Berbeda interpretasi dan debat soal sejarah, struktur, tektonik, sekuen geologi 
itu mah biasaaa.
Bahkan agar saya bisa lulus S1 dengan sangat terpaksa membuat dua thesis A dan 
B. Jika dosen A hadir menguji, saya akan pakai thesis "A", jika dosen A tidak 
hadir menguji maka saya pakai thesis "B"...lhadalah gandrik ! Dua dosen senior 
yang sama-sama profesor itu masuk ruang ujian lisan dalam satu tim 
penguji.....wuaaaa seperti yang sudah saya khawatirkan dan duga sebelumnya.
Akhirnya saya harus maju pendadaran dengan thesis "AB"...hahahaha dan hasilnya 
malah A+  !!....hikhikhik...
Dulu konon kabarnya malah ada dosen senior lain yang berseteru tajam dalam ilmu 
akibatnya berimbas ke mahasiswa sebagai korbannya...dibabat habis di ujian 
lisan dan lembar thesisnya di banting segala....

Salah interpretasi di dunia geologi adalah lumrah dan BUKAN KRIMINAL ! 
paling-paling jika di perusahaan, geologistnya sering salah ya...dipecat ! 
bukan dilaporkan ke polisi.
Namun SALAH PROSEDUR bisa menjadi KRIMINAL.

Seperti Polisi, salah menduga dan menyangka adalah bukan pelanggaran hukum, 
tapi jika polisi salah prosedur, maka bisa ikut masuk penjara...

Nah di kasus LUSI ini khan sudah jelas.....cetho melo-melo....adakah salah duga 
formasi geologi atau salah prosedur dalam teknik pengeboran yang sudah sangat 
standar bagi ahli pengeboran ????
Yang jelas dari hasil beda pendapat, Pasti salah satu benar atau dua-duanya 
salah atau dua pendapat itu digabung dengan sedikit pengorbanan masing masing. 
( seperti thesis saya tadi itu... ) atau yang paing keras mbengok ( teriak ) 
yang menang..hahahaa. Gitu aja kok repot...kata Gus Pur.

Makanya, sebenarnya geologi tidak patut disebut "TEKNIK" atau "Engineering" 
karena bukan ilmu "real exact"....karena masih ada ruang untuk berduga-duga...
Di USA, gelarnya adalah geologist  atau geoscientist bukan Geology Engineer 
(disingkat GE ) seperti petroleum engineer (PE), Electro engineer, mechanical 
engineer, civil engineer...dsb.
Di Indonesia aja yang geologi digelari Insinyur ( Ir )...atau sarjana teknik 
(ST) geologi...sedang di UnPad Bandung karena MIPA ya doktorandus...drs
Soal gelar saja geologi sudah simpang siur...hehehehe. Untungnya kita ini IAGI  
...ikatan Ahli Geologi Indonesia...bukan ikatan ahli teknik geologi... 
IATGI...seperti IATMI/SPE

Wallahu'alam...
KA  ( kembali berduka yang bumi ini selalu diguncang..)
  ----- Original Message ----- 
  From: OK Taufik 
  To: [email protected] 
  Sent: Tuesday, March 06, 2007 9:10 PM
  Subject: Re: [iagi-net-l] Ahli Geologi Saling Berseteru


  berbeda pendapat sah-sah saja dan berpeda pendapat bukan hanya milik para 
Geologist, berbeda kepentingan juga sah saja, karena semua manusia punya beda 
kepentingan, tapi perlu juga di pahami dimana-mana berorganisasi ada aturannya, 
misi, visi, dan lainnya yg diatur oleh AD/RT nya. Kalau mau menganggap perlu 
untuk menjalankan organisasi ikuti saja aturan mainnya. Kalau tidak kata-kata 
berbeda pendapat bisa jadi senjata untuk mensahkan semua tindakan, kesannya 
jadi seenaknya, tak becus. Pendapat saya (masih dalam koridor beda pendapat)  
sebaiknya IAGI juga terlibat dalam mensponsori simposium, seminar dan 
sejenisnya dengn tema " LUSI, AKIBAT KELALAIAN DAN AROGANISME KEKUATAN UANG DAN 
KEKUASAAN" 

  didukung oleh aku.


  Innalilahi wa innalilahi rojiun, buat korban meninggal akibat gempa di Sumbar


  On 3/6/07, Agus Hendratno <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
    Yaa.repotnya, kalau perbedaan pendapat dalam hal penafsiran geologi 
dikonsumsi pers..., runyam hasilnya. Lebih baik berbeda pendapat dalam kertas 
karya ilmiah saja. Kalau semua ahli geologi menjadi figur-figur yang menjadi 
Problem Solver, saya kira sangat baik. Bisa memberikan masalah penafsiran yang 
berbeda, tapi yang jauh lebih penting adalah solusi dari masalah yang 
ditafsirkan tadi. Penafsiran bisa beda; tapi solusi jauh lebih elegant. 

    Banyak yang bisa mengurai masalah dari berbagai teori, sudut pandang, 
asumsi-asumsi, pengalaman, tapi tidak banyak yang kemudian menyodorkan solusi 
dari asumsi-asumsi yang dibuat tadi.

    Geologi, ke depan akan menjadi penentu penting dalam setiap kebutuhan 
masyarakat yang membutuhkan nilai Keamanan dan Kenyamanan dalam hidup. 
Keamanan, berarti kebutuhan akan  ekonomi sumberdaya geologi terjamin dengan 
pola yang berkelanjutan dan tidak terlalu merusak lingkungan dan juga aman dari 
 keancaman bencana kebumian. 
    Kenyamanan, berarti kebutuhan akan kenikmatan hidup yang tidak terganggu 
akan resiko keancaman bencana kebumian, lingkungan geologinya sehat, terjamin 
kebutuhan energi (dalam arti luas), terjamin kebutuhan air (dalam arti luas), 
dll. Semua membutuhan peran penting geologi maupun geologist.... 
    kita lihat saja nanti....................
    Semoga, "perseteruan" yang ada hanya sebagai bentuk pergulatan pemikiran 
yang dinamis sebagaimana bumi ini yang dinamis dan bergerak..., tentunya bagi 
yang mempelajari juga........................ 
    Kita berdoa saja..., suatu saat ada Geologist yang terpilih jadi Presiden 
RI (entah kapan...); sekarang baru ada Presiden IAGI yang tentunya geologist.

    Salam............
    AGus



    Awang Harun Satyana < [EMAIL PROTECTED]> wrote: Saat saya barusan ngobrol2 
dg Pak Luthfi, telepon dari Sdri. Nieke
    Indrietta (Tempo Interaktif) masuk ke handphone Pak Luthfi dan wawancara
    jarak jauh pun terjadi sekitar 20 menit seputar perbedaan pendapat LUSI. 

    Perbedaan pendapat wajar saja terjadi di antara para ahli geologi, kita
    semua tahu dan sudah sangat terbiasa dengan hal itu. Kalau perbedaan
    pendapat tak pernah terjadi, maka kita tak akan menemukan
    lapangan-lapangan minyak baru atau deposit mineral baru. Daerah yang 
    direlinquish total oleh sekelompok geologist karena dianggap tak ada
    migasnya, ternyata jadi lapangan yang sangat subur bahkan raksasa.
    (contoh : Jabung area, Jambi, dan Wiriagar Deep-Tangguh complex
    Bintuni). 

    Dan setiap orang akan berpendapat dilatarbelakangi oleh pengalaman dan
    keahliannya. Kasus LUSI. Orang geothermal akan bilang itu kasus erupsi
    geyser geotermal. Orang tektonik akan bilang itu dipicu gejala tektonik, 
    dll.

    Apapun perbedaan pendapat di antara kita, jangan sampai meretakkan dan
    memecahkan silaturahmi di antara kita. Jangan terpancing dengan
    "perseteruan" - itu bahasa media yang bombastis.

    Salam,
    awang

    -----Original Message-----
    From: Alman [mailto:[EMAIL PROTECTED]
    Sent: Tuesday, March 06, 2007 2:26 C++
    To: [email protected]
    Subject: [iagi-net-l] Ahli Geologi Saling Berseteru

    Koran Tempo edisi cetak hari ini membahas 1 halaman khusus ttg hal
    ini. Bahkan sampai bersambung di edisi esok hari. Judulnya sangat 
    menggelitik sekaligus menyindir ahli2 kebumian.

    versi web juga ada, hanya lebih singkat & tdk selengkap edisi cetak.
    http://www.tempointeraktif.com/hg/ekbis/2007/03/06/brk,20070306-94825,id 
    .html
    _________________________________________

    Ahli Geologi Saling Berseteru
    Selasa, 06 Maret 2007 | 04:50 WIB

    TEMPO Interaktif, Jakarta:
    Ketua Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) 1973-1975, Koesoemadinata, 
    memprotes hasil pertemuan workshop internasional tentang luapan lumpur
    panas Lapindo di Sidoarjo, Jawa Timur, yang diadakan organisasi itu
    pada 20-21 Februari lalu di Jakarta. Sikap protes itu tertuang dalam
    surat terbukanya via surat elektronik kepada IAGI pada 25 Februari.

    Alasannya, kesimpulan workshop tersebut ia nilai cenderung tidak
    mencerminkan IAGI yang independen, tidak relevan dengan materi, bahkan
    cenderung bertolak belakang. "Saya sangat prihatin dengan hasil 
    workshop yang disebutkan bertaraf internasional ini," kata
    Koesoemadinata kepada Tempo, Senin (5/3).

    Seperti diketahui, pada 20-21 Februari lalu, IAGI bekerja sama dengan
    Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi serta Lembaga Ilmu 
    Pengetahuan Indonesia mengadakan diskusi bertema "International
    Geological Workshop on Sidoarjo Mud Volcano".

    Koesoemadinata menjelaskan kesimpulan dari workshop itu tidak
    mencerminkan materi yang dibahas. Para pembicara masih mempertanyakan 
    berbagai kemungkinan tentang penyebab semburan lumpur panas. Bahkan
    workshop itu buru-buru menyimpulkan penyebab semburan lumpur panas itu
    adalah gempa bumi. "Itu memang benar mud vulcano (lumpur panas), tapi 
    penyebabnya apakah gempa bumi atau kesalahan pengeboran, kan, belum
    terjawab," ujarnya.

    Seharusnya, menurut dia, IAGI sebagai lembaga ilmuwan
    yang independen juga memberi ruang mengenai adanya pendapat bahwa 
    semburan lumpur panas itu terjadi karena kelalaian pengeboran. "Saya
    khawatir kalau sampai IAGI digunakan untuk kepentingan-kepentingan
    tertentu. Padahal kebenaran ilmiah sebagai ilmuwan harus
    dipertahankan." 

    Koesoemadinata mengungkapkan workshop yang dihadiri beberapa ilmuwan
    dari luar negeri itu juga hanya menyatakan lumpur panas Lapindo adalah
    bencana alam sehingga tidak dapat dihentikan. Namun, tidak memberikan 
    rekomendasi penanggulangan masalah, padahal itulah yang ditunggu
    masyarakat.

    Dalam surat terbukanya kepada Ketua Umum IAGI, Koesoemadinata
    menyatakan kekecewaan dan keprihatinannya. Dalam pembacaan kesimpulan 
    workshop, misalnya, menurut dia, seolah-olah sudah ada kesepakatan
    bahwa terjadinya gunung api lumpur di Sidoarjo semata-mata murni
    bencana alam yang dipicu oleh gempa bumi di Yogyakarta dan tidak ada
    hubungannya dengan kelalaian pengeboran Sumur Banjar Panji-1. 

    Sampai berita ini diturunkan, Tempo belum berhasil mendapatkan
    konfirmasi dari Ketua Ikatan Ahli Geologi Indonesia Achmad Lutfi.
    Achmad tidak mengangkat telepon selulernya. Namun, dia membalas lewat
    pesan pendek (SMS), "Besok saja (hari ini) karena (saya) sedang ada 
    acara keluarga," katanya.

    ------------------------------------------------------------------------
    ----
    Hot News!!!
    CALL FOR PAPERS: send your abstract by 30 March 2007 to
    [EMAIL PROTECTED]
    Joint Convention Bali 2007 - The 32nd HAGI & the 36th IAGI Annual
    Convention and Exhibition,
    Patra Bali, 19 - 22 November 2007
    ------------------------------------------------------------------------ 
    ----
    To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
    To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
    Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
    Pembayaran iuran anggota ditujukan ke: 
    Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
    No. Rek: 123 0085005314
    Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
    Bank BCA KCP. Manara Mulia
    No. Rekening: 255-1088580
    A/n: Shinta Damayanti
    IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
    IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi 
    ---------------------------------------------------------------------


    ----------------------------------------------------------------------------
    Hot News!!!
    CALL FOR PAPERS: send your abstract by 30 March 2007 to [EMAIL PROTECTED]
    Joint Convention Bali 2007 - The 32nd HAGI & the 36th IAGI Annual 
Convention and Exhibition,
    Patra Bali, 19 - 22 November 2007
    
---------------------------------------------------------------------------- 
    To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
    To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
    Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
    Pembayaran iuran anggota ditujukan ke: 
    Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
    No. Rek: 123 0085005314
    Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
    Bank BCA KCP. Manara Mulia
    No. Rekening: 255-1088580
    A/n: Shinta Damayanti
    IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
    IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi 
    ---------------------------------------------------------------------




    ---------------------------------
    Looking for earth-friendly autos?
    Browse Top Cars by "Green Rating" at Yahoo! Autos' Green Center.   



  -- 
  OK TAUFIK

Kirim email ke