Informasi dari teman-teman IAGI Jatim, tentang polemik
Hg, tersebut bahwa ibu Tity (ITS) mengambil raw
material luberan lumpur yang ada di desa Siring. (nah
sekitar Siring itu juga banyak Industri, sebelum
kebanjiran lumpur). Nah, interpretasi sementara bisa
jadi Hg tersebut kontaminan dari limbah-limbah cair di
sekitar industri, yang bercampur dengan LUSI. Coba
kalau ada yang mau cek sampel LUSI di dekat erupsi
LUSI atau minimal 50 m dari pusat semburan LUSI.
Adakah Hg?? Silahkan

Nuwun
Agus Hendratno

--- "Maryanto (Maryant)" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> 
> Cak Andang Bachtiar, yang Exploration Think Thank
> Indonesia ini,
> biasanya tahu hingga detil-detil bagaimana kadar
> merkuri Jatim. 
> 
> Ya tak Cak ? 
> 
> Atawa yang lain ?
> 
> MYT.
> 
> -----Original Message-----
> From: R.P. Koesoemadinata
> [mailto:[EMAIL PROTECTED] 
> Sent: Friday, September 01, 2006 5:08 AM
> To: [email protected]
> Subject: Re: [iagi-net-l] Lusi
> 
> Yang saya uraikan sebetulnya hanyalah lelucon.
> Intinya apakah benar
> lumpur itu mengandung kadar Hg begitu tinggi?
> Kalau benar begitu tinggi, geologist yang jadinya
> pusing, dari mana
> asalnya kadar Hg begitu tinggi? Jangan-jangan sample
> yang diambil itu
> adalah dari lumpur yng sudah dicemari oleh air
> sungai sekitar daerah
> industri, bukan dari lumpur yang masih fresh keluar
> dari semburan!
> RPK
> ----- Original Message -----
> From: "budi santoso" <[EMAIL PROTECTED]>
> To: <[email protected]>
> Sent: Friday, September 01, 2006 1:17 AM
> Subject: Re: [iagi-net-l] Lusi
> 
> 
> > Dari uraian pak RPK, hal ini mestinya bisa
> di'masukkan' ke dalam 
> > skenario penanganan dari bencana ini, karena
> ternyata (mungkin) 
> > sesuatu yang tadinya berpeluang sangat mengancam,
> hingga perlu dibahas
> 
> > dan dipertentangkan oleh banyak pihak yang saya
> yakin sebagian besar 
> > dari beliau-beliau itu hanya melihat dari sisi
> 'bahayanya', sisi 
> > buruknya dst, tapi dengan pemikiran yang selalu
> mengedepankan ada 
> > hikmah di balik sesuatu yang terjadi maka hal ini
> malah jadi 
> > 'tantangan' yang sepertinya akan segera menjadi
> 'peluang'. Tentu jika 
> > benar-benar ditindak lanjuti dengan
> hitungan-hitungan teknis, ekonomis
> 
> > dan logis .
> > .  jika akhirnya Hg tsb bisa dimanfaatkan dan
> justru menguntungkan, 
> > wah huebatt itu!!. Mungkin PEMDA kabupaten
> setempat/propinsi bisa 
> > memberdayakan Perusda yang ada . . . dan bu
> Lily/ITS bisa sebagai 
> > konsultannya . . . cak Imam Utomo, pripun niki ??,
> sudah "dibantu" 
> > oleh alam "melalui" Lapindo untuk mengeluarkannya,
> sekarang tinggal . 
> > . . .
> >
> > TJ
> >
> > --- "R.P. Koesoemadinata" <[EMAIL PROTECTED]>
> > wrote:
> >
> >> Sebetulnya kalau  walaupun kadar Hg itu 2,565
> mg/l boleh jadi 
> >> ekonomis untuk di"tambang" karena tidak ada lagi
> biaya penggalian, 
> >> transport, penghancuran (crushing), pelarutan
> dsb, tinggal diendapkan
> 
> >> dan di"saring" saja, bahkan mungkin tidak perlu
> dipompakan, karena 
> >> sudah ngalir sendiri. Tinggal menghitung harga Hg
> sekarang per kg nya
> 
> >> berapa dan
> >> bahan2 untuk terjadinya
> >> pengendapan. Barangkali ada entrepreneur yang
> ingin memproduksi Hg 
> >> dengan keuntungan?
> >> RPK
> >> ----- Original Message -----
> >> From: "Maryanto (Maryant)" <[EMAIL PROTECTED]>
> >> To: <[email protected]>; "Himpunan Ahli
> Geofisika Indonesia (HAGI)"
> >> <[EMAIL PROTECTED]>
> >> Sent: Thursday, August 31, 2006 4:57 PM
> >> Subject: RE: [iagi-net-l] Lusi
> >>
> >>
> >> >
> >> > Terimakasih Pak Koesoema. Analisa yang tajam.
> Kami
> >> cenderung pilihan
> >> > kedua, yang kecil.
> >> >
> >> > Kita lihat kalimat aslinya, Mas Moko
> Darjatmoko,
> >> menulis :
> >> > ".... analisa Lily Pudjiastuti (ITS) tentang
> >> kandungan merkuri (Hg)
> >> > yang didapati 2.565 mg/liter Hg (limit 0.002
> >> mg/liter) yang dikutip
> >> > Koran Tempo....."
> >> >
> >> > Tulisan itu, cenderung kami artikan berat
> merkuri
> >> (Hg) 2,565 mg/liter
> >> > dari ambang batas 0,002 mg/liter (koma dalam
> bhs
> >> Indonesia). Bahwa satu
> >> > liter air beratnya mendekati 1 kg (tergantung
> >> tekanan dan temperatur).
> >> > Maka 1 liter Lusi yg 70 % air, ada sekitar 1 kg
> >> juga (bisa 1 sampai 3
> >> > kg).
> >> >
> >> > Persentasi berat merkuri  2,565 mg/l, menjadi=
> = 2,565 mg/liter  x
> 
> >> > 1 kg/1.000.000 mg  x  1
> >> liter/1 kg x 100 %
> >> > = 0,0002565 %.
> >> >
> >> > Lusi menghasilkan Hg 125 kg perhari.
> >> >
> >> > Nah, kalau pilihan pertama, yakni 2565
> mg/liter,
> >> 1000 kalinya tadi, maka
> >> > presentasi Hg menjadi 0,2565 %, suatu yang
> sudah
> >> masuk dalam arti mudah
> >> > di tambang (0,2 % hingga 0,8 %). Kayalah kalau
> >> begini. (Nulis koma dan
> >> > titik, kok ya ada salahnya saya nulisnya tadi,
> >> ikut-ikut sumber, dan
> >> > campur).
> >> >
> >> > Apakah ada pendapat lain ?
> >> >
> >> > Lanjutan tadi:
> >> > Untuk point: 5a. tanggul:
> >> > Tinggi tanggul/cerobong bisa juga dengan model
> >> bejana berhubungan, model
> >> > air artesis, atau gunung tertinggi suport
> airnya,
> >> mungkin Gunung Arjuno
> >> > (~ 1.4 km amsl "above means sea level" ada
> mulai
> >> airnya melimpah),
> >> > barulah cerobong tak keluar air. Ini kalau saja
> >> bukan overburden 1 km
> >> > penyebabnya. Untuk gas, perlu cerobong 13.500
> ft,
> >> batas uap air
> >> > tertinggi.
> >> >
> >> > Untuk point:6,
> >> > PIPONE (PIpa POrong ke subduction zoNE) (dari
> kata
> >> "pipone" Jawa berarti
> >> > "pipanya" Indonesia), adalah jarak Porong,
> ketimur
> >> lewat 3 kelompok
> >> > gunung Bromo, Argopuro, Ijen), ya mestinya orde
> 3
> >> x 70 km. Lalu pipa ke
> >> > selatan, menuju zubduction zone, jarak datar
> 140
> >> km. Nah jarak miring ke
> >> > kedalaman 3000 m kedalaman laut ? ya nambah
> dikit
> >> lah, jadi jarak miring
> >> > 3010 m. Jadi total 210 + 3010 = 3220 m. Ya cuma
> >> kira-kira 3 kali lipat
> >> > panjang dari rencana "casing yang belum
> terpasang"
> >> di sumur, 4000 ft.
> >> > Dah, gag mikir apa-apa lagi. Tak begitu ?
> >> >
> >> > Untuk Mas Hery (komentar di bawah):
> >> > Ha..ha..ha.. Mas Hery muncul. Iya Mas. Maunya 7
> >> aja, namun gag bisa.
> >> > Mungkin kita cari anggka 7-nya sbb:
> >> >
> >> > Minamata itu, efek baru ada sekitar 3x7 th
> >> (1932-1956, 24 th), yakni ada
> >> > yang meninggal. Lalu 35 th, 5 x 7 th
> (1932-1968),
> 
=== message truncated ===


__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

---------------------------------------------------------------------
-----  PIT IAGI ke 35 di Pekanbaru
-----  Call For Papers until 26 May 2006             
-----  Submit to: [EMAIL PROTECTED]    
---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke