>
  Frans

  Mengapa harus BAGAIMANA ?
  Yang jelas ini peran Regulator (Ditjen Migas) dan Management KKS
  (BP-Migas) PLUS bangkitnya profesional yang mumpuni (yang satu ini
  rasanya untuk teknologi yang sudah apllied sudah mampu kita lakukan
  di Indonesia.

  Saya tidak k=mengatakan bahwa TSA tidak boleh , sepanjang teknologi
  itu tidak terdapat di Indonesia.


  Adalah "political will" dari kedua institusi diatas untuk lebih tegas
  dan jelas mengenai yang mana dapat di-TSA kan dan mana yang tidak.

  Tentunya ini perjuangan berat!!!!

  Dalam berbagai kesempatan saya selalu mengatakan bahwa industri sektor
  hulu migas di Indonesia sudah lebih dari satu abad.

  Pak Awang dengan jelas mengatakan bahwa RPTKA selalu didiskusikan
  dengan bidang bidang teknis , akan tetapi mohon maaf saya sampaikan
  bahwa masih banyak "kecolongan".
  Buktinya banyak millis yang mengemukakan fakta fkta ini.

  Saya sependapat dengan Rovicky bahwa biaya personalia relatif kecil ,
  akan tetapi apakah Anda tidak melihat adanya ketimpangan sosial
  berupa diskriminasi thd WNI didalam negerinya sendiri ????

  Mengapa kita akan ribut kalau ada diskriminasi antar WNI (contoh
  ribut ribut PP 37 /2006), tetapi kalau itu menyentuh WNA kok
  dianggap NORMAL ????).
  Dan diskriminasi ini sungguh keterlaluan.

  Si-Abah.








  Abah,
> yang bukan hanya pemain tetapi juga salah satu pendidik tenaga2 ahli
> geosains yang ada.
> kita semua tahu kemampuan tenaga nasional, dan yang decision maker di
> perusahaan minyak tsb pun tahu (saya kira)
> tapi selalu saja ada TSA.
> terus bagaimana ?
>
> fbs
>
> ----- Original Message ----
> From: "[EMAIL PROTECTED]" <[EMAIL PROTECTED]>
> To: [email protected]
> Sent: Thursday, January 25, 2007 3:48:04 PM
> Subject: Re: [iagi-net-l] Lagi Lagi Cost Recovery
>
>
>>Frank
>
>    Maksud`saya apa yang mereka lakukan di
> home office (dg berbagai alasan "teklnis"),
>    itu sebenarnya DAPAT dilakukan di Indonesia  sini
> lho.
>    Sehingga "cost recovery" itu
> dinikmati oleh kita dan bukan konsultan Singapura
>
> atau Ostrali.
>
>     Si-Abah.
>
>
> _____________________________________________________________________
>
>
>
>    Abah,
>> kalau fasilitas
> kantor pusat dipakai di charge lagi bukan diambil dari
>> dana
> "home office".
>> kecuali hanya email dan p.o.box dan
> telepon.
>> study2 yang dilakukan di luar negeri selalu besar
> sekali.
>> dulu pernah lihat angka2 nya.
>> sering jauh
> lebih besar dari gaji2 pegawai nasional+expat yang
>> dipekerjakan
> di perusahaan tsb.
>>
>> kontrol pasti sangat sukar
> dilakukan dari dalam, tapi harus dari BP-Migas.
>> mereka juga
> perlu dana untuk biayai riset mereka di kantor pusat.
>> kalau
> jaman dulu malah Indonesa di jadikan training ground beberapa
>>
> perusahaan besar.
>> ada yang baru pengalaman 3-5 tahun di hire
> sebagai expat di Indonesia
>> padahal tidak ada ke ahlian khusus
> yang bisa langsung di kontribusikan.
>> di Indonesia mereka
> belajar,pakai biaya cost-recovery.kalau sudah
>> pintar,kerja di
> tempat lain.
>> mudah2an tidak ada lagi yang kayak gini di
> Indonesia sekarang.
>> ditempat saya kerja sekarang ada yang kayak
> gini. orang baru lulus BSc
>> jadi expat disini.
>>
> katanya IP nya sangat tinggi di universitas terkenal di amrik sana.
>>
>> best regards,
>> frank
>>
>>
> ----- Original Message ----
>>
> From:
> "[EMAIL PROTECTED]" <[EMAIL PROTECTED]>
>> To:
> [email protected]
>> Sent: Wednesday, January 24, 2007 2:29:02
> PM
>> Subject: Re: [iagi-net-l] Lagi Lagi Cost Recovery
>>
>
>>
>>>
>> Iseng iseng saya hitung sbb:
>>
>> Total "kerugian " Rp. 11, 372
>>
> Trilliun atau ekivaln dengan US$ 1.263 Millyard`.
>>
>>
> Kalau dianggap produksi migas 1 juta minya ekivalen , maka "kebocoran
>
>> per
>> barrel" atau
>> "pemborosan
> " adalah US$ 3.02 / Bbl.
>>
>> Memang sangat
> signifikan , kalau seluruh uang
>> sejumlah Rp. 11,372 Trilliun
> itu
>>
>> SELURUHNYA dapat dibuktikan sebagai
>>
> "pengglebungan".
>>
>> Walaupun masih banyak
>> faktor dalam menentukan cost/bbl produksi migas di Indonesia,
>> tentunya sinyalemen BPKP ini tidak dapat dianggap angin
>>
> lalu.
>>
>>
>>
>>
>>
>>
> "Biaya produksi minyak Indonesia per barrel mencapai
>>> 9
> dollar AS per barrel. Bandingkan dengan di M alaysia yang
>>>
> hanya sekitar 3,7 dollar AS per barrel, atau di North Sea yang
>>> paling sulit pun juga hanya sekitar 3 dollar AS per
> barrel,"
>>
>>>
>>> pembebanan gaji
> ekspatriat tanpa
>>> izin kerja Rp 495 miliar, pembebanan biaya
> tanpa approval BP
>>
>>> Migas Rp 470 miliar, biaya
> depresiasi aset Rp 462
>> miliar,
>>
>> Gaji
> ekspatriat yang
>> sangat tinggi dibandingkan dengan staf setaraf
> nasional
>> KALAU dianggap pemborosan , akan menambah jumlah
>> "penggelembungan
>> cost
>> recovery".
>
>>
>> Pembebanan home
>> office samapai Rp 1,6
> trilliun buat saya tidak mengherankan
>> karena hampir semua KKS
> akan selalu
>> memanfaatkfan SDM maupun prasarana
>> yang
>
>> berada di "home office" - nya.
>>
>>
> Dengan berbagai alasan teknis yang sebenarnya kadang kadang tidak masuk
>
>> akal,
>> jangan heran kalau "perusahaan
>>
> jasa konsultan migas " di Indonesia tidak
>> dapat
> berkembang.
>>
>> Saya kira sudah waktunya BP - Migas
> untuk
>> dengan kemauan politik sebagai penjaga
>>
>> "kocek bangsa" lebih meningkatkan pengawasan terhadap
> trik trik
>> para KKS dalam
>> meningkatkan
>>
> pendapatannya secara "sim salabim".
>> Juga berkewajiban
> melindungi staf nasional yang
>> menjadi pegawai KKS yang berani
>
>> menyuarakan
>> suara hatinya sebagai warga NKRI yang
> terhormat.
>>
>> Apakah yang saya sebutkan diatas suatu
> utophia
>> ?
>>
>>
>> Si-Abah
>>
>
>>
>>
> _______________________________________________________________________
>
>>
>>> Dari mana ya angka ini keluar..?
>>>
>
>>>
>>> rgds,
>>>
>>> -----
> Original Message ----
>>>
>>
>>
> From:
> "[EMAIL PROTECTED]" <[EMAIL PROTECTED]>
>>>
> To: [email protected]
>>> Sent: Wednesday, January 24,
>> 2007 9:22:02 AM
>>> Subject: [iagi-net-l] Lagi Lagi Cost
> Recovery
>>
>>>
>>>
>>> Ternyata
> Disemua Sektor Sami Mawon.......
>>
>>>
>>>
> ISM
>>>
>>> Cost Recovery
>> Digelembungkan
>
>>>
>>>
>>> jakarta, kompas - Praktek
>> penggelembungan biaya pemulihan (cost
>>> recovery)
> menjadi salah
>> satu penyebab tingginya biaya produksi
>>> minyak di Indonesia.
>> Kontraktor kontrak kerja sama
> (KKKS)
>>> cenderung menggelembungkan
>> cost recovery
> untuk memperbesar
>>> nilai bagi hasil migas yang
>>
> mereka terima.
>>> Hal tersebut merupakan kesimpulan dari hasil
>
>> audit Badan
>>> Pengawasan Keuangan dan Pembangunan
> (BPKP) atas
>> cost recovery
>>> KKKS kurun waktu
> 2002-2005. Hasil audit tersebut
>> disampaikan
>>>
> Kepala BPKP Didi Widayadi, Selasa (23/1), di
>> Jakarta.
>>> Dalam kurun waktu itu, BPKP melakukan audit atas 152
>>
> KKKS,
>>> terdiri atas 47 KKKS yang sudah produksi, 89 KKKS
> belum
>>
>>> produksi, 8 KKKS dalam proses dikembalikan
> ke pemerintah, dan 8
>>
>>> KKKS baru.
>>>
> Sejumlah temuan audit yang nilainya
>> menonjol antara lain pajak
>
>>> perseroan dan pajak atas bunga,
>> dividen, dan
> royalti Rp 6,242
>>> triliun, kredit Investasi Rp
>>
> 2,476 triliun, kelebihan
>>> pembayaran biaya home office Rp
>
>> 1,626 triliun, pembebanan
>>> tunjangan pajak Rp 860
> miliar,
>> pembebanan gaji ekspatriat tanpa
>>> izin
> kerja Rp 495
>> miliar, pembebanan biaya tanpa approval BP
>>> Migas Rp 470
>> miliar, biaya depresiasi aset Rp 462
> miliar,
>>> pengadaan
>> barang dan jasa tidak sesuai
> ketentuan Rp 409 miliar,
>>>
>> biaya yang tidak
> berkaitan dengan KKKS Rp 204 miliar,
>>>
>> pembebanan
> biaya legal dan konsultan Rp 163 miliar.
>>> Didi
>>
> mencontohkan pada satu KKKS ada temuan biaya yang
>>>
>> erulang-ulang. "Apakah ini merugikan negara? Tentunya ya, tapi
>
>>> sebgaimana tadi disebutkan cost recovery ini dasarnya
> kontrak.
>>> Tentunya ini harus tegas, tidak boleh atau
> bagaimana
>>>
>> aturannya," ujarnya.
>>> Contoh praktek penggelembungan biaya
>> home office
> terjadi karena
>>> KKKS mengajukan nilai yang melebih
>> tarif maksimum yang
>>> diperbolehkan, KKKS membebankan
> biaya di
>> negara lain ke
>>> Indonesia, maupun KKKS
> membebankan kerugian
>> penjualan rumah
>>> atau mobil
> ekspatriat karena dipekerjakan di
>> Indonesia.
>>>
> Celah penggelembungan tidak lepas dari implementasi
>> kewenangan
>
>>> BP Migas dan Ditjen Migas yang belum optimal.
>>
> PerencaBPKP
>>> Temuan audit tahun buku 2002-2005 atas 43 KKKS
> yang
>> sudah
>>> berporduksi, seluruhnya berjumlah Rp
> 18,07 triliun.
>> Namun,
>>> sampai 31 Desember 2006,
> temuan yang telah dilaporkan ke
>> Badan
>>> Pelaksana
> Kegiatan Hulu Migas dan KKKS untuk
>> ditindaklanjuti
>>> baru sekitar Rp 8,695 triliun atau 48 persen.
>> Sisa
> temuan yang
>>> belum ditindaklanjuti Rp 9,4 triliun atau 51
>
>> persen.
>>> Bukan kali ini saja, ditemukan praktek
> penggelembungan
>> cost
>>> recovery. Sebelumnya, Badan
> Pemeriksa Keuangan pernah
>>> mengungkapkan potensi kerugian
> negara sebesar Rp 13 triliun
>>> untuk periode 2003-2204.
>>> Didi mengatakan praktek
>> penggelembungan cost
> recovery tersebut
>>> menjadi salah satu
>> penyebab
> tingginya biaya produksi minyak di
>>> Indonesia.
>>
> "Biaya produksi minyak Indonesia per barrel mencapai
>>> 9
>
>> dollar AS per barrel. Bandingkan dengan di M alaysia yang
>>> hanya
>> sekitar 3,7 dollar AS per barrel, atau di
> North Sea yang
>>> paling
>> sulit pun juga hanya
> sekitar 3 dollar AS per barrel,"
>>>
>> papar
> Didi.
>>> Padahal, apabila biaya produksi minyak bisa
>> diturunkan 1 dollar
>>> AS per barrel, sektor migas bisa
> menghemat
>> 2,5 miliar dollar AS
>>> per tahun. Diakui
> Didi, pihaknya hanya
>> bisa menyampaikan temuan
>>> ke
> BP Migas. Meskipun begitu, ia
>> menjanjikan akan
>>>
> merekomendasikan proses ke pengadilan jika
>> terbukti ada
>>> penggelembungan.
>>> Sementara Kepala BP
>>
> Migas Kardaya Warnika menilai perbandingan
>>> cost recovery
> yang
>> dilakukan BPKP tidak sebanding. "Kalau mau
>>> membandingkan,
>> harus apple to apple, produksi dengan
> produksi,"
>>> kata
>> Kardaya.
>>>
> Menurutnya, biaya produksi minyak di Indonesia justru
>> lebih
>>> murah. Biaya produksi di lapangan Chevron Pacific
>>
> Indonesia
>>> hanya sekitar 1 dollar AS per barrel. (DOT
>>>
>>
>>>
>>>
>>>
>>>
>>>
>>
> ___________________________________________________________
>>>
>
>> indomail - Your everyday mail - http://indomail.indo.net.id
>>>
>>>
>>>
>>>
>>
> ---------------------------------------------------------------------
>>> siap melancong dan presentasi di Bali pada tahun 2007 ini???
>
>>> ayo bersiap untuk PIT Bersama HAGI-IAGI dan asosiasi2
> lainnya di
>> Pulau
>>> Dewata!!!
>>>
> semarakkan dengan makalah-makalah
>> yang berkualitas
> internasional...
>>>
>>
> ---------------------------------------------------------------------
>>> To unsubscribe, send email to:
> iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
>>
>>> To subscribe,
> send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
>>
>>>
> Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
>>> Pembayaran
>>
> iuran anggota ditujukan ke:
>>> Bank Mandiri Cab. Wisma Alia
>
>> Jakarta
>>> No. Rek: 123 0085005314
>>>
> Atas nama: Ikatan
>> Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
>>>
> Bank BCA KCP. Manara Mulia
>>> No. Rekening: 255-1088580
>>> A/n: Shinta Damayanti
>>> IAGI-net Archive 1:
>> http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
>>>
> IAGI-net
>> Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
>>>
>>
> ---------------------------------------------------------------------
>>>
>>>
>>>
>>>
>>
> ____________________________________________________________________________________
>
>>
>>> Be a PS3 game guru.
>>> Get your game
> face on with the
>> latest PS3 news and previews at Yahoo!
>>> Games.
>>>
>>
> http://videogames.yahoo.com/platform?platform=120121
>>
>>
> ---------------------------------------------------------------------
>> siap melancong dan presentasi di Bali pada tahun 2007 ini???
>> ayo bersiap untuk PIT Bersama HAGI-IAGI dan asosiasi2 lainnya di
> Pulau
>> Dewata!!!
>> semarakkan dengan makalah-makalah
> yang berkualitas internasional...
>>
> ---------------------------------------------------------------------
>> To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
>
>> To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
>
>> Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
>> Pembayaran
> iuran anggota ditujukan ke:
>> Bank Mandiri Cab. Wisma Alia
> Jakarta
>> No. Rek: 123 0085005314
>> Atas nama: Ikatan
> Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
>> Bank BCA KCP. Manara Mulia
>> No. Rekening: 255-1088580
>> A/n: Shinta Damayanti
>> IAGI-net Archive 1:
> http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
>> IAGI-net
> Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
>>
> ---------------------------------------------------------------------
>>
>
> ---------------------------------------------------------------------
> siap melancong dan presentasi di Bali pada tahun 2007 ini???
> ayo bersiap untuk PIT Bersama HAGI-IAGI dan asosiasi2 lainnya di Pulau
> Dewata!!!
> semarakkan dengan makalah-makalah yang berkualitas internasional...
> ---------------------------------------------------------------------
> To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
> To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
> Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
> Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
> Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
> No. Rek: 123 0085005314
> Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
> Bank BCA KCP. Manara Mulia
> No. Rekening: 255-1088580
> A/n: Shinta Damayanti
> IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
> IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
> ---------------------------------------------------------------------
>



---------------------------------------------------------------------
siap melancong dan presentasi di Bali pada tahun 2007 ini???
ayo bersiap untuk PIT Bersama HAGI-IAGI dan asosiasi2 lainnya di Pulau Dewata!!!
semarakkan dengan makalah-makalah yang berkualitas internasional...
---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke