Kita hanya bisa berharap mudah2an nanti orang2 kita (teruatama gornment)
menyadari akan hal itu & bisa merubah keadaan sekarang ini, karena sekarang
ini / akhir2 ini, bukan hanya Singapore yang selalu ingin meng-kadal-in
kita, tapi negara2 disekitar kita lainnya juga mulai ikutan Singapore untuk
mengkadalin Indonesia, tentu saja selama bagnsa kita masih bisa & mau
dikadalin oleh mereka2, kalau bangasa kita sendiri sudah mau berubah
& melawan pengkadalan tsb, saya kira mereka2 juga tidak akan melakukannya
lagi ..... penebangan liar hutan dengan membakarnya menyebabkan asap
ke-mana2 , kelihatannya negara2 tetangga pada komplain, tapi dibalik itu
mereka juga mendapatkan keuntungannya secara langsung karena penebangan liar
hutan kita juga akhirnya ke negara mereka juga larinya & keuntungannya ....
tapi kita juga yang kena getahnya dengan tuduhan tidak bisa mengendalikan
penebangan liar & pembakaran hutan  .... mudah2an cepat disadarkan orang2
kita yang punya wewenang meluruskan semuanya ...


salam,
nyoto







On 1/15/07, OK Taufik <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

Tahun lalu seorang Professional finance dari Meryl Linch (?) mengemukakan,
kemajuan dan kehebatan ekonomi Singapore sebenarnya tak riil, sebagian
besar
malah karena di topang oleh pelarian uang korup, praktek money laundry
dari
ung Indonesia dan penggelapan blbi dan uang haram lainnya dari Indonesia.
Mereka aman karena memang tak ada perjanjian ekstradisi dan juga
diperparah
oleh sikap para pejabat dan pemimpin negara yg sangat pro singapore. Kita
musti ikut serta menghentikan semua langkah-langkah legal dan illegal yg
selalu merugikan negara dan bangsa ini atas kerakusan Singapore, Lee kwan
Yu
sendiri sebenarnya adalah typikal orang Singapore dalam memandang
Indonesia,
sering kali dia melontarkan akan persepsi bahwa bangsa ini bodoh dan
malas.
Makanya dimata rakyat dan Pemerintah Singapore tak ada yann perlu
dikhawatirkan atas Indonesia semuanya bisa mereka kontrol.

On 1/15/07, Supardan <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Mas Agus,
>
> Saya ikut prihatin dengan kasus yang anda tulis tersebut. Kawasan
> Pelabuhan
> Jurong di Singapore, bukanlah tanah air Singapore, karena tanahnya dari
> Indonesia, airnya saja yang asli Singapore. Barangkali ada beberapa
pulau
> kecil kita yang hilang karena diangkut ke Jurong, yang pada saat ini
telah
> menjadi kawasan yang *ijo royo-royo*, semacam hutan buatan.
>
> Ada cerita seorang sopir taxi di sana. Dia bilang, *kasihan olang
> Indonesia
> ha... negala kaya, lakyatnya miskin ha....  segala sesuatu yang
belkaitan
> dengan Indonesia bisa diatul ha.., yang penting pejabatnya dikasih
duit...
> beleslah. Olang Indonesia kilim balang ke sini, taluk gudang, tunggu
> busuk,
> lalu dibuang. Pejabatnya kasih duit, beleslah...*
> **
> Cerita di atas hanyalah sekelumit cerita tentang bagaimana perlakuan
> Singapore terhadap Indonesia dan bagaimana persepsi orang Singapore
> tentang
> Indonesia. Bahkan... cerita tersebut hanyalah persepsi seorang rakyat
> kecil
> di sana. Kalo ditarik ke atas, bagaimana dengan persepsi para
pejabatnya?
> Oleh karena itu, tidak heran kalo selama ini kita selalu dikadalin
negeri
> mini tersebut. Kok bisa ya....!!! Pertanyaannya, sampai kapan kondisi
> seperti ini....??? Belum lagi para pengemplang duit rakyat (BLBI),
> koruptor,
> pelaku ilegal logging dll, yang sembunyi di sana dan tidak bisa kita
> sentuh,
> karena tidak ada perjanjian ekstradisi. Masih ingatkah kita tentang
kasus
> H.
> TAHIR? Waktu itu negara kita ikut rebutan warisannya dengan janda H.
> TAHIR. Saya kira itu hanya sebagian kecil dari duit/ kekayaan rakyat
> Indonesia yang dilarikan ke sana, di samping ke beberapa negara lain
> tentunya.
>
> Suatu saat nanti dan mudah-mudahan tidak terlambat karena seluruh
kekayaan
> kita telah diembat, alangkah bahagianya rakyat Indonesia, jika para
> pemimpinnya telah berubah pikiran untuk makmur bersama, bukan diri
sendiri
> yang kaya raya karena selalu disuap orang Singapura. Tentunya masalah
ini
> jadi PR kita bersama.
>
> Wassalam.
>
> *
>
>
> * On 1/12/07, Minarwan (Min) <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> >
> > Mas Agus Hendratno ysh,
> >
> > Mineral kuarsa juga memiliki nilai yang lebih penting, yaitu sebagai
> > salah satu bahan untuk membuat serat optik. Serat optik seperti yang
> > kita ketahui pada saat ini termasuk salah satu tulang punggung
> > komunikasi internasional, termasuk industri teknologi tinggi juga.
> >
> > Sedikit informasi mengenai kegunaan kuarsa ada di sini:
> > http://www.state.ar.us/agc/quartz.htm
> >
> > Saya tidak tahu apakah Indonesia sudah memiliki industri yang
> > memanfaatkan kuarsa untuk membuat serat optik, mudah-mudahan saja
> > sudah ada, sehingga minimal kita sudah mulai untuk "tidak menjual SDA
> > tanpa diolah lebih dulu".
> >
> > Salam
> > cakmin
> >
> > On 1/13/07, Agus Hendratno <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> > Anda tahu, kuarsa itu bahan
> > > baku untuk industri gelas dan juga keramik. Tentunya
> > > nilai jual setelah di singapura lebih mahal, dari
> > > sekedar membeli secara legal atau illegal dari pemasok
> > > "pasir darat" dari batam dan wilayah kep.riau lainnya.
> > >
> > >
> > > Salam
> > > AGS
> > --
> > Step back and see the big picture
> > Ubuntu Linux User #7746
> > http://desaguadero.blogspot.com
> >
> > ---------------------------------------------------------------------
> > ayo bersiap untuk PIT IAGI ke-36 tahun 2007!!!
> > semarakkan dengan makalah-makalah yang berkualitas internasional...
> > ---------------------------------------------------------------------
> >
> > To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
> > To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
> > Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
> > Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
> > Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
> > No. Rek: 123 0085005314
> > Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
> > Bank BCA KCP. Manara Mulia
> > No. Rekening: 255-1088580
> > A/n: Shinta Damayanti
> > IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
> > IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
> > ---------------------------------------------------------------------
> >
> >
>
>


--
OK TAUFIK


Kirim email ke