Mnurutku "kebenaran" apa yang dipikirkan para ahli belum tentu sesuatu yang
dapat diimplemetasikan. Jadi sulit kalau tolok ukur implementasi menjadi
sebuah tolok ukur menentukan bener dan salah secara ilmiah.

Ambil contoh kontroversial saat ni adalah kebijakan Kyoto Protocol tentang
perubahan iklim global. Walopun scientis Amerika banyak yang yakin kalau
pemanasan global akibat emisi karbon, tetap saja pemerintah Amrik tidak
(belum) meratifikasi Kyoto protocol.
Mengapa ?
Menurutku karena Amerika belum siap dengan ratifikasi itu. Implemetasi
politis tidak menguntungkan Amrik.
Apakah Amrik tidak menggunakan science dalam keputrusan politiknya ?
Wehehehe Tentusana aku yakin Amrik menggunakan kajian ilmiah dalam mengambil
keputusnnya. Tetapi yang dimaksud ilmiah bukan sekedar science saja. Ilmu
politik, ilmu sosial, ilmu pertahanan serta ilmu hidup mereka dikaji dengan
ilmu-ilmu dsara ilmiah juga. Misalnya dengan perhitungan matematis khusus,
atau discision making tool yang tepat dengan paramater sos, pol, han - kam,
dsb.

Walaupun demikian, setiap keputusan akan bias dengan "kepentingan" pemimpin
itu akan selalu saja ada (lah wong namanya saja politik). Tetapi, kalau
dimat-amati, mereka di Amrik tidak terburu-buru didahului kepentingan sesaat
"saja". Bias ini selalu saja akan ada pada tahap akhir keputusan pengambilan
"action".

Itulah sebabnya saya menyarankan untuk berpikir dengan dasar ilmiah terlebih
dahulu apa adanya. Jangan buru-buru "mengarahkan" kepentingan sebelum kajian
ilmiahnya selesei. Soal pengambilan keputusan itu tentunya "tidak hanya"
didasarkan pada kajian ilmiah saintifik fisis saja (termasuk geologi). Dan
bukan berarti bahwa kalau dijalankan pemerintah itu berarti sebuah
legitimiasi kebenaran science looh.

rdp


On 2/6/07, Andang Bachtiar <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

Saya mendadak jadi sangat tergelitik dengan kesan umum di kalangan "para
ahli" bahwa "dari dulu para ahli sudah teriak2 tentang hal ini (banjir)".
Pernahkah kita sadar, bahwa "para ahli" pun punya banyak masalah dalam
memutuskan "bersama" mana yang benar dan mana yang salah dalam suatu
masalah. Bukan hanya tentang banjir, tentang optimisme dan pesimisme
peningkatkan produksi migas-pun sudah dicontohkan dalam milis ini bahwa
ahli
mineral economics Dr Kurtubi-pun berbeda pendapat dengan ahli ttg hal yg
sama yaitu Dr Purnomo Yusgiantoro. Nah, kebetulan yang terakhir itulah
yang
mempunyai kekuasaan untuk menentukan pendapat mana yang dapat dipakai
untuk
diimplementasikan dan mana yang tidak. Maka, sementara ini, kebenaran
"para
ahli" terletak pada siapa yang punya akses terhadap "kekuasaan untuk
mengimplemantasikan menjadi kebijakan operasional". Belum lagi kalau kita
bicara soal "Lumpur Sidoardjo" ..... apakah itu akibat gempa, akibat
pemboran, akibat aktifitas geothermal,... apakah itu bisa dihentikan, atau
hanya dihambat, atau sama sekali tidak bisa dihentikan,.... apakah itu
yang
salah alamnya, manusianya, prosedurnya, perushaannya, lembaganya, atau
pemberi ijin-nya (atau rakyat-nya) ...... tidak akan pernah terjadi kata
sepakat dari para ahli, karena sejauh menyangkut masalah saintifik akan
selalu ada dissenting opinion .... Nah, maka: bingunglah para politisi.

Salam

adb

----- Original Message -----
From: "yogi priyadi" < [EMAIL PROTECTED] >
To: <[email protected]>
Sent: Tuesday, February 06, 2007 3:49 PM
Subject: Re: Hal: [iagi-net-l] Banjir Lagi


> bung...bukannya para ahli emang udah dari dulu teriak2 tantang hal
> ini..sebenernya yang paling penting mah kemauan dari pihak pemerintah,
mau
> ga mereka denger dan mengacu pendapat para ahli selagi tawaran untuk
bikin
> mal, perumahan,kawasan bisnis dan belanja lebih menggiurkan secara
> ekonomi...lagian toh banjir besar cuma dateng tiap 5 tahun, dan paling
> lama
> 2 minggu aja kerendem.. orang jakarta mah tahan banting, ntar juga lewat
> sebulan udah lupa...lagian 5 tahun kedepan belum tentu kepilih
lagi...hehe
>
> rgds,
> yogi priyadi
>

Kirim email ke