Memang serba repot , karena ini menyangkut berbagai kepentingan , kalau si
Lumpur ini Muncrat sendiri diluar area Sumur BP ( apalagi perdebatan sebab
akibat saja masih tanda tanya ), seperti Merapi yang kemarin batuk batuk itu
maka persoalannya lebih simpel ( Pemerintah akan langsung turun tangan dari
awal , tanpa ragu 2 takut dimarahin DPR ) Lah kalau sekarang......
Dari segi Istilah yg dipakai "Lumpur Lapindo" , ini kalau dipakai
mengesankan bahwa Lumpur ini akibat /ada hubungannya dg Lapindo.
Ada semacam ego sektoral diantara instansi pemerintah ( ini biasa/sering
terjadi ) KLH Belum berani bertindak ( mengeluarkan SIM / Surat Ijin
Membuang ) mungkin berpegangan dari regulasi yang ada di KLH ( masalah B3 )
, seperti diketahui berdasarkan data Bapelda Jatim seperti yang dikutip
Deputi Walhi beberapa hari lalu di Metro bahwa Lumpur itu mengandung B3 (
padahal ada institusi lain yang mengatakan bahwa lumpur tsb bukan B3 ), nah
harusnya institusi 2 yang berkompeten tsb bersama sama melakukan sampling
bersama untuk mempertemukan perbedaan tsb.( kalau KLH masih kekeh dg masalah
B3 ), bisa dipahami kalau KLH masih takut ngeluarkan SIM karena nantinya
kalau ada apa apa si KLH yang di uber uber.
Lha kalau ini peristiwa alam biasa ( mud volcano) Berani tidak ESDM dan BP
Migas ( intansi pemerintah yang berkompeten) menyatakan secara resmi dg
Tegas bahwa ini Pristiwa Alam Biasa yang tidak perlu ditakuti.dst, dst..(
apalagi bedasarkna ini kemudian ditindak lanjuti dg Keppres ) maka dg
Sendirinya KLH akan memberikan SIM nya. Lha dikemudian hari kalau di uber
uber menjadi tanggung jawab bersama sama. ( Kalau IAGI kan diluar sistem.)
Jangan Jangan kalau langsung ditangani Pemerintah dg Duit pemerintah bisa
tambah repot , duitnya harus minta persetujuan DPR dan pelaksanaannya harus
ditender , bisa kebayang kalau untuk bikin tanggul tanggul tsb harus tender
dulu .
Sebetulnya polemik lumpur ini ( boleh dibuang atau tidak dan yang lain 2 )
bisa diatasi dg Keppres , sehingga masalah sektoral antar institusi
pemerinath tsb bisa diatasi( lha pengadaan Panser ke Libanon saja dipayungi
Keppres biar bisa Penunjukan Langsung / tanpa tender ) .
Cuma Mungkin masih Pikir pikir , ya karena itu tadi masalah ini Bukan semata
bencana Mud volkano, disitu ada Lapindo nya, Jangan jangan nanti dijadikan
komoditas politik menjelang Pemilu ini , inilah Repotnya.
Bahkan sudah berkembang suara suara bahwa ini suatu kejahatan korporasi ,
kalau tidak salah malah salah satu anggota Komnas Ham menyatakan bahwa ini
sudah menyangkut Pelanggran HAM , makanya ada tuntutan semua yang terlibat
( intitusi yang terlibat dg Proyek BP 1) harus diusut Tuntas, bahkan
beberapa hari lalu dimedia Kepala BP Migas dituntut Mundur.
Ada statmen awal dari Pak Sarwono kemarin itu , Bahwa sekarang ini sudah
berkembang berbagai Pendapat dan Berbagai Asumsi akhirnya merepotkan untuk
melakukan tindakan, ada pemetintah , ada LSM ada paranormal , dll saling
silang pendapat.
Jangan Jangan kalau peristiwa semacam ini terjadinya sebelum reformasi ,
masalahnya sudah selesai jauh jauh hari tidak sampai berlarut larut spt ini
..........
ISM
----- Original Message -----
From: "Achmad Luthfi" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[email protected]>
Sent: Wednesday, September 20, 2006 9:56 AM
Subject: RE: [iagi-net-l] Dialog Special Metro TV
Penanganan LuSi oleh para menteri atau pejabat tinggi Negara merupakan
miniatur atau layer perak atau panggung dari pemerintah dalam
menangani/mengatur Negara ini, kalo menangani LuSi aja semrawut maka gak
heran kalo Negara kita carut-marut. Ini akibat yang mengerti tidak
berwenang dan yang berwenang tidak mengerti akar permasalahannya.
Salam: LTH
-----Original Message-----
From: Awang Satyana [mailto:[EMAIL PROTECTED]
Sent: Tuesday, September 19, 2006 10:01 PM
To: [email protected]
Subject: Re: [iagi-net-l] Dialog Special Metro TV
Pak Kardaya (BPMIGAS), Pak Edy Sunardi (IAGI), Pak Sarwono Kusumaatmadja
(DPD RI) dan Pak Rudy Rubiandini (ITB, via telpon) dipandu oleh Frida
Lidwina terlibat dalam dialog tersebut.
Ada dua pendapat asal semburan ini : underground blow out-UBO (banyak
diikuti para petroleum engineers) dan mud volcano eruption (banyak
diikuti para geologists). Kalau UBO harapannya bisa diatasi oleh 3
relief well, kalau mud volcano eruption tak akan bisa diatasi dengan
relief well, alamiah saja berhentinya.
Ketiga narasumber terkesan setuju lumpur dibuang ke laut saja, tokh
bukan limbah, bukan B3, dan lumpur itu masih satu habitat dengan laut di
Selat Madura, hanya beda umur. Pak Sarwono seperti biasa dengan tegas
bilang selamatkan dulu penduduk, baru lingkungan, kalau ada dampak baru
diatasi. Ini keadaan darurat, tak bisa diberlakukan prosedur KLH yang
normal.Kata Pak Kardaya, relief well akan bekerja dengan baik kalau tak
ada serangan lumpur lagi ke titik2 bor relief well. Kalau lagi ngebor
tiba2 lokasinya dibanjiri lumpur, ya tentu gak akan selesai2 ngebornya.
Tapi, Pak Rachmat Witoelar, menteri KLH, bilang lumpur boleh dibuang
ke laut kalau statusnya sudah bahaya. Selama masih darurat tak boleh.
Dan, Pemerintah mau bikin tanggul permanen mengelilingi ratusan hektar
wilayah Banjar Panji, wah berapa lama tuh ngebangunnya ?
Di Azerbaijan sana, tempat paling banyak gunung lumpurnya di dunia,
lumpur panas ini dijadikan tempat2 spa, sumber air panas, gas alam
(metan biogenik), dan lumpurnya dijadikan batu-bata. Itu sudah lama
terjadi, berarti lumpur itu aman-aman saja kelihatannya.
Dua bulan dari sekarang, kalau lancar, kita akan lihat apakah relief
wells bisa membendung Lusi ?
salam,
awang
iagisek <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
INFORMASI :
Pada Hari ini , tanggal 19 September 2006, Jam 20.30 di Metro TV akan
ditayangkan acara DIALOG SPECIAL METRO TV antara Ka BPMIGAS, Ketua PAH2
DPD-RI, wakil IAGI & ITB, Topik Penanganan Semburan Lumpur Sidoarjo.
Salam,
Sekretariat Pusat IAGI
---------------------------------
Do you Yahoo!?
Get on board. You're invited to try the new Yahoo! Mail.
---------------------------------------------------------------------
----- PIT IAGI ke 35 di Pekanbaru
----- Call For Papers until 26 May 2006
----- Submit to: [EMAIL PROTECTED]
---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------------------
----- PIT IAGI ke 35 di Pekanbaru
----- Call For Papers until 26 May 2006
----- Submit to: [EMAIL PROTECTED]
---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------