Sebuah buku baru (2007) tentang geologi dan arkeologi bisa dilihat di toko-toko
buku besar. Buku ini berjudul, "Ribuan Gunung, Ribuan Alat Batu : Prasejarah
Song Keplek, Gunung Sewu, Jawa Timur", diterbitkan oleh KPG (Kepustakaan
Populer Gramedia) yang bekerja sama dengan banyak lembaga : Ecole Francaise
de'Extreme-Orient, Institut de Recherche pour le Developpement, Pusat
Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional (Puslitbang Arkenas), dan Forum
Jakarta-Paris. Buat rekan-rekan yang kemarin ini (mid-Juni 2007) sempat ke
pameran buku selama seminggu di Istora Senayan, beruntunglah karena buku ini
dijual dengan harga discount yang lumayan. Buku ini semula adalah disertasi
doktor Hubert Forestier dari Museum National d'Histoire Naturelle, Paris yang
mengajukan disertasinya pada tahun 1998 di Paris. Buku diterjemahkan oleh tiga
orang dan disunting oleh Prof. Dr. Truman Simanjuntak, ahli arkeologi terkenal
dari Puslitbang Arkenas.
Dalam pengamatan saya, tahun-tahun belakangan ini buku-buku populer maupun
teknis tentang kepurbakalaan Indonesia masuk ke toko-toko buku umum. Sebelum
ini, ada Prasejarah Asia Tenggara (Belwood, 2004), buku bagus dan sangat
lengkap - patut menjadi referensi-tentang kepurbakalaan Indonesia dan
sekitarnya, lalu ada "Prasejarah Gunung Sewu" (Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia,
2004) yang memuat puluhan artikel hasil penelitian arkeologi di Gunung Sewu,
disunting oleh Prof. Truman Simanjuntak dkk. Lalu, tahun lalu pun ada
"Arcahaeology, Indonesian Perspective : R.P. Soejono Festschrift" (LIPI dan
International Center for Prehistoric and Austronesian Studies, 2006) yang
memuat 45 paper penelitian arkeologi di Indonesia (ada tiga artikel geologi di
dalamnya). Buku ini pun disunting oleh Prof. Truman Simanjuntak dkk.
"Festschrift" (jerman) adalah mélange dalam bahasa Prancis, atau bancuh dalam
bahasa Indonesia alias bunga rampai atau anthology - kumpulan tulisan
macam-macam.
Buku-buku tentang prasejarah Cekungan Bandung hasil penelitian KRCB (Kelompok
Riset Cekungan Bandung -Budi Brahmantyo, T. Bachtiar dkk.) juga bisa ditemukan
di Gramedia Bandung (kalau masih ada). Menggembirakan, buku-buku kebumian sudah
masuk ke toko-toko buku umum. Hanya, bidang arkeologi kelihatannya lebih
agresif dibandingkan bidang geologi.
Kembali ke buku Prasejarah Song (Gua) Keplek, Gunung Sewu (Forestier, 1998,
2007), ini adalah buku yang bagus dan komprehensif walaupun teknis. Meskipun
wilayah penelitiannya lebih kepada industri litik Song Keplek termasuk analisis
detail tipologis ribuan alat batu yang ditemukan di gua ini, cukup banyak
keterangan tentang tatanan geologi dan arkeologi Gunung Sewu secara umum.
Gunung Sewu adalah salah satu "taman firdaus" prasejarah Indonesia.
"Bahan alat-alat serpih ini semestinya berasal dari Pegunungan Selatan",
demikian kurang lebih kata-kata salah seorang perintis penelitian arkeologi
Indonesia G.H.R. von Koenigswald ketika dia menemukan artefak serpih di Bukit
Ngebung, Sangiran pada tahun 1934. Setahun kemudian, Koenigswald bersama M.W.F.
Tweedie dari museum Raffles di Singapura mengunjungi wilayah Punung, Pegunungan
Selatan, dan di situlah taman firdaus situs arkeologi paleolitik yang sangat
kaya baru terbuka : Kali Baksoko. Betapa senangnya Koenigswald kala itu, konon
kabarnya sampai ia menggelar pertunjukan wayang tujuh hari tujuh malam untuk
masyarakat Punung. Kala itu, 3000 artefak telah berhasil ditemukan dari wilayah
Punung. Dan lebih dari 70 tahun kemudian sampai sekarang melalui berbagai
penelitian arkeologi yang intensif kita menjadi tahu bahwa wilayah Gunung Sewu
adalah suatu wilayah kompleks hunian prasejarah yang sangat luas, intensif, dan
berkesinambungan dalam rentang Plistosen-Holosen.
Proses adaptasi terhadap lingkungan dan pengaruh luar telah menciptakan
dinamika budaya yang berkembang, mulai dari yang bercorak paleolitik,
mesolitik-preneolitik, neolitik, sampai paleometalik pada masa prasejarah.
Manusia datang ke wilayah ini dan mendiami lembah-lembah sempit di antara
perbukitan karst yang membentuk gua-gua dan daerah aliran sungai seperti Lembah
Sungai Baksoko. Ketersediaan berbagai sumberdaya, seperti batuan yang baik
untuk perkakas, air, fauna, dan flora di lingkungan sekitarnya menjadi penopang
kehidupan berkelanjutan dalam rentang ratusan ribu-jutaan tahun.
Gunung Sewu dikenal sebagai tempat yang secara geologi dan geografi terpisah
dari bagian Pulau Jawa lainnya. Daerah ini terjal dan memanjang antara
Parangtritis dan Pacitan. Di tengah-tengah iklim yang cukup kering sepanjang
tahun, relief bukit-bukit kapur yang bentuknya tidak seragam dan menghadap ke
Lautan Hindia menyediakan banyak gua, aliran sungai serta rijang. Rijang
berkualitas baik ini dipakai manusia prasejarah untuk membuat berbagai perkakas
yang diperlukan. Gunung Sewu adalah tempat ideal bagi hunian masa lalu,
bukit-bukitnya sangat sering didatangi oleh manusia prasejarah dari periode
manapun. Alat-alat bifasial, kapak, dan aneka ragam alat padat merupakan karya
dan jejak-jejak yang ditinggalkan oleh Homo erectus, sebagai pembawa
ketrampilan teknis dan kebudayaan Acheulean (Acheulean = sekuen kebudayaan
Paleolitik Bawah yang dicirikan oleh perkakas kapak genggam dan kapak pembelah).
Benda-benda padat Acheulean yang juga ditemukan orang di Eropa, Afrika,
negara-negara Iran-Irak, India, Nepal dan Cina lalu Indonesia menunjukkan bukti
kedatangan Homo erectus setelah perjalanan jauh yang dimulai sedikit kurang
dari dua juta tahun yang lalu dari daratan Afrika ("out of Africa" theory).
Dan, justru di alur Sungai Baksoko, yang terletak tidak jauh dari kota Pacitan
inilah perkakas Acheulean ini ditemukan. Situs ini kemudian menjadi sangat
terkenal di dunia arkeologi dan memberikan nama pada salah satu kebudayaan
Paleolitik Bawah yang termasyur : kebudayaan Pacitanian.
Dan itu ada di Pacitan, Jawa, tak jauh dari kita. Semoga kita mengenal dan
menghargai situs-situs penting buat dunia ini. Buku-buku arkeologi yang
belakangan banyak diterbitkan sangat membantu pengenalan akan hal itu.
Salam,
awang