Pak Awang:
Permisi ikut nimbrung. Dari beberapa literatur yang pernah saya baca, ada
(seperti biasanya) pro-kontra mengenai escape atau extrusion tectonic akibat
tubrukan India dan Eurasia ini.
Sedikit menambahkan, beberapa geoscientist yang kontra antara lain Dewey dkk,
1989 dan Houseman & England, 1993. Mereka menolak teori tersebut dengan asumsi
bahwa adanya strike-slip fault dengan displacement yang besar di SE Asia
(misalnya Red River Fault) tidak semata-mata dihasilkan oleh peristiwa
konvergen antara India dan Eurasia. Sebaliknya, mereka beranggapan bahwa
konvergensi tersebut akan dikompensasi oleh terjadinya penebalan kerak dan
tidak akan menyebabkan 'aksi-reaksi' escape tectonic.
Bagaimana pak Awang melihat teori yang kontra ini, terimakasih sebelumnya.
Salam,
Andi
______________________________________________________________________________
-----Original Message-----
From: Awang Harun Satyana [mailto:[EMAIL PROTECTED]
Sent: Monday, June 04, 2007 3:17 PM
To: [email protected]
Subject: RE: [iagi-net-l] "Escape Tectonics" Indonesia
Pak Herman,
Dalam literature, memang ada yang pro dan kontra soal escape tectonics
di Sundaland ini. Chris Morley pun walaupun meragukan escape tectonics, toh dia
justru menggunakan escape tectonics dan roll back mechanism sebagai mekanisme
asal cekungan2 sedimen di Thailand, Malaysia, dan Laos. Bisa dicek di publikasi
ini :
Morley, C.K., 2001, Combined escape tectonics and subduction
rollback-back arc extension : a model for the evolution of Tertiary rift basins
in Thailand, Malaysia and Laos, Journal of the Geological Society London, vol.
158, pp. 461-474.
Dalam makalah saya soal escape tectonics, saya juga sudah menulis
khusus soal pro dan kontra tersebut, yaitu seperti di bawah ini (dikutip dari
Satyana, 2006):
....Challenge to role of India collision in Tertiary evolution of SE
Asia
The absence of elements of transtensional and transpression tectonism
in seismic data of Paleogene of Southeast Asia leads Longley (2002) concluded
that collision of India to Eurasia in Eocene did not control the Paleogene
evolution of Southeast Asia. Seismic study in the offshore Red River Fault area
by Rangin et al. (1995) clearly shows that this fault did not act as a major
strike-slip fault during the Paleogene as the extrusion tectonics model
requires. Extrusion tectonics also fails to explain the origin of the backarc
basins of Sumatra and Java, the origin of the Malay Basin, the oceanic
spreading history of the South China Sea and the collision of rifted blocks
along the margin of Northwest Borneo. Longley (1997, 2002) proposed an
alternative model relating the Paleogene evolution of the region principally to
a regional (Indian, Southern and Pacific Ocean) middle Eocene plate
reorganization caused by the Indian-Eurasian plate collision. Longley (1997)
considered that extrusion tectonics only played a role since 21 Ma (mid-Early
Miocene) as Neogene modifier to the basins formed by the Paleogene events.
However, interpretation of the opening history of the South China Sea
based on ocean floor magnetic anomalies (Taylor and Hayes, 1980, 1983),
reconstructions of South China Sea (Briais et al., 1993), reconstruction of
Southeast Asia (Hall, 1995, 1996; Murphy, 2002b), demonstrated that Red River
and Three Pagoda Faults have moved since Oligocene time. Briais et al. (1993)
suggested about 550 km of movement on the Red River Fault with left-lateral
motion between 32-15 Ma and some dextral movement since the late Miocene. The
movement of these faults has extruded Indochina southeastwards....
Pembukaan SCS (South China Sea) memang sangat penting dalam pembentukan
struktur dan pola sedimentasi di Kalimantan. Berbenturannya massa-massa
kontinen di sebelah tenggara SCS dengan Kalimantan (misalnya Luconia Platform)
terjadi akibat massa-massa tersebut drifted oleh SCS spreading, saat berbentur,
SCS berhenti spreading, lalu Kuching High terangkat akibat benturan tersebut
dan sejak itu progradasi delta di sekeliling Kalimantan terjadi. Memang efek
ini besar, hanya SCS spreading juga akibat escape tectonics.
Salam,
awang
From: [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED]
Sent: Monday, June 04, 2007 2:52 C++
To: [email protected]
Subject: RE: [iagi-net-l] "Escape Tectonics" Indonesia
Pak Awang,
Dari diskusi dengan kawan-kawan yang kerja di onshore Thailand (e.g.
Chris Morley), mereka meragukan teori escape tectonics di Indochina. Mereka
mengatakan memang benar ada sesar besar, tapi dari observasi outcrop dan detail
mapping mereka tidak melihat cukup offset dari Vietnam. Dari penelitian di
Northwest Borneo kita juga melihat kalau Indochina block turun ke tenggara,
tentunya akan mendorong Borneo lebih ke selatan. Tapi data juga tidak atau
tidak cukup menunjukkan adanya offset besar-besaran seperti ini. Kita melihat
justru pembukaan Southchina sea yang memberikan impact besar ke tectonics di NW
Borneo.
Herman
-----Original Message-----
From: Awang Harun Satyana [mailto:[EMAIL PROTECTED]
Sent: 24 May 2007 09:54
To: [email protected]
Subject: RE: [iagi-net-l] "Escape Tectonics" Indonesia
Pak Iwan,
Sebenarnya, konsep escape tectonics tak lepas dari hukum Newton
: aksi-reaksi. Ada aksi benturan yang kompresif maka ada aksi re-aksi
pelepasannya (release) yang sifatnya ekstensi atau strike-slip. Jadi gerak
lepas (escape/ekstrusi) ini untuk mengkompensasi penumpukan massa akibat
benturan.
-Benar Pak Iwan, bahwa arah escape selalu menjauhi pusat2
kompresi, hanya tak mesti tegak lurus terhadap jalur kompresinya, tetapi bisa
sejajar relative terhadap jalur kompresi, - tetapi menjauhi, bisa tegak lurus
relative terhadap jalur kompresi tetapi menjauhi, bisa miring relative terhadap
jalur kompresi tetapi menjauhi. Pengatur utamanya adalah bila ada free oceanic
edge di sekitar wilayah kompresi benturan itu, ke situlah escape tectonics akan
mengarah. Semua escape tectonics yang saya amati di Indonesia selalu bergerak
ke free oceanic edge yang ada pada saat benturan terjadi, baik regional oceanic
face/edge maupun yang local.
-Bila ada ex major mega fault yang sudah ada sebelum escape
terjadi, maka escape tectonics akan lebih memilih zone lemah lama itu dan
membukanya kembali via reaktivasi : kasus-kasus di escape di Sundaland seperti
begitu sebab sebelumnya di Sundaland sudah ada pola akresi basement zaman
Mesozoik yang sebagian suture-nya berupa sesar besar, saat escape terjadi di
post Eocene, sutures2 itu terbuka kembali. Tetapi di Indonesia Timur, hamper
semua escape faults adalah new regional faults.
-kelihatannya berbeda2 ya terima gambarnya, kalau di milis IAGI
di e-mail saya diterima dalam bentuk gambar yang besar dan jelas, kalau
diperlukan nanti bisa saya berikan gambar lebih lengkapnya via japri.
Terima kasih.
Salam,
awang
From: Iwan B [mailto:[EMAIL PROTECTED]
Sent: Thursday, May 24, 2007 8:18 C++
To: [email protected]
Subject: Re: [iagi-net-l] "Escape Tectonics" Indonesia
Pak Awang,
- Sangat menarik sekali penjelasan ttg escape tectonic. Saya
hanya ingin confirm saja apakah pengertian saya sudah benar, apakah benar sesar
mendatar yang terjadi arah gerakannya relatif kebalikan arah kompresi utama
tumbukan? jadi kalau ada tumbukan dengan arah kompresi ke utara, maka jalur
sesar mendatar yang terbentuk akan berarah relatif utara-selatan dengan gerakan
sesar ke arah selatan?
- Sesar2 mendatar utama yang terbentuk apakah terbentuk dari
zona lemah sudah ada lebih dahulu (misalnya ex major mega faults) atau memang
baru terbentuk setelah ada tumbukan?
- bener pak Iman, gambar di attachment kok tidak jelas (hanya
berupa icon kecil).
Terimkasih
Iwan
On 5/23/07, Awang Harun Satyana <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Pak Iman,
Saya pikir, Sesar Sumatra arah 300 deg NE (Pulunggono, 1984)
yang merupakan sesar hasil escape tectonics Eocene oleh berbenturnya India ke
Eurasia. Karena merupakan strike-slip besar yang mempunyai komponen ekstensi,
di samping kompresi, ketika bergerak ia kemudian membuka semua suture di
basement yang terjadi sejak Mesozoikum. Di Sumatra Selatan, pola akresi
basement (suture) itu kebetulan utara-selatan, tetapi agak ke utara menuju
Jambi (middle Palembang sub-basin) arah akresinya BD-TL, sehingga pola retakan
(rifting) yang terjadi juga BD-TL.
Akibat benturan India ke Eurasia, convergence rate turun
drastis pada anomali geo-marin A22 dan A21 (50.3 - 47.8 Ma) dan akibatnya
terjadi re-organisasi Indian Ocean spreading ridge antara 43.9-41.1 Ma
(Packham, 1996). Menurunnya convergence rate dan re-organisasi pergerakan
lempeng, telah mempengaruhi ujung-ujung lempeng Hindia yang kebetulan saat itu
adalah Sumatra dan selatan Thailand dan Burma (Myanmar). Suatu penurunan
kecepatan subduksi akan menyebabkan gerak rollback pada oceanic slab, Benioff
zone akan menjadi curam sekali. Terhadap back-arc basin, ini akan berimplikasi
membuka retakan-retakan yang sudah ada semacam suture lama.
Suatu retakan akibat rollback memang mestinya sejajar dengan
arah subduksi, tetapi saya pikir ini tidak berlaku buat Sumatra sebab di bawah
Sumatra banyak sekali zone lemah akresi basement berupa suture yang akan segera
terbuka kembali oleh pengaktifan gerak rollback, bagaimana pola orientasi
suture-nya sesuai itulah pembukaannya, baik sejajar maupun tidak sejajar dengan
pola subduksi.
Salam,
awang
From: Iman Argakoesoemah [mailto:[EMAIL PROTECTED]
Sent: Wednesday, May 23, 2007 12:05 C++
To: [email protected]
Subject: RE: [iagi-net-l] "Escape Tectonics" Indonesia
Pak Awang,
Menarik penjelasan mengenai escape tectonics. Kalau boleh tahu
lebih jauh, Sesar Sumatra yang mana sebagai hasil escape tectonics di zaman
Eocene ? Apakah sesar2 yang berarah utara-selatan di South Sumatra Basin ?
Note: image001 dan image002 tidak jelas gambarnya.
Thanks. Iman
________________________________
From: Awang Harun Satyana [mailto:[EMAIL PROTECTED]
Sent: Wednesday, May 23, 2007 11:30 AM
To: [email protected]
Subject: [iagi-net-l] "Escape Tectonics" Indonesia
Konsep escape tectonics (extrusion tectonics) yang dikemukakan
oleh Molnar dan Tapponnier (1975), Tapponnier dkk. (1982), dan Burke dan Sengör
(1986) dicoba diterapkan di Indonesia (Satyana, 2006). Escape tectonics adalah
konsep tektonik yang membicarakan terjadinya gerak lateral suatu blok geologi
menjauhi suatu wilayah benturan di benua dan bergerak menuju wilayah bebas di
samudra. Karena itu, peneyebutan konsep tektonik ini lebih sesuai bila disebut
: post-collisional tectonic escape (gerak lateral menjauh pascabenturan).
Eksplorasi hidrokarbon di wilayah Indonesia membantu menunjukkan bukti-bukti
bahwa telah terjadi escape tectonics di Indonesia. Secara singkat bisa
dikatakan, zone benturan dicirikan oleh jalur sesar-lipatan yang ketat,
sementara hasil escape tectonics dicirikan oleh sesar-sesar mendatar regional,
sesar-sesar normal, dan retakan-retakan atau pemekaran kerak Bumi.
Saya mengidentifikasi lima peristiwa benturan di Indonesia yang
membentuk atau mempengaruhi sejarah tektonik Indonesia sepanjang Kenozoikum.
Benturan pertama adalah benturan India ke Eurasia yang terjadi mulai 50 atau 45
Ma (Eosen awal-tengah). Benturan ini telah menghasilkan Jalur Lipatan dan Sesar
Pegunungan Himalaya yang juga merupakan suture Indus. Benturan ini segera
diikuti oleh gerakan lateral Daratan Sunda (Sundaland) ke arah tenggara,
sebagai wujud escape tectonics, diakomodasi dan dimanifestasikan oleh
sesar-sesar mendatar besar di wilayah Indocina dan Daratan Sunda, pembukaan
Laut Cina Selatan, pembentukan cekungan-cekungan sedimen di Malaya, Indocina,
dan Sumatra, dan saat ini oleh pembukaan Laut Andaman. Sesar-sesar ini
terbentuk di atas dan menggiatkan kembali garis-garis suture akresi batuandasar
berumur Mesozoikum di Daratan Sunda. Sesar-sesar besar hasil escape tectonics
ini adalah : Sesar Red River-Sabah, Sesar Tonle-Sap-Mekong (Mae Ping), Sesar
Three Pagoda-Malaya-Natuna-Lupar-Adang, dan Sesar Sumatra.
Gambar 1 Tectonic escape di Indonesia Barat pada 45 Ma
dicirikan oleh benturan India dan Eurasia dan bergeraknya massa daratan Asia
Timur, Indocina dan Indonesia Barat ke arah timur dan tenggara. Sesar-sesar
mendatar besar di Asia (misalnya Altyn Tagh), pembukaan Laut Jepang dan Laut
Cina Selatan adalah juga manifestasi tectonic escape akibat benturan
India-Eurasia (dimodifikasi dari Tapponnier dkk., 1982; Satyana, 2006)
Benturan kedua terjadi pada sekitar 25 Ma (Oligosen akhir)
ketika sebuah busur kepulauan samudra yang terbangun di tepi selatan Lempeng
Laut Filipina berbenturan dengan tepi utara Benua Australia di tengah Papua
sekarang. Benturan ini menghasilkan jalur lipatan dan sesar Pegunungan Tengah
Papua dan segera diikuti oleh escape tectonics berupa sesar-sesar mendatar
besar dan pembentukan cekungan akibat runtuhan (collapse) di depan zone
benturan. Sesar-sesar besar tersebut adalah Sesar Sorong-Yapen (bagian
awalnya), Sesar Waipoga, Sesar Gauttier, dan Sesar Apauwar-Nawa. Pembukaan
daerah cekungan (basinal area) Papua Utara (termasuk di dalamnya Cekungan
Waipoga, Waropen, Biak, Jayapura) dan Cekungan Akimeugah di selatan zone
benturan Pegunungan Tengah Papua, terbentuk akibat runtuhan untuk
mengkompensasi tinggian akibat benturan. Sesar-sesar mendatar yang terbentuk
juga mempengaruhi pembentukan cekungan-cekungan ini.
Benturan ketiga adalah benturan antara mikro-kontinen Kepala
Burung dengan badan Papua pada sekitar 10 Ma (Miosen akhir). Jalur lipatan dan
sesar Lengguru menandai benturan ini. Sesar-sesar mendatar yang menjauh dari
zone benturan ini seperti Tarera-Aiduna, Sorong, Waipoga, dan Ransiki
menunjukkan escape tectonics pascabenturan. Cekungan Bintuni yang terletak di
sebelah barat Jalur Lengguru merupakan foreland basin yang terbentuk sebagai
akibat post-collision extensional structure.
Benturan keempat terjadi dari 11-5 Ma (Miosen akhir-Pliosen
paling awal) ketika mikro-kontinen Buton-Tukang Besi dan Banggai-Sula membentur
ofiolit Sulawesi Timur. Kedua mikro-kontinen ini terlepas dari Kepala Burung
Papua dan bergerak ke barat oleh Sesar Sorong. Benturan ini telah membentuk
jalur lipatan dan sesar Buton di selatan Sulawesi Timur dan Jalur Batui di
daerah benturan Banggai dan Sulawesi Timur. Kedua benturan ini telah diikuti
tectonic escapes pascabenturan dalam bentuk-bentuk rotasi lengan-lengan
Sulawesi, pembentukan sesar-sesar menndatar besar Palu-Koro, Kolaka, Lawanopo,
Hamilton, Matano, dan Balantak, dan pembukaan Teluk Bone. Gerak sesar-sesar
mendatar ini di beberapa tempat telah membuka cekungan-cekungan koyakan
(pull-apart basin) akibat mekanisme trans-tensional seperti danau-danau Poso,
Matano, Towuti juga Depresi Palu.
Benturan terakhir mulai terjadi pada sekitar 3 Ma
(pertengahan-Pliosen) ketika tepi utara Benua Australia berbenturan dengan
busur Kepulauan Banda. Benturan ini telah membentuk jalur lipatan dan sesar
foreland sepanjang Timor, Tanimbar sampai Seram. Di wilaya Seram, jalur ini
juga banyak dipengaruhi oleh benturan busur Seram dengan mikro-kontinen Kepala
Burung. Pembukaan lateral juga terjadi mengikuti benturan busur-benua ini,
pembukaan ini adalah manifestasi tectonic escape. Sesar-sesar mendatar besar
terbentuk hampir sejajar dengan orientasi Pulau Timor. Pengalihan tempat
mikro-kontinen Sumba dan pembentukan serta pembukaan Cekungan Weber, Sawu, dan
Laut Banda dapat berhubungan dengan escape tectonics pascabenturan ini melalui
mekanisme extensional structure atau collapse yang mengikuti arc-continent
collision.
Kasus-kasus di Indonesia ini menunjukkan bahwa tectonic escapes
adalah gejala dan proses yang penting dalam evolusi wilayah konvergen seperti
Indonesia. Konsep escape tectonics memberikan kontribusi penting untuk
pemahaman bagaimana benua terbangun dan terpotong-potong.
...
[Message clipped]