Adakah yg tahu tentang sesar Lembang dan potensi reaktivasinya ?

RDP

---------- Forwarded message ----------
From: didiet ardi wibowo <[EMAIL PROTECTED]>
Date: May 24, 2007 9:59 AM
Subject: Bandung Terancam Gempa Dahsyat
To: [EMAIL PROTECTED]

Assalamualaikum wr wb



Pakdhe Rovicky yang baik, saya adalah pembaca setia blog bapak. Saya sangat
terbantu dengan tulisan-tulisan pakdhe di blog tersebut, sekarang saya jadi
lebih melek dalam hal geologi J
Hari ini saya membaca berita dari harian Pikiran Rakyat edisi online [ http
://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2007/052007/24/0101.htm ] tentang ancaman
gempa di Kota Bandung dan sekitarnya. Memang sudah lama saya mendengar
tentang adanya patahan Lembang, cuma sampai sekarang saya belum mengetahui
letak persisnya patahan tersebut. Saya sudah coba bertanya ke teman-temanpun
tidak ada yang bisa menjawabnya.
Barangkali Pakdhe mempunyai informasi patahan Lembang atau mau berkomentar
tentang berita di bawah ini, boleh dong di-*share*.



Atas perhatiannya saya ucapkan terima kasih,

Wassalamualaikum wr wb









Perlu Ada Penelitian Sesar Cimandiri-Lembang
Bandung Terancam Gempa Dahsyat

BANDUNG, (PR).-
Kota Bandung dan sekitarnya terancam diguncang gempa besar berkekuatan 7,5
pada skala Richter (SR). Ancaman ini bisa muncul, jika terjadi pergerakan di
sejumlah lempeng penyusun patahan Cimandiri-Lembang. Jika ini terjadi, gempa
besar tersebut akan mengguncang cekungan Bandung. Selain Kota Bandung,
Cimahi, Padalarang, serta Lembang, gempa juga mengintai sejumlah wilayah di
Sukabumi, termasuk Palabuhanratu.

"Sesar Cimandiri-Lembang masih tergolong aktif. Yang menjadi masalah
terbesar, sesar ini dikelilingi wilayah padat penduduk, seperti Kota Bandung
dan Kota Cimahi," tutur pakar geoteknologi dari Lembaga Ilmu
PengetahuanIndonesia (LIPI), Dr. Danny
Hilman Natawidjaja, usai Seminar Mitigasi Bencana Geologi di Hotel Horison,
Bandung, Rabu (23/5).

Sesar (patahan) yang memanjang dari Palabuhanratu Kab. Sukabumi hingga
Maribaya Lembang itu tersusun oleh lebih dari lima segmen batuan. Salah
satunya, Segmen Maribaya-Cimahi, yang panjangnya mencapai 25 km. MenurutDanny,
jika terjadi secara bersamaan, pergerakan 3-4 segmen saja sudah bisa
menimbulkan gempa dengan kekuatan mencapai 7,5 pada skala Richter.

Berdasarkan penelusuran "PR", gempa berkekuatan 7-7,9 SR dapat mengakibatkan
kerusakan serius pada areal yang cukup luas. Diperkirakan, gempa ini bisa
menghancurkan sebagian besar gedung dan fondasinya. Bahkan, getarannya bisa
menimbulkan retakan tanah di areal yang cukup luas. Kerusakan yang
ditimbulkan bisa disetarakan dengan ledakan 160 juta ton TNT (*
trinitrotoluene*).

Kalaupun yang mengalami pergeseran hanya satu segmen, menurut Danny, gempayang
ditimbulkan bisa mencapai 6 SR. Bahkan, jika Segmen Maribaya-Cimahi yang
bergerak, kekuatan gempa bisa menembus angka 6,9 SR. Gempa ini cukup untuk
menimbulkan retakan tanah dan menghancurkan bangunan dalam radius
lebih dari100 kilometer.

Sayangnya, menurut Danny, hingga saat ini sesar Cimandiri-Lembang belum
mendapat perhatian serius dari pemerintah. Padahal, potensi bencana yang
akan ditimbulkan akibat pergerakan sesar tersebut cukup besar.

"Sejauh ini, pergerakan yang terjadi di sekitar patahan Cimandiri-Lembang
memang masih relatif aman. Bahkan, berdasarkan data 100 tahun terakhir,
belum diketahui adanya pergerakan yang bisa menimbulkan bencana besar,"
tuturnya.

Namun, mengingat padatnya wilayah di sekitar sesar alam itu dan tingginya
potensi gempa yang bisa ditimbulkan, ia menyarankan agar pemerintah segera
melakukan penelitian lanjutan. "Bagaimanapun kita tinggal di areal rawan
gempa. Kapan saja, sesar tersebut bisa mengalami peningkatan aktivitas,"
tuturnya.

Dia menilai, data yang ada saat ini belum mencukupi kebutuhan minimal untuk
digunakan sebagai acuan melakukan tindakan pencegahan maupun langkah
evakuasi. Padahal, selain kecepatan pergeseran, struktur tanah dan batuanyang
ada di sekitar wilayah gempa juga memiliki andil yang besar untuk menentukan
besarnya dampak yang ditimbulkan.

"Suatu gempa dengan kekuatan yang sama dapat menimbulkan efek yag berbeda,
bahkan di dua lokasi yang jaraknya berdekatan sekalipun," tutur Kepala Balai
Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Yogyakarta Dr.
Antonius Ratdomopurbo.

Walaupun sebuah bangunan yang berjarak 10 km dari pusat gempa rusak parah,
menurut dia, tidak tertutup kemungkinan jika bangunan lain yang berjarak 3
km dari pusat gempa hanya mengalami retak ringan. Hal itu dipengaruhi
susunan sedimentasi tanah yang ada di lokasi tersebut.

"Karena itu, untuk melakukan mitigasi bencana perlu dilakukan penelitian
secara menyeluruh, termasuk struktur sedimentasi yang membangun lapisan
tanah di suatu daerah. Dengan demikian, pemerintah bisa dengan efektif
melakukan mitigasi bencana," katanya.

Penelitian menyeluruh di patahan Cimandiri-Lembang, menurut Danny,
diperlukan untuk memprediksi sumber gempa, efek yang ditimbulkan, dan
bagaimana kerusakan yang akan timbul. "Dengan demikian, proses mitigasi
bencana bisa dilakukan dengan efektif dan efisien," kata Danny. (A-150)***



d i d i e t  a r d i  w i b o w o

pt jasuindo informatika pratama

jl keutamaan no 36

jakarta 11140

021.6348612



No virus found in this outgoing message.
Checked by AVG Free Edition.
Version: 7.5.467 / Virus Database: 269.7.6/813 - Release Date: 5/20/2007
7:54 AM


--
http://rovicky.wordpress.com/

Kirim email ke