Andi,
Argumen menarik, tetapi tectonic thikenning di Tibet Plateau akibat benturan India-Eurasia itu telah diteliti dan dilakukan pemodelan struktur melalui restored dan balanced cross section. Bukti-bukti geofisika dari pola magnetic stripes di Lautan Hindia, mengindikasi bahwa gerak sub-benua India ke utara relative terhadap Asia telah mengalami perlambatan yang signifikan pada sekitar 50-45 Ma dari 10 cm per tahun menjadi 5 cm per tahun. Perlambatan laju gerak massa sub-benua ini berlanjut sampai sekarang (tentu saja karena India sampai sekarang pun masih membentur Eurasia). Sebagai akibatnya, benturan ini telah melibatkan konvergensi sepanjang 2500 km yang melibatkan berbagai massa kerak (India, Tethys Sea, Eurasia). Pemendekan dan penebalan kerak akibat konvergensi terjadi, itulah yang menghasilkan Pegunungan Himalaya dan Plato Tibet, tempat-tempat tertinggi di permukaan Bumi. Tetapi, penebalan dan pemendekan kerak akibat konvergensi, menurut penelitian deformasi struktur, kehilangan massa sekitar 30 %. Artinya, penebalan kerak di bawah Pegunungan Himalaya dan Plato Tibet itu mestinya 30 % lebih tebal atau 30 % lebih pendek, atau Pegunungan Himalaya itu mestinya tingginya 30 lebih tinggi dari ketinggian sekarang. Kemana larinya "mass defect" itu ? Hukum alam mempostulasikan bahwa massa itu kekal, tak bisa dihilangkan. Kemudian, ke utara dari Plato Tibet, masuk ke daratan besar Cina, banyaklah episentrum gempa terjadi. Lucunya, episentrum gempa2 besar ini tidak terjadi di tepi konvergensi lempeng India-Eurasia, tetapi justru intra-plate epicentrum pada Eurasian Plate. Rupanya, setelah dilakukan pemetaan besar-besaran menggunakan citra satelit pada tahun 1970-an, baru diketahui bahwa episentrum2 gempa besar intra-plate ini terjadi di sepanjang sesar-sesar besar mendatar yang ratusan km panjangnya. Lalu, mengamati bentuk SE Asia "promontory" yang menonjol keluar sendiri kea rah tenggara dari Eurasia, pun menarik. Kembali ke massa 30 % yang hilang akibat benturan India-Eurasia, "berseliwerannya" sesar-sesar mendatar besar di daratan Cina, Indocina, dan Sundaland (Altyn-Tagh; Red-River Fault, Three Pagoda Fault, Wang Chao Fault, Sumatra Fault, dll), dan terjadinya "promontory" SE Asia yang "terekstrusi" ke tenggara dari massa utama Eurasia membuat teori baru : "missing material from India-Asia collision must have been extruded or "escaped" eastwards and southeastward" Jadi Andi, begitulah, argumen tectonic thikenning dari Dewey et al. (1989) dan Houseman dan England (1993) telah dilawan oleh kenyataan bahwa 30 % massa akibat benturan tak terpendekkan atau tak tertebalkan, tetapi "lari" (ekstrusi, escape) secara lateral ke arah timur dan tenggara - inilah escape tectonics. Berapa jauh larinya ? Secara sederhana, mungkin 2500 km konvergensi x 30 % = 750 km.. Salam, awang From: Salahuddin, Andi [mailto:[EMAIL PROTECTED] Sent: Monday, June 04, 2007 4:30 C++ To: Awang Harun Satyana; [email protected] Subject: RE: [iagi-net-l] "Escape Tectonics" Indonesia Pak Awang: Permisi ikut nimbrung. Dari beberapa literatur yang pernah saya baca, ada (seperti biasanya) pro-kontra mengenai escape atau extrusion tectonic akibat tubrukan India dan Eurasia ini. Sedikit menambahkan, beberapa geoscientist yang kontra antara lain Dewey dkk, 1989 dan Houseman & England, 1993. Mereka menolak teori tersebut dengan asumsi bahwa adanya strike-slip fault dengan displacement yang besar di SE Asia (misalnya Red River Fault) tidak semata-mata dihasilkan oleh peristiwa konvergen antara India dan Eurasia. Sebaliknya, mereka beranggapan bahwa konvergensi tersebut akan dikompensasi oleh terjadinya penebalan kerak dan tidak akan menyebabkan 'aksi-reaksi' escape tectonic. Bagaimana pak Awang melihat teori yang kontra ini, terimakasih sebelumnya. Salam, Andi ______________________________________________________________________________ -----Original Message----- From: Awang Harun Satyana [mailto:[EMAIL PROTECTED] Sent: Monday, June 04, 2007 3:17 PM To: [email protected] Subject: RE: [iagi-net-l] "Escape Tectonics" Indonesia Pak Herman, Dalam literature, memang ada yang pro dan kontra soal escape tectonics di Sundaland ini. Chris Morley pun walaupun meragukan escape tectonics, toh dia justru menggunakan escape tectonics dan roll back mechanism sebagai mekanisme asal cekungan2 sedimen di Thailand, Malaysia, dan Laos. Bisa dicek di publikasi ini : Morley, C.K., 2001, Combined escape tectonics and subduction rollback-back arc extension : a model for the evolution of Tertiary rift basins in Thailand, Malaysia and Laos, Journal of the Geological Society London, vol. 158, pp. 461-474. Dalam makalah saya soal escape tectonics, saya juga sudah menulis khusus soal pro dan kontra tersebut, yaitu seperti di bawah ini (dikutip dari Satyana, 2006): ....Challenge to role of India collision in Tertiary evolution of SE Asia The absence of elements of transtensional and transpression tectonism in seismic data of Paleogene of Southeast Asia leads Longley (2002) concluded that collision of India to Eurasia in Eocene did not control the Paleogene evolution of Southeast Asia. Seismic study in the offshore Red River Fault area by Rangin et al. (1995) clearly shows that this fault did not act as a major strike-slip fault during the Paleogene as the extrusion tectonics model requires. Extrusion tectonics also fails to explain the origin of the backarc basins of Sumatra and Java, the origin of the Malay Basin, the oceanic spreading history of the South China Sea and the collision of rifted blocks along the margin of Northwest Borneo. Longley (1997, 2002) proposed an alternative model relating the Paleogene evolution of the region principally to a regional (Indian, Southern and Pacific Ocean) middle Eocene plate reorganization caused by the Indian-Eurasian plate collision. Longley (1997) considered that extrusion tectonics only played a role since 21 Ma (mid-Early Miocene) as Neogene modifier to the basins formed by the Paleogene events. However, interpretation of the opening history of the South China Sea based on ocean floor magnetic anomalies (Taylor and Hayes, 1980, 1983), reconstructions of South China Sea (Briais et al., 1993), reconstruction of Southeast Asia (Hall, 1995, 1996; Murphy, 2002b), demonstrated that Red River and Three Pagoda Faults have moved since Oligocene time. Briais et al. (1993) suggested about 550 km of movement on the Red River Fault with left-lateral motion between 32-15 Ma and some dextral movement since the late Miocene. The movement of these faults has extruded Indochina southeastwards.... Pembukaan SCS (South China Sea) memang sangat penting dalam pembentukan struktur dan pola sedimentasi di Kalimantan. Berbenturannya massa-massa kontinen di sebelah tenggara SCS dengan Kalimantan (misalnya Luconia Platform) terjadi akibat massa-massa tersebut drifted oleh SCS spreading, saat berbentur, SCS berhenti spreading, lalu Kuching High terangkat akibat benturan tersebut dan sejak itu progradasi delta di sekeliling Kalimantan terjadi. Memang efek ini besar, hanya SCS spreading juga akibat escape tectonics. Salam, awang From: [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED] Sent: Monday, June 04, 2007 2:52 C++ To: [email protected] Subject: RE: [iagi-net-l] "Escape Tectonics" Indonesia Pak Awang, Dari diskusi dengan kawan-kawan yang kerja di onshore Thailand (e.g. Chris Morley), mereka meragukan teori escape tectonics di Indochina. Mereka mengatakan memang benar ada sesar besar, tapi dari observasi outcrop dan detail mapping mereka tidak melihat cukup offset dari Vietnam. Dari penelitian di Northwest Borneo kita juga melihat kalau Indochina block turun ke tenggara, tentunya akan mendorong Borneo lebih ke selatan. Tapi data juga tidak atau tidak cukup menunjukkan adanya offset besar-besaran seperti ini. Kita melihat justru pembukaan Southchina sea yang memberikan impact besar ke tectonics di NW Borneo. Herman -----Original Message----- From: Awang Harun Satyana [mailto:[EMAIL PROTECTED] Sent: 24 May 2007 09:54 To: [email protected] Subject: RE: [iagi-net-l] "Escape Tectonics" Indonesia Pak Iwan, Sebenarnya, konsep escape tectonics tak lepas dari hukum Newton : aksi-reaksi. Ada aksi benturan yang kompresif maka ada aksi re-aksi pelepasannya (release) yang sifatnya ekstensi atau strike-slip. Jadi gerak lepas (escape/ekstrusi) ini untuk mengkompensasi penumpukan massa akibat benturan. -Benar Pak Iwan, bahwa arah escape selalu menjauhi pusat2 kompresi, hanya tak mesti tegak lurus terhadap jalur kompresinya, tetapi bisa sejajar relative terhadap jalur kompresi, - tetapi menjauhi, bisa tegak lurus relative terhadap jalur kompresi tetapi menjauhi, bisa miring relative terhadap jalur kompresi tetapi menjauhi. Pengatur utamanya adalah bila ada free oceanic edge di sekitar wilayah kompresi benturan itu, ke situlah escape tectonics akan mengarah. Semua escape tectonics yang saya amati di Indonesia selalu bergerak ke free oceanic edge yang ada pada saat benturan terjadi, baik regional oceanic face/edge maupun yang local. -Bila ada ex major mega fault yang sudah ada sebelum escape terjadi, maka escape tectonics akan lebih memilih zone lemah lama itu dan membukanya kembali via reaktivasi : kasus-kasus di escape di Sundaland seperti begitu sebab sebelumnya di Sundaland sudah ada pola akresi basement zaman Mesozoik yang sebagian suture-nya berupa sesar besar, saat escape terjadi di post Eocene, sutures2 itu terbuka kembali. Tetapi di Indonesia Timur, hamper semua escape faults adalah new regional faults. -kelihatannya berbeda2 ya terima gambarnya, kalau di milis IAGI di e-mail saya diterima dalam bentuk gambar yang besar dan jelas, kalau diperlukan nanti bisa saya berikan gambar lebih lengkapnya via japri. Terima kasih. Salam, awang From: Iwan B [mailto:[EMAIL PROTECTED] Sent: Thursday, May 24, 2007 8:18 C++ To: [email protected] Subject: Re: [iagi-net-l] "Escape Tectonics" Indonesia Pak Awang, - Sangat menarik sekali penjelasan ttg escape tectonic. Saya hanya ingin confirm saja apakah pengertian saya sudah benar, apakah benar sesar mendatar yang terjadi arah gerakannya relatif kebalikan arah kompresi utama tumbukan? jadi kalau ada tumbukan dengan arah kompresi ke utara, maka jalur sesar mendatar yang terbentuk akan berarah relatif utara-selatan dengan gerakan sesar ke arah selatan? - Sesar2 mendatar utama yang terbentuk apakah terbentuk dari zona lemah sudah ada lebih dahulu (misalnya ex major mega faults) atau memang baru terbentuk setelah ada tumbukan? - bener pak Iman, gambar di attachment kok tidak jelas (hanya berupa icon kecil). Terimkasih Iwan On 5/23/07, Awang Harun Satyana <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Pak Iman, Saya pikir, Sesar Sumatra arah 300 deg NE (Pulunggono, 1984) yang merupakan sesar hasil escape tectonics Eocene oleh berbenturnya India ke Eurasia. Karena merupakan strike-slip besar yang mempunyai komponen ekstensi, di samping kompresi, ketika bergerak ia kemudian membuka semua suture di basement yang terjadi sejak Mesozoikum. Di Sumatra Selatan, pola akresi basement (suture) itu kebetulan utara-selatan, tetapi agak ke utara menuju Jambi (middle Palembang sub-basin) arah akresinya BD-TL, sehingga pola retakan (rifting) yang terjadi juga BD-TL. Akibat benturan India ke Eurasia, convergence rate turun drastis pada anomali geo-marin A22 dan A21 (50.3 - 47.8 Ma) dan akibatnya terjadi re-organisasi Indian Ocean spreading ridge antara 43.9-41.1 Ma (Packham, 1996). Menurunnya convergence rate dan re-organisasi pergerakan lempeng, telah mempengaruhi ujung-ujung lempeng Hindia yang kebetulan saat itu adalah Sumatra dan selatan Thailand dan Burma (Myanmar). Suatu penurunan kecepatan subduksi akan menyebabkan gerak rollback pada oceanic slab, Benioff zone akan menjadi curam sekali. Terhadap back-arc basin, ini akan berimplikasi membuka retakan-retakan yang sudah ada semacam suture lama. Suatu retakan akibat rollback memang mestinya sejajar dengan arah subduksi, tetapi saya pikir ini tidak berlaku buat Sumatra sebab di bawah Sumatra banyak sekali zone lemah akresi basement berupa suture yang akan segera terbuka kembali oleh pengaktifan gerak rollback, bagaimana pola orientasi suture-nya sesuai itulah pembukaannya, baik sejajar maupun tidak sejajar dengan pola subduksi. Salam, awang From: Iman Argakoesoemah [mailto:[EMAIL PROTECTED] Sent: Wednesday, May 23, 2007 12:05 C++ To: [email protected] Subject: RE: [iagi-net-l] "Escape Tectonics" Indonesia Pak Awang, Menarik penjelasan mengenai escape tectonics. Kalau boleh tahu lebih jauh, Sesar Sumatra yang mana sebagai hasil escape tectonics di zaman Eocene ? Apakah sesar2 yang berarah utara-selatan di South Sumatra Basin ? Note: image001 dan image002 tidak jelas gambarnya. Thanks. Iman _____ From: Awang Harun Satyana [mailto:[EMAIL PROTECTED] Sent: Wednesday, May 23, 2007 11:30 AM To: [email protected] Subject: [iagi-net-l] "Escape Tectonics" Indonesia Konsep escape tectonics (extrusion tectonics) yang dikemukakan oleh Molnar dan Tapponnier (1975), Tapponnier dkk. (1982), dan Burke dan Sengör (1986) dicoba diterapkan di Indonesia (Satyana, 2006). Escape tectonics adalah konsep tektonik yang membicarakan terjadinya gerak lateral suatu blok geologi menjauhi suatu wilayah benturan di benua dan bergerak menuju wilayah bebas di samudra. Karena itu, peneyebutan konsep tektonik ini lebih sesuai bila disebut : post-collisional tectonic escape (gerak lateral menjauh pascabenturan). Eksplorasi hidrokarbon di wilayah Indonesia membantu menunjukkan bukti-bukti bahwa telah terjadi escape tectonics di Indonesia. Secara singkat bisa dikatakan, zone benturan dicirikan oleh jalur sesar-lipatan yang ketat, sementara hasil escape tectonics dicirikan oleh sesar-sesar mendatar regional, sesar-sesar normal, dan retakan-retakan atau pemekaran kerak Bumi. Saya mengidentifikasi lima peristiwa benturan di Indonesia yang membentuk atau mempengaruhi sejarah tektonik Indonesia sepanjang Kenozoikum. Benturan pertama adalah benturan India ke Eurasia yang terjadi mulai 50 atau 45 Ma (Eosen awal-tengah). Benturan ini telah menghasilkan Jalur Lipatan dan Sesar Pegunungan Himalaya yang juga merupakan suture Indus. Benturan ini segera diikuti oleh gerakan lateral Daratan Sunda (Sundaland) ke arah tenggara, sebagai wujud escape tectonics, diakomodasi dan dimanifestasikan oleh sesar-sesar mendatar besar di wilayah Indocina dan Daratan Sunda, pembukaan Laut Cina Selatan, pembentukan cekungan-cekungan sedimen di Malaya, Indocina, dan Sumatra, dan saat ini oleh pembukaan Laut Andaman. Sesar-sesar ini terbentuk di atas dan menggiatkan kembali garis-garis suture akresi batuandasar berumur Mesozoikum di Daratan Sunda. Sesar-sesar besar hasil escape tectonics ini adalah : Sesar Red River-Sabah, Sesar Tonle-Sap-Mekong (Mae Ping), Sesar Three Pagoda-Malaya-Natuna-Lupar-Adang, dan Sesar Sumatra. Gambar 1 Tectonic escape di Indonesia Barat pada 45 Ma dicirikan oleh benturan India dan Eurasia dan bergeraknya massa daratan Asia Timur, Indocina dan Indonesia Barat ke arah timur dan tenggara. Sesar-sesar mendatar besar di Asia (misalnya Altyn Tagh), pembukaan Laut Jepang dan Laut Cina Selatan adalah juga manifestasi tectonic escape akibat benturan India-Eurasia (dimodifikasi dari Tapponnier dkk., 1982; Satyana, 2006) Benturan kedua terjadi pada sekitar 25 Ma (Oligosen akhir) ketika sebuah busur kepulauan samudra yang terbangun di tepi selatan Lempeng Laut Filipina berbenturan dengan tepi utara Benua Australia di tengah Papua sekarang. Benturan ini menghasilkan jalur lipatan dan sesar Pegunungan Tengah Papua dan segera diikuti oleh escape tectonics berupa sesar-sesar mendatar besar dan pembentukan cekungan akibat runtuhan (collapse) di depan zone benturan. Sesar-sesar besar tersebut adalah Sesar Sorong-Yapen (bagian awalnya), Sesar Waipoga, Sesar Gauttier, dan Sesar Apauwar-Nawa. Pembukaan daerah cekungan (basinal area) Papua Utara (termasuk di dalamnya Cekungan Waipoga, Waropen, Biak, Jayapura) dan Cekungan Akimeugah di selatan zone benturan Pegunungan Tengah Papua, terbentuk akibat runtuhan untuk mengkompensasi tinggian akibat benturan. Sesar-sesar mendatar yang terbentuk juga mempengaruhi pembentukan cekungan-cekungan ini. Benturan ketiga adalah benturan antara mikro-kontinen Kepala Burung dengan badan Papua pada sekitar 10 Ma (Miosen akhir). Jalur lipatan dan sesar Lengguru menandai benturan ini. Sesar-sesar mendatar yang menjauh dari zone benturan ini seperti Tarera-Aiduna, Sorong, Waipoga, dan Ransiki menunjukkan escape tectonics pascabenturan. Cekungan Bintuni yang terletak di sebelah barat Jalur Lengguru merupakan foreland basin yang terbentuk sebagai akibat post-collision extensional structure. Benturan keempat terjadi dari 11-5 Ma (Miosen akhir-Pliosen paling awal) ketika mikro-kontinen Buton-Tukang Besi dan Banggai-Sula membentur ofiolit Sulawesi Timur. Kedua mikro-kontinen ini terlepas dari Kepala Burung Papua dan bergerak ke barat oleh Sesar Sorong. Benturan ini telah membentuk jalur lipatan dan sesar Buton di selatan Sulawesi Timur dan Jalur Batui di daerah benturan Banggai dan Sulawesi Timur. Kedua benturan ini telah diikuti tectonic escapes pascabenturan dalam bentuk-bentuk rotasi lengan-lengan Sulawesi, pembentukan sesar-sesar menndatar besar Palu-Koro, Kolaka, Lawanopo, Hamilton, Matano, dan Balantak, dan pembukaan Teluk Bone. Gerak sesar-sesar mendatar ini di beberapa tempat telah membuka cekungan-cekungan koyakan (pull-apart basin) akibat mekanisme trans-tensional seperti danau-danau Poso, Matano, Towuti juga Depresi Palu. Benturan terakhir mulai terjadi pada sekitar 3 Ma (pertengahan-Pliosen) ketika tepi utara Benua Australia berbenturan dengan busur Kepulauan Banda. Benturan ini telah membentuk jalur lipatan dan sesar foreland sepanjang Timor, Tanimbar sampai Seram. Di wilaya Seram, jalur ini juga banyak dipengaruhi oleh benturan busur Seram dengan mikro-kontinen Kepala Burung. Pembukaan lateral juga terjadi mengikuti benturan busur-benua ini, pembukaan ini adalah manifestasi tectonic escape. Sesar-sesar mendatar besar terbentuk hampir sejajar dengan orientasi Pulau Timor. Pengalihan tempat mikro-kontinen Sumba dan pembentukan serta pembukaan Cekungan Weber, Sawu, dan Laut Banda dapat berhubungan dengan escape tectonics pascabenturan ini melalui mekanisme extensional structure atau collapse yang mengikuti arc-continent collision. Kasus-kasus di Indonesia ini menunjukkan bahwa tectonic escapes adalah gejala dan proses yang penting dalam evolusi wilayah konvergen seperti Indonesia. Konsep escape tectonics memberikan kontribusi penting untuk pemahaman bagaimana benua terbangun dan terpotong-potong. ... [Message clipped]

