Saya juga mau pulang kantor, tapi tombol PC terpencet jari2 ini, jadilah sbb: Aturan PSC kita sebenarnya tidak jelek, demikian juga perhitungan cost recoverynya. Mana2 yang bisa di CR kan juga sebetulnya sudah didefinisikan, dan definisinya juga tidak jelek2 amat. Saya pernah dikuliahi perhitungan cost recovery, dengan ketentuan adanya FTP dan DMO, maka untuk suatu kasus dimana share GOI : Contractor (after tax 85:15, yang dengan tax rate 44%, split before tax menjadi 73,2143% : 26,7857%), cost recoverynya menjadi hanya 8.5%. Disini persoalannya (semua orang juga sudah tahu, tapi banyak yang tidak mengakui) adalah prakteknya, ini yang perlu diperbaiki. Memang banyak hal yang bisa dikadali, tapi kadalnya juga bukan melulu dari luar, banyak kadal domestik yang semestinya berpikir nasionalis tapi ..... Kalau ada kesempatan, kenapa tidak dimanfaatkan? Kalau ada cara mudah untuk mempertebal kocek, kenapa harus dipersulit? Dst dst.... Men CR kan item yang seharusnya tidak termasuk dalam kelompok item yang bisa diCR kan, dsb dsb Kesimpulannya adalah: Benahi dulu moral bangsa kita (termasuk kita tentu saja!!!!) Bagaimana caranya..??? Ya mulailah dari kita sendiri (diri kita, dan keluarga kita) Mulailah dari yang paling kecil, dan Mulailah sekarang...!!! Semoga. -ido-
-----Original Message----- From: Ahmiyul Rauf [mailto:[EMAIL PROTECTED] Sent: Thursday, January 25, 2007 3:10 PM To: [email protected] Subject: RE: [iagi-net-l] Lagi Lagi Cost Recovery: Perlu Reformasi ?? Jadi kepecet tombol nurani saya.. jadi pingin nimbrung ahh !! Ini masalah memang pelik2 atawa angel banget.. Boleh dibilang ini benang kusutnya policy energy di Indonesia. Saya dulu pernah otak-atik kawasan tentangga kita Australia, tidak saja masalah teknikal geologynya, termasuk juga policy bisnis E&Pnya, kok saya fikir lebih sederhana, nggak mungkin menimbulkan sindrom benang kusut. Secara umum gambarannya begini: Australia tidak pakai KPS/PSC, modelnya seperti sewa lahan saja, daerah E&P di rating prospectivitynya, kemudian ditetapkan tarip sewanya (mungkin pakai matrix..), daerah prospek bagus lebih mahal sewanya, untuk Exploration sewa lebih murah, namun setelah 5 tahun harus dilepas sebagian dan diteruskan dengan Production leasing pada daerah pilihan, dengan sewa lebih mahal tentunya. Dari situ nanti pengusaha harus berusaha agar selama 5 tahun tersebut bisa bekerja fully evaluation seluruh daerah, sehingga nanti kalau mau di retain yang dipilih yang paling bagus.. Kalau pengusahanya beruntung, hasilnya bagus, negara tidak perlu merasa rugi, karena nanti ada pajak perusahaan yang akan dibayar, bisa saja progresive sehingga kalau revenue makin besar pajak masuk makin besar. Dengan demikian setiap kumpeni benar2 bekerja secara optimal, tidak bisa pakai leha2, atawa boros2an karena nanti tdk ada CR. Kalau model PSC, misalnya aku jadi boss, aku bisa keluar uang suka2, krn nantinya toh akan di CR. Memang bisa BPMIGAS yang ikutan ngontrol, namun ya apa bisa sampai detail2 sekali, 'kan nggak ya.. Jadi saya fikir kita mungkin perlu reformasi juga dalam hal ini, jangan pakai nabrak2 instansi segala, karena mungkin ini hanya sindrom benang kusut sistim yang tidak tepat utk jaman sekarang. Orang2nya kita tidak perlu ragulah, pasti pilihan terbaik, namun sistimnya begitu lho.. Saya baca berita Pak Kardaya juga mengambing hitamkan sistim/regulasi yang tidak memungkin BPMIGAS bekerja effektif.. Bagaimana ?? Suai ??? Wassalaam Ahmiyul Rauf -----Original Message----- From: Sri Adrianto [mailto:[EMAIL PROTECTED] Sent: Thursday, January 25, 2007 14:33 To: [email protected] Subject: Re: [iagi-net-l] Lagi Lagi Cost Recovery Yth bapak "so what gitu lho", Saya sangat tidak setuju dengan statement anda, karena ini bukan sekedar "masalah So What Gitu Lho", tapi suatu "kecolongan" fundamental yang mesti cepat-cepat dibenahi dan dibuat jelas. Meng-ekspat-kan bule yang baru keluar sekolah untuk belajar di Indonesia, dan biayanya di-beban-kan ke cost-recovery, jelas-jelas "perampokan". Sebenarnya peraturan authority MIGAS Indonesia sejak jaman dulu sangat jelas, bule-bule yang bisa ditempatkan disini (sebagai pegawai, expats, yang dianggap expert) adalah orang-orang yang seharusnya memang punya pengalaman luas di bidangnya, yang nantinya pengalamannya mesti dibagi ke pegawai lokal yang akan pegang post dia dalam beberapa tahun. Jadi, seperti sudah dikomentari mas Frank, mas Syaiful, sangatlah absurd untuk percaya kalau ada bule yang baru selesai sekolah 3 tahun yang lalu (apapun sekolah asalnya) ditempatkan di Indonesia, dibebankan pada recovery cost atau production cost, atau biaya apapun, dianggap expert, yang dianggap punya "kesaktian" lebih untuk dibagi. Yang terjadi, mereka "mengambil kesaktian"nya mas Frank, mas Syaiful, dll, yang nantinya bakal dipakai di filial yang lain... Ironisnya, seringkali terjadi bahwa "prestasi" Human Resources Manager (yang biasanya orang Indonesia, supaya bisa lebih "smooth" jika berinteraksi dengan authority MIGAS) diukur dari "berapa banyak si manager tersebut bisa meloloskan bule untuk dipekerjakan di Indonesia atas pesenan CEO-nya yang selalu bule" - challenge buat beliau ini adalah, bagaimana bisa mendapatkan ijin kerja untuk "ekspat-cucakrowo mumet" di Indonesia (karena untuk bule experienced dan expert biasanya sudah ada peraturan yang jelas). Dan kita sama-sama tahu kalau gaji mereka (yang udah standard Amrik, Inggris, Itali, Perancis, atau apapun) karena kerja disini sebagai ekspat jadi dobel, eh...terus di "cost recovery"khan...nah bolong-lah kocek-nya bangsa Indonesia karena "dikosongin" dari dalam dan luar!!! Maaf jadi melantur, tapi point saya adalah : ada banyak masalah yang bukan sekedar "So what gitu lho", banyak masalah yang mesti kita fikirkan bersama secara fundamental jalan keluarnya, seperti menghindari penempatan "ekspat cucakrowo mumet" yang berkaitan dengan "lenyapnya" uang bangsa indonesia ber-trilyun-trilyun tanpa ada "nilai tambah" yang bisa diambil oleh bangsa kita tercinta ini! salam, Sri Adrianto [EMAIL PROTECTED] wrote: > SO WHAT GITU LHO frank dkk lainnya, > > kondisi tsb tampaknya masih bisa ditemui sekarang. di kumpeni saya yg > lama, kebetulan bukan di departemen saya (eksplorasi), tepatnya > departemennya orang2 yg suka bikin pod dll, ada 2x 'anak' bule baru, > bahkan baru beberapa bulan saja kerja, terus ditempatkan di indonesia > (jakarta). > > agak disayangkan, rekan indonesia yg sebenarnya lebih pinter dan lebih > lama bekerja di kumpeni tsb, ya 'pasrah' saja. misalnya, kalo ada > rapat teknis, eh si bule muda ini yg diajak, justru seringkali si > indonesia pinter kok malah nggak diikutkan. belum lagi perlakuan > diskriminasi ras lainnya (ruangan kerja dsb). > > kalo di departemenku, wis aku ..... > > salam, > syaiful > > On 1/25/07, Franciscus B Sinartio wrote: >> ..... >> >> kontrol pasti sangat sukar dilakukan dari dalam, tapi harus dari >> BP-Migas. >> mereka juga perlu dana untuk biayai riset mereka di kantor pusat. >> kalau jaman dulu malah Indonesa di jadikan training ground beberapa >> perusahaan besar. >> ada yang baru pengalaman 3-5 tahun di hire sebagai expat di Indonesia >> padahal tidak ada ke ahlian khusus yang bisa langsung di kontribusikan. >> di Indonesia mereka belajar,pakai biaya cost-recovery.kalau sudah >> pintar,kerja di tempat lain. >> mudah2an tidak ada lagi yang kayak gini di Indonesia sekarang. >> ditempat saya kerja sekarang ada yang kayak gini. orang baru lulus >> BSc jadi expat disini. >> katanya IP nya sangat tinggi di universitas terkenal di amrik sana. >> >> best regards, >> frank > > -- > Mohammad Syaiful - Explorationist > Mobile: 62-812-9372808 > Email: [EMAIL PROTECTED] > > Exploration Think Tank Indonesia (ETTI) Head Office: > Jl. Tebet Barat Dalam III No.2-B Jakarta 12810 Indonesia > Phone: 62-21-8356276 Fax: 62-21-83784140 > Email: [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED] > > --------------------------------------------------------------------- > siap melancong dan presentasi di Bali pada tahun 2007 ini??? > ayo bersiap untuk PIT Bersama HAGI-IAGI dan asosiasi2 lainnya di Pulau > Dewata!!! > semarakkan dengan makalah-makalah yang berkualitas internasional... > --------------------------------------------------------------------- > To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id > To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id Visit > IAGI Website: http://iagi.or.id Pembayaran iuran anggota ditujukan ke: > Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta > No. Rek: 123 0085005314 > Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Bank BCA KCP. Manara > Mulia No. Rekening: 255-1088580 > A/n: Shinta Damayanti > IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ > IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi > --------------------------------------------------------------------- > --------------------------------------------------------------------- siap melancong dan presentasi di Bali pada tahun 2007 ini??? ayo bersiap untuk PIT Bersama HAGI-IAGI dan asosiasi2 lainnya di Pulau Dewata!!! semarakkan dengan makalah-makalah yang berkualitas internasional... --------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id Visit IAGI Website: http://iagi.or.id Pembayaran iuran anggota ditujukan ke: Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta No. Rek: 123 0085005314 Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Bank BCA KCP. Manara Mulia No. Rekening: 255-1088580 A/n: Shinta Damayanti IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi --------------------------------------------------------------------- Sri Adrianto C/ Costa Brava 14B Madrid-28034 Spain --------------------------------- Get your own web address. Have a HUGE year through Yahoo! Small Business. --------------------------------------------------------------------- siap melancong dan presentasi di Bali pada tahun 2007 ini??? ayo bersiap untuk PIT Bersama HAGI-IAGI dan asosiasi2 lainnya di Pulau Dewata!!! semarakkan dengan makalah-makalah yang berkualitas internasional... --------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id Visit IAGI Website: http://iagi.or.id Pembayaran iuran anggota ditujukan ke: Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta No. Rek: 123 0085005314 Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Bank BCA KCP. Manara Mulia No. Rekening: 255-1088580 A/n: Shinta Damayanti IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi --------------------------------------------------------------------- --------------------------------------------------------------------- siap melancong dan presentasi di Bali pada tahun 2007 ini??? ayo bersiap untuk PIT Bersama HAGI-IAGI dan asosiasi2 lainnya di Pulau Dewata!!! semarakkan dengan makalah-makalah yang berkualitas internasional... --------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id Visit IAGI Website: http://iagi.or.id Pembayaran iuran anggota ditujukan ke: Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta No. Rek: 123 0085005314 Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Bank BCA KCP. Manara Mulia No. Rekening: 255-1088580 A/n: Shinta Damayanti IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi ---------------------------------------------------------------------

