Minggu malam 21 Januari 2007 sekitar pukul 18.30 WIB saat saya sedang menonton
sebuah acara di sebuah stasiun TV, tiba-tiba acara dihentikan dan tertayang
informasi gempa terkini dari BMG disertai bunyi mendengung yang menarik orang
memperhatikan TV. Sebuah gempa berkekuatan 6,5 SR baru saja terjadi di perairan
Laut Maluku sebelah tenggara Manado. Gempa berpotensi tsunami.
Dilaporkan sekitar 1 1/2 jam kemudian melalui running text di sebuah TV bahwa
interupsi informasi tadi itu telah telah membuat banyak orang di sekitar tempat
kejadian baik di Sulawesi Utara maupun di Ternate lari keluar dari rumahnya
menuju tempat tinggi takut dilanda tsunami. Meskipun tsunami dilaporkan tak
terjadi, peringatan dini melalui TV pada waktu "real time" tersebut saya pikir
sungguh baik.
Radio VOA (Voice of America) pukul 23.00 WIB mengutip informasi bahwa
kekuatan gempa tersebut 6,9 skala Richter. Data dari USGS menunjukkan gempa
berkekuatan 7,3 Mw (momen magnitude), berasal dari pusat gempa sedalam 10 km
(data BMG menginformasikan kedalaman 33 km), terjadi di laut di tengah antara
Sulawesi Utara dan Halmahera. Berikut data detail gempa itu berdasarkan USGS :
Earthquake Details Magnitude
7.3 (Major)
Date-Time
· Sunday, January 21, 2007 at 11:27:42 (UTC)
= Coordinated Universal Time
· Sunday, January 21, 2007 at 7:27:42 PM
= local time at epicenter Time of Earthquake in other Time Zones
Location
1.207°N, 126.292°E
Depth
10 km (6.2 miles) set by location program
Region
MOLUCCA SEA
Distances
130 km (80 miles) WNW of Ternate, Moluccas, Indonesia
165 km (100 miles) E of Manado, Sulawesi, Indonesia
1590 km (990 miles) SSE of MANILA, Philippines
2310 km (1440 miles) ENE of JAKARTA, Java, Indonesia
Location Uncertainty
horizontal +/- 8.7 km (5.4 miles); depth fixed by location program
Parameters
Nst= 83, Nph= 83, Dmin=>999 km, Rmss=1.24 sec, Gp= 61°,
M-type=moment magnitude (Mw), Version=7
Source
USGS NEIC (WDCS-D)
Event ID
us2007xvam
Data momen tensor solution menunjukkan gempa berasal dari penyesaran naik
dengan jurus 3 degree NE dan kemiringan 42 degree. Semua syarat kejadian
tsunami terpenuhi di sini : (gempa berkekuatan > 6.2 SR, episentrum di laut,
penyesaran naik, dan pusat gempa dangkal < 60 km). Tetapi, mengapa tidak
terjadi tsunami ? (syukurlah !)
Mungkin, meskipun episentrum gempa terjadi di laut, ia persis berposisi di
sebuah dangkalan yang dibentuk oleh Punggungan Talaud-Mayu - sebuah punggungan
yang dibentuk oleh double subduction di wilayah ini. Episentrum gempa terjadi
di kawasan dua pulau kecil : pulau Mayu dan pulau Tifore. Kedalaman pusat gempa
10 km yang dilaporkan USGS pun belum tentu benar, sebab dengan kekuatan 7,3 Mw
dan gempa hanya sedalam 10 km, kemudian mekanisme penyesaran "sangat" sesar
naik (seperti terlihat di momen tensor solution-nya), kecil kemungkinan sesar
ini dies out upsection, sehingga tak sampai mematahkan dasar laut, lain halnya
kalau kedalaman pusat gempa 30-60 km, kemungkinan dies out upsection-nya besar.
Keberadaan dangkalan Mayu-Tifore bisa juga mengganggu mekanisme pematahan di
dasar laut, sehingga kolom air laut yang dipindahkan tidak terjadi -semacam ada
bumper.
Punggungan Talaud-Mayu akibat double subduction sangat unik dan rasanya tak
ada duanya di dunia ini yang diapit dua sistem busur kepulauan (Halmahera dan
Sulawesi). Punggungan ini terbentuk mengkompensasi penekukan kerak samudra Laut
Maluku di bawah Sulawesi (di barat) dan di bawah Halmahera (di timur).
Kemudian, punggungan ini dipersulit tatanan tektoniknya di kedalaman dangkal
oleh terjadinya imbrikasi ofiolit melalui penyesaran yang terbalik dengan di
bawahnya. Di kompleks sesar naik inilah pusat gempa Minggu malam ini terjadi.
salam,
awang
---------------------------------
Never miss an email again!
Yahoo! Toolbar alerts you the instant new Mail arrives. Check it out.