kang rovicky, aku nggak hafal semuanya, tapi antara lain sbb:
1. pak edy sunardi sbg ketuanya (unpad; juga ketua departemen
pengembangan ilmu dalam pp-iagi);
2. rekan syamsu alam (pertamina, geophysicist);
3. rekan arief budiman (pertamina, operation geologist);
4. rekan sofyan (iagi pengda jatim, ahli geologi teknik / hidrologi).
(cmiiw).

silakan mungkin pak edy sendiri utk melengkapi daftar anak-buah lainnya.

salam,
syaiful

On 3/21/07, Rovicky Dwi Putrohari <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Kalau boleh tahu ... atau siapa saja yang tahu .
Sebenernya yang disebut-sebut tim IAGI itu anggotanya siapa saja sih,
tentunya bukan satu orang ketua tim saja, kan ?
Apa ada yg juga menjadi TIMNAS, dan juga Tim investigasi bentukan MESDM dsb ..

Suwun

RDP

On 3/21/07, Achmad Luthfi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Respon-4 Surat Terbuka Kepada Ketua Umum IAGI:
>
> Setelah libur panjang akhir pekan lalu saya melanjutkan untuk merespon
> surat  Pak Koesoemadinata yang terhormat. Lokasi pertama untuk relief
> well tenggelam sebelum dimanfaatkan karena para insinyur kurang cermat
> menghitung kecepatan naiknya permukaan lumpur panas, bahkan mungkin ada
> kontribusi subsidence. Keesokan hari sdr Abel (konsultan drilling dari
> Kanada untuk killing LULA) mengatakan kepada para wartawan/wait bahwa
> terjadi penurunan 26 cm di lokasi tanpa meng-quote bahwa ini hasil kerja
> tim IAGI. Dari berbagai data yang kami peroleh baik langsung maupun
> tidak langsung, pada bulan Juni/Juli IAGI membuat pernyataan seperti
> yang telah saya sebut dalam respon surat terdahulu. IAGI juga membuat
> simulasi dengan berbagai scenario bila LULA tidak berhasil dimatikan,
> baik hasil simulasi maupun pernyataan tersebut kami sampaikan kepada
> gubernur jatim, seminar di ITS, kepada tim-nya Kang Rudy dan kepada
> Bupati Sidoarjo.  Mereka memang tidak berpikir sejauh apa yang
> dipikirkan oleh teman2 IAGI karena mereka menaruhkan harapannya kepada
> keberhasilan relief well. Atas dasar kontribusi IAGI tersebut dan rapat
> gabungan Bupati Sidoarjo menulis surat kepadamenteri KLH agar diijinkan
> membuang lumpur panas ke laut melalui kali porong tetapi ditolak oleh
> menteri KLH. Atas masukan dari IAGI, Wakil Kepala BPMIGAS (terlibat
> aktif baik dalam tim kang Rudy maupun timnas) menyampaikan presentasi
> dihadapan presiden SBY sewaktu SBY berkunjung ke LULA, salah satu pesan
> dalam presentasi tersebut adalah "pipa pertamina bisa bermasalah dengan
> perkembangan LULA" (akhirnya pipa Pertamina meledak setelah seminggu
> sebelumnya rel KA berkelok seperti ular kalo sedang bergerak
> maju/berjalan). Semua apa yang telah disampaikan oleh IAGI tersebut juga
> kami sampaikan kepada BPMIGAS. Deputi Opersai BPMIGAS akhirnya menulis
> surat kepada Deputi Pengendalian Pencemaran Lingkungkungan MENKLH, untuk
> minta ijin membuang lumpur ke laut melalui kali porong tetapi ditolak
> oleh Deputi dari MENKLH tsb. Upaya untuk memperoleh ijin membuang lumpur
> panas ke laut juga disampaikan oleh Ka. BPMIGAS atas hasil kerja IAGI
> dalam suatu rapat gabungan yang dipimpin oleh wapres RI, tetapi tidak
> diiyakan oleh men KLH. Memang sangat kami sadari tanpa ada solusi
> pembuangan lumpur panas, tidak hanya penduduk setempat yang terancam
> bahaya tetapi juga tim yang melakukan pemboran relief well untuk
> mematikan LULA, akhirnya para pelaku pemboran relief well sempat
> terjebak LULA dan menyatakan SOS sehingga personel dan rig direlease
> moving ketempat yang aman.
>
> Itulah hasil kerja (dgn pendekatan keilmuan) tim IAGI yang disampaikan
> ke berbagai pihak melalui berbagai saluran. Akhirnya IAGI memutuskan
> untuk mengajak BPPT mengadakan seminar, dan dilakukan seminar tahun lalu
> merupakan seminar kedua dalam sekala nasional (bukan seminar tiga yang
> bersekala internasional yang dihebohkan). IAGI sangat peduli kepada
> korban LULA sehingga teman2 di PP IAGI bersama IAGI Pengda Jatim terus
> "berteriak" agar dilakukan pembuangan lumpur ke laut dan evakuasi total.
> Dalam melaksanakan seminar-2 di BPPT juga kami sudah berpikir bahwa LULA
> tidak terlepas dari fenomena geothermal karena itu dalam seminar kedua
> kami mengundang ahli geothermal kawan baik saya Mas Sayogi Sudarman MSC
> (pensiunan Divisi Geothermal Pertamina/waktu itu).
>
>
>
> .................TOETOEGE (BERSAMBUNG/respon surat ini ada beberapa
> seri, saya sengaja menyampaikan milestone sampai terlaksananya seminar-3
> di BPPT yang lalu agar khalayak geologi tahu bahwa itu merupakan suatu
> proses berkelanjutan dari tahun lalu. Seminar satu hanya membahas
> tentang bencana alam gempa/tsunami dan berbagai dampaknya. Setelah saya
> pikir lebih mendalam mungkin seminar ketiga yang mengundang pembicara
> dari manca Negara itu klimaks dari kerja tim IAGI).
>
>
>
> -----Original Message-----
> From: R.P. Koesoemadinata [mailto:[EMAIL PROTECTED]
> Sent: 25 Februari 2007 13:41
> To: [email protected]
> Subject: [iagi-net-l] Surat Terbuka Kepada Ketua Umum IAGI-(2)
>
> SURAT TERBUKA KEPADA KETUA UMUM IAGI (2)
>
>
>
> Di lain pihak yang sangat menarik adalah  telah terungkapnya pula data
> pemboran yang pada waktu sebelumnya (terutama pada permulaan erupsi
> Lusi)
> tidak pernah muncul pada laporan pemboran, yaitu yaitu bahwa 10 menit
> setelah terjadinya gempa di Jogya, terjadi 'partial loss' dari lumpur
> pemboran yang teramati pada mud pit. Hal yang sama diungkapkan pula oleh
> Dr.
> Doddy Nawangsidi, tetapi waktunya adalah 70 menit sesudah gempa (mungkin
> Pak
> Doddy ini keliru membaca 1 sebagai 7). Ini data yang sangat menarik
> karena
> sebelum data ini belum pernah dilaporkan dan menunggu 7 bulan untuk
> terungkap. Di lain pihak Dr. Nawangsidi ini menunjukkan secara
> kwantitafi
> dengan menggunakan rumus reservoir (Darcy) dengan parameter2 yang
> diasumsikan bagaimana tidak mungkinnya  laju (rate of production) jumlah
> air
> sebegitu besar (100 sampai 160 juta meter kubik per hari?) dari satu
> lubang
> sumur yang menembus Kujung hanya 15 kaki saja.. Analisa ini tentu
> merupakan
> pukulan, paling tidak renungan, bagi mereka yang  berpendapat  bahwa
> gunung
> api lumpur ini bersumber dari air bertekanan tinggi dari reservoir
> terumbu
> Kujung yang telah ditembus sumur BP-1, walaupun tentu orang dapat
> mempertanyakan data serta parameter yang diasumsikannya, serta adanya
> tambahan sumber air panas lainnya yang ikut terpicu dengan underground
> blow-out dari Kujung ini.
>
> Mengenai stratigrafi lubang bor Dr. Adi Kadar dkk mengakui telah
> mereview
> serta menganalisa ulang data biostratigrafi dan disimpulkan bahwa
> seluruh
> lapisan batuan yang ditembus Banjar Panji hanyalah berumur Pleistocene
> yang
> menimbulkan kesan bahwa Formasi Kujung tidak tersentuh oleh sumur bor
> ini.
> Juga telah ditekankan keberadaan diapirism dalam selang overpressured
> shale,
> yang banyak menganggap sebagai sumber lumpur.
>
> Mengenai sumber air ini masih juga ada yang berpendapat bahwa lumpur ini
> berasal dari overpressured shale yang diyakini semua orang keberadaannya
> jauh di atas formasi Kujung, namun berdasarkan analisa penampang seismic
> dibantah oleh Dr. Alam sebagai mud diapir. Dr. Adriano Mazzini  dari
> Oslo
> University masih berpandangan bahwa sumber lumpur ini adalah dari
> overpressured shale ini, tetapi ketika ditanyakan oleh Richard Davies
> bagaimana begitu banyak air dapat dihasilkan dari overpressured shale
> ini,
> mengingat shale adalah impermeable, yang bersangkutan menghindar untuk
> menjawabnya dengan dalih pertanyaannya tidak jelas. Namun suatu hal
> penting
> yang dikemukakannya adalah bahwa cekungan Jawa Timur adalah matang
> (ripe)
> atau rawan terjadinya gunung api lumpur dibuktikan dengan adanya
> overpressured shales dan banyaknya gunung api lumpur, tanpa pemboran
> (atau
> gempa) pun gunungapi lumpur dapat terjadi sewaktu-waktu. Mengenai
> kayanya
> cekungan Jawa Timur Utara juga telah dibahas oleh Dr. Djajang  Sukarna,
> Kepala Badan Geologi, dalam keynote speech nya
>
> Yang menarik adalah makalah dari Dr. Gregorii Akhmanov dari Moscow
> University yang membahas mud volcanism di Elean Basins yang,  dengan
> tidak
> mengenyampingkan jenis gunungapi lumpur di daerah lain seperti shale
> diapirism,  menyatakan bahwa pembentukan mudvolcano di Elean basins
> adalah
> oleh hydro-fracturing. Hydro-fracturing adalah proses terjadinya LUSI
> yang
> dianut oleh mereka yang meyakini bahwa bahwa air dari Fm Kujung sebagai
> penyebab semburan lumpur LUSI. Saya catat bahwa tidak ada makalah yang
> membahas berbagai jenis atau klasifikasi mudvolcano, sedangkan menurut
> hemat
> saya gunungapi lumpur itu ada berbagai jenis dengan yang disebabkan
> shale
> diapirism di satu ujung (end member), biasanya merupakan lumpur kental
> dan
> membentuk keruncut yang terjal, dan jenis mud spring di ujung lain, yang
> sangat encer (kadar air yang sangat tinggi) dan nyaris tidak membentuk
> kerucut atau kerucut yang sangat landai. Saya menganggap LUSI ini lebih
> sebagai jenis mud spring.
>
>
>
> Walaupun makalah-makalah pada umumnya membahas asal gunungapi lumpur
> disebabkan air yang bertekanan tinggi, yang boleh jadi disebabkan gempa,
> namun  gunungapi Lusi disimpulkan selain terjadi secara alamiah juga
> disebabklan karena rekahan dan aktivitas tektonik yang diakibatkan oleh
> gempa bumi Jogya. Namun anehnya pada seluruh persidangan ini tidak
> satupun
> ada makalah yang membahas tektonik serta sistim sesar dari daerah
> Sidoarjo,
> bahkan peta geologi yang menunjukkan patahanpun nyaris tidak ada kecuali
> peta sesar Watukosek dengan satu garis saja yang menghubungkan Watukosek
> dengan Lusi dan G. Anyar dengan arah NNE-SSW.dan sesar-sesar amblasan
> yang
> berarahkan WSW-ENE yang menghubungkan semburan-semburan lumpur yang
> sekarang
> sudah tidak aktif lagi.  Apa lagi pembahasan bagaimana  mekanisme gempa
> bumi
> Jogya  dapat  mengakibatkan sesar (rekahan) itu sama sekali tidak ada.
> Inilah yang dikeluhkan Dr. Benyamin Sapiie dari ITB pada komentar yang
> diberikannya sesaat sebelum rumusan akhir dari hasil workshop ini
> dibacakan.
> Beliau menyatakan betapa pentingnya kita menganalisa tegangan-tegangan
> tektonik yang aktif di daerah Sidoarjo ini untuk menentukan critical
> stresses yang didapatkan, namun pembahasan ini tidak ada sama sekali.
>
>
>
> Sdr. Ketua yang terhormat.
>
> Saya sangat prihatin dengan hasil dari workshop yang disebutkan sebagai
> bertaraf internasional ini. Rumusan yang diberikan banyak tidak relevant
> dengan apa yang dibahas, bahkan cenderung bertolak belakang. Ini sangat
> menyedihkan, orang awampun akan bertanya-tanya apakah kesimpulan dari
> workshop ini sudah ditentukan sebelumnya demi kepentingan nasional?
> Komentar
> di masyarakat ilmiah di luar negeri pun sudah bermunculan.
>
> Sampai di mana kebenaran pengamatan dan pendengaran  saya ini selama
> mengikuti persidangan  tentu akan ada  yang meragukannya mengingat usia
> saya
> yang sudah lanjut  ini. Untuk itu saya sudah meminta pada panitya supaya
> bisa mendapatkan Power Point files dari presentasi masing-masing
> pembicara
> itu. Namun sayangnya panitiya hanya akan memberikannya sesudah dilakukan
> peng-edit-tan terlebih dulu (mengingat adanya data-data yang dianggap
> confidential oleh BP Migas).
>
>
>
> Satu hal yang menarik adalah Workshop ini tidak memberikan rekomendasi
> mengenai langkah-langkah apa yang harus dilakukan untuk menanggulangi
> masalah ini, atau kapan . Padahal inilah yang ditunggu-tunggu oleh
> masyarakat. Masyarakat tidak terlalu peduli mengenai apa penyebab
> gunungapi
> lumpur ini, walaupun mereka cenderung untuk menyalahkan pemboran. Yang
> berkepentingan dalam apa penyebab dari gejala ini adalah dalam masalah
> soal
> siapa yang harus menanggung biaya penanggulangan bencana ini. Masyarakat
> hanya ingin mendengar bagaimana  bencana lumpur ini dapat dihentikan.
> Tentu
> saja kita bisa berdalih bahwa untuk dapat menghentikan semburan lumpur
> itu
> kita harus tahu penyebabnya. Kalau panitya workshop ini berkeyakinan
> bahwa
> hasil workshop ini adalah LUSI murni gejala alam dan tidak dapat
> dihentikan
> dan tidak dapat diprediksikan kapan akan berhentiknya, maka satu-satunya
> rekomendasi yang bisa diberikan adalah mengevakuasi (mengosongkan)
> daerah
> yang dipengaruhi LUSI, khususnya daerah yang bakal amblas, membangun
> tanggul
> sekitarnya serta mengalirkan airnya dengan saluran bertanggul ke laut,
> sedangkan lumpur padatnya secara alamiah dapat ditinggalkan di daerah
> amblasan, bahkan mudah-mudahan dapat mengkompensasi amblasannya sendiri.
> Saya lihat ada lebih dari 1 makalah (a.l. dari Dr. Ir. Prihadi
> Sumintapura
> dari ITB) para pakar kita  telah mampu melakukan deliniasinya. Saya
> sadar
> bahwa pernyataan demikian mungkin mempunyai dampak yang luas bagi
> masyarakat, tetapi saya kira itu satu-satunya rekomendasi yang dapat
> diberikan kalau panitia perumus menganggap penyebab ini gejala alam yang
> tidak dapat dihentikan atau tidak dapat diprediksi kapan berhentinya..
> (bersambung)
>

----------------------------------------------------------------------------
Hot News!!!
CALL FOR PAPERS: send your abstract by 30 March 2007 to [EMAIL PROTECTED]
Joint Convention Bali 2007 - The 32nd HAGI, the 36th IAGI, and the
29th IATMI Annual Convention and Exhibition,
Bali Convention Center, 13-16 November 2007
----------------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------




--
Mohammad Syaiful - Explorationist
Mobile: 62-812-9372808
Email: [EMAIL PROTECTED]

Exploration Think Tank Indonesia (ETTI)
Head Office:
Jl. Tebet Barat Dalam III No.2-B Jakarta 12810 Indonesia
Phone: 62-21-8356276 Fax: 62-21-83784140
Email: [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]

----------------------------------------------------------------------------
Hot News!!!
CALL FOR PAPERS: send your abstract by 30 March 2007 to [EMAIL PROTECTED]
Joint Convention Bali 2007 - The 32nd HAGI, the 36th IAGI, and the
29th IATMI Annual Convention and Exhibition,
Bali Convention Center, 13-16 November 2007
----------------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke