Memang gelombang pasang berhubungan dengan "tidal gravity" atau pasang surut 
gayaberat yang disebabkan oleh adanya penarikan bulan dan matahari terhadap 
titik di permukaan bumi kita. Besar kecilnya penarikan itu tergantung dari 
jarak antara bulan dan bumi dan jarak antara matahari dan bumi. Jumlah kedua 
penarikan terhadap bumi kita itu adalah "gravity tide" tadi (Melchior, 1983).  
Jarak antara bulan dan bumi jauh lebih dekat dari jarak antara matahari dan 
bumi. Walaupun masa matahari jauh lebih besar dari masa bulan, gravitasi antara 
bulan dan bumi akan jauh lebih besar. Oleh karena itu setiap bulan purnama 
pasang-surut air laut menjadi maksimum, karena posisi bulan paling dekat dengan 
bumi  terutama di daerah ekuator. Perhatikan gelombang air laut dari sekarang 
sampai besuk subuh. Malam nanti adalah bulan purnama. Gravity tide juga 
maksimum waktu itu. Coba yang memiliki alat garvimeter baca meter anda dari 
sekarang setiap 30 menit atau lebih kurang lagi. Pasut gayaberat di Indonesia 
dengan amplitudo "peak to peak" kira-kra 0,6 mGal dalam keadaan normal. Ini 
berarti undulasi bumi ialah kira-kira 5 sampai 6 meter.  Hubungannya dengan 
gelombang besar yang tempo hari menyerang sebagian besar  wilayah kita itu 
bagaimana? Mengapa Malaysia, Filipina dan daerah-daerah Pasifik, seperti 
Tongga, Madagaskar, dsb.  tidak terserang? Bahagian-bahagian negara itu juga 
termasuk daerah ekuator. Ini perlu diteliti lebih lanjut. Teman-teman dari LON, 
BMG bisa menjawab secara kuantitatif? Penjelasan Sdr. Velly Asvaliantina ( 
milist ini tgl.21/5/07) adalah salah satu keterangan. Adakah hubungan antara 
cuaca dan gravitasi? Kalau di magnet kita mngenal adanya badai magnet (magnetic 
storm). Apakah gravity storm ( badai gayaberat) ada?  Memang banyak sekali 
masalah atau fenomena alam ini, ciptaan ALLOH SWT, yang perlu kita telusuri. 
Hanya kita, manusia, yang diberi akal dan pikiran untuk mempelajari dan 
mengerti betul-betul bagaimana bekerjanya bumi kita ini.
Wassalaam,
M. Untung             
  ----- Original Message ----- 
  From: Awang Satyana 
  To: [email protected] ; [EMAIL PROTECTED] 
  Sent: Monday, May 21, 2007 1:16 PM
  Subject: Re: [iagi-net-l] Pasang akibat "astronomical force"


  Kebersamaan gelombang pasang yang melanda Sumatra-Jawa-Nusa Tenggara dan 
terukurnya gempa secara fluktuatif di wilayah Indonesia, dan terjadinya posisi 
segaris antara kedudukan Bumi-Bulan-Matahari bisa saja mengindikasi kemungkinan 
kebenaran hipotesis "vortex tectonics" 

  "Vortex tectonics" (Mandeville, 2001) berteori bahwa gravitasi Bulan dan 
Matahari telah mempengaruhi gerak poros Bumi ketika Bumi berputar. Karena Bumi 
berputar secara miring, maka porosnya pun membuat gerak berputar sedemikian 
rupa sehingga sedikit terhuyung (wobbles). Milutin Milankovich, ahli matematika 
dan meteorologi Serbia telah mengetahui ini dan telah membuat siklus periode 
gerak huyungan Bumi ini pada tahun 1920-an. Kini, gerak terhuyung ini 
diaplikasikan ke fenomena gerak kerak Bumi dan atmosfer di atasnya. 

  Vortex tectonics memperkenalkan 22 grafik/siklus yang memperlihatkan bahwa 
gerak-gerak tektonik utama, termasuk gempa dan volkanisme, juga fenomena cuaca 
macam el nino, la nina, dan pemanasan global berhubungan dengan gerak kerak 
Bumi ketika Bumi melakukan gerakan huyungannya (terkenal sebagai gerak 
Chandler's wobbles). Karena gerakan ini, posisi relatif kerak Bumi akan berubah 
posisi dan orientasi relatif terhadap poros rotasi Bumi. 

  Dalam posisi astronomis segaris antara Bumi-Bulan-Matahari seperti terjadi 
pada 17 Mei 2007 kemarin, jelas gravitasi Bumi mau tak mau akan terganggu, 
kemudian mempengaruhi pola gerak huyungan poros Bumi, yang selanjutnya akan 
berpengaruh ke fenomena gerak material mantel-kerak Bumi-sampai pola golakan 
atmosfer di atasnya.

  Mengapa hanya wilayah tropika yang terlanda ? Sebab, di wilayah tropika Bumi 
menggembung akibat rotasi sentrifugal, dan secara atmosferik di wilayah ini 
jugalah terjadinya pertemuan-pertemuan massa udara (front), gelombang laut, 
bahkan lempeng-lempeng tektonik.

  Beberapa riset vortex tectonics telah menemukan hal2 sebagai berikut : 
terjadi siklus variasi orbital sistem Bumi-Bulan-Matahari sepanjang 14 bulan 
dan 6,5 tahun, sehingga fenomena dinamika Bumi akan mengikuti siklus ini.  (1) 
siklus 14 bulan (gelombang X dan Y dalam vortex tectonics) dan  6.5 tahun ( 
Primary Axis Cycle) akan menginduksi gempa dan aktivitas volkanik; (2) ritme 
aktivitas volkanik di sistem busur langsung mencerminkan tempo primary axis 
cycle; (3) fenomena El Nino (ENSO) sejajar dengan aktivitas volkanik, yaitu 
akibat langsung Primary Axis Cycle sepanjang 6,5 tahun; 4) gerak progresif 
poros rotasi Bumi sejak 1900 nanmpaknya memicu aktivitas gempa dan volkanisme. 

  Begitulah vortex tectonics, yang mencoba menjelaskan hubungan posisi-posisi 
planet, gravitasinya, dan efeknya terhadap fenomena dinamika Bumi secara solid 
earth (mantel-kerak) maupun fluid earth (atmosfer). 

  Jelas ada yang pro dan ada yang kontra, wajar, tetapi begitulah ilmu 
pengetahuan sebab tanpa pro dan kontra ilmu tak akan berkembang.

  salam,
  awang


  Shofiyuddin <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
    Apakah secara regional juga terjadi, misal di Malaysia dan Brunei?
    Kalo tidak, kira kira kenapa? 
    Rasa rasanya kok Indonesia digempur terus terusan sama "bencana alam".. 
dari Tsunami Aceh, Pangandaran, G. Merapi, Gempa Yogya, Banjir di Manggarai, 
Lumpur Sidoarjo, banjir Jakarta, tanah longsor dimana mana, dsb dsb ... 
     
    On 5/21/07, Supardan <[EMAIL PROTECTED]> wrote: 
      Kalau gelombang pasang tersebut diakibatkan oleh gaya-gaya astronomis, 
mengapa kok lokasi terjadinya setempat-setempat ya, mestinya terjadi di 
sepanjang pantai kan?. Lagipula, gelombang pasang ini tidak hanya terjadi di 
pantai selatan (Jawa khususnya), namun juga terjadi di pantura (pantai Kenjeran 
- Surabaya, pantai di kota Semarang dsb).   

      Pada saat awal terjadinya gelombang pasang (di pantai Sumbar/ Padang), 
BMG menjelaskan bahwa fenomena tersebut terjadi akibat gaya astronomis. Namun 
begitu kejadian tersebut juga mengenai daerah-daerah lain (tidak hanya pantai 
selatan/ pantai di tepian Samudera Hindia) saja, penjelasan BMG (Ahmad Zakir) 
kok jadi lain ya. Konon katanya, fenomena tersebut diakibatkan oleh adanya 
akumulasi angin (tekanan?), yang pada akhirnya menimbulkan gelombang (besar?). 
Seperti halnya saya, masyarakat luaspun saya rasa juga bingung atas penjelasan 
BMG tersebut.    

      Yang bener yang mana ya mas Rovicky? Apakah gempa juga memiliki 
kontribusi terhadap kejadian ini? 

      Suwun,
      Pardan - Jatim. 
         




------------------------------------------------------------------------------
  Don't be flakey. Get Yahoo! Mail for Mobile and 
  always stay connected to friends.

Kirim email ke