Seandainya ada gempa di Jogja, dan BJP-1 tidak di tajak (tidak di spud) apa tetap akan ada LUSI? Just curious aja..
On 3/16/07, nyoto - ke-el <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Supaya lebih fair hasil kesimpulannya, saya kira akan lebih baik kalau penyelenggara workshop "mengundang & mendengarkan" semua pendapat dari para ahli, baik pendapat yang berseberangan maupun yang "sama bahasa". Soalnya paling tidak kalau diperhatikan sejak awal memang penyelanggara kelihatannya "enggan" kalau tidak boleh dibilang "tidak mau mendengarkan" pendapat yang kira2 akan berseberangan dengan hasil kesimpulan yang "sudah dipersiapkan sebelumnya". Dengan dalih ybs sudah pernah diundang & berbicara/presentasi dalam seminar2 sebelumnya (maka undangannyapun diberi catatan "hanya sebagai pendengar saja"), ataupun ybs tidak pernah ikut dalam penelitian langsung ke lokasi biarpun sudah pernah melakukan study analisa mengenai LUSI, atau apalah alasannya, tapi yang jelas itu hanya alasan yang dibuat oleh penyelanggara saja. Tidak usah mengelak , hal ini bisa & mudah sekali "dibaca", baik oleh peserta workshop maupun yang tidak mengikutinya, paling tidak seperti saya ini, yang ikut prihatin karena adanya kesimpulan workshop yang kelihatan "bias" secara ilmiah. Dan sebetulnya hal itulah yang menjadikan "uneg2" pak Koesoema, sehingga beliau akhirnya memutuskan untuk menulis SURAT TERBUKA yang akhirnya menimbulkan topic "perseteruan antar para ahli" di media massa. Mohon maaf bagi yang kurang berkenan, sebagai salah satu warga geologiawan Indonesia yang ikut prihatin dengan kejadian LUSI dengan tanpa solusi yang memadai dari yang berwenang, saya hanya berusaha "meluruskan" yang bengkok saja tidak ada maksud lain. Mungkin juga gempa Yogya bisa ikut andil atau kombinasi dengan problem drilling di sumur BJP-1 dalam hal penyebab awal terjadinya LUSI, tapi kalau ada, itupun presentasinya sangat kecil sekali, dan sebagai pemicu utama adalah karena adanya problem drilling di sumur BJP-1 tsb (dimana problemnya tidak bisa segera diatasi karena adanya interval "open hole" yang terlalu panjang yang reskan sekali didalam pemboran sumur yang menembus formasi bertekanan tinggi/"over pressure zones"). Itupun hanya sebagai pemicu awal, sebab selanjutnya yang terjadi adalah karena memang mud-volcano tsb bertekanan & bersuhu tinggi & "unconsolidated" , maka sifatnya sangat tidak stabil & selalu ingin "expand" dengan mencari zona2 lemah untuk keluar dari dalam perut bumi. Akibatnya bermunculanlah titik2 semburan lumpur tsb disekitar lokasi sumur (karena sumurnya sendiri saat itu sudah diisi lumpur bor yang "berat" untuk melawan tekanan formasi & di "plug" atau ditutup semen). Semburan2 lumpur tsb lama kelamaan menjadi besar & berkembang sebagai bencana alam. Yang dalam hal ini sebetulnya sudah layak dinyatakan sebagai "bencana alam nasional" karena skala & dampaknya yang cukup besar mempengaruhi kebutuhan hajat hidup orang banyak. Wassalam, nyoto
---------------------------------------------------------------------------- Hot News!!! CALL FOR PAPERS: send your abstract by 30 March 2007 to [EMAIL PROTECTED] Joint Convention Bali 2007 - The 32nd HAGI, the 36th IAGI, and the 29th IATMI Annual Convention and Exhibition, Bali Convention Center, 13-16 November 2007 ---------------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id Visit IAGI Website: http://iagi.or.id Pembayaran iuran anggota ditujukan ke: Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta No. Rek: 123 0085005314 Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Bank BCA KCP. Manara Mulia No. Rekening: 255-1088580 A/n: Shinta Damayanti IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi ---------------------------------------------------------------------

