Ini ada cerita ringan yang mungkin bisa jadi bahan renungan.
dari salah satu milis yang saya ikuti......
sangat mirip yang pernah saya alami jadi saya mau forward ke teman2 semuanya
mudah2an ada gunanya.

fbs


==========
Aku hanya ingin bercerita tentang keadaan tanah air yang sudah sangat 
menyedihkan.  dan memerlukan "universal love" dari kita semua. Tetapi mungkin 
aku beritahu latar belakang jalan pemikiran ini. Ijinkanlah aku cerita tentang 
sebagian dari kehidupanku.
Sudah sering nya kita membaca kisah sedih kisah sedih yang menyayat hati.  
Aku tidak mau membuat anda semua sedih.
Jadi Aku hanya mau cerita gembira saja.
Aku beruntung dilahirkan dan dibesarkan di lingkungan yang semuanya gigih 
berjuang dalam menghadapi tantangan hidup ; dan kami semua tidak pernah merasa 
miskin karena kami selalu bisa memenuhi kebutuhan hidup kami,  karena 
kepintaran membatasi dan membedakan yang mana kebutuhan hidup dan yang mana 
bukan.
  
Setelah ayah pensiun dari suatu instansi pemerintah, kami yang keluarga sangat 
besar, bertahan hidup dengan jualan kue dan gaji dari salah satu kakak yang 
mengorbankan diri bekerja sebagai pegawai dengan gaji beberapa puluh ribu 
rupiah perbulan. Waktu itu gaji itu sudah cukup untuk beli beras untuk kami 
sekeluarga.
Tetapi keberuntungan demi keberuntungan kami dapatkan dari mana mana. Mulai 
dari saudara, teman, bahkan orang yang kami tidak kenal pun.
SD sampai SMA tidak banyak tantangan yang aku bisa ceritakan, tetapi kami 
sekeluarga dapat keringanan biaya sekolah di salah satu sekolah top di kota 
kami. jadi uang sekolah kami jauh lebih murah dari kawan-kawan.
Waktu kuliah aku bisa dapat mengetik laporan (waktu itu masih pake mesin tik 
Royal) dengan memakai kertas, pita dan mesin ketik dari kawan setelah aku 
ketikan laporan kawan tersebut.  Aku juga boleh pinjam textbook asal  buatkan 
summary dari text book tersebut atau mengerjakan pr nya.  
Hal yang paling aku ingat dari anugrah yang aku dapat dan bantuan dari 
teman-teman adalah cara mereka memberikan dengan tetap menjaga harga diriku.  
Soalnya untuk orang miskin,  kami tidak punya apa-apa selain harga diri kami.
Aku selalu diminta tolongin baru dapat memakai fasilitas yang mereka punyai.  
mulai dari kalkulator, mesin tik, sepeda motor, dan lain-lain. Padahal mungkin 
mereka bisa mengerjakannya sendiri tanpa bantuanku. Cuma pada waktu itu mereka 
membuat seolah-olah mereka memang memerlukan bantuanku.
Mereka tidak pernah memberikan uang sesen pun tapi apa yang mereka berikan 
berupa fasilitas yang apa mereka punyai sangat-sangat membantu kehidupanku.
Sekarang, setiap saat aku ketemu mereka aku memberitahu mereka bahwa gaji saya 
sudah beberapa juta rupiah berkat bantuan mereka, walaupun aku masih pegawai 
kontrakan.  Mungkin penghasilan ini hanya beberapa persen saja dari penghasilan 
mereka, tetapi aku mau membuat mereka bangga bahwa dengan bantuan mereka lah 
aku bisa mandiri dan mempunyai penghasilan seperti itu. 
Bagi yang belum pernah miskin, aku mau beritahu suatu rahasia dari orang miskin.
Orang miskin itu paling tidak mau dikatakan perlu bantuan orang dalam 
menghadapi hidup.   Ini kesombongan universal dari orang miskin.
Orang miskin juga takut hutang budi, karena tidak tahu apakah bisa membalasnya 
nanti.
Walaupun yang memberikan bantuan tidak mengharapkan balas budi.
Oleh karena itu aku mau menghimbau kawan-kawan yang membaca ini untuk membantu 
saudara saudara kita di tanah air, dengan berbagai cara. Apakah memberikan 
beasiswa, atau membantu panti asuhan yang sudah ada atau yang lainnya.
Orang yang sudah biasa kaya lebih mengerti soal ini.
Tolong jaga harga diri mereka, seperti apa yang aku sebutkan diatas.  
Salah satu contoh yang aku pernah lihat disuatu panti asuhan adalah membuat 
bahwa anak anak panti asuhan tahu bahwa mereka berhutang untuk membiayai paling 
kurang satu anak di panti asuhan itu kalau mereka sudah bekerja.  Jadi mulai 
dari kecil, anak-anak tersebut sudah sadar bahwa setiap butir nasi yang mereka 
makan harus mereka bayar kembali kelak setelah mereka “berhasil”.
Semua biaya sekolah yang mereka habiskan, kelak harus dibayarkan kembali dengan 
membiayai paling kurang satu anak dari panti asuhan tsb. untuk bersekolah.
Kalau mereka kurang beruntung dalam kehidupan, mereka harus membantu panti 
asuhan dengan tenaga mereka dalam waktu senggang mereka.
Anak-anak “alumni” panti asuhan tersebut tidak ada yang menjadi konglomerat 
sampai sekarang ini, tetapi mereka punya suatu “kekayaan” dalam jiwa mereka 
yang selalu mereka perlihatkan, lakukan dan bagikan dengan sekelilingnya.
Aku tidak perlu memberitahu nama panti asuhan ini, karena sudah banyak panti 
asuhan disekeliling kawan-kawan semua yang membutuhkan uluran tangan kita 
semua.  Mulailah dengan sekeliling anda atau lingkungan dimana anda dulu 
dibesarkan.
  
Seperti kita ketahui bersama hanya sebagian kecil anak usia sekolah di 
Indonesia yang bisa beruntung mencicipi pendidikan dasar, apalagi perguruan 
tinggi.  Aku adalah salah satu contoh yang beruntung mendapatkan beasiswa dari 
pemerintah.  Tetapi kemampuan pemerintah terbatas.  Oleh karena itu usaha 
perseorangan dari kawan-kawan semua sangat diperlukan dalam membantu pendidikan 
rakyat Indonesia, baik pendidikan formal maupun pendidikan non-formal berupa 
pendidikan ketrampilan.
Mari kita bersama membangun dunia yang lebih indah untuk mereka.  Karena dengan 
membuat dunia mereka lebih indah, maka dunia kita pun akan kelihatan lebih 
indah.  Kita kan hidup bersama dengan mereka.
cheers ……

---------------------------------------------------------------------
ayo bersiap untuk PIT IAGI ke-36 tahun 2007!!!
semarakkan dengan makalah-makalah yang berkualitas internasional...
---------------------------------------------------------------------

To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke