Sebetulnya setelah pengalaman Banjir 2002 ada Proyek Banjir kanal Timur ( pada waktu banjir 96 belum kepikiran karena Istana belum klelep ) yang mulai dibangun 2003 dg Panjang 23 Km dan akan selesai seharusnya 2007 ini , namun karena terkendala masalah tanah maka baru selesai pembebasannnya 7 an Km , makanya kemrin menteri PU sudah akan menggunakan Penpres 36/2005 ttg pembebasan tanah untuk kepentingan umum ( setelah ada Banjir kemarin ). Tentunya kepurtusan untuk membuat Banjir Kanal Timur ini ( Oleh PU ) sudah melalui kajian dari berbagai bidang dan termasuk Geologi , lha wong waktu itu Dirjen Pengairannya nya PU adalah anggota IAGI yang sekarang Ketua Timnas LUSI ( kalau tdk salah lho ). Problem utamanya adalah penggunaan lahan yang tdk terkontrol.. jadi masalah penegaan hukumnya , dimana yang boleh untuk resapan , untuk tinggal , untuk taman , untuk pertokoan , dst sudah campur aduk gak karuan , sekarang ini lahan kosong tinngal 9 % , yang seharusnya minimal 30 persen, demikian diskusi pakar kemarin di Elsinta. Kalau bajir kanal Timur ini jadi maka misalnya kalau lebarnya 50 m dan dalamnya 4 m , maka akan ada tempat air baru 4,6 juta meter kubik, kalau misalnya kemarin ketinggian genangan banjir rata rata 1 m maka ada 460 Ha yang bisa diselamatkan._Paling tidak ini bisa mengurangi genangan banjir. tidak untuk menghilangkan banjir ( ini sekedar itung itungan asal wae......) Sebetulnya dari namanya saja , Jakarta ini kan tempat air , ada Rawa Badak , Rawa Belong , Rawajati , Rawa Buaya , Rawa lumbu, dst ( memang daerah Rawa 2 alias tempat air ) dan ada sungai besar ditengah ( Ciliwung ) Kiri luar ( Cisadane ) dan Kanan Luar ( Kali Bekasi ) ada kiri dalam ( Kali asanggrahan ) ada kanan dalam ( kali cipinang ) dst , dan kalau dihitung dan dikumpulkan termasuk sungai sungai kecilnya sudah menjadi Kesebelasan Persija ( Persatuan Sungai Jakarta ) Oleh karena itu konsep pembangunannya harus Vertikal , tidak horisontal yang banyak memakan tempat , lha kalau Vertikal kan kalau banjir bisa lihat lihat dari atas semua. Jadi sekarang justru "Banjir" ini seharusnya jadikan ikon Jakarta , tinggal merubah pemukiman menjadi rumah rumah susun ( vertikal) , siapa tahu kalau musim banjir banyak turis datang...........

ISM


----- Original Message ----- From: "Rovicky Dwi Putrohari" <[EMAIL PROTECTED]> To: <[email protected]>; "migas indonesia" <[EMAIL PROTECTED]>; <[email protected]>
Sent: Tuesday, February 06, 2007 8:44 AM
Subject: [iagi-net-l] Mengapa 20 tahun aman kok sekarang banjir ?


Mengapa 20 tahun aman kok sekarang banjir ? Februari 4th, 2007 —
Rovicky |Posted in Dongeng
Geologi <http://id.wordpress.com/tag/dongeng-geologi/>.

[image: Foto Kompas]Tentunya banyak yang terkaget-kaget dengan banjir di
Jakarta. Rumah yang dahulunya dinilai aman ternyata sekarang banjir cukup
sedeng …. sedengkul !

*(sumber foto Kompas) *

*Mengapa ?*

Ada beberapa alasan mengapa banjir ini tidak seperti yang dahulu ditahun
2002. Banjir tahun 2002 cukup membuat Jakarta lumpuh. Namun kali ini di
tahun 2007 hampir 60% kota Jakarta terendam.

*Curah hujan.*

Curah hujan yang terjadi kali ini relatif lebih besar dibanding tahun 2002.
Pada tahun 2002 ketika Istana negara terkena banjir, hanyalah diakibatkan
banjir kiriman dari Bogor. Namun tahun 2007 ini curah hujan tidak hanya di
Bogor, bahkan di Jakarta sendiri juga terjadi hujan cukup deras hingga lebih
dari tujuh jam pada hari Kamis malam (1/02-07).

Curah hujan yang cukup deras ini memang ada yang menganggap akibat perubahan
cuaca dan perubahan iklim global.

*Kenaikan Muka Air Laut*

Pemanasan global memang menunjukkan kenaikan muka air laut. Namun kenaikan
ini tidak terasa dalam lima tahun terakhir. Walopun saat ini sangat
"diwanti-wanti" atau di peringatkan untuk mulai melihat perkotaan yang
berada di kawasan pantai landai misalnya Palembang, Jakarta, Semarang dan
Surabaya.

Kenaikan muka air laut ini tidak hanya karena global, karena kenaikan global
ini sangat pelaan. Tetapi kenaikan karena air pasang sangat mungkin
mempengaruhi. Kalau tidak salah saat ini kan sedang bulan purnama. Sehingga
terjadi pasang purnama.

Kenaikan muka air laut akan membuat air lebih lambat mengalir ke laut. Beda
ketinggan yang sebelumnya mampu mengalirkan air dengan cepat dengan gaya
gravitasi menjadi berkurang. Kelampabatan pengaliran inilah yang menjadikan
air semakin lama surut.

*Perubahan topografi*

Kalau melihat lokasi banjir yg cukup parah di Jakarta seperti yang trelihat
dalam peta sebelumnya<http://rovicky.wordpress.com/2007/02/02/whalllah-banjir/>.
Terlihat bahwa banjir ini lebih banyak pada lokasi yang sudah menjadi
pelanggan banjir. Namun banyak juga yag merasa rumahnya baru kali ini
terkena banjir.

[image: Klick untuk
memperbesar]<http://dongenggeologi.wordpress.com/files/2007/02/banjir-jkt.jpg>Banjir
tahun 2002 sangat mengagetkan, sehingga banyak sekali penanganan
banjir dilakukan dengan pencegahan antara lain meninggikan tanggul,
meninggikan rumah. Dan selain itu juga pembangunan perumahan-perumahan baru
atau reklamasi kompleks kumuh sebelumnya menjadi kawasan yang dianggap lebih
tertata. NAmun perubahan topografi ini banyak yang tidak disadari oleh
pemilik rumah yang merasa aman di tahun 2002. Sehingga tahun 2002 menjadi
tolok ukur "keamanan" dari banjir.

Gambar diatas menunjukkan beberapa karakterisktik lokasi-lokasi banjir di
Jakarta. Dimana ada tempat yang selalu banjir, ada yang selalu aman, dan ada
yg menajdi lokasi banjir ditahun 2007 padahal dahulunya aman.

Nah dimana rumah anda ?
Posted in Dongeng Geologi <http://id.wordpress.com/tag/dongeng-geologi/>.


--
http://rovicky.wordpress.com/


----------------------------------------------------------------------------
Hot News!!!
CALL FOR PAPERS: send your abstract by 30 March 2007 to [EMAIL PROTECTED]
Joint Convention Bali 2007 - The 32nd HAGI & the 36th IAGI Annual Convention and Exhibition, Patra Bali, 19 - 22 November 2007
----------------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke