Setahu saya Tim IAGi dan juga Tim-nya Pak Rudi Rubiandini (dulu) semuanya punya akses terhadap data2 tersebut. Data pemboran, cuttings, drilling report, mud report, bahkan sampai ke geolograph dan continuous form di data unit yang mencatat perkembangan dari waktu ke waktu soal WOH, WOB, Mud in and out, Gas, ROP, dsb .......

Repotnya,.... sepengetahuan saya: Tim Geologi yang membantu Pak Rudi kebanyakan akademisi dan kemungkinan tidak memperhatikan data-data tersebut. Topik bahasan mereka pada umumnya hal-hal besar seperti Sesar Watukosek, rekaman gempa, geologi kwarter, stratigrafii "Kalibeng", dan hal-hal yang sifatnya regional.

Repotnya juga: Tim IAGI juga tidak begitu intensif menganalisis data2 tersebut (seperti saya sebutkan dalam email pertama: WSG2 kita disana kurang "didayagunakan")

Sebenarnya kalau mau dan ada good-will, kita minta saja anda-anda spt Taufik OK, Ismed, Amir, dll untuk sekalian bergabung dg kawan2 WSG di Tim IAGI dan mulai ngoprek2 data2 pemboran tersebut (belum terlambat koq,......)

Gimana IAGI?
Gimana Pak Novi, Pak Ai'?

adb


----- Original Message ----- From: <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[email protected]>
Sent: Tuesday, January 02, 2007 10:54 AM
Subject: Re: [iagi-net-l] Lapindo Harus Sediakan Rp 3, 8 T - 2 Pakar Geologi Kuak Misteri Lumpur Sidoarjo



Lalu:.... bagaimana dengan para ahli WSg kita??

Mas Andang,
pertanyaannya...kenapa tim penanggulangannya minus WSG atau..kok ga ada WSG
ahli yang ikut berkomentar?

Saya yakin kita punya banyak WSG yang kompeten, hanya masalahnya...para WSG
khan menganalisa dan menarik kesimpulan dari data2 pemboran dan rekaman2
kejadian hari-perhari (Daily Drilling Report) dan dibandingkan juga dengan
Drilling Program-nya, sekarang yang menjadi pertanyaan adalah..apakah
mereka punya akses untuk melihat data2 tersebut?...kalo datanya aja mereka
ga pernah lihat (cuma denger2 kata orang), riskan juga kalo harus menarik
kesimpulan



Regards,

Y O G I  P R I Y A D I
G e o l o g i s t
H a n d i l  A s s e t  T e a m
GSR / H T I / G & G
ext. 2 6 2 1



|---------+---------------------------->
|         |           "Andang Bachtiar"|
|         |           <[EMAIL PROTECTED]|
|         |           t.id>            |
|         |                            |
|         |           01/02/2007 10:59 |
|         |           AM               |
|         |           Please respond to|
|         |           iagi-net         |
|         |                            |
|---------+---------------------------->

 
>---------------------------------------------------------------------------------------------------------------|
| | | To: <[email protected]> | | cc: | | Subject: Re: [iagi-net-l] Lapindo Harus Sediakan Rp 3, 8 T - 2 Pakar Geologi Kuak Misteri Lumpur | | Sidoarjo |

 
>---------------------------------------------------------------------------------------------------------------|




Kuncinya sebenarnya ada di "integration" dan "comprehensiveness" dari
analisis para ahli kebumian yang selama ini dijadikan rujukan oleh
masyarakat (baca: media) maupun kepolisian. Kalau kita perhatikan,
kebanyakan (hampir keseluruhan) ahli kebumian yang dirujuk tidak begitu
mendalami alias menghindarkan diri dari menganalisis data teknis dan
kronologis pemboran "yang berkaitan langsung dengan kejadian semburan".
Pada
umumnya para ahli tersebut mengatakan bahwa "itu urusan drilling engineer",

dan mereka merasa tidak berkompeten untuk ikut-ikutan menganalisis
data-data
tersebut secara lebih mendalam, padahal banyak sekali informasi tambahan
yang bisa diperoleh dari data pemboran tersebut untuk menjelaskan apa yang
terjadi secara dinamis. Hal ini bisa dimaklumi karena pada umumnya para
ahli
yang dirujuk adalah saintist berbasis akademis (bukan practicioner) atau
saintist dari disiplin ilmu yang lebih berat ke aplikasi permukaan
(geoteknik dsb). Tentunya akan sangat tidak professional kalau mereka
ikut-ikutan menganalisis data pemboran tanpa dasar pengetahuan dan
pengalaman yang kuat. Namun kita lupa bahwa kawan-kawan wellsite geologist,

operation geologist, exploration-operation geologist, ataupun
production-operation geologist: mereka mempunyai kompetensi yang kita
butuhkan untuk ikut menjembatani gap antara kejadian pemboran dengan
semburan yang akhirnya memicu proses alam menjadi semakin membesar
membentuk
mud-volcano. Dalam tim IAGI sebenarnya ada 2 orang operation geologist yang

mumpuni, tetapi sejauh yang saya tahu mereka berdua jarang sekali terlibat
(atau dilibatkan) dalam day-to-day evaluation tim secara keseluruhan. Untuk

menekankan pentingnya "kunci" tersebut coba anda semua perhatikan ungkapan
Professor Sukendar Asikin berikut "Saya bukan ahli pemboran, tapi
berdasarkan fakta-fakta dan saya telah mempelajari kasus serupa di tempat
lain, termasuk browsing internet dan membaca literatur di luar negeri, saya

yakin ini mud volcano," katanya (DetikCom 28 Desember 2006: "2 Pakar
Geologi
Kuak Misteri Lumpur Sidoarjo").

Kebanyakan dari para ahli kebumian tersebut diatas hanya melihat "hasil
akhir yang dinamis" (perkembangan dari semburan kecil menjadi mud-volcano)
dan "fenomena awal yang statis" (sejarah tektonik, sedimentasi, data
seismik, data permukaan, bertebarannya mud volcano fenomena di jalur
kendeng, dsb). Jembatannya yang berupa "pemboran" dan disisi lain "gempa"
dalam kaitannya dengan proses awal semburan hampir-hampir tidak disentuh
(bahkan seringkali dihindari).

Jadi, pertanyaannya: pada kemana para ahli WSG kita?

Longsor-banjir di Panti Jember, di Pacet Mojokerto, dan diberbagai tempat
lainnya adalah bencana alam. Penggundulan hutan, perubahan fungsi lahan,
dan
perencanaan pemukiman yang salah adalah penyebabnya. Siapa yang
bertanggung-jawab? Penggundul hutan, pengubah fungsi lahan, perencana dan
pelaksana tata ruang seharusnya bertanggung-jawab. Tapi karena jarak waktu
antara kejadian dengan penyebab-nya terlalu jauh, maka kita kesulitan untuk

mengejar-ngejar penanggung-jawabnya.

Dalam kasus Lumpur Sidoardjo, jarak waktu antara kejadian dan "yang
dicurigai" jadi penyebabnya sangat dekat. Makanya, tidak heran kalau dengan

gampang massa (media), pemerintah, dsb langsung bisa tunjuk jari memaksa
"yang dicurigai jadi penyebab" untuk bertanggung-jawab. Sementara itu soal
kecurigaan tsb (bahasa ilmiahnya: hipothesis) masih belum juga bisa
dibuktikan secara komprehensif dan integratif, karena tim ahli kebumiannya
masih minus WSG.

Lalu:.... bagaimana dengan para ahli WSg kita??


Salam

adb
arema


---------------------------------------------------------------------
-----  PIT IAGI ke 35 di Pekanbaru, 20-22 November 2006
-----  detail information in http://pekanbaru2006.iagi.or.id
---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke