Mas Maryanto,
Saya sedikit koreksi ya ulasan ”Pranatamangsa”-nya (penanggalan pertanian
Jawa).
Setiap wilayah (di Jawa Tengah dan Yogyakarta dalam hal ini) punya kondisi
kosmografis, kosmologis dan meteorologis pranatamangsa masing2 (dengan variasi
yang kecil antar daerah). Untuk daerah Surakarta dan sekitarnya misalnya,
mongso/mangsa/musim ”Katiga” (musim kering) terbagi atas tiga bulan : kasa,
karo, katelu dengan total panjang musim selama 88 hari. Bulan ke-1 (kasa)
mulai pada tanggal Masehi 22 Juni, bulan ke-2 (karo) mulai pada tanggal 2
Agustus, bulan ke-3 (katelu) mulai pada tanggal 25 Agustus. Maka, Mas Maryanto,
bulan ke-3 di Pranatamangsa itu bukan bulan Maret, tetapi bulan
Agustus-September (25 Agustus-17 September).
Kalau di langit malam mulau muncul rasi bintang ”lumbung” (crux) dan sumur
mengering serta angin berdebu, maka mongso katelu telah datang. Secara
meteorologis, musim Katiga ini memang musim kemarau dengan 72 % sinar Matahari
diterima (insolusi) –paling banyak dibandingkan mangsa2 lain, kelembaban udara
60,1 % -paling kering dibandingkan mangsa2 lain, dan curah hujan hanya 32-67 mm
setiap mangsanya (kasa-katelu) –paling sedikit dibandingkan mangsa2 lainnya.
Pranatamangsa ini mempunyai efek sosiokultural yang akan dipatuhi oleh para
petani sebab pelanggaran terhadapnya akan menyebabkan musibah. Dari berbagai
pengalaman salah tindak atau pelanggaran terhadap tata mangsa, dikumpulkanlah
bermacam-macam pantangan dalam buku primbon. Ini pun kemudian menjadi pedoman
baru untuk menjamin selamatnya usaha atau tindakan orang. Hanya, dalam
perkembangannya pedoman tersebut dicampur-aduk dengan berbagai perhitungan
mistik yang tak masuk akal.
Beberapa pantangan yang logis misalnya, pantang berpindah rumah pada mangsa
katelu karena bisa mengakibatkan musibah kena rampok atau kebakaran. Ini logis
sebab mangsa katelu (September) adalah mangsa yang panas dan kering serta angin
kencang –mudah menimbulkan kebakaran, juga kekurangan pangan akibat sedikit air
sehingga perampokan sering terjadi.
Lain halnya dengan mangsa Katiga, adalah mangsa ”Rendheng” (total 95 hari, 22
Desember – 25 Maret) yaitu mangsa banyak air dan mangsa pertamanya yaitu
”kapitu” (22 Desember-2 Februari) - Januari adalah musim puncak hujan. Para
petani di Jawa menyebut bulan ini ”jan ana warih” (benar-benar ada air). Bila
Bimasakti jelas terlihat di langit, itulah awal Rendheng.
Mas Maryanto, awal musim hujan pun tentu ada dalam pranatamangsa, yaitu yang
dikenal dengan Mangsa Labuh (mangsa kapat, kalima, kanem) yang total lama
mangsanya 95 hari (18 September – 21 Desember). Akhir musim penghujan pun ada,
yaitu yang dikenal dengan nama Mangsa Mareng (mangsa kasapuluh, desta, sadha)
yang total lama mangsanya 86 hari (26 Maret – 21 Juni).
Diurut terhadap kalender Masehi, maka urutan pranatamangsa adalah sbb. : (1)
Rendheng (22 Desember-25 Maret), (2) Mareng (26 Maret-21 Juni), (3) Katiga (22
Juni-17 September), (4) Labuh (18 September-21 Desember). Setiap mangsa punya
karakter kosmografis, meteorologis, dan sosiokultural masing-masing.
Seperti kata Pak Nathan Daldjoeni (alm) (ahli geografi sosial Universitas
Kristen Satya Wacana Salatiga, penulis produktif buku2 dan artikel2 geografi,
yang pernah meneliti masalah pranatamangsa dalam Proyek Javanologi Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan, Yogyakarta, 1983 : ”Penanggalan pertanian Jawa
Pranatamangsa : peranan bioklimatologi dan fungsi sosiokulturalnya”),
Pranatamangsa adalah siklus yang kelihatannya cukup ruwet, tetapi kalau
ditelaah dengan baik kita akan menemukan latar belakang kosmografis dan simetri
yang mengagumkan. Apalagi, jika tabel-tabel yang berisikan data mengenai bulan,
zodiak, deklinasi matahari, bintang pedoman, angin, kelembaban udara serta
pengaruhnya atas kehidupan makhluk dipelajari, kita akan menemukan pula
kausalitas yang menarik di belakang itu semua.
Urang Sunda pun mengenal pranatamangsanya, yang sama dengan pranatamangsa Jawa
Tengah. Usum Ngijih = mangsa Rendheng (”usum hujan, ngecrek saban poe” – musim
hujan, ngecrek –bunyi hujan, setiap hari). Usum Dangdangrat = mangsa Mareng
(”hujan jeung halodo kakapeungan” – hujan dan kemarau sekali-sekali”). Usum
Katiga = Usum Halodo = mangsa Katiga) (halodo = kemarau). Usum Mamareng =
mangsa Labuh (”usum mimiti rek ngijih”- musim mulai akan hujan). Musim-musim
ini berhubungan dengan keadaan sosiokultural masyarakat. Usum paceklik (kurang
pangan) berhubungan dengan usum halodo. Usum pagebug (”usum loba nu gering
parna, loba nu maot” – musim banyak yang sakit parah, banyak yang meninggal)
berhubungan dengan usum dangdangrat dan mamareng, yaitu musim pancaroba dengan
cuaca yang tidak jelas.
Salam,
awang
Maryanto wrote :
> Budaya Jawa kenal 12 musim, di sebut "Mongso", dengan umur yang
> bervariasi dari 27 hari hinga 44 hari disebut ke : 1, 2, 3, ..., 12.
> Yang paling di kenal, adalah masa mulai kemaru (tidak terkenal yang
> mulai hujan), yakni ke 3, Tiga, "tigo", "telu", adalah bulan Maret,
> yang langsung lazimkan masa kemarau adalah Mongso Ketigo (Tak
> ke-sekawan, ke gangsal, dst).
-----Original Message-----
From: Maryanto (Maryant) [mailto:[EMAIL PROTECTED]
Sent: Fri 12/29/2006 3:22 PM
To: Himpunan Ahli Geofisika Indonesia (HAGI); [email protected]
Cc:
Subject: [iagi-net-l] RE: [HAGI-Network] [iagi-net-l] JAWAH - SALAM
Calendar - ALON