saya pribadi setuju dg rumusan akhir yang seyogyanya dihasilkan dari
workshop tsb seperti yang dikemukakan pak Kusuma dibawah ini. Cukup
bijaksana. 
-ido-

 
________________________________

From: R.P. Koesoemadinata [mailto:[EMAIL PROTECTED] 
Sent: Thursday, March 08, 2007 10:18 PM
To: [email protected]
Subject: Re: [iagi-net-l] Silaturahmi ===> Re: [iagi-net-l] Ahli Geologi
Saling Berseteru


Maaf, saya tidak bermaksud kasar seperti tercantum di bawah ini.
Saya kira alangkah bijaksananya kalau rumusan akhir dari Workshop ini
menyatakan:
..."Terlepas dari perbedaan pendapat mengenai penyebab dari semburan
lumpur panas Sidoarjo ini, namun mengingat bahwa gejala ini telah
berkembang menjadi gunungapi lumpur yang dahsyat sehingga di luar
kendali manusia, maka seyogianya  gejala ini dinyatakan sebagai (murni)
bencana alam"
Saya kira pernyataan ini  adalah cukup bijaksana dan elegant yang
mungkin dapat dterima oleh fihak2 yang berseteru.
Wasalam
RPK
 

        ----- Original Message ----- 
        From: R.P. Koesoemadinata <mailto:[EMAIL PROTECTED]>  
        To: [email protected] 
        Sent: Thursday, March 08, 2007 8:57 PM
        Subject: Re: [iagi-net-l] Silaturahmi ===> Re: [iagi-net-l] Ahli
Geologi Saling Berseteru

        Saya kira workshop ini hanya bertujuan untuk menghimpun pendapat
bahwa Lusi ini adalah murni bencana alam dan tidak ada hubungan dengan
pemboran.
        Jadi hanya untuk membebaskan tanggung jawab yang melakukan
pemboran. Namanya juga International Geological Workshop.
        RPK

                ----- Original Message ----- 
                From: Untung M <mailto:[EMAIL PROTECTED]>  
                To: [email protected] 
                Sent: Thursday, March 08, 2007 4:17 PM
                Subject: Re: [iagi-net-l] Silaturahmi ===> Re:
[iagi-net-l] Ahli Geologi Saling Berseteru

                Assalaam'ulaikum wr.wb.,
                Saya senang sekali membaca pendapat geosaintis tentang
LUSI di milis ini. Banyak kandungan ilmiah dalam pendapat itu. Akan
tetapi saya duga sepertinya hanya adu intektualitas saja.  Bukan itu
yang kita kehendaki. Rakyat maunya real work. Jadi "Just do it" jangan
hanya NATO. No action talk only. Oleh karena itu bersilahturrahmi dengan
mengadakan "Technical Workshop" Undang seluruh geosaintis yang dianggap
bisa memberi kontribusi yang berarti dari segala bidang  termasuk
orang-orang sosial. Ini bukan sekedar seminar. Selesai seminar hilang
tak ada bekas. Hasil technical workshop ini harus dipakai sebagai
pedoman kerja. Hasil ini sudah melalui penggodokan yang betul-betul
matang. Tentunya disetujui oleh setiap peserta technical workshop.
Demikan saran saya. Semoga dapat dilaksanakan. Ta' ada masalah di dunia
ini yang tidak dapat dpecahkan. 
                Wassalaam'ulaikum wr.wb.,
                M. Untung

                        ----- Original Message ----- 
                        From: Andang Bachtiar
<mailto:[EMAIL PROTECTED]>  
                        To: [email protected] 
                        Sent: Wednesday, March 07, 2007 9:39 PM
                        Subject: [iagi-net-l] Silaturahmi ===> Re:
[iagi-net-l] Ahli Geologi Saling Berseteru

                        "Perseteruan" internal di komunitas IAGI (re:
Surat Terbuka dari Prof RPK) tentang Lumpur Sidoardjo bukan sekedar
karena "hal-biasa" yang disebut sebagai perbedaan "pendapat ilmiah" yang
menyangkut hasil analisis tentang apakah penyebab-pemicu semburan
tersebut adalah pemboran BJP-1 atau proses alam (gempa bumi) yang diluar
kuasa pengetahuan manusia saat ini untuk memprediksi kejadian-nya dalam
skala waktu manusia (bukan skala waktu geologi),.....  tetapi lebih ke
masalah pengorganisasian pertemuan ilmiah, kematangan bersikap,
"wisdom", dan etika ilmiah dalam hal-hal berikut:
                         
                        1. Menyimpulkan permasalahan kontroversial
saintifik yang punya implikasi hukum-politik-bisnis semata-mata dari
suatu acara diskusi yang minim interaksi yang digelar dengan stempel
"workshop" tetapi pada kenyataannya adalah "seminar" atau lebih parahnya
menurut sebagian peserta adalah "sosialisasi pendapat sepihak" bisa
dikatakan sebagai jauh dari etika - sistimatika pengambilan kesimpulan
ilmiah. Untuk menyimpulkan basis ilmiah yang punya implikasi sepenting
itu diperlukan "workshop" yang benar-benar "workshop", dimana setiap
konsep diuji sampai tuntas dalam session-session tersendiri, yang dalam
hal ini mungkin dibutuhkan lebih dari 2 hari untuk melaksanakannya.
                         
                        2. Mekanisme penyelenggaraan workshop tidak
secara seimbang menampilkan presentasi dan diskusi tentang berbagai
konsep-pendapat, tetapi lebih cenderung ke salah satu konsep, padahal
para ahli berbagi konsep lain juga hadir di acara tersebut - tetapi
tidak diberi kesempatan presentasi dan diskusi secara proporsional
seperti yang lainnya.
                         
                        3. Pemahaman yang parsial tentang
sub-sub-disiplin, kompetensi, dan profesi yang terkait dengan geosains
dalam industri migas, sehingga proses analisis-sintesis permasalahan
menjadi tidak optimal, seperti misalnya: tidak didiskusikannya secara
rinci (spt topik2 sub-disiplin lainnya) tentang masalah data teknis
real-time-chart / geolograph selama pemboran dan implikasinya pada
kondisi geologi lubang bor dimana masalah tersebut sebenarnya adalah
kompetensi dari para ahli wellsite-operation geology,... dan lebih
parahnya, tidak seperti data primer geologi bawah permukaan dan
permukaan yang berlimpah dan accessible bagi kebanyakan ahli (seismik,
trace sesar di permukaan, data satelit, data-sampel lumpur dsb), tipe
data pemboran yang tersedia (dan dipresentasikan) adalah data sekunder
(bahkan tersier) berasal dari daily drilling report, final well report,
dsb,.... genuine geolograph dan real-time-chart data tidak pernah bisa
diakses (dan diperiksa dan didiskusikan) oleh para ahli.
                         
                        4. Dari 18 pembicara yang tampil, hanya 4
pembicara yang dapat dianggap mempunyai kompetensi tentang masalah
pemboran migas; dari 4 itupun hanya 2 yang mempunyai latar belakang
geosains yang diasumsikan dapat mengekstrasi informasi geologi bawah
permukaan dari data pemboran. Empat belas (14) pembicara lainnya
kebanyakan mengandalkan data geologi-geofisika (yang punya dimensi lebih
besar/regional dibanding dengan data pemboran) untuk membuat analisis
dan sintesis tentang penyebab-pemicu semburan lumpur. Dengan demikian
trend "workshop" lebih berat pada pembahasan geologi regional, tektonik,
dimensi waktu yang besar, dan kurang menyentuh analisis rinci dan
dimensi waktu yang lebih instant/pendek, termasuk kurang disentuhnya
kemungkinan-kemungkinan pemicuan semburan oleh kejadian-kejadian selama
pemboran.
                         
                         "Silaturahmi" sebagai jawaban dari
"perseteruan" - seperti diusulkan oleh banyak email - mustinya dimaknai
dan diimplementasikan sebagai sesuatu yang lebih mendasar dan
ber-dimensi organisasi. Seperti kita lihat dalam dalam 15 bulan terakhir
kepengurusan baru PP-IAGI, organisasi kita ini hampir bisa dikatakan
sebagai tidak pernah bersilaturahmi dengan ribuan anggotanya melalui
"Berita IAGI" maupun "Majalah Geologi Indonesia", karena memang tidak
satupun media komunikasi tersebut terbit secara rutin (Berita IAGI hanya
sekali terbit menjelang PIT Nov 2006 dan MGI tidak terbit sama sekali).
Harap diingat bahwa hanya 500-600-an jumlah anggota milis IAGI-Net, yang
mungkin hanya separohnya merupakan anggota resmi IAGI, sehingga kalau
ada yang mengatakan bahwa PP-IAGI sudah berkomunikasi dengan anggotanya
lewat IAGI-net, itu adalah pernyataan yang sangat tidak berdasar. Ribuan
anggota IAGI yang tersebar di 12 PengDa dan di luar negeri, tentunya
dengan berbagai macam keahlian (termasuk ahli pemboran - ahli wellsite
operation geology yang mustinya mengambil peranan lebih dalam "workshop"
IAGI yang lalu), perlu untuk disapa, disilaturahmi, dan dikunjungi.
                         
                        Selain itu, "Silaturahmi" hendaknya dilakukan
juga dengan membuat sebanyak mungkin kegiatan berkumpul baik secara
ilmiah maupun untuk tujuan kekerabatan-sosial, baik di Pusat, maupun di
PengDa-PengDa. Dengan makin banyak menyelenggarakan event-event
organisasi maka interaksi silaturahmi (ilmiah maupun sosial) akan terus
menerus terjalin, sehingga perbedaan-perbedaan pendapat (ilmiah maupun
sosial) punya kesempatan lebih luas, mendalam, dan terfokus untuk
dipecahkan..... bukan hanya dengan event dadakan yang kesannya reaktif
terhadap permasalahan sesaat (walalupun actual) saja.
                         
                        Mudah-mudahan sumbangan pemikiran ini dapat
diambil manfaatnya oleh siapapun yang ada di komunitas geosains di
Indonesia, khususnya anggota dan pengurus IAGI kita tercinta ini.
                         
                        Salam
                        Prihatin
                         
                         
                        Andang Bachtiar
                        Mantan Ketua Umum IAGI 2000-2005

Kirim email ke