Mas Pardan, Maaf saya hanya akan "excuse" saja nih ... :)
Indonesia memang suangat luaas dan hampir semua memilki kerawanan bencana
yang berbeda-beda dan sangat beragam. Ada yang rawan longsor, ada yang rawan
banjir, ada yang rawan gempa, ada yang rawan letusan gunung api, wis pokoke
segala jenis bencana kayaknya ada. Saat ini longsor sedang "musim", mending
kalo musim buah ya ? Namun hanya segitu bahkan sangat sedikit yang bisa
ketahui.
Saya termasuk yang konsen dengan "tanda-tanda" sebagai tindakan pencegahan.
Bawa nantinya ada longsor lebih besar dari Bodag saya sih yakin sangat
mungkin akan terjadi, tetapi DIMANA ? selama ini kita tidak tahu dimana saja
yang "sebentar lagi" akan longsor. Hanya ini yang saya mampu lakukan. Jelas
kita membutuhkan Pak Amien- Pak Amien lain untuk mengawasi daerah seluas *
total:* 1.919.440 km² (*darat:* 1.826.440 km²* dan air:* 93.000 km²).
Jangkauan "Radar Screen" pak Amien dari ITS Surabaya sudah menjangkau Madiun
sudah lebih dari 200 Km !. Beliaupun sudah sanggup dengan memberikan no HP
serta email sebagai focal point, Salut !!
Walaupun radar pak Amien mungkin hanya mendeteksi satu, kalau saja

Soal Bodag, bagaimana kalau kita coba jadikan test case dengan "success
story, natural disaster with no fatalities" ? KIta pakai sebagai "latihan
riil".

Kalau kita menengok peta rawan bencana (termasuk rawan longsor) yang ada di
VSI http://portal.vsi.esdm.go.id/joomla/  akan menjumpai banyak daerah yang
rawan longsor, bahkan termasuk longsor yang diperkirakan bulan Maret 07 ini
!. Namun apakah disitu ditandai dengan awal kelongsoran, terus terang saya
ngga tahu. Sedangkan yang diulas Pak Amien lebih ke level mitigasi detil.
Sayangnya peta yang dibuat untuk publik ini sangat kecil. Skala ini bukan
skala yang pas untuk kerja tehnis. Sayang kan ?
Skala terbagus yang saya lihat ada disini :
http://portal.vsi.esdm.go.id/gallery2/main.php?g2_view=core.DownloadItem&g2_itemId=1226&g2_serialNumber=1

Aku rasa ini tepat untuk para pecinta alam bimbingannya Pak Agus H. Namun
masih terlihat banyak sekali (luas skali) daerah yng masuk kategori bahaya.

Adakah yang tahu berapa "skala tehnis" yang pas untuk memetakan bencana
longsor ? Aku yakin Pak ADB tahu karena pernah membuat utk daerah Malang
(Pacet) beberapa thn yang lalu. Dan peta skala tehnis ini yang benar-benar
bisa dipakai dilapangan, katakanlah bisa dipakai oleh para pecinta alam
bimbingannya Pak Agus H. Mereka akan bisa langsung menengok di lapangan
dengan dasar peta dengan skala tehnis yang pas. Atau barangkali Pak ADB mau
berbagi peta-peta yang dihasilkan sebagai conto peta landslide untuk
kebutuhan mitigasi pasca bencana.

salam

rdp

On 3/5/07, Supardan <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

Pak Amien, mas Agus dan mas Rovicky,

Saya jadi heran, kenapa kasus gerakan tanah di Desa Bodag, Kecamatan Kare,
Kabupaten Madiun, tiap hari kok di blow up terus sama sebuah radio swasta
(FM) yang jangkauan siarannya bersifat nasional. Menurut saya gerakan
tanah
di sana termasuk jenis *nendatan*, lebar mahkota (crown)-nya sekita 150
meter, dengan panjang lebih dari 200 meter, jadi dimensinya termasuk
kecillah. Memang nendatan tersebut bisa saja meluncur dengan cepat menjadi

sebuah longsoran, tentunya kalo terjadi hujan lebat (dengan curah yang
ekstrim) paling tidak 2 jam ato lebih. Melihat bentuk morfologi pada
lokasi
nendatan dan sekitarnya, kalo toh massa tanah tersebut meluncur dan jatuh
ke
sungai serta sempat menyumbat/ membendung alur di bawahnya, saya kira air
yang terbendung volumenya tidak akan banyak, sebab daerah tangkapannya
terlalu sempit. Di samping itu, volume massa tanah juga tidak terlalu
besar. Penduduk yang benar-benar terancam oleh gerakan tanah tersebut,
sebetulnya hanya 6 KK atau sekitar 20 jiwa, karena sekelompok rumah ini
berjarak paling dekat dengan mahkota longsor. Sedangkan di atas tanah yang

bergerak tersebut tidak ada bangunan rumah, dimana peruntukannya sebagai
kebun dan sawah tadah hujan.

Saya khawatir, perhatian yang berlebihan pada satu titik kasus gerakan
tanah
tersebut, akan membuat tidak terperhatikannya titik-titik rawan longsor
lain
di wilayah Kabupaten Madiun, sehingga di Bodag tidak ada korban jiwa, tapi
terjadi longsor di tempat lain yang banyak menimbulkan korban jiwa maupun
kerugian harta benda. Daerah Bodag masuk dalam DAS Catur yang merupakan
bagian dari DAS Bengawan Solo. DAS Catur sendiri meliputi 4 Kecamatan,
yaitu Kecamatan Kare, Kecamatan Dagangan, Kecamatan Wungu dan Kecamatan
Gemarang. Nah... masih sangat luas kan daerah yang harus diwaspadai oleh
Satlak PB Kabupaten Madiun. Kalo kita perluas lagi, maka seluruh lereng G.
Wilis/ G. Liman tingkat kerentanannya juga sama, sehingga masih ada 4
Kabupaten lagi (Ponorogo, Trenggalek, Tulungagung dan Nganjuk) yang juga
harus mewaspadai lereng gunung tersebut. Tahun kemarin kejadian serupa
terjadi juga di Ponorogo dan Trenggalek, tahun ini juga terjadi di Kediri
dan Nganjuk. Lereng G. Wilis bisa dibilang *wis wayahe* pada longsorlah,
mengingat kondisi geologi, morfologi dan tentunya vegetasinya.

Yang penting, namun cukup sulit adalah menciptakan masyarakat *sadar
bencana
*, sehingga apabila terjadi bencana maka dapat ditekan jumlah korban jiwa
maupun kerugian harta bendanya.

Mas Agus, mohon maaf saya tidak dapat hadir di acara sarasehan di Plaosan,
Magetan, dimana sebetulnya saya sangat ingin hadir di acara tersebut
karena
tanah kelahiran saya kan Madiun mas. Tapi apa boleh buat?

Mohon maaf kalo kurang ilmiah ato bahkan banyak yang salah.

Wassalam.
Pardan.

On 3/4/07, Agus Hendratno <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Mas Amien, sampeyan sendiri sebetulnya sudah bisa memprediksi kasus di
> BODAG, Madiun. Hayoo..., kan sudah ke lapangan to?
> Kemarin waktu sarasehan Pecinta alam di Lereng G.Lawu, Magetan; saya
> kebetulan mengisi acara tersebut (juga ada teman-teman dari LSM
Harindjing
> Lestari / Agoes Tirto dkk, AMC arek-arek Malang) dan ketemu pimpinan dan
> pelaksana Satlak Madiun dan Magetan. Kemudian saya mendiskusikan masalah
> bencana tanah longsor di Madiun dan Magetan. Nah, sehubungan kawan-kawan

> Satlak Madiun dan Magetan sudah didampingi oleh teman-teman Pusat Studi
> Bencana ITS (dan saya yakin, mas Amien, pasti dibelakangnya), maka saya
> kemarin hanya menyarakan supaya komunikasi intensif dengan teman-teman
> geologi di ITS lebih dimaksimalkan untuk turut penanganan bencana tanah
> longsor.
> Saya kira kasus amblesan di Bodag, Kare, Madiun, nanti model
penanganannya
> harus hati-hati. Bicara kapan ambles secara terus menerus, dan kemudian
jadi
> tidak layak huni, lalu relokasi, lalu penyiapan lahan permukiman dan
> infrastruktu, lalu masalah sosial lainya (ini yang biasanya sangat
rumit)
> sebagaimana kasus di Sleman, Banjarnegara, Kulonprogo, Kebumen, dan
Kudus,
> dalam 2 tahun terakhir ini.
>
> Blaik....
> AGus Hend
>
> ----- Original Message ----
> From: Rovicky Dwi Putrohari <[EMAIL PROTECTED] >
> To: [email protected]; [EMAIL PROTECTED]; UPN Forum <
> [EMAIL PROTECTED] >
> Sent: Monday, March 5, 2007 12:22:28 PM
> Subject: [iagi-net-l] Peluang penelitian longsoran -->Fwd: [Dongeng
> Geologi] Komentar: "Kenali tanda-tanda awal longsoran --> AWAS !"
>
> Bagi rekan-rekan geoteknik dan mahasiswa geoscience untuk penelitian
yang
> tertarik melihat perkembangan longsoran, silahkan kontak tawaran beliau
> (Pak
> Amien Widodo dosen ITS)
> foto-nya lihat disini :
>
>
http://rovicky.wordpress.com/2007/03/03/kenali-tanda-tanda-awal-longsoran-awas
>
> Saya rasa sih kalau tidak ada penanganan khusus dalam waktu dekat kalau
> terjadi hujan bisa longsor beneran (lokasi di Madiun).
> * Tgl. 14/2 turun 0,5 m,
> * tgl. 22/2 turun 4 m,
> * tgl 26/2 turun 5 m,
> * tgl 2/3 turun 6,6 m.
>
> rdp
>
> ---------- Forwarded message ----------
> From: Amien Widodo <r>
> Date: Mar 5, 2007 12:57 PM
> Subject: [Dongeng Geologi] Komentar: "Kenali tanda-tanda awal longsoran
> --> AWAS !"
> To: [EMAIL PROTECTED]
>
> Komentar baru pada tulisan #822 "Kenali tanda-tanda awal longsoran -->
> AWAS !"
> Penulis: Amien Widodo
> E-mail: [EMAIL PROTECTED]
> URL : http://www.its.ac.id.com
> Komentar:
> Ternyata penggemar blog ini ada dari ITS juga.
> Ada yang salah tulis berkaitan dengan nama desanya sebetulnya nama
desanya
> BODAG Kecamatan Kare Kabupaten Madiun.
> Saat ini kita ITS mengusulkan dan merekomndasikan sbb.:
> 1. Karena diatas lereng tersebut ada saluran irigasi yang terbuka maka
> kita
> menyarankan merubah menjadi saluran tertutup (dengan pralon)
> 2. Karena arah longsoran ini menuju ke sungai yang sempit dan
> dikahwatirkan
> akan menutup/membendung sungai dan kemudian akan terjadi banjir bandang
> maka
> kita rekomendasikan untuk meletakkan pralon-pralon 30 cm sepanjang 200 m

> sebanyak 8 buah di dasar sungai. Paralon gunanya untuk mengalirkan air
> sewaktu tertutup oleh longsor.
> 3. Kita juga merekomendasikan pembuatan cek dam untuk menahan laju
banjir
> bandang
> 4. Masyarakat tetap harus diungsikan sampai longsor terjadi, saat ini
> kedalaman ambles 7 m (sudah seperti luweng).
> Bagi ilmuwan yang menggeluti masalah longsor di Bodag ini betul-betul
> contoh
> yang baik suatu proses longsor. karena terjadi secara perlahan lahan dan

> bisa diamati. Nanti akan kita update data yang saya peroleh.
> Ada yang TA atau thesis atau disertasi ini betul-betul contoh kasus yang
> bagus. Kontak saya lewat [EMAIL PROTECTED] atau hp 08121780246.
> Mungkin ada saran-saran yang bisa kita pertimbangkan??
>
> AW
>
> Anda bisa melihat semua komentar pada tulisan ini disini:
>
>
http://rovicky.wordpress.com/2007/03/03/kenali-tanda-tanda-awal-longsoran-awas/#comments
>
>
> --
> http://rovicky.wordpress.com/
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
____________________________________________________________________________________
> Looking for earth-friendly autos?
> Browse Top Cars by "Green Rating" at Yahoo! Autos' Green Center.
> http://autos.yahoo.com/green_center/




--
http://rovicky.wordpress.com/

Kirim email ke