Saya membuat pemrograman sederhana dengan memakai bahasa QuickBasic untuk
menghitung percepatan pasang surut gayaberat yang disebabkan oleh adanya
penarikan bulan dan matahari terhadap suatu titik di permukaan bumi pada
periode jam, minggu, tahun yang kita tentukan (mulai tahun 1900).

Persamaan yang saya pakai dalam perhitungan ini berdasarkan pada tulisan:

1. "Schureman, P., 'A Manual of the Harmonic Analysis and Prediction of
Tides. U.S. Coast and Geodetic Survey', Spec. Pub. 98, 1924 (revised in 1941
and 1958)"

2. "Longman, I. M., 'Formulas for Computing the Tidal Acceleration Due to
the Moon and the Sun'. J. Geophys. Res., 64, 2351-2355, 1959."

Bilangan gelombang Love saya ambil dari tulisan karya Stacey: "Physics of
the Earth"

Hasil keluarannya berupa grafik yang memperlihatkan siklus pasang-surut
untuk periode dan posisi (garis Bujur/Lintang) yang kita tentukan dan file
dalam format ASCII yang isinya berupa pasangan waktu dan percepatan
pasang-surut (dalam satuan Microgals).

Dari grafik yang dihasilkan memang terlihat adanya siklus pasang-surut yang
teratur terhadap posisi bulan-matahari relatif terhadap lokasi di permukaan
bumi. Namun saya belum memastikan apakah siklus ini mengikuti angka "mistis"
tertentu hehehe.....

Wassalam
YKA



On 5/31/07, Untung M <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

 Memang gelombang pasang berhubungan dengan "tidal gravity" atau pasang
surut gayaberat yang disebabkan oleh adanya penarikan bulan dan matahari
terhadap titik di permukaan bumi kita. Besar kecilnya penarikan itu
tergantung dari jarak antara bulan dan bumi dan jarak antara matahari dan
bumi. Jumlah kedua penarikan terhadap bumi kita itu adalah "gravity tide"
tadi (Melchior, 1983).  Jarak antara bulan dan bumi jauh lebih dekat dari
jarak antara matahari dan bumi. Walaupun masa matahari jauh lebih besar dari
masa bulan, gravitasi antara bulan dan bumi akan jauh lebih besar. Oleh
karena itu setiap bulan purnama pasang-surut air laut menjadi maksimum,
karena posisi bulan paling dekat dengan bumi  terutama di daerah ekuator.
Perhatikan gelombang air laut dari sekarang sampai besuk subuh. Malam nanti
adalah bulan purnama. Gravity tide juga maksimum waktu itu. Coba yang
memiliki alat garvimeter baca meter anda dari sekarang setiap 30 menit atau
lebih kurang lagi. Pasut gayaberat di Indonesia dengan amplitudo "peak to
peak" kira-kra 0,6 mGal dalam keadaan normal. Ini berarti undulasi bumi
ialah kira-kira 5 sampai 6 meter.  Hubungannya dengan gelombang besar yang
tempo hari menyerang sebagian besar  wilayah kita itu bagaimana? Mengapa
Malaysia, Filipina dan daerah-daerah Pasifik, seperti Tongga, Madagaskar,
dsb.  tidak terserang? Bahagian-bahagian negara itu juga termasuk daerah
ekuator. Ini perlu diteliti lebih lanjut. Teman-teman dari LON, BMG bisa
menjawab secara kuantitatif? Penjelasan Sdr. Velly Asvaliantina ( milist ini
tgl.21/5/07) adalah salah satu keterangan. Adakah hubungan antara cuaca
dan gravitasi? Kalau di magnet kita mngenal adanya badai magnet (magnetic
storm). Apakah gravity storm ( badai gayaberat) ada?  Memang banyak sekali
masalah atau fenomena alam ini, ciptaan ALLOH SWT, yang perlu kita telusuri.
Hanya kita, manusia, yang diberi akal dan pikiran untuk mempelajari dan
mengerti betul-betul bagaimana bekerjanya bumi kita ini.
Wassalaam,
M. Untung

----- Original Message -----
*From:* Awang Satyana <[EMAIL PROTECTED]>
*To:* [email protected] ; [EMAIL PROTECTED]
*Sent:* Monday, May 21, 2007 1:16 PM
*Subject:* Re: [iagi-net-l] Pasang akibat "astronomical force"

Kebersamaan gelombang pasang yang melanda Sumatra-Jawa-Nusa Tenggara dan
terukurnya gempa secara fluktuatif di wilayah Indonesia, dan terjadinya
posisi segaris antara kedudukan Bumi-Bulan-Matahari bisa saja mengindikasi
kemungkinan kebenaran hipotesis "vortex tectonics"

 "Vortex tectonics" (Mandeville, 2001) berteori bahwa gravitasi Bulan dan
Matahari telah mempengaruhi gerak poros Bumi ketika Bumi berputar. Karena
Bumi berputar secara miring, maka porosnya pun membuat gerak berputar
sedemikian rupa sehingga sedikit terhuyung (wobbles). Milutin Milankovich,
ahli matematika dan meteorologi Serbia telah mengetahui ini dan telah
membuat siklus periode gerak huyungan Bumi ini pada tahun 1920-an. Kini,
gerak terhuyung ini diaplikasikan ke fenomena gerak kerak Bumi dan atmosfer
di atasnya.

 Vortex tectonics memperkenalkan 22 grafik/siklus yang memperlihatkan
bahwa gerak-gerak tektonik utama, termasuk gempa dan volkanisme, juga
fenomena cuaca macam el nino, la nina, dan pemanasan global berhubungan
dengan gerak kerak Bumi ketika Bumi melakukan gerakan huyungannya (terkenal
sebagai gerak Chandler's wobbles). Karena gerakan ini, posisi relatif kerak
Bumi akan berubah posisi dan orientasi relatif terhadap poros rotasi Bumi.

 Dalam posisi astronomis segaris antara Bumi-Bulan-Matahari seperti
terjadi pada 17 Mei 2007 kemarin, jelas gravitasi Bumi mau tak mau akan
terganggu, kemudian mempengaruhi pola gerak huyungan poros Bumi, yang
selanjutnya akan berpengaruh ke fenomena gerak material mantel-kerak
Bumi-sampai pola golakan atmosfer di atasnya.

 Mengapa hanya wilayah tropika yang terlanda ? Sebab, di wilayah tropika
Bumi menggembung akibat rotasi sentrifugal, dan secara atmosferik di wilayah
ini jugalah terjadinya pertemuan-pertemuan massa udara (front), gelombang
laut, bahkan lempeng-lempeng tektonik.


Beberapa riset vortex tectonics telah menemukan hal2 sebagai berikut :
terjadi siklus variasi orbital sistem Bumi-Bulan-Matahari sepanjang 14 bulan
dan 6,5 tahun, sehingga fenomena dinamika Bumi akan mengikuti siklus
ini.  (1) siklus 14 bulan (gelombang X dan Y dalam vortex tectonics) dan
6.5 tahun ( Primary Axis Cycle) akan menginduksi gempa dan aktivitas
volkanik; (2) ritme aktivitas volkanik di sistem busur langsung mencerminkan
tempo primary axis cycle; (3) fenomena El Nino (ENSO) sejajar dengan
aktivitas volkanik, yaitu akibat langsung Primary Axis Cycle sepanjang 6,5
tahun; 4) gerak progresif poros rotasi Bumi sejak 1900 nanmpaknya memicu
aktivitas gempa dan volkanisme.

Begitulah vortex tectonics, yang mencoba menjelaskan hubungan
posisi-posisi planet, gravitasinya, dan efeknya terhadap fenomena dinamika
Bumi secara solid earth (mantel-kerak) maupun fluid earth (atmosfer).

Jelas ada yang pro dan ada yang kontra, wajar, tetapi begitulah ilmu
pengetahuan sebab tanpa pro dan kontra ilmu tak akan berkembang.

salam,
awang


*Shofiyuddin <[EMAIL PROTECTED]>* wrote:

Apakah secara regional juga terjadi, misal di Malaysia dan Brunei?
Kalo tidak, kira kira kenapa?
Rasa rasanya kok Indonesia digempur terus terusan sama "bencana alam"..
dari Tsunami Aceh, Pangandaran, G. Merapi, Gempa Yogya, Banjir di Manggarai,
Lumpur Sidoarjo, banjir Jakarta, tanah longsor dimana mana, dsb dsb ...

On 5/21/07, Supardan <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Kalau gelombang pasang tersebut diakibatkan oleh gaya-gaya astronomis,
> mengapa kok lokasi terjadinya setempat-setempat ya, mestinya terjadi di
> sepanjang pantai kan?. Lagipula, gelombang pasang ini tidak hanya terjadi di
> pantai selatan (Jawa khususnya), namun juga terjadi di pantura (pantai
> Kenjeran - Surabaya, pantai di kota Semarang dsb).
>
> Pada saat awal terjadinya gelombang pasang (di pantai Sumbar/ Padang),
> BMG menjelaskan bahwa fenomena tersebut terjadi akibat gaya astronomis.
> Namun begitu kejadian tersebut juga mengenai daerah-daerah lain (tidak hanya
> pantai selatan/ pantai di tepian Samudera Hindia) saja, penjelasan BMG
> (Ahmad Zakir) kok jadi lain ya. Konon katanya, fenomena tersebut diakibatkan
> oleh adanya akumulasi angin (tekanan?), yang pada akhirnya menimbulkan
> gelombang (besar?). Seperti halnya saya, masyarakat luaspun saya rasa juga
> bingung atas penjelasan BMG tersebut.
>
> Yang bener yang mana ya mas Rovicky? Apakah gempa juga memiliki
> kontribusi terhadap kejadian ini?
>
> Suwun,
> Pardan - Jatim.
>
>

Kirim email ke