"Kasus 2: MW < FP (tekanan lumpur di lubang lebih kecil dari tekanan formasi)
             Maka akan terjadi kick --> close BOP"

- ga selalu Don. kan ada juga under balance drilling.
- MW < FP bisa aja aman, asal mobility sangat kecil less than 1 md/cp
trus open hole nya ga dibiarin kebuka kelamaan. TD lgsg run csg, tanpa
logging (wsg boleh pulang..hehehehehee..). kayaknya MW ini lebih tepat
lagi kalau disebut sebagai ECD.


On 3/22/07, [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

Mas syaiful,
Maaf kalau agak sedikit beda nich mas,
Menurut saya nilai LOT tidak sama dengan Formation pressure (FP).
LOT lebih merefleksikan nilai FG (Fracture gradient).  FG akan semakin besar 
seiring dengan semakin dalam suatu pengeboran.
Hal ini inilah yang menyebabkan kenapa disarankan untuk memasang casing 
terlebih dahulu sebelum menembus zona yang diperkirakan high pressure.
FG ini sangat dipengaruhi oleh overburden dan sedikit sekali pengaruh dari 
jenis lithologynya dan tidak dipengaruhi oleh tekanan formasi.

LOT (leak off test), dilakukan pada saat mulai pengeboran section baru, dibawah 
casing setelah kita mengebor cement.
Fyi, di ENI kita melakukan LOT dua kali setiap section.
Yang pertama, tepat dibawah casing shoe, setelah kita mengebor 15' new 
formation. (umumnya shale lithology)
Yang kedua, setelah kita penetrate first sand layer. Dari pengalaman, nilai LOT 
kedua (sand) lebih kecil dari yang pertama (shale) walaupun tidak significant.

Pre drilling, FG diestimasi dari seismik.  Tetapi untuk actual valuenya, harus 
didapatkan dari LOT (leak of test).
Disinilah arti pentingnya strategi pemasangan casing.
Karena selama drilling, harga LOT HARUS lebih besar dari expectasi formation 
pressure (FP).  Bahkan LOT harus lebih besar dari ECD (equivalent circulating 
density, kalau tidak akan terjadi hilangnya lumpur ke formasi (Loses).

While drilling, nilai FP dapat diestimasi dari resistivity LWD.
Jika dalam pengeboran kita menghadapi situasi dimana FP sudah sama atau lebih 
tinggi dari harga LOT,
maka Kita "HARUS" stop drilling untuk memasang casing terlebih dahulu sebelum 
meneruskannya.

Sedangkan SIDPP dapat mencerminkan FP (formation pressure) bukan tekanan lumpur 
di annulus (lubang bor).
Kalau terjadi kick, pada umumnya BOP akan ditutup kemudian diukur nilai SICP 
dan SIDPP.
Walaupun pada dasarnya SIDPP ini tidak diukur langsung dari formasi dengan alat 
pressure testing (MDT, RDT or RCI).
Tetapi pengukuran ini dpt merefleksikan berapa besaran formation pressure.

Kedua nilai ini (SICP dan SIDPP) digunakan untuk menghitung: 1.  berapa berat "kill 
mud" yang bisa dipakai untuk menghentikan kick dan 2. berapa nilai FP dibawah yang 
menyebabkan kick terjadi.
kita dapat menghitung FP dengan rumus sederhana berdasarkan depth dan besar 
pressure yang tercatat.

Sebagian Kondisi yang umum ditemukan dalam pengeboran,

Kasus 1: MW > FP (tekanan lumpur di lubang lebih besar dari tekanan formasi)
            Maka  tidak terjadi kick --> normal operation.

Kasus 2: MW < FP (tekanan lumpur di lubang lebih kecil dari tekanan formasi)
         Maka akan terjadi kick --> close BOP
Kasus kedua dapat dibagi lagi menjadi 2 kondisi,
        2 a. Jika LOT > FP (Ketahanan batuan lebih besar dari tekanan formasi)
          Kick - Close BOP - pump kill mud --> Well terkendali (Lusi karena 
Gempa)

        2 b. Jika LOT < FP (Ketahanan batuan lebih kecil dari tekanan formasi)
         Kick - Close BOP - Formation terlemah akan pecah --> Underground blow 
out (Lusi di 'trigger' oleh pengeboran)

Yang manakah yang terjadi pada kasus Lusi ?

Mudah2an cukup jelas.

Salam
ROMDONI
Operation Geologist
Eni Indonesia

Phone: 021-52997254
HP: 081381877717
Email: [EMAIL PROTECTED]

----------------------------------------------------------------------------
Hot News!!!
CALL FOR PAPERS: send your abstract by 30 March 2007 to [EMAIL PROTECTED]
Joint Convention Bali 2007 - The 32nd HAGI, the 36th IAGI, and the
29th IATMI Annual Convention and Exhibition,
Bali Convention Center, 13-16 November 2007
----------------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke