatan : > 1) Data yg saya ketahui semburan tertinggi = 25 ft di atas permukaan > atau 36 ft di atas muka laut. > 2) Beberapa hari yang lalu ada kabar bahwa terjadi semburan setinggi > 50 m. Menurut saya semburan 50m kemungkinan akibat tersumbatnya lubang sesaat oleh material padat, atau ada peningkatan fraksi air yg berakibat pada penurunan densitas fluida (lumpur) . Untuk itu perlu kejelasan apakah ada kenampakan bertambahnya fraksi air, adakah gas H2S terdeteksi saat semburan 50m?. saya yakin tekanan formasi masih relatif konstan. > 3) Informasi via sms dari mas Soffian, area yg tergenang adalah 240 ha. > > Apakah usulan say tentang peninggian tanggul sampai 3m di atas tinggi semburan maksimal : > 1) Masuk akal secara teknis? > 2) Tidak berlebihan dalam skala ekonomi bencana? > > Mohon rekan2 IAGI memberi pencerahan. > > > Terima kasih & salam, > > > A R I E F B U D I M A N > Pertamina - Eksplorasi Sumatra > Phone : (021) 350 2150 ext.1782 > Mobile : 0813 1770 4257 / (021) 70 23 73 63 > > > -----Original Message----- > From: Rovicky Dwi Putrohari [mailto:[EMAIL PROTECTED] > Sent: Tuesday, August 29, 2006 7:52 AM > To: [email protected] > Cc: migas indonesia; HAGI-Net; [EMAIL PROTECTED]; [email protected]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [email protected]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED] > Subject: [iagi-net-l] Pandangan dari atas. > > Gambar dan foto lengkap ada di Dongeng Geologi : http://rovicky.wordpress.com > > Pandangan dari atas. > > Untuk memberikan gambaran dalam skala ruang (peta). Berikut saya > lampirkan foto-foto yang diambil dari atas. Berapa luas daerah yg > terkena dampak lumpur ini ?. Mungkin sulit bagi yg tidak sempat > melihat. kalau sebelumnya geologi hanya melihat bawah permukaan saja, > sekarang bagaimana seorang geologi melihat dampak di permukaannya. > > Pandangan dari atas (satelite view). > Perhatikan luas area yg terpengaruh. Seberapa skala yg diakibatkan > oleh lumpur, bayangkan dari sebuah lubang pengeboran sumur berukuran > sekian inci itu (+/- 10 inci) mampu membuat rekahan yg akhirnya > mengeluarkan material sebanyak itu. Seberapa besar pressure atau > tekanan dibawah tanah. Tekanan yang mampu mendorong seluruh material > (lumpur) ke permukaan dengan debit 50 000 m kubik sehari. > > Juga jangan lupa perhatikan skala jarak 500 m yang ada disebelah kiri, > ini bisa dipakai untuk melihat skala luas dampak yg ditimbulkannya. > Nantinya dengan pandangan skala ini bisa dibayangkan seberapa besar > kemungkinan akan menenggelamkan sebuah kota atau sebuah desa ? > > Berikutnya disamping kiri ini adalah pandangan miring dari helikopter > (helicopter view) ada juga yg menyebutnya "bird view". > > Sekarang kita lihat sama-sama pandangan dari helikopter secara miring > ini. Bisa terlihat seandainya jalan itu hanya kecil membelah > kolam-kolam lumpur. Digambar ini terlihat bagaimana jalan tol di > tengah membelah kolam ini dan bagaimana ketika tanggul disekitar tol > ini jebol. Ya kita dapat melihat dan memperkirakan risiko berada jalan > tol. Foto ini diambil 29 july lalu. Terlihat bagaimana dampak jebolnya > dinding atau tanggul yg membanjiri perumahan disebelahnya. > > Disamping ini gambaran yg diambil pada tanggal yang sama 29 July 2006 > dilihat dari sisi sebelahnya. Terlihat perumahan yg tersapu terendam > banjir lumpur akibat jebolnya tanggul sehari sebelumnya. > > Sangat cepat penjalaran banjir lumpur ini. Hanya dalam sehari saja > sudah menghabiskan berpuluh-puluh rumah penduduk. > > Masih seperti pandangan diatas memperlihatkan lokasi jebolnya tanggul > pada tanggal 28 July 2006 lalu. Serta alirannya yang menyebar > kemana-mana. Karena topografi daerah ini sangat landai maka penyebaran > lumpur ini akan terkonsentrasi di lokasi semburan, dan menyebar > kesegala arah. > > Gorong-gorong sering merupakan titik lemah dalam tanggul. Seperti yg > saya gambarkan sebelumnya disini, bahwa bagian dasar dari tanggul ini > merupakan daerah yg menerima beban tekanan tinggi kolom air yang > terbesar. Gambar sebelah membuktikan bahwa aliran dari bawah ini yg > harus diamati ketika ketinggian kolom lumpur sudah mencapai titik > maksimum tanggul. Rembesan-rembesan kecil harus diawasi karena akan > menjadikan awal jebolnya tanggul. Selain itu kondisi awal atau denah > /peta lingkungan sebelum dibangunnya bendung atau tanggul ini perlu > diketahui dengan baik untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya > kebocoran dan jebolnya tanggul-tanggul yg sudah dibuat saat ini. > > Sisi pandangan lain dari luapan lumpur ini juga memperlihatkan desain > pembangunan tanggul-tanggul yg sudah direncakan dengan sistem buka > tutup untuk mengantisipasi melubernya air. Ada sedikit kendala > tentunya. Salah satunya adalah bahwa lumpur ini terdiri dari 30% > material padatan yg akan mengendap sehingga akan mendangkalkan > kolam-kolam ini dengan sangat cepat. > > Sekali lagi saya tampilkan delta buatan yang merupakan hasil rekayasa > yang berada di sebelah utara kota Gresik. Kali ini saya tampilkan > delta yang ada dengan lebih detil lagi. Kita sebut saja Delta Pangkah. > Apa saja yang dapat kita pelajari dari gambar disebelah ini ?. > > Warna biru muda (turquoise) menunjukkan pola penyebaran sedimen yg > diangkut oleh aliran air laut yg melalui Selat Madura. Batuan yg > keluar dari lubang semburan di Porong ini juga sama secara genetika > (pembentukannya). Jadi warna biru muda (turquoise) itu adalah > endapan-endapan halus berukuran lempung yg menyebar dan terendapkan > didasar-dasar laut. > > Perhatikan skala pembanding yang ada. Dimensi dari kanal buatan yg > konon dibuat sekitar 100 tahun yang lalu ini memiliki panjang 15 Km. > Bandingkan dengan ukuran kolam-kolam di lumpur Sidoarjo pada gambar > paling atas. Terlihat bahwa ukuran kolam itu tidak seberapa kalau > dibandingkan lumpur alami yg mendangkalkan laut. Dengan demikian > menurut saya kita tidak perlu takut dengan pendangkalan yg mungkin > terjadi akibat memasukkan atau mengalirkan lumpur ini ke laut. Namun > ada hal lain yg perlu difikirkan yaitu komposisi kimiawi. Menurut > penelitian ITS sebelumnya menunjukkan bahwa tidak perlu ditakutkan > juga karena dianggap aman untuk biota-biota laut. > > Selain itu bisa juga dilihat kan ? Banyak tambak-tambak ikan dan udang > di delta yg 'baru' ini. Lah kalau memang bisa menjadi sumber ekonomi > baru lak malah bagus tah ? Nah, kita jangan buru-buru ketakutan dengan > perubahan. Jelas tidak mungkin tidak terjadi perubahan lingkungan. > Usaha menghitung ulang kerugian dengan mengembalikan ekosistem seperti > sebelumnya justru malah usaha sia-sia, namun usaha bagaimana > beradaptasi dengan lingkungan ini yg lebih penting. > > Mnurutku Menteri KLH justru bertugas untuk membuat lingkungan yang > berubah-ubah ini tetap menjadi lingkungan yang layak huni dan layak > pakai. Biarkan saja kalau Lapindo membuang "sampah"nya ke pantai. > Namun KLH "melawan" dengan membuat studi khusus untuk membuat > lingkungan tempat pembuangan ini menjadi layak pakai. Dan masih > mungkin membebankan ongkos studinya ke siapa saja yg merubah kondisi > itu. Jadi KLH mestinya berpikir foreward (kedapan) bukan hanya > mencegah supaya tidak berubah, tetapi lingkungan boleh merubah asalkan > masih tetap layak huni. > > > -- > http://rovicky.wordpress.com/ > > --------------------------------------------------------------------- > ----- PIT IAGI ke 35 di Pekanbaru > ----- Call For Papers until 26 May 2006 > ----- Submit to: [EMAIL PROTECTED] > --------------------------------------------------------------------- > To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id > To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id Visit > IAGI Website: http://iagi.or.id Pembayaran iuran anggota ditujukan ke: > Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta > No. Rek: 123 0085005314 > Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Bank BCA KCP. Manara > Mulia No. Rekening: 255-1088580 > A/n: Shinta Damayanti > IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ > IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi > --------------------------------------------------------------------- > > > --------------------------------------------------------------------- > ----- PIT IAGI ke 35 di Pekanbaru > ----- Call For Papers until 26 May 2006 > ----- Submit to: [EMAIL PROTECTED] > --------------------------------------------------------------------- > To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id > To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id > Visit IAGI Website: http://iagi.or.id > Pembayaran iuran anggota ditujukan ke: > Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta > No. Rek: 123 0085005314 > Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) > Bank BCA KCP. Manara Mulia > No. Rekening: 255-1088580 > A/n: Shinta Damayanti > IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ > IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi > --------------------------------------------------------------------- > > -- http://rovicky.wordpress.com/ --------------------------------------------------------------------- ----- PIT IAGI ke 35 di Pekanbaru ----- Call For Papers until 26 May 2006 ----- Submit to: [EMAIL PROTECTED] --------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id Visit IAGI Website: http://iagi.or.id Pembayaran iuran anggota ditujukan ke: Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta No. Rek: 123 0085005314 Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Bank BCA KCP. Manara Mulia No. Rekening: 255-1088580 A/n: Shinta Damayanti IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi --------------------------------------------------------------------- --------------------------------------------------------------------- ----- PIT IAGI ke 35 di Pekanbaru ----- Call For Papers until 26 May 2006 ----- Submit to: [EMAIL PROTECTED] --------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id Visit IAGI Website: http://iagi.or.id Pembayaran iuran anggota ditujukan ke: Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta No. Rek: 123 0085005314 Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Bank BCA KCP. Manara Mulia No. Rekening: 255-1088580 A/n: Shinta Damayanti IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi --------------------------------------------------------------------- --------------------------------------------------------------------- ----- PIT IAGI ke 35 di Pekanbaru ----- Call For Papers until 26 May 2006 ----- Submit to: [EMAIL PROTECTED] --------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id Visit IAGI Website: http://iagi.or.id Pembayaran iuran anggota ditujukan ke: Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta No. Rek: 123 0085005314 Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Bank BCA KCP. Manara Mulia No. Rekening: 255-1088580 A/n: Shinta Damayanti IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi ---------------------------------------------------------------------

