>Frank

   Maksud`saya apa yang mereka lakukan di
home office (dg berbagai alasan "teklnis"), 
   itu sebenarnya DAPAT dilakukan di Indonesia  sini
lho.
   Sehingga "cost recovery" itu
dinikmati oleh kita dan bukan konsultan Singapura 
  
atau Ostrali.

    Si-Abah.

   
_____________________________________________________________________



   Abah, 
> kalau fasilitas
kantor pusat dipakai di charge lagi bukan diambil dari 
> dana
"home office". 
> kecuali hanya email dan p.o.box dan
telepon. 
> study2 yang dilakukan di luar negeri selalu besar
sekali. 
> dulu pernah lihat angka2 nya. 
> sering jauh
lebih besar dari gaji2 pegawai nasional+expat yang 
> dipekerjakan
di perusahaan tsb. 
> 
> kontrol pasti sangat sukar
dilakukan dari dalam, tapi harus dari BP-Migas. 
> mereka juga
perlu dana untuk biayai riset mereka di kantor pusat. 
> kalau
jaman dulu malah Indonesa di jadikan training ground beberapa 
>
perusahaan besar. 
> ada yang baru pengalaman 3-5 tahun di hire
sebagai expat di Indonesia 
> padahal tidak ada ke ahlian khusus
yang bisa langsung di kontribusikan. 
> di Indonesia mereka
belajar,pakai biaya cost-recovery.kalau sudah 
> pintar,kerja di
tempat lain. 
> mudah2an tidak ada lagi yang kayak gini di
Indonesia sekarang. 
> ditempat saya kerja sekarang ada yang kayak
gini. orang baru lulus BSc 
> jadi expat disini. 
>
katanya IP nya sangat tinggi di universitas terkenal di amrik sana. 
> 
> best regards, 
> frank 
> 
>
----- Original Message ---- 
> 
From:
"[EMAIL PROTECTED]" <[EMAIL PROTECTED]> 
> To:
[email protected] 
> Sent: Wednesday, January 24, 2007 2:29:02
PM 
> Subject: Re: [iagi-net-l] Lagi Lagi Cost Recovery 
>

> 
>> 
> Iseng iseng saya hitung sbb: 
> 
> Total "kerugian " Rp. 11, 372 
>
Trilliun atau ekivaln dengan US$ 1.263 Millyard`. 
> 
>
Kalau dianggap produksi migas 1 juta minya ekivalen , maka "kebocoran

> per 
> barrel" atau 
> "pemborosan
" adalah US$ 3.02 / Bbl. 
> 
> Memang sangat
signifikan , kalau seluruh uang 
> sejumlah Rp. 11,372 Trilliun
itu 
> 
> SELURUHNYA dapat dibuktikan sebagai 
>
"pengglebungan". 
> 
> Walaupun masih banyak 
> faktor dalam menentukan cost/bbl produksi migas di Indonesia, 
> tentunya sinyalemen BPKP ini tidak dapat dianggap angin 
>
lalu. 
> 
> 
> 
> 
> 
>
"Biaya produksi minyak Indonesia per barrel mencapai 
>> 9
dollar AS per barrel. Bandingkan dengan di M alaysia yang 
>>
hanya sekitar 3,7 dollar AS per barrel, atau di North Sea yang 
>> paling sulit pun juga hanya sekitar 3 dollar AS per
barrel," 
> 
>> 
>> pembebanan gaji
ekspatriat tanpa 
>> izin kerja Rp 495 miliar, pembebanan biaya
tanpa approval BP 
> 
>> Migas Rp 470 miliar, biaya
depresiasi aset Rp 462 
> miliar, 
> 
> Gaji
ekspatriat yang 
> sangat tinggi dibandingkan dengan staf setaraf
nasional 
> KALAU dianggap pemborosan , akan menambah jumlah 
> "penggelembungan 
> cost 
> recovery".

> 
> Pembebanan home 
> office samapai Rp 1,6
trilliun buat saya tidak mengherankan 
> karena hampir semua KKS
akan selalu 
> memanfaatkfan SDM maupun prasarana 
> yang

> berada di "home office" - nya. 
> 
>
Dengan berbagai alasan teknis yang sebenarnya kadang kadang tidak masuk

> akal, 
> jangan heran kalau "perusahaan 
>
jasa konsultan migas " di Indonesia tidak 
> dapat
berkembang. 
> 
> Saya kira sudah waktunya BP - Migas
untuk 
> dengan kemauan politik sebagai penjaga 
> 
> "kocek bangsa" lebih meningkatkan pengawasan terhadap
trik trik 
> para KKS dalam 
> meningkatkan 
>
pendapatannya secara "sim salabim". 
> Juga berkewajiban
melindungi staf nasional yang 
> menjadi pegawai KKS yang berani

> menyuarakan 
> suara hatinya sebagai warga NKRI yang
terhormat. 
> 
> Apakah yang saya sebutkan diatas suatu
utophia 
> ? 
> 
> 
> Si-Abah 
>

> 
>
_______________________________________________________________________

> 
>> Dari mana ya angka ini keluar..? 
>>

>> 
>> rgds, 
>> 
>> -----
Original Message ---- 
>> 
> 
> 
From:
"[EMAIL PROTECTED]" <[EMAIL PROTECTED]> 
>>
To: [email protected] 
>> Sent: Wednesday, January 24, 
> 2007 9:22:02 AM 
>> Subject: [iagi-net-l] Lagi Lagi Cost
Recovery 
> 
>> 
>> 
>> Ternyata
Disemua Sektor Sami Mawon....... 
> 
>> 
>>
ISM 
>> 
>> Cost Recovery 
> Digelembungkan

>> 
>> 
>> jakarta, kompas - Praktek 
> penggelembungan biaya pemulihan (cost 
>> recovery)
menjadi salah 
> satu penyebab tingginya biaya produksi 
>> minyak di Indonesia. 
> Kontraktor kontrak kerja sama
(KKKS) 
>> cenderung menggelembungkan 
> cost recovery
untuk memperbesar 
>> nilai bagi hasil migas yang 
>
mereka terima. 
>> Hal tersebut merupakan kesimpulan dari hasil

> audit Badan 
>> Pengawasan Keuangan dan Pembangunan
(BPKP) atas 
> cost recovery 
>> KKKS kurun waktu
2002-2005. Hasil audit tersebut 
> disampaikan 
>>
Kepala BPKP Didi Widayadi, Selasa (23/1), di 
> Jakarta. 
>> Dalam kurun waktu itu, BPKP melakukan audit atas 152 
>
KKKS, 
>> terdiri atas 47 KKKS yang sudah produksi, 89 KKKS
belum 
> 
>> produksi, 8 KKKS dalam proses dikembalikan
ke pemerintah, dan 8 
> 
>> KKKS baru. 
>>
Sejumlah temuan audit yang nilainya 
> menonjol antara lain pajak

>> perseroan dan pajak atas bunga, 
> dividen, dan
royalti Rp 6,242 
>> triliun, kredit Investasi Rp 
>
2,476 triliun, kelebihan 
>> pembayaran biaya home office Rp

> 1,626 triliun, pembebanan 
>> tunjangan pajak Rp 860
miliar, 
> pembebanan gaji ekspatriat tanpa 
>> izin
kerja Rp 495 
> miliar, pembebanan biaya tanpa approval BP 
>> Migas Rp 470 
> miliar, biaya depresiasi aset Rp 462
miliar, 
>> pengadaan 
> barang dan jasa tidak sesuai
ketentuan Rp 409 miliar, 
>> 
> biaya yang tidak
berkaitan dengan KKKS Rp 204 miliar, 
>> 
> pembebanan
biaya legal dan konsultan Rp 163 miliar. 
>> Didi 
>
mencontohkan pada satu KKKS ada temuan biaya yang 
>> 
> erulang-ulang. "Apakah ini merugikan negara? Tentunya ya, tapi

>> sebgaimana tadi disebutkan cost recovery ini dasarnya
kontrak. 
>> Tentunya ini harus tegas, tidak boleh atau
bagaimana 
>> 
> aturannya," ujarnya. 
>> Contoh praktek penggelembungan biaya 
> home office
terjadi karena 
>> KKKS mengajukan nilai yang melebih 
> tarif maksimum yang 
>> diperbolehkan, KKKS membebankan
biaya di 
> negara lain ke 
>> Indonesia, maupun KKKS
membebankan kerugian 
> penjualan rumah 
>> atau mobil
ekspatriat karena dipekerjakan di 
> Indonesia. 
>>
Celah penggelembungan tidak lepas dari implementasi 
> kewenangan

>> BP Migas dan Ditjen Migas yang belum optimal. 
>
PerencaBPKP 
>> Temuan audit tahun buku 2002-2005 atas 43 KKKS
yang 
> sudah 
>> berporduksi, seluruhnya berjumlah Rp
18,07 triliun. 
> Namun, 
>> sampai 31 Desember 2006,
temuan yang telah dilaporkan ke 
> Badan 
>> Pelaksana
Kegiatan Hulu Migas dan KKKS untuk 
> ditindaklanjuti 
>> baru sekitar Rp 8,695 triliun atau 48 persen. 
> Sisa
temuan yang 
>> belum ditindaklanjuti Rp 9,4 triliun atau 51

> persen. 
>> Bukan kali ini saja, ditemukan praktek
penggelembungan 
> cost 
>> recovery. Sebelumnya, Badan
Pemeriksa Keuangan pernah 
>> mengungkapkan potensi kerugian
negara sebesar Rp 13 triliun 
>> untuk periode 2003-2204. 
>> Didi mengatakan praktek 
> penggelembungan cost
recovery tersebut 
>> menjadi salah satu 
> penyebab
tingginya biaya produksi minyak di 
>> Indonesia. 
>
"Biaya produksi minyak Indonesia per barrel mencapai 
>> 9

> dollar AS per barrel. Bandingkan dengan di M alaysia yang 
>> hanya 
> sekitar 3,7 dollar AS per barrel, atau di
North Sea yang 
>> paling 
> sulit pun juga hanya
sekitar 3 dollar AS per barrel," 
>> 
> papar
Didi. 
>> Padahal, apabila biaya produksi minyak bisa 
> diturunkan 1 dollar 
>> AS per barrel, sektor migas bisa
menghemat 
> 2,5 miliar dollar AS 
>> per tahun. Diakui
Didi, pihaknya hanya 
> bisa menyampaikan temuan 
>> ke
BP Migas. Meskipun begitu, ia 
> menjanjikan akan 
>>
merekomendasikan proses ke pengadilan jika 
> terbukti ada 
>> penggelembungan. 
>> Sementara Kepala BP 
>
Migas Kardaya Warnika menilai perbandingan 
>> cost recovery
yang 
> dilakukan BPKP tidak sebanding. "Kalau mau 
>> membandingkan, 
> harus apple to apple, produksi dengan
produksi," 
>> kata 
> Kardaya. 
>>
Menurutnya, biaya produksi minyak di Indonesia justru 
> lebih 
>> murah. Biaya produksi di lapangan Chevron Pacific 
>
Indonesia 
>> hanya sekitar 1 dollar AS per barrel. (DOT 
>> 
> 
>> 
>> 
>> 
>> 
>> 
>
___________________________________________________________ 
>>

> indomail - Your everyday mail - http://indomail.indo.net.id 
>> 
>> 
>> 
>> 
>
--------------------------------------------------------------------- 
>> siap melancong dan presentasi di Bali pada tahun 2007 ini???

>> ayo bersiap untuk PIT Bersama HAGI-IAGI dan asosiasi2
lainnya di 
> Pulau 
>> Dewata!!! 
>>
semarakkan dengan makalah-makalah 
> yang berkualitas
internasional... 
>> 
>
--------------------------------------------------------------------- 
>> To unsubscribe, send email to:
iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id 
> 
>> To subscribe,
send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id 
> 
>>
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id 
>> Pembayaran 
>
iuran anggota ditujukan ke: 
>> Bank Mandiri Cab. Wisma Alia

> Jakarta 
>> No. Rek: 123 0085005314 
>>
Atas nama: Ikatan 
> Ahli Geologi Indonesia (IAGI) 
>>
Bank BCA KCP. Manara Mulia 
>> No. Rekening: 255-1088580 
>> A/n: Shinta Damayanti 
>> IAGI-net Archive 1: 
> http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ 
>>
IAGI-net 
> Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi 
>> 
>
--------------------------------------------------------------------- 
>> 
>> 
>> 
>> 
>
____________________________________________________________________________________

> 
>> Be a PS3 game guru. 
>> Get your game
face on with the 
> latest PS3 news and previews at Yahoo! 
>> Games. 
>> 
>
http://videogames.yahoo.com/platform?platform=120121 
> 
>
--------------------------------------------------------------------- 
> siap melancong dan presentasi di Bali pada tahun 2007 ini??? 
> ayo bersiap untuk PIT Bersama HAGI-IAGI dan asosiasi2 lainnya di
Pulau 
> Dewata!!! 
> semarakkan dengan makalah-makalah
yang berkualitas internasional... 
>
--------------------------------------------------------------------- 
> To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id

> To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id

> Visit IAGI Website: http://iagi.or.id 
> Pembayaran
iuran anggota ditujukan ke: 
> Bank Mandiri Cab. Wisma Alia
Jakarta 
> No. Rek: 123 0085005314 
> Atas nama: Ikatan
Ahli Geologi Indonesia (IAGI) 
> Bank BCA KCP. Manara Mulia 
> No. Rekening: 255-1088580 
> A/n: Shinta Damayanti 
> IAGI-net Archive 1:
http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ 
> IAGI-net
Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi 
>
--------------------------------------------------------------------- 
> 

Kirim email ke