Informasi tentang Wettability/ kebasahan menjadi penting jika kita akan 
mengukur tekanan kapiler batuan untuk memodelkan perubahan saturasi fluida di 
batuan tersebut.
   
  Secara genesis (kita sering keliru menulisnya sebagai genesa, padahal kita 
menulis thesis = tesis tidak tesa khan?) semua batuan reservoir (klastik maupun 
karbonat) pada awalnya memiliki sistem basah-air. Karena media pengendapan yang 
umum (kecuali aeolian) adalah air (laut, danau, sungai) tidak ada batuan 
sedimen yang terendapkan dan terbentuk di danau/lautan minyak. 
   
  Hanya pada saat migrasi hidrokarbon ke pori-pori batuan menyebabkan 
kebasahannya berubah. Kebanyakan minyak bumi mengandung senyawa berkutub (polar 
compounds) yang dapat mengubah kebasahan batuan dari suka-air ke suka-minyak 
atau ke kondisi campuran (mixed wettability). 
   
  Jadi asumsi awal adalah bahwa reservoir itu basah-air dan langkah inisiasi 
dalam pengukuran tekanan kapiler di laboratorium adalah dengan "membasahi" 
sampel dengan "wetting fluid". Sampai sampelnya tersaturasi penuh (fully 
saturated).Untuk sistem merkuri - udara (Hg-air), udara adalah "wetting 
phase"-nya. 
   
  Jika sudah tersaturasi penuh (jenuh), langkah Pertama adalah menginjeksikan 
fluida "non-wetting" dengan sedikit demi sedikit menaikkan tekanan injeksinya. 
Volume "wetting fluid"yang terdesak keluar dari rongga pori diukur dan 
dipadankan dengan harga tekanan yang bekerja. Tekanan dan volume "non-wetting 
fluid"ditingkatkan terus hingga "semua" fluida (wetting) yang berada di batuan 
terdesak keluar. Siklus ini disebut "Drainage", yang dianalogikan dengan cara 
hidrokarbon mendesak air di batuan. Tetapi, walaupun dipaksa sehebat apapun 
oleh penjajah eh... "non-wetting fluid" tadi, masih ada segelintir "wetting 
fluid" yang bertahan di batuan. Air sisa ini lah yang populer disebut sebagai 
"Irreducible Water". 
   
  Langkah kedua adalah proses "Imbibition"(minum). Karena berkuranganya 
perbedaan tekanan antara fase "wetting" dan "non wetting", maka sebagian 
wetting fluid akan kembali memasuki rongga pori batuan secara alamiah. Fenomena 
ini dianalogikan dengan kejadian jika kita memproduksi hidrokarbon di atas 
oil-water contact-nya. Secara perlahan air akan bergerak ke atas menggantikan 
minyak yang terproduksi - sering disebut coning atau cresting (di sumur 
horizontal)
   
  Langkah ketiga adalah proses "Forced Imbibition" (minum kepaksa (^_^) 
he..he..he..). Dimana tekanan dari "wetting phase" dinaikkan lebih tinggi 
daripada "non-wetting"-nya dan memaksa batuan meminum lagi air yang tadi sudah 
dipaksa keluar sehingga "non-wetting" diusir lagi dari rongga pori batuan. Jika 
dilakukan terus sampai tidak ada "non wetting fluid" yang bisa mengalir keluar 
lagi. Walaupun begitu sebagian "penjajah/non-wetting" ini masih ada yang jatuh 
cinta dan kawin dengan pribumi di batuan tersebut. Kondisi ini dianalogikan 
dengan memproduksi minyak dari zone yang sudah "depleted". Seperti, memaksa 
tetes-tetes minyak terakhir keluar dari Bekasap Sands di Minas Field dengan 
waterflood. End-point dari Imbisisi Paksa dapat dianggap sebagai cara yang 
paling baik untuk mengestimasi residual hydrocarbon saturation, Sor. 
   
  Lebih jauh lagi adalah proses "Secondary Drainage", analoginya adalah injeksi 
gas yang mendesak OWC yang sudah naik untuk turun ke level semula atau bahkan 
lebih rendah dari OOWC-nya.
   
  Baiklah, sekarang kita tarik benang merah diskusi OBM vs WBM untuk coring.
   
  1. Jika interval yang akan di-core adalah water bearing dan jelas-jelas water 
wet. Maka WBM adalah pilihannya.
   
  2. Jika interval yang akan di-core adalah " fully oil saturated, virgin oil 
bearing", tapi batuannya basah air (water wet), maka pemakaian OBM tidak akan 
mengubah wettability-nya. Karena minyak di batuan sudah jenuh, tidak ada 
peluang buat filtrat OBM untuk menggusur Irreducible Water-nya. Sebaliknya jika 
batuannya oil-wet, maka filtrat OBM akan "memperkaya" recharge minyak di dalam 
rongga pori. Kebasahan tidak akan berubah, hanya Initial Oil Saturation-nya 
yang berubah. Penggunaan WBM akan sedikit mengganggu keseimbangan minyak-air 
yang ada. Tambahan filtrat WBM akan memaksa batuan berada pada tahap "Forced 
Imbibition".
   
  3. Jika intervalnya "Depleted Oil Zone" maka penggunaan OBM dan WBM tidak ada 
yang 'favourable'. Karena jika pakai OBM, maka reservoir akan mengalami "Forced 
Drainage"dan jika pakai WBM, akan terjadi "Forced Imbibition". Teknologi 
low-invasion belum jadi no-invasion coring. Jadi, coring company juga tidak 
berani jamin bahaw tidak akan ada invasi filtrat ke core-nya.
   
  Jika kita mau tahu Variasi KEBASAHAN, maka artinya kita ingin mengukur 
tekanan kapiler dalam sistem basah-air. Biasanya sampel yang akan diukur, 
dibuat menjadi sistem Minyak-Air dan dianggap dalam kondisi "sedang 
berimbibisi" akibat invasi mud filtrat OBM/WBM. Sebelum dilakukan pengukuran 
tekanan kapilernya, sampel core selalu harus berada dalam kondisi "Aged". 
Proses "Ageing" mengacu pada cara men-saturasi-kan sampel batuan dengan "live 
crude" atau bisa juga minyak sintetis untuk mensimulasi pengembalian keadaannya 
seperti pada saat Primary Drainage terjadi (awal migrasi minyak ke batuan 
dengan mendesak airnya keluar). Proses ini bisa berlangsung berminggu-minggu (4 
~ 5 minggu). Baru Langkah Pertama di atas dilakukan.
   
  Nah jika reservoir di Central Sumatra rata-rata sudah depleted, penggunaan 
OBM atau WBM untuk mem-preserve wettability-nya (hese nya nulis istilah inggris 
di indonesia keun) tidak begitu berpengaruh. Yang penting proses "ageing"-nya 
yang lebih diperhatikan. Tetapi, sepengetahuan saya, penggunaan OBM di Sumatra 
(khususnya untuk Telisa Sands) lebih kepada isu seputar keberadaan mineral 
lempung, smectites/montmorilonites and the gangs daripada isu tentang 
basah-basahan ini.
   
  My two cents from Brunei. Semoga bisa membantu Rai Barkah mendesain coring 
program-nya.
   
  Wassalam,
  -bg
   
  
[EMAIL PROTECTED] wrote:
  

Pak shofiyudin, 
Pengukuran wettability pada core yang dikontimanasi (OBM) menjadi kurang 
tepat, itu karena adanya perubahan yang sangat besar pada interaksi fluida 
dengan matrix batuan dalam pori2 corenya, 
Batuan yang pada awalnya water wet condition akan berubah menjadi oil wet 
condition, sehingga pengukuran wettability jadi tidak tepat..
Terlebih pada sandstone yang mempunyai permeability besar, tentunya akan 
semakin besar displacement dari fluid insitu nya.

Dampak tersebut akan berkurang bila menggunakan WBM.

Salam
Romdoni





Shofiyuddin 
12/08/2006 05:26 PM
Please respond to iagi-net


To: [email protected]
cc: 
Subject: Re: [iagi-net-l] Coring @ Directional Well






Mas Rhomdoni,
Bisa dijelaskan lebih lanjut hubungan antara WBM dengan Wettability
analisis?

Trims sebelumnya.

Shofi



On 12/8/06, [EMAIL PROTECTED] wrote:
>
>
>
> Mas amir,
> Pakai WBM lebih bagus tentunya jika memungkinkan, misalkan core yang 
akan
> di cut di sand yang tebal, jadi corenya 100% sand.
> Kalau ada shale yang potensial untuk jd problem atau problem2 lainnya
> tentunya OBM menjadi pilihan.
> Karena menurut orang lab, core dng WBM lebih mudah dan akurat untuk
> dianalisa untuk wettability.
> Pemakaian WBM bukan berarti peningkatan recovery tapi hanya berpengaruh
> dalam hal analisisnya.
>
> Tetapi kalau kita menggunakan low invasion core head, masalah mud bukan
> jadi masalah besar lagi.
>
> Selamat weekend.
>
>
>
>
>
>
>
> "Amir Al Amin" 
> 12/08/2006 04:21 PM
> Please respond to iagi-net
>
>
> To: [email protected]
> cc:
> Subject: Re: [iagi-net-l] Coring @ Directional Well
>
>
>
>
>
>
> Memakai WBM menurut saya kok malah beresiko,
> pengalaman coring terakhir, recovery cuma 20%,
> padahal sudah hati-hati,
> usut punya usut, dicurigai WBM sebagai biang keladinya.
>
> karena sewaktu coring, ada shale yang terpotong, nah shale ini
> mengembang di dalam core barel, (karena pakai water base mud), jadinya
> sand dibawahnya nggak bisa masuk ke dalam core barrel, istilahnya
> ngejam ...
>
>
>
> On 12/8/06, [EMAIL PROTECTED] 
wrote:
> >
> >
> > Oh begitu ceritanya,
> > Sekedar saran,
> > Kalau corenya mau dianalisis untuk permeability dan wetability 
sebaiknya
> > dipakai core head yang low invasion, karena mud invasion akan
> mempengaruhi
> > nilai kedua pengukuran tersebut.
> > Pemakaian WBM sudah sangat tepat, Karena pemakaian WBM (jika
> memungkinkan)
> > jauh lebih bagus dari OBM untuk coring.
> > Untuk consolidated sand, alumunium dan resin sudah memadai.
> > Btw, service company nya apa ? karena tiap company berbeda jenis
> alumunium
> > ICB nya.
> >
> >
> >
> >
> > "Barkah, Raden (rbarkah)" 
> > 12/08/2006 02:34 PM
> > Please respond to iagi-net
> >
> >
> > To: 
> > cc:
> > Subject: RE: [iagi-net-l] Coring @ Directional Well
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> > Menarik dan sedikit menantang tentunya mas Romdoni :)
> > Tadinya kita berharap bisa dengan vertikal well, selain relatif lebih
> > mudah operasionalnya juga tingkat keberhasilannya lebih tinggi. Tetapi
> > kita terkendala dengan masalah pembebasan lahan (LI) disamping itu 
kita
> > mencoba untuk menghindari fault.
> > Berdasarkan praktek sebelumnya, untuk drilling parameter kita biasa 
pake
> > WBM (berat lumpur 8-9 ppg),
> > conventional core head, ICB-nya pakai alumunium dan handlingnya pakai
> > resin.
> > Sebagai informasi, Formasi yang akan di coring termasuk consolidated
> > sand.
> > Dengan kondisi reservoir seperti ini kira2 apa yang mesti di improve 
ya?
> >
> >
> > Trims,
> > Rai Barkah
> >
> > -----Original Message-----
> > From: [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED]
> > Sent: Friday, December 08, 2006 1:21 PM
> > To: [email protected]
> > Subject: Re: [iagi-net-l] Coring @ Directional Well
> >
> >
> >
> > Wah menarik nich, karena saya juga belum pernah melakukan directional
> > coring.
> >
> > Apakah adahal teknis tertentu, sehingga harus coring dengan 
directional
> > well type? kecuali memang disengaja agar coring BHA tegak lurus dengan
> > kemiringan formasinya. Karena dengan directional, pasti akan 
mengurangi
> > true thickness dari reservoir yang akan di coring.
> > Mungkin menurut saya, secara operational tidak akan ada bedanya antara
> > vertical dan directional coring, hanya drilling parameter saja yang
> > harus lebih diperhatikan.
> > Hal2 yang harus diperhatikan;
> > - jenis mud (WBM or OBM),
> > - core head (conventional or low invasion)
> > - inner core barel (allumunium atau fiberglass)
> > - handling on surface (resin or gypsum) Semua akan sangat tergantung
> > pada BHT dan jenis formasi yang akan di coring (apakah temasuk
> > consolidated atau unconsolidated), dan yang terpenting juga, analisis
> > apa saja yang akan dilakukan di laboratorium.
> >
> > Rasio? nanti sharing yach hasilnya.
> >
> >
> > Best Regards,
> > ROMDONI
> > Operation Geologist
> > Eni Indonesia
> >
> > Phone: 021-52997254
> > HP: 081381877717
> > Email: [EMAIL PROTECTED]
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> > "Barkah, Raden (rbarkah)" 
> > 12/08/2006 11:00 AM
> > Please respond to iagi-net
> >
> >
> > To: 
> > cc:
> > Subject: [iagi-net-l] Coring @ Directional Well
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> > Dear Iagi-netter yth,
> > Mohon sharing pengalaman dari rekans semua.
> > Kita ada rencana untuk melakukan pengambilan core (coring) pada sumur
> > direksional (kemungkinan slanted/J type tapi bisa juga S type), dgn
> > kemiringan sudut +/- 15-20 deg. Kira-kira apa saja yang perlu
> > diperhatikan agar recovery core tsb sesuai harapan (> 80%)?
> > Dan meminimalisasi kendala yg mungkin terjadi saat operasionalnya?
> > Berapa ya sukses rasio-nya dibanding vertical well.
> >
> > Terima kasih
> >
> > kind regards,
> >
> > Rai Barkah
> > yglagibelajarcoring
> >
> >
> >
> > ---------------------------------------------------------------------
> > ----- PIT IAGI ke 35 di Pekanbaru, 20-22 November 2006
> > ----- detail information in http://pekanbaru2006.iagi.or.id
> > ---------------------------------------------------------------------
> > To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
> > To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
> > Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
> > Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
> > Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
> > No. Rek: 123 0085005314
> > Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
> > Bank BCA KCP. Manara Mulia
> > No. Rekening: 255-1088580
> > A/n: Shinta Damayanti
> > IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
> > IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
> > ---------------------------------------------------------------------
> >
> >
> >
> >
>
>
> --
> ***********************************
> Amir Al Amin
> Operation/ Wellsite Geologist
> (62)811592902
> amir13120[at]yahoo.com
> amir.al.amin[at]gmail.com
> ************************************
>
> ---------------------------------------------------------------------
> ----- PIT IAGI ke 35 di Pekanbaru, 20-22 November 2006
> ----- detail information in http://pekanbaru2006.iagi.or.id
> ---------------------------------------------------------------------
> To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
> To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
> Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
> Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
> Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
> No. Rek: 123 0085005314
> Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
> Bank BCA KCP. Manara Mulia
> No. Rekening: 255-1088580
> A/n: Shinta Damayanti
> IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
> IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
> ---------------------------------------------------------------------
>
>
>


-- 
Salam hangat

Shofi




                
---------------------------------
Lelah menerima spam? Surat Yahoo! mempunyai perlindungan terbaik terhadap spam. 
 http://id.mail.yahoo.com/

Kirim email ke