Menyimak beberapa Media hari ini , marake tambah bingung , kasihan rakyat yang jadi korban Menunggu tidak berketentuan disertai was was terkena terjangan lumpur ; Menteri PU optimis semburan akan bisa diaatasi dan tidak akan dibuang ke Laut. Kabalitbang PU Pesimis kalau semburan bisa datasi dg relief well ( keberhasilannya 10 % ). Perbedaan keduanya ini apa karena ilmunya lain ( Geologi dg Sipil, padahal sama sama satu almamater ). BPPT menyatakan lumpur porong tidak mengandung B3. sedangkan Walhi pakai datanya Bapelda/KLH Jatim mengatakan ada B3 .( mbuh sing bener endi ) Sedangkan Lapindo ( spt yang disampaikan GM nya ) Optimis dg relief well akan berhasil ( diperkirakan desember ) dg mendatangkan 30 pakarnya dari berbagai negara dg biaya 70 Juta $ atau 650 M.( lha kalau dibagi bagi ke korban kan lumyan to... ) Disisi lain Penyelidikan internal Lapindo yang disampaikan oleh PW NU Jatim ( NU juga sudah ketiban pulung biasane ngurusi santri sekarang ikut ngurusi santriwati alias si Lusi) malah lebih pesimis lagi cuma 5% keberhasilan dari relisef well .( rupanya ada dua aliran Optimis ( mungkin yang mewakili engineering) dan Pesimis (yang mewakili scientis ), yo embuh raweruh ) Dengan kondisi seperti ini , Pemerintah yang seharusnya Menjadi Pengambil Keputusan dg Cepat untuk menyelamatkan korban , akhirnya malah Gamang sendiri , baru setelah seratus hari mengeluarkan maklumat, inipun kelihatannya masih coba coba beberapa sekenario ( Kalau di TV ada Iklan obat " Anak kok untuk Coba 2 " maka iklan tsb harusnya juga dipakai di sisni " Rakyat ( korban) kok untuk coba coba " ) Tunggu Tokek saja keputusannya , Buang - Tidak - Buang - Tidak - buang...........tidak..... sampai kleleep kabeh karena hujan sudah mulai mintip mintip...

ISM

From: "Supardan" <[EMAIL PROTECTED]>

Setelah sedikit tahu kondisi geologi di Porong, maka dari awal saya sudah
tidak yakin semburan lumpur tersebut dapat segera teratasi. Maaf..., karena
saya geologis yang birokrat, sehingga seandainya tidak ada kasus tersebut,
barangkali saya juga tidak akan lebih tahu tentang kondisi geologi setempat. Kalau sekarang banyak pihak mulai tidak yakin akan keberhasilan skenario2 *
mbumpeti* semburan lumpur...., itu wajar. ..... Saya jadi ingat kata dosen
saya dulu, tugas seorang ahli geologi kan... *meyakinkan orang lain dimana
dirinya sendiri tidak yakin*. Ha... ha... ha...

Banyak paranormal saat ini pada menanam pusaka, ajimat, sesaji dll, seolah
beradu cepat dengan skenario kedua (relief well). Mereka kesana dalam rangka
ikut meramaikan sayembara yang diadakan oleh seorang Kades setempat. Hebat
kan... seorang Kades saja mampu melihat semburan lumpur bukan hanya sebagai bencana, tapi juga peluang. Siapa tahu dia nanti bisa ikut Pilkada yang akan
datang. Paranormal menanam ajimat, sesaji dan pusaka, teman2 kita menanam
pipa2, tapi yang lebih penting kita jangan sampai menanam bom waktu yang
akan menjadi bencana yang lebih besar bagi anak-cucu. Amien.

Wassalam.

On 9/12/06, Prasiddha Hestu Narendra <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

Yang ditunggu-tunggu akhirnya keluar juga.........

http://www.indopos.co.id/index.php?act=detail&id=7404
Keppres Terbit

Pemerintah pesimistis bahwa pengeboran tiga relief well dapat menghentikan
semburan lumpur di kawasan eksplorasi Lapindo Brantas. Untuk itu, dalam
sepekan ini, pemerintah menyiapkan rencana cadangan bila semburan lumpur
tidak dapat disumbat.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Purnomo Yusgiantoro di
kantor
wakil presiden tadi malam mengatakan, kasus semburan lumpur di Sidoarjo di
luar perkiraan pemerintah. Bila awalnya pemerintah yakin semburan lumpur
dapat diatasi dalam tiga bulan, saat ini keyakinan itu mulai luntur.

"Karena itu, kami tugaskan tim nasional untuk menyiapkan contigency plan.
Senin depan (18/9) timnas mempresentasikan langkah-langkah yang bakal
diambil di kantor gubernur Jatim," kata Purnomo.

Ketua Timnas Penanganan Semburan Lumpur di Sidoarjo Basuki Hadimuljono
mengakui, kecil kemungkinan semburan lumpur dapat dihentikan dengan
pengeboran tiga relief well. Dia mengatakan, tidak mudah menemukan rekahan
di perut bumi selebar 12 inci pada kedalaman tiga kilometer di bawah
permukaan tanah.(sat/roz/noe)


---------------------------------------------------------------------
-----  PIT IAGI ke 35 di Pekanbaru
-----  Call For Papers until 26 May 2006
-----  Submit to: [EMAIL PROTECTED]
---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------





---------------------------------------------------------------------
-----  PIT IAGI ke 35 di Pekanbaru
----- Call For Papers until 26 May 2006 ----- Submit to: [EMAIL PROTECTED] ---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke