Insentif Mau, Dongkrak Produksi Minyak OgahMaryadi - detikcom 

Jakarta - Produksi minyak Indonesia dalam setahun ini terus mengalami penurunan 
signifikan. Kendati berbagai insentif telah diberikan pemerintah kepada para 
Kontrak Kerja Sama (KKS) atau Kontrak Production Sharing (KPS), tetap saja 
produksi minyak Indonesia terus menurun. 

Bahkan banyak KPS yang meminta insentif aneh-aneh dengan alasan untuk 
meningkatkan produksi. Kalau begini, target produksi sebesar 1,050 juta barel 
per hari dalam APBN pun tidak mungkin lagi terealisasi.

Berdasarkan data Dirjen Migas, produksi minyak sejumlah KPS yang masuk dalam 
The Big Ten tidak mampu terdongkrak ke dalam level yang ditargetkan sebelumnya. 
Bahkan dalam kurun waktu hampir setahun ini jumlah produksi terus menurun 
tajam. 

Tengok saja produksi minyak PetroChina yang pada Januari lalu mencapai 52.683 
barel per hari. Setelah itu produksi terus konstan, namun akhirnya pada Agustus 
lalu langsung melorot hampir 50 persennya menjadi 35.809 barel per hari.

Hal ini juga terjadi pada BP yang pada Januari mampu berproduksi 27.883 barel 
per hari dan terus konstan hingga memasuki bulan Juli yang mencapai 26.969 
barel per hari. Akan tetapi pada produksi Agustus langsung terjun bebas ke 
angka 13.027 barel per hari. 

Para KPS pun tak berani menetapkan target yang muluk-muluk untuk produksi 
minyaknya. Contohnya Vico yang pada 2007 memproyeksikan produksi minyaknya 
sebesar 7.600 barel per hari lalu menurun menjadi 6.707 barel per hari pada 
2008. Kecenderungan yang menurun juga masih akan terjadi sampai dengan 2012 
pada saat produksi minyak (di luar kondensat) Vico tinggal 2.444 barel per hari.

Chevron yang saat ini masih menjadi produsen minyak terbesar di Indonesia juga 
menyatakan tidak akan mampu meningkatkan produksi lagi. Produksi minyak Chevron 
saat ini sekitar 447.000 barel per hari. Chevron pun hanya mampu mempertahankan 
penurunan produksinya. 

Wakil Direktur Chevron Indonesia Bidang Pelayanan Bisnis, Bambang Haryanto 
mengungkapkan dengan kondisi saat ini pihaknya hanya bisa menekan laju 
penurunan produksi selama beberapa tahun ke depan. Tahun depan, tingkat 
penurunan produksi Chevron ditargetkan melambat dari 8 persen tahun ini menjadi 
6-7 persen pada 2007 melalui investasi hingga US$ 400 juta.

Terus menurunnya produksi minyak membuat pemerintah gerah. Pemerintah pun 
menantang para KPS untuk meningkatkan produksi minyaknya, malah pemerintah 
menawarkan insentif apa yang bakal diminta oleh para KPS. "Silakan anda meminta 
insentif apa, kami akan berikan asal bisa meningkatkan produksi," ujarnya.

Justru tantangan pemerintah itu membuat para KPS sedikit 'manja'. Permintaan 
mereka pun mulai aneh-aneh, tapi toh tetap saja produksi tak juga terdongkrak 
naik.
Hal itu diungkapkan oleh Badan Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas (BP 
Migas). Menurut BP Migas, banyak KKS yang meminta insentif aneh-aneh untuk 
meningkatkan produksinya. 
"Mereka meminta perlakukan khusus, kalau ini dikabulkan repot. Banyak 
permintaan aneh-aneh dari KKS," kata Deputi Perencanaan BP Migas Ahmad Luthfi.
Permintaan yang aneh-aneh itu antara lain, adalah KKS minta insentif agar bisa 
membeli barang tanpa tender. "BP Migas meminta agar KKS bekerja sesuai dengan 
POD yang sudah ditandatangani," ujarnya.

Dirjen Migas Luluk Sumiarso pun tampak bingung dengan angka penurunan produksi 
minyak yang terus menurun tajam,. "Saya tidak tahu kenapa ini bisa terjadi," 
tanya Luluk.
Namun begitu pemerintah tetap optimis akan tetap mampu meningkatkan produksi 
minyak hingga sesuai yang ditargetkan dalam APBN sebesar 1,050 juta barel per 
hari. Syukur-syukur target pada tahun 2008 bisa menjadi 1,5 juta barel per 
hari. Optimis boleh saja, tapi....(mar/asy)
Baca juga:

Kirim email ke