Mas Vicky,

Penelitian MacDonald dkk (1984) dengan menggunakan metode geolistrik dan
pemboran geoteknik yang mampu mencapai kedalaman 150 m menunjukkan batuan
dasar Yogyakarta  Low adalah batugamping berlapis dan batupasir napalan
Formasi Sentolo (Miosen Akhir - Pliosen). Sehingga, tampaknya andaikata ada
rongga dibawah endapan Merapi, tentunya bukan dari F. Sentolo tersebut.
Mungkin dari formasi dibawahnya.

Dilihat dari tatanan stratigrafi regional, dibawah F. Sentolo adalah F.
Jonggrangan (ekuivalen F. Wonosari untuk mandala Kulonprogo High). Hingga
saat ini belum diketahui apakah F. Jonggrangan berada dibawah Yogyakarta
Low, yang bisa dituding sebagai sumber bunyi "glung" tersebut. Sebab
tentunya untuk mencapai kedalaman menembus ketebalan F. Sentolo dibawah
Yogyakarta Low diperlukan pemboran hingga lebih dari 250 m (diperkirakan
dari ketebalan aluvium Merapi + ketebalan F. Sentolo). Jawaban untuk
pencarian jawaban sumber bunyi misterius tersebut tentunya bisa dilakukan
dengan melihat kembali data-data geofisika yang pernah dikumpulkan di
Yogyakarta Low.

Perubahan sistem hidrogeologi akibat gempabumi 27 Mei tengah dilakukan oleh
Tim T. Geologi UGM. Namun karena fokusnya adalah untuk meneliti fenomena
likuifaksi, maka sasarannya hanyalah sistem hidrogeologi yang dangkal saja.
Hasil sementara menunjukkan adanya keteraturan pola likuifaksi yang
dikontrol oleh sebaran patahan mikro dan variasi jenis litologi akuifer
airtanah dangkal.

udin

On 3/1/07, Rovicky Dwi Putrohari <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

Terimakasih Pak Awang,
Mengapa saya menanyakan apakah ada reef Wonosari dibawah Jogja adalah
menyangkut kekhawatiran sinkhole yang ada di guatemala. Di Guatemala
ini batuan dasarnya batugamping dimana mekanismenya ditakutkan
masyarakat apalagi didukung adanya isse "Glung" di Jogja. Banyak yg
khawatir adanya kemungkinan sinkhole ini ada disekitar Opak.

Saya berpikir, seandainya di Jogja Low tidak ada karbonat maka
kemungkinan adanya rongga disekitar Patahan Opak sangat kecil. Apalagi
kalau genesanya seperti dugaan Pak Awang, bahwa batugamping wonosari
hanya akan tumbuh pada daerah tinggian (wonosari High di timur dan
Sentalo High dibarat).

Sebenernya gejala lain menjelang terjadinya amblesan terekam dalam
issue yg beredar didaerah ini, misalnya swara gemuruh ("Glung"), namun
fenomena ini yg sulit dibuktikan karena swaranya tidak pernah ada yg
terrekam dengan tape (audio recorder).. Juga adanya perubahan
hydrology (air yg muncrat atau aliran yg hilang masuk ke tanah. Hanya
saja kedua gejala ini bisa jadi gejala-gejala yg menjadi attribute
pasca gempa, yang bukan hanya monopoli pre sinkhole.

Salut kepada T Geologi UPN membantu menenangkan masyarakat serta
berusaha menjawab dengan melakukan pengeboran, namun tidak menjumpai
rongga pada kedalaman dibawah 40 meter.
Saya tidak tau apa yg mendasari Geol UPN sehingga memilih titik lokasi
pengeboran disitu. Kalau memang gejala Glung ini adalah fenomena
ilmiah, tentunya bisa direkam terlebih dahulu dengan alat geophone
atau penelitian bawah permukaan lainnya. Kegagalan menemukan lubang
ini, tentusaja tidak bisa dipakai sebagai kesimpulan tidak ada rongga.

Yang menarik adalah fenomena sinkhole sering didahului adanya
perubahan sistem hydrologi. Nah apakah sudah ada yg meneliti perubahan
hydrologi ini ? Walaupun mungkin perubahan hydrologi ini bisa saja
karena fenomena pasca gempa, bukan fenomena sinkhole juga ... duh
sulit !.

rdp


Kirim email ke