Bencana Alam YA Bencana Alam, yakni bencana akibat ulah alam murni.
Bencana akibat ulah manusia ya Bencana Akibat Ulah Manusia. Titik. Jangan dicampur adukan....ada Bencana Alam akibat ulah manusia...ya gak ada itu kecuali Allah SWT menurunkan adzab karena manusia berbuat maksiat.

Mari kita pikirkan kategori yang mana bencana alam dan yang mana bencana akibat ulah manusia , mudah sekali memilahnya :

Gempa Bumi tektonik --- bencana akibat ulah jutaan manusia gedruk gedruk bumi kah ???
Tanah Longsor karena penggundulan hutan --- akibat Alam kah ?
Banjir bandang ( Galodo ) yang membawa bongkahan kayu tebangan liar -- akibat curah hujan terlalu gede kah ?
Tsunami - Bencana akibat manusia yang ngobok-obok laut kah ?
Gunung Merapi meletus...-- akibat Mbah Marijan gak mau turut ngungsi kah ?
Angin tornado -- gara-gara si mbah Semar kentut ?
Sumur minyak/gas blow out --- siapa yang ngebor ? Angin apa Jin ?
Sumur HP/HT gak di casing-cement, blow out -- akibat nggak potong kerbau atau ulah naga bumi ? Sumur dibor salah trajectory -- gara-gara lapisan formasi tiba-tiba digeser sesar ? Bendungan jebol karena semennya dikorupsi -- bencana alam yang tidak bisa diprediksi kah ? Bom Atom/Nuklir meledak meluluh lantakan pulau-- akibat atom2 alam ber defraksi kah ? Ngebor sumur trus ada "loss circulation" tapi dibiarkan saja -- akibat bumi gak mau kompromi dengan drilling engineer kah ? Sudah "loss" diatas gak ditangani trus malah "kick" dibawah....--- gara-gara arus konveksi panas di inti bumi kah ??

Ntar nanti akan muncul pernyataan bahwa pesawat "Aa" jatuh akibat Bencana Alam ! si Cuaca Buruk yang akan jadi tertuduh. ( padahal B737-300 terbang setinggi 35 ribu kaki di atas awan segala awan ), atau magnetik bumi berubah seketika sehingga menyebabkan navigasi kacau..melenceng dari rute.

Lalu dari Lapindo juga menyusul, semburan Lusi akibat Formasi Kalibeng/Kujung nggak ngasih tahu kalau punya pressure gede. atau si sesar "jadi-jadian gara-gara gempa Jogja" gak ngomong-omong kalau dia sudah ndongkrok disitu sejak Pleistosen (?) yang lalu... teraktifkan lagi.

Tidak pernah ada manusia mati karena goyangan gempa, tapi hampir pasti mati karena kerobohan bangunan/tembok !!

Mengapa manusia tidak juga mau belajar dari pelajaran yang sudah ada ?
Salah interpretasi bukan kriminal, tapi kesalahan prosedur adalah kriminal.

Geologi adalah ilmu interpretasi belaka ( dominan lho ). Makanya umur geologi adalah kira-kira saja, gak ada yang mengatakan bahwa Mesozoikum itu tepat dari tanggal 3 januari 249.765.113 tahun lalu SM hingga tgl 28 Agustus 62.235.651 tahun SM. ?? hehehehe

Engineering adalah rekayasa ilmu pasti, makanya dibuat prosedur.

Nah, mudah bukan ?
Wallahu'alam bisawab.

KA

----- Original Message ----- From: "OK Taufik" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[email protected]>
Sent: Wednesday, January 03, 2007 7:47 PM
Subject: Re: [iagi-net-l] Lapindo Harus Sediakan Rp 3, 8 T - 2 Pakar Geologi Kuak Misteri Lumpur Sidoarjo


Banyak pendapat yang menolak mengkaitkan kasus LUSI adalah murni
bencana alam, tulisan terakhir dari Pak Kusuma terhadap kasus ini
mengkategorikan sebagai bencana alam akibat ulah manusia Sebagai
seorang WSG kebanyakan pendapat kita terhadap LUSI memang baru
berdasar atas informasi yg terbatas (dari mailing list dan media
lainnya), padahal bukan hal yg susah kalau mau melibatkan WSG dalam
memandang kasus ini, record data  drilling parameter dari Mudlogging
dan formation data lainnya bisa memberi keputusan yg tepat atas
kronologis drilling saat itu. Apa lagi Timnas sendiri diberi
keleluasaan dalam mengakses data tersebut, kalaupun masih ada
keengganan dari pihak terkait untuk memberi data tersebut ..maka
jasa-jasa teman-teman data engginer, mudlogger ataupun wsg yg pernah
mengalami blowout disertai terbakarnya rig atau rigloss ditempat lain
bisa dimanfaatkan, saya teringat saat rekan Amir dan Vera (sekarang
domisili di Houston) terlibat akan blowout dan terbakarnya Rig maera
di total, bagaimana mereka harus dikarantina oleh Pihak total untuk
tak berhubungan dengan pihak luar, maksudnya mungkin untuk menggali
informasi dan menyeragamkan statement ke luar, artinya lagi
orang-orang yang pernah mengalami kejadian seperti ini tentunya
memahami betul bagaimana trik-trik  perusahan mencoba
mengkebiri/menahan data dan informasi mengalir kepihak luar.
Sebelumnya juga pernah dilontarkan bahwa  informasi dari well proposal
adalah cara termudah untuk mencari tahu apa mereka melakukan kesalahan
prosedur saat drilling, dari keputusan mengextend set casing saja bisa
dikejar apaka langkah tersebut benar, kalau menurut Pak Rudy keputusan
tersebut tak salah atas consider fraction pressure sepanjang open
hole, namun keputusan tersebut harus di kaitkan juga apakah target TD
mereka di well proposal memang akan drilling sampai menembus high
pressure zone?, dan lagi apakah di well proposal high pressure zone
tersebut sudah diprediksi sebagai drilling hazard? (artinya mereka
well known terhadap kondisi well tersebut), maka kalau jawabnya YA,
jelas terjadi kesalahan prosedur.
Bagaimana kalau sejak awal mereka akan stop drilling sebelum high
press zone?, tapi tetap menembus hi press zone?, ada dua kemungkinan :
1. kesalahan korelasi atau juga top horison hi pressnya datang lebih
awal (hal seperti ini sifatnya sangat technical..susah dianggap
sebagai kesengajaan),
2. Ada order untuk continue drilling sampai sengaja atau tak sengaja
menembus hi press, maka ini bisa dikategorikan kesalahan (perubahan
drilling program di beberapa company selalu ada persetujuan secara
hirarki, baik melalui intranet atau faxcimile, susahnya kalau order
hanya berdasarkan by phone==ada kemungkinan akan saling mengelak).

Kalau mereka memang tak menduga adanya high pressure zone, maka ini
hal biasa di drilling practise, menembus unpredictable zone, data tak
cukup, ada unsur tak kesengajaan. Tapi tinggal kearifan saja ,
masakah??, offset well kan sudah ada, sudah ada beberapa sumur yg bisa
jadi reference.
Kasus LUSI menurut saya tetap sebagai Natural dissaster akibat
kesalahan drilling yg disengaja atau tak sengaja.

Ada beberapa hal yg tak menarik logika kita di kasus LUSI ini, seperti
pertanyaan sdr,.ADB.bagaimana pihak kepolisian mengkorek informasi
dari Pakar geologi yang tak  begitu memahami pemboran atau juga
bagaimana malah pihak ahli Drilling (diwakili mungkin pak Rudi dkk),
malah begitu gigih melihat hal ini adalah murni masalah technical
drilling, sementara mungkin kebanyakan ahli Geologi mengkaitkannya
sebagai bencana alam, ini aneh..karena biasanya  dilapangan kalau ada
kasus begini dikaitkan atas gejala alam/geological maka pihak drilling
akan senang, tak ada lagi beban bagi mereka dari sisi technical
drilling karena semua sebab dilimpahkan ke alam.
Tak menarik secara logika lainnya adalah seperti yang dinyatakan oleh
Kediv.hukum BP Migas bahwa biaya penanganan lusi bisa dicost
recoverykan apabila tidak ada kesalahan pemboran, lantas secara
berjamaah banyak ahli geologi (banyak juga yang plat merah) berfatwa
bahwa ini memang bencana alam.. coba berapa uang negara  yang akan
dirugikan akibat terjadinya distorsi opini??.
On 1/1/07, Andang Bachtiar <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Setahu saya Tim IAGi dan juga Tim-nya Pak Rudi Rubiandini (dulu) semuanya
punya akses terhadap data2 tersebut. Data pemboran, cuttings, drilling
report, mud report, bahkan sampai ke geolograph dan continuous form di data
unit yang mencatat perkembangan dari waktu ke waktu soal WOH, WOB, Mud in
and out, Gas, ROP, dsb .......

Repotnya,.... sepengetahuan saya: Tim Geologi yang membantu Pak Rudi
kebanyakan akademisi dan kemungkinan tidak memperhatikan data-data tersebut.
Topik bahasan mereka pada umumnya hal-hal besar seperti Sesar Watukosek,
rekaman gempa, geologi kwarter, stratigrafii "Kalibeng", dan hal-hal yang
sifatnya regional.

Repotnya juga: Tim IAGI juga tidak begitu intensif menganalisis data2
tersebut (seperti saya sebutkan dalam email pertama: WSG2 kita disana kurang
"didayagunakan")

Sebenarnya kalau mau dan ada good-will, kita minta saja anda-anda spt Taufik OK, Ismed, Amir, dll untuk sekalian bergabung dg kawan2 WSG di Tim IAGI dan
mulai ngoprek2 data2 pemboran tersebut (belum terlambat koq,......)

Gimana IAGI?
Gimana Pak Novi, Pak Ai'?

adb


----- Original Message -----
From: <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[email protected]>
Sent: Tuesday, January 02, 2007 10:54 AM
Subject: Re: [iagi-net-l] Lapindo Harus Sediakan Rp 3, 8 T - 2 Pakar Geologi
Kuak Misteri Lumpur Sidoarjo


>
> Lalu:.... bagaimana dengan para ahli WSg kita??
>
> Mas Andang,
> pertanyaannya...kenapa tim penanggulangannya minus WSG atau..kok ga ada
> WSG
> ahli yang ikut berkomentar?
>
> Saya yakin kita punya banyak WSG yang kompeten, hanya masalahnya...para
> WSG
> khan menganalisa dan menarik kesimpulan dari data2 pemboran dan > rekaman2 > kejadian hari-perhari (Daily Drilling Report) dan dibandingkan juga > dengan
> Drilling Program-nya, sekarang yang menjadi pertanyaan adalah..apakah
> mereka punya akses untuk melihat data2 tersebut?...kalo datanya aja > mereka > ga pernah lihat (cuma denger2 kata orang), riskan juga kalo harus > menarik
> kesimpulan
>
>
>
> Regards,
>
> Y O G I  P R I Y A D I
> G e o l o g i s t
> H a n d i l  A s s e t  T e a m
> GSR / H T I / G & G
> ext. 2 6 2 1
>
>
>
> |---------+---------------------------->
> |         |           "Andang Bachtiar"|
> |         |           <[EMAIL PROTECTED]|
> |         |           t.id>            |
> |         |                            |
> |         |           01/02/2007 10:59 |
> |         |           AM               |
> |         |           Please respond to|
> |         |           iagi-net         |
> |         |                            |
> |---------+---------------------------->
>
> > >---------------------------------------------------------------------------------------------------------------|
>  |
> |
>  |       To:       <[email protected]>
> |
>  |       cc:
> |
> | Subject: Re: [iagi-net-l] Lapindo Harus Sediakan Rp 3, 8 > T -
> 2 Pakar Geologi Kuak Misteri Lumpur   |
>  |        Sidoarjo
> |
>
> > >---------------------------------------------------------------------------------------------------------------|
>
>
>
>
> Kuncinya sebenarnya ada di "integration" dan "comprehensiveness" dari
> analisis para ahli kebumian yang selama ini dijadikan rujukan oleh
> masyarakat (baca: media) maupun kepolisian. Kalau kita perhatikan,
> kebanyakan (hampir keseluruhan) ahli kebumian yang dirujuk tidak begitu
> mendalami alias menghindarkan diri dari menganalisis data teknis dan
> kronologis pemboran "yang berkaitan langsung dengan kejadian semburan".
> Pada
> umumnya para ahli tersebut mengatakan bahwa "itu urusan drilling
> engineer",
>
> dan mereka merasa tidak berkompeten untuk ikut-ikutan menganalisis
> data-data
> tersebut secara lebih mendalam, padahal banyak sekali informasi > tambahan > yang bisa diperoleh dari data pemboran tersebut untuk menjelaskan apa > yang
> terjadi secara dinamis. Hal ini bisa dimaklumi karena pada umumnya para
> ahli
> yang dirujuk adalah saintist berbasis akademis (bukan practicioner) > atau
> saintist dari disiplin ilmu yang lebih berat ke aplikasi permukaan
> (geoteknik dsb). Tentunya akan sangat tidak professional kalau mereka
> ikut-ikutan menganalisis data pemboran tanpa dasar pengetahuan dan
> pengalaman yang kuat. Namun kita lupa bahwa kawan-kawan wellsite
> geologist,
>
> operation geologist, exploration-operation geologist, ataupun
> production-operation geologist: mereka mempunyai kompetensi yang kita
> butuhkan untuk ikut menjembatani gap antara kejadian pemboran dengan
> semburan yang akhirnya memicu proses alam menjadi semakin membesar
> membentuk
> mud-volcano. Dalam tim IAGI sebenarnya ada 2 orang operation geologist
> yang
>
> mumpuni, tetapi sejauh yang saya tahu mereka berdua jarang sekali > terlibat
> (atau dilibatkan) dalam day-to-day evaluation tim secara keseluruhan.
> Untuk
>
> menekankan pentingnya "kunci" tersebut coba anda semua perhatikan > ungkapan
> Professor Sukendar Asikin berikut "Saya bukan ahli pemboran, tapi
> berdasarkan fakta-fakta dan saya telah mempelajari kasus serupa di > tempat
> lain, termasuk browsing internet dan membaca literatur di luar negeri,
> saya
>
> yakin ini mud volcano," katanya (DetikCom 28 Desember 2006: "2 Pakar
> Geologi
> Kuak Misteri Lumpur Sidoarjo").
>
> Kebanyakan dari para ahli kebumian tersebut diatas hanya melihat "hasil
> akhir yang dinamis" (perkembangan dari semburan kecil menjadi > mud-volcano)
> dan "fenomena awal yang statis" (sejarah tektonik, sedimentasi, data
> seismik, data permukaan, bertebarannya mud volcano fenomena di jalur
> kendeng, dsb). Jembatannya yang berupa "pemboran" dan disisi lain > "gempa" > dalam kaitannya dengan proses awal semburan hampir-hampir tidak > disentuh
> (bahkan seringkali dihindari).
>
> Jadi, pertanyaannya: pada kemana para ahli WSG kita?
>
> Longsor-banjir di Panti Jember, di Pacet Mojokerto, dan diberbagai > tempat > lainnya adalah bencana alam. Penggundulan hutan, perubahan fungsi > lahan,
> dan
> perencanaan pemukiman yang salah adalah penyebabnya. Siapa yang
> bertanggung-jawab? Penggundul hutan, pengubah fungsi lahan, perencana > dan > pelaksana tata ruang seharusnya bertanggung-jawab. Tapi karena jarak > waktu
> antara kejadian dengan penyebab-nya terlalu jauh, maka kita kesulitan
> untuk
>
> mengejar-ngejar penanggung-jawabnya.
>
> Dalam kasus Lumpur Sidoardjo, jarak waktu antara kejadian dan "yang
> dicurigai" jadi penyebabnya sangat dekat. Makanya, tidak heran kalau
> dengan
>
> gampang massa (media), pemerintah, dsb langsung bisa tunjuk jari > memaksa > "yang dicurigai jadi penyebab" untuk bertanggung-jawab. Sementara itu > soal
> kecurigaan tsb (bahasa ilmiahnya: hipothesis) masih belum juga bisa
> dibuktikan secara komprehensif dan integratif, karena tim ahli > kebumiannya
> masih minus WSG.
>
> Lalu:.... bagaimana dengan para ahli WSg kita??
>
>
> Salam
>
> adb
> arema
>

---------------------------------------------------------------------
-----  PIT IAGI ke 35 di Pekanbaru, 20-22 November 2006
-----  detail information in http://pekanbaru2006.iagi.or.id
---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------




--
OK TAUFIK

---------------------------------------------------------------------
-----  PIT IAGI ke 35 di Pekanbaru, 20-22 November 2006
-----  detail information in http://pekanbaru2006.iagi.or.id
---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------





---------------------------------------------------------------------
-----  PIT IAGI ke 35 di Pekanbaru, 20-22 November 2006
-----  detail information in http://pekanbaru2006.iagi.or.id
---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke