Supaya lebih fair hasil kesimpulannya, saya kira akan lebih baik kalau
penyelenggara workshop "mengundang & mendengarkan" semua pendapat dari para
ahli, baik pendapat yang berseberangan maupun yang "sama bahasa".

Soalnya paling tidak kalau diperhatikan sejak awal memang penyelanggara
kelihatannya "enggan" kalau tidak boleh dibilang "tidak mau mendengarkan"
pendapat yang kira2 akan berseberangan dengan hasil kesimpulan yang "sudah
dipersiapkan sebelumnya".

Dengan dalih ybs sudah pernah diundang & berbicara/presentasi dalam seminar2
sebelumnya (maka undangannyapun diberi catatan "hanya sebagai pendengar
saja"), ataupun ybs tidak pernah ikut dalam penelitian langsung ke lokasi
biarpun sudah pernah melakukan study analisa mengenai LUSI, atau apalah
alasannya, tapi yang jelas itu hanya alasan yang dibuat oleh penyelanggara
saja.

Tidak usah mengelak , hal ini bisa & mudah sekali "dibaca", baik oleh
peserta workshop maupun yang tidak mengikutinya, paling tidak seperti saya
ini, yang ikut prihatin karena adanya kesimpulan workshop yang kelihatan
"bias" secara ilmiah.

Dan sebetulnya hal itulah yang menjadikan "uneg2" pak Koesoema, sehingga
beliau akhirnya memutuskan untuk menulis SURAT TERBUKA yang akhirnya
menimbulkan topic "perseteruan antar para ahli" di media massa.

Mohon maaf bagi yang kurang berkenan, sebagai salah satu warga geologiawan
Indonesia yang ikut prihatin dengan kejadian LUSI dengan tanpa solusi yang
memadai dari yang berwenang, saya hanya berusaha "meluruskan" yang bengkok
saja tidak ada maksud lain.

Mungkin juga gempa Yogya bisa ikut andil atau kombinasi dengan problem
drilling di sumur BJP-1 dalam hal penyebab awal terjadinya LUSI, tapi kalau
ada, itupun presentasinya sangat kecil sekali, dan sebagai pemicu
utama adalah karena adanya problem drilling di sumur BJP-1 tsb (dimana
problemnya tidak bisa segera diatasi karena adanya interval "open hole" yang
terlalu panjang yang reskan sekali didalam pemboran sumur yang menembus
formasi bertekanan tinggi/"over pressure zones").

Itupun hanya sebagai pemicu awal, sebab selanjutnya yang terjadi adalah
karena memang mud-volcano tsb bertekanan & bersuhu tinggi & "unconsolidated"
, maka sifatnya sangat tidak stabil & selalu ingin "expand" dengan mencari
zona2 lemah untuk keluar dari dalam perut bumi. Akibatnya bermunculanlah
titik2 semburan lumpur tsb disekitar lokasi sumur (karena sumurnya sendiri
saat itu sudah diisi lumpur bor yang "berat" untuk melawan tekanan formasi &
di "plug" atau ditutup semen).

Semburan2 lumpur tsb lama kelamaan menjadi besar & berkembang sebagai
bencana alam.  Yang dalam hal ini sebetulnya sudah layak dinyatakan sebagai
"bencana alam nasional" karena skala & dampaknya yang cukup
besar mempengaruhi kebutuhan hajat hidup orang banyak.


Wassalam,
nyoto







On 3/15/07, Achmad Luthfi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

Pak Koesoema yg sangat saya hormati, maaf kalau saya merespon surat
Bapak sepotong-sepotong, saat ini pk. 20.50 menjelang pulang kantor baru
sempat tulis imil.

Contoh lumpur yang diambil oleh tim IAGI dianalisa di lab. Universitas
di Jepang tanpa biaya, hal ini atas dasar hubungan baik DR. Edy Sunardi
dengan guru besarnya di Jepang (Kang Edy memperoleh PHD di Jepang),
disamping itu para ahli dari jepang sangat sering mengunjungi Indonesia.
Prof James Mori, DR. Yasuyuki Kano, DR. Wataru Tanikawa dan Prof
Toshihiko Shimamoto datang ke Indonesia bekerjasama dengan ITB (geologi)
akhir Desember 2006 selama 2 minggu antara lain melakukan beberapa
penelitian antara lain microseismic, GPS monitoring, dan juga sampling
mud serta air untuk lab analisis dan modeling, selain ke LULA, mereka
juga melakukan regional reconnaissance termasuk ke Kujung, Mojokerto dan
Tuban. Sedangkan rombongan lainnya (Prof Hisao Kumai dan Hiroyuki
Yamamoto) merupakan bagian join research antara jepang dan P3G dating ke
Indonesia setiap tahun sejak 1976 meneliti stratigrafi kwarter dari
lembah bengawan solo sampai mojokerto.
Untuk pembicara dari Oslo University, DR. Adriano Mazzini dating ke LULA
selama 2 minggu bulan Agustus 2006 melakukan observasi LULA dan
sampling, hasil sampling ini dianalisa di Oslo dan Moskow State
University. Karena itu para ahli dari luar negeri yang diundang mereka
yang pernah dating meneliti langsung ke LULA. Sedangkan Richard Davis
dari Inggris belum pernah dating ke LULA dan belum pernah berkomunikasi
dengan IAGI, karena itu panitia seminar hanya mendiskusikan saja
akhirnya diputuskan untuk tidak mengundang Richard Davis dengan alas an
tersebut.

Dari interpretasi hasil survey seismic dan VLF, kami menjumpai berbagai
patahan yang punya patern seperti mangkok, atas dasar ini kami menilai
potensi terjadinya subsidence sangat besar. Kami putuskan untuk minta
bantuan teman2 geodesi itb untuk melakukan pengukuran didaerah sebaran
LULA dan sekitarnya untuk mengetahui terjadi subsidence atau
tidak/belum. Dari hasil pengukuran GPS diketahui terjadi penurunan 3-26
cm dalam 26 hari sejak semburan LULA. Hal ini kami sampaikan ke tim-nya
Kang Rudy dalam diskusi malam hari di Shangrila Surabaya pada waktu
menentukan lokasi pertama untuk relief well. Perdebatan penentuan lokasi
relief well ini cukup seru, walaupun hasilnya setelah lokasi yang
disiapkan dengan biaya jutaan dolar AS tenggelam oleh LULA sembelum
sempat dimanfaatkan.


...............................TOETOEGE (Bersambung)..........

-----Original Message-----
From: R.P. Koesoemadinata [mailto:[EMAIL PROTECTED]
Sent: 25 Februari 2007 13:41
To: [email protected]
Subject: [iagi-net-l] Surat Terbuka Kepada Ketua Umum IAGI-(2)

SURAT TERBUKA KEPADA KETUA UMUM IAGI (2)



Di lain pihak yang sangat menarik adalah  telah terungkapnya pula data
pemboran yang pada waktu sebelumnya (terutama pada permulaan erupsi
Lusi)
tidak pernah muncul pada laporan pemboran, yaitu yaitu bahwa 10 menit
setelah terjadinya gempa di Jogya, terjadi 'partial loss' dari lumpur
pemboran yang teramati pada mud pit. Hal yang sama diungkapkan pula oleh
Dr.
Doddy Nawangsidi, tetapi waktunya adalah 70 menit sesudah gempa (mungkin
Pak
Doddy ini keliru membaca 1 sebagai 7). Ini data yang sangat menarik
karena
sebelum data ini belum pernah dilaporkan dan menunggu 7 bulan untuk
terungkap. Di lain pihak Dr. Nawangsidi ini menunjukkan secara
kwantitafi
dengan menggunakan rumus reservoir (Darcy) dengan parameter2 yang
diasumsikan bagaimana tidak mungkinnya  laju (rate of production) jumlah
air
sebegitu besar (100 sampai 160 juta meter kubik per hari?) dari satu
lubang
sumur yang menembus Kujung hanya 15 kaki saja.. Analisa ini tentu
merupakan
pukulan, paling tidak renungan, bagi mereka yang  berpendapat  bahwa
gunung
api lumpur ini bersumber dari air bertekanan tinggi dari reservoir
terumbu
Kujung yang telah ditembus sumur BP-1, walaupun tentu orang dapat
mempertanyakan data serta parameter yang diasumsikannya, serta adanya
tambahan sumber air panas lainnya yang ikut terpicu dengan underground
blow-out dari Kujung ini.

Mengenai stratigrafi lubang bor Dr. Adi Kadar dkk mengakui telah
mereview
serta menganalisa ulang data biostratigrafi dan disimpulkan bahwa
seluruh
lapisan batuan yang ditembus Banjar Panji hanyalah berumur Pleistocene
yang
menimbulkan kesan bahwa Formasi Kujung tidak tersentuh oleh sumur bor
ini.
Juga telah ditekankan keberadaan diapirism dalam selang overpressured
shale,
yang banyak menganggap sebagai sumber lumpur.

Mengenai sumber air ini masih juga ada yang berpendapat bahwa lumpur ini
berasal dari overpressured shale yang diyakini semua orang keberadaannya
jauh di atas formasi Kujung, namun berdasarkan analisa penampang seismic
dibantah oleh Dr. Alam sebagai mud diapir. Dr. Adriano Mazzini  dari
Oslo
University masih berpandangan bahwa sumber lumpur ini adalah dari
overpressured shale ini, tetapi ketika ditanyakan oleh Richard Davies
bagaimana begitu banyak air dapat dihasilkan dari overpressured shale
ini,
mengingat shale adalah impermeable, yang bersangkutan menghindar untuk
menjawabnya dengan dalih pertanyaannya tidak jelas. Namun suatu hal
penting
yang dikemukakannya adalah bahwa cekungan Jawa Timur adalah matang
(ripe)
atau rawan terjadinya gunung api lumpur dibuktikan dengan adanya
overpressured shales dan banyaknya gunung api lumpur, tanpa pemboran
(atau
gempa) pun gunungapi lumpur dapat terjadi sewaktu-waktu. Mengenai
kayanya
cekungan Jawa Timur Utara juga telah dibahas oleh Dr. Djajang  Sukarna,
Kepala Badan Geologi, dalam keynote speech nya

Yang menarik adalah makalah dari Dr. Gregorii Akhmanov dari Moscow
University yang membahas mud volcanism di Elean Basins yang,  dengan
tidak
mengenyampingkan jenis gunungapi lumpur di daerah lain seperti shale
diapirism,  menyatakan bahwa pembentukan mudvolcano di Elean basins
adalah
oleh hydro-fracturing. Hydro-fracturing adalah proses terjadinya LUSI
yang
dianut oleh mereka yang meyakini bahwa bahwa air dari Fm Kujung sebagai
penyebab semburan lumpur LUSI. Saya catat bahwa tidak ada makalah yang
membahas berbagai jenis atau klasifikasi mudvolcano, sedangkan menurut
hemat
saya gunungapi lumpur itu ada berbagai jenis dengan yang disebabkan
shale
diapirism di satu ujung (end member), biasanya merupakan lumpur kental
dan
membentuk keruncut yang terjal, dan jenis mud spring di ujung lain, yang
sangat encer (kadar air yang sangat tinggi) dan nyaris tidak membentuk
kerucut atau kerucut yang sangat landai. Saya menganggap LUSI ini lebih
sebagai jenis mud spring.



Walaupun makalah-makalah pada umumnya membahas asal gunungapi lumpur
disebabkan air yang bertekanan tinggi, yang boleh jadi disebabkan gempa,
namun  gunungapi Lusi disimpulkan selain terjadi secara alamiah juga
disebabklan karena rekahan dan aktivitas tektonik yang diakibatkan oleh
gempa bumi Jogya. Namun anehnya pada seluruh persidangan ini tidak
satupun
ada makalah yang membahas tektonik serta sistim sesar dari daerah
Sidoarjo,
bahkan peta geologi yang menunjukkan patahanpun nyaris tidak ada kecuali
peta sesar Watukosek dengan satu garis saja yang menghubungkan Watukosek
dengan Lusi dan G. Anyar dengan arah NNE-SSW.dan sesar-sesar amblasan
yang
berarahkan WSW-ENE yang menghubungkan semburan-semburan lumpur yang
sekarang
sudah tidak aktif lagi.  Apa lagi pembahasan bagaimana  mekanisme gempa
bumi
Jogya  dapat  mengakibatkan sesar (rekahan) itu sama sekali tidak ada.
Inilah yang dikeluhkan Dr. Benyamin Sapiie dari ITB pada komentar yang
diberikannya sesaat sebelum rumusan akhir dari hasil workshop ini
dibacakan.
Beliau menyatakan betapa pentingnya kita menganalisa tegangan-tegangan
tektonik yang aktif di daerah Sidoarjo ini untuk menentukan critical
stresses yang didapatkan, namun pembahasan ini tidak ada sama sekali.



Sdr. Ketua yang terhormat.

Saya sangat prihatin dengan hasil dari workshop yang disebutkan sebagai
bertaraf internasional ini. Rumusan yang diberikan banyak tidak relevant
dengan apa yang dibahas, bahkan cenderung bertolak belakang. Ini sangat
menyedihkan, orang awampun akan bertanya-tanya apakah kesimpulan dari
workshop ini sudah ditentukan sebelumnya demi kepentingan nasional?
Komentar
di masyarakat ilmiah di luar negeri pun sudah bermunculan.

Sampai di mana kebenaran pengamatan dan pendengaran  saya ini selama
mengikuti persidangan  tentu akan ada  yang meragukannya mengingat usia
saya
yang sudah lanjut  ini. Untuk itu saya sudah meminta pada panitya supaya
bisa mendapatkan Power Point files dari presentasi masing-masing
pembicara
itu. Namun sayangnya panitiya hanya akan memberikannya sesudah dilakukan
peng-edit-tan terlebih dulu (mengingat adanya data-data yang dianggap
confidential oleh BP Migas).



Satu hal yang menarik adalah Workshop ini tidak memberikan rekomendasi
mengenai langkah-langkah apa yang harus dilakukan untuk menanggulangi
masalah ini, atau kapan . Padahal inilah yang ditunggu-tunggu oleh
masyarakat. Masyarakat tidak terlalu peduli mengenai apa penyebab
gunungapi
lumpur ini, walaupun mereka cenderung untuk menyalahkan pemboran. Yang
berkepentingan dalam apa penyebab dari gejala ini adalah dalam masalah
soal
siapa yang harus menanggung biaya penanggulangan bencana ini. Masyarakat
hanya ingin mendengar bagaimana  bencana lumpur ini dapat dihentikan.
Tentu
saja kita bisa berdalih bahwa untuk dapat menghentikan semburan lumpur
itu
kita harus tahu penyebabnya. Kalau panitya workshop ini berkeyakinan
bahwa
hasil workshop ini adalah LUSI murni gejala alam dan tidak dapat
dihentikan
dan tidak dapat diprediksikan kapan akan berhentiknya, maka satu-satunya
rekomendasi yang bisa diberikan adalah mengevakuasi (mengosongkan)
daerah
yang dipengaruhi LUSI, khususnya daerah yang bakal amblas, membangun
tanggul
sekitarnya serta mengalirkan airnya dengan saluran bertanggul ke laut,
sedangkan lumpur padatnya secara alamiah dapat ditinggalkan di daerah
amblasan, bahkan mudah-mudahan dapat mengkompensasi amblasannya sendiri.
Saya lihat ada lebih dari 1 makalah (a.l. dari Dr. Ir. Prihadi
Sumintapura
dari ITB) para pakar kita  telah mampu melakukan deliniasinya. Saya
sadar
bahwa pernyataan demikian mungkin mempunyai dampak yang luas bagi
masyarakat, tetapi saya kira itu satu-satunya rekomendasi yang dapat
diberikan kalau panitia perumus menganggap penyebab ini gejala alam yang
tidak dapat dihentikan atau tidak dapat diprediksi kapan berhentinya..
(bersambung)





------------------------------------------------------------------------
----
Hot News!!!
CALL FOR PAPERS: send your abstract by 30 March 2007 to
[EMAIL PROTECTED]
Joint Convention Bali 2007 - The 32nd HAGI & the 36th IAGI Annual
Convention and Exhibition,
Patra Bali, 19 - 22 November 2007
------------------------------------------------------------------------
----
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------



----------------------------------------------------------------------------
Hot News!!!
CALL FOR PAPERS: send your abstract by 30 March 2007 to
[EMAIL PROTECTED]
Joint Convention Bali 2007 - The 32nd HAGI, the 36th IAGI, and the
29th IATMI Annual Convention and Exhibition,
Bali Convention Center, 13-16 November 2007

----------------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------


Kirim email ke