Saya orang yang tidak percaya atau paling tidak ,pesimistis bahwa relief well akan berhasil mengatasi masalah si LUSI ini.-- Mohon maaf kepada pak Rudy Rubiandini ).Secara geomechanic dan terjadi nya subsidence yang sudah sangat parah juga kondisi dimana aliran mud flow ke atas adalah thermal drive mechanism...panas geothermal vulkanik yang mendorong steam ( uap panas ) di bawah sana yang diperkirakan > 400 deg.C ( jelas bukan air lagi, tapi panas bumi ). Saya pribadi kurang yakin dengan teori tektonik yang menggerakkan "mudvulkano" ini...tapi benar-benar panasbumi yang menggodok air formasi menjadi uap panas yang menerobos melalui lobang bor panjang yang tak diselubung dan disemen itu dan membawa serta lapisan formasi lempung/F. Kalibeng itu. Kalau disebut sebagai gejala shale diapir, mengapa suhu dipermukaan berupa uap panas hingga > 215 deg.F atau 100 deg C?? persis sumur-sumur di Kamojang sana ? Dan mengapa tak berhenti ? Bila diapir tentunya setelah tekanannya release, maka akan berhenti. Lalu berapa suhu dibawah sana > 9000 kaki ? Tarik dan hitung saja thermal gradientnya. Ingat loksai kita si LUSI ini berdekatan dengan zona vulkano ( G. Arjuna, G. Welirang, G. Penanggungan ). Untuk mematikannya, secara teori ya didinginkan dulu sumbernya kemudian di sumbat dengan semen. namun akan butuh berapa ribu ton semen dan air dingin ?...pabrik semen jangan-jangan malah tekor. Paling tidak harus mem"balance" antara yang keluar dengan yang dimasukkan untuk menyumbat. Yang keluar sudah > 50,000M3 /hari. ( total sekarang sudah berapa ya ??? ). Jika radius subsidence ( amblasan ) sudah > 4 km,....ya tinggal kalikan saja dengan kedalaman amblesan trus dihitung berapa material dibutuhkan untuk menyumbat. Selain kerongkongan keluarnya lumpur juga sudah banyak spot dan membesar hingga beberapa meter lebarnya., jadi sudah "caving" yang besar sekali, selain gerak amblesan yang sangat cepat, secepat aliran lumpur itu sendiri.

Namun, karena relief well ini adalah tuntutan pihak asuransi ( the last choice to be taken action ) ya...mau tidak mau mesti di bor...dengan resiko bahwa akan "blow out" lebih besar lagi karena memang tidak ada pompa tersedia yang bisa mengatasi dengan > lebih dari 100.000 horse power tekanan mud flow ini.

Sebaiknya, biarkan mudflow ini keluar, evakuasi rakyat sesuai daerah bahaya yang sudah dipetakan, alirkan lumpur ke sungai porong dengan pompa yang diperbesar dayanya dan juga secara aliran gravitasi, tutup jalan tol, jalan rel KA, pindahkan pipa gas, listrik dll. Saya kira ini sudah diputuskan oleh sidang Kabinet yang lalu. Petakan segera daerah yang akan ambles ( subsidence ) hingga beberapa tahun kedepan ( 20-30 tahun ) sesuai dengan peta bawah permukaan ( seismik, isopach clay ( Formasi Kalibeng )dan penyebarannya. ). Pindahkan segera pemukiman,pabrik, infrastruktur dll keluar arena wilayah bahaya tersebut selamanya.- Sudah mulai dilaksanakan saya kira. Perkuat bendungan dan tanggul menjadi lebih permanen. Rencanakan Kimpraswil nya dengan matang untuk daerah ini. <-- Sudah dilakukan juga saya kira.

Jadikan LUSI sebagai obyek wisata geologi seperti Bledug Kuwu, Mrapen ( api abadi ), Dieng dengan kawah-kawahnya -ada yang beracun juga lho, atau Geyser di YellowPark Wyoming.

Berdayakan warga sekitar dengan sumber material baru tersebut dengan pendirian pabrik keramik, batu bata, genteng, atau juga lulur pengencang kulit..agar awet muda ! Export lumpur ke manca negara sebagai komiditi bahan baku keramik yang nomer wahid ! Atau mungkin ke Singapore yang daripada masih suka mencuri pasir dari Kep. Riau, mendingan export lumpur ini kesana untuk menambah wilayah daratan negara pulau itu.



----- Original Message ----- From: "Cahyo L.A.," <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[email protected]>
Sent: Tuesday, November 28, 2006 8:31 AM
Subject: [iagi-net-l] Banjar Panji : what if...??


Rekan IAGInet,



kondisi di Banjar Panji sendiri saat ini kok semakin nggak jelas yah..
kondisi relief well progressnya sampe mana (drillingnya udah mencapai target
apa belum?), status kill well nya bagaimana? pengutan tanggul bagaimana...



dan yang paling penting, bagaimana jika relief well ini tidak berhasil...
udah ada skenario lain?



salam,



Cahyo




---------------------------------------------------------------------
-----  PIT IAGI ke 35 di Pekanbaru, 20-22 November 2006
-----  detail information in http://pekanbaru2006.iagi.or.id
---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke