> Sdr Rimbawan
Terima kasih , memang kalau membahas asal
manusia , kita suak menjadi agak gamang ya .
si Abah
___________________________________________________________________
Dear Abah..
>
> mungkin theory ttg
homo erectus yg lahir di afrika dan melakukan
> perjalanan
> melewati benua2 ada betulnya juga.
> sebelum ice age
terjadi masih terbentuk jembatan2 antara benua yg blom
> tertutup
oleh air. mungkin perjalanan terakhirnya di pulau jawa karena
>
ujung dr benua asia.
>
> cuman saya pernah membaca ttg
ditemukannya fosil manusia kerdil (hobbit
> seperti di film lord
of the ring) di suatu gua di flores..... jaman dulu
> mungkin
blom terhubung ke daratan utama (benua asia). mungkin saja ini
>
merupakan evolusi dr kera purba.
>
>
> salam,
Rimbawan
>
> On 7/11/07, [EMAIL PROTECTED]
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>>
>> >
>>
>> Awang
>>
>> Sangat
menarik mengikuti ceritera arkeologi ini , dan tentunya kita
>> tidak
>> perlu berkecil hati bahwa buku geologi
"kalah" bersaing di Toko Buku.
>> Hal ini tentunya
karena arekologi masih "dekat" degan manusia sekarang ,
>> walaupun gempa dan tsunami malahan masih berlangsung dan
menghantam kita
>> sampai saat ini.
>> "Out
of Afrika Theory ", apakah itu ? Apakah theory yang menyatakan
>> bahwa
>> homo erectus "lahir " di Afrika
? dan bukan hasil evolusi regional dari
>> manusia kera ?
>>
>> si Abah
>>
>>
_________________________________________________________________________
>>
>>
>>
>>
>>
Sebuah buku baru (2007) tentang geologi dan arkeologi bisa dilihat
>> di
>> > toko-toko buku besar. Buku ini berjudul,
"Ribuan Gunung, Ribuan Alat
>> Batu
>> > :
Prasejarah Song Keplek, Gunung Sewu, Jawa Timur", diterbitkan oleh
>> KPG
>>
>> > (Kepustakaan Populer
Gramedia) yang bekerja sama dengan banyak lembaga
>> :
>>
>> > Ecole Francaise de'Extreme-Orient, Institut
de Recherche pour le
>> > Developpement, Pusat Penelitian
dan Pengembangan Arkeologi Nasional
>> > (Puslitbang
Arkenas), dan Forum Jakarta-Paris. Buat rekan-rekan yang
>>
> kemarin ini (mid-Juni 2007) sempat ke pameran buku selama seminggu di
>> > Istora Senayan, beruntunglah karena buku ini dijual
dengan harga
>> discount
>> > yang lumayan.
Buku ini semula adalah disertasi doktor Hubert Forestier
>>
> dari Museum National d'Histoire Naturelle, Paris yang mengajukan
>> > disertasinya pada tahun 1998 di Paris. Buku diterjemahkan
oleh tiga
>> orang
>> > dan disunting oleh
Prof. Dr. Truman Simanjuntak, ahli arkeologi
>> terkenal
>>
>> > dari Puslitbang Arkenas.
>>
>
>> >
>> >
>> > Dalam
pengamatan saya, tahun-tahun belakangan ini buku-buku populer
>> maupun
>> > teknis tentang kepurbakalaan
Indonesia masuk ke toko-toko buku umum.
>> > Sebelum ini,
ada Prasejarah Asia Tenggara (Belwood, 2004), buku bagus
>>
dan
>> > sangat lengkap - patut menjadi referensi-tentang
kepurbakalaan
>> Indonesia
>>
>> >
dan sekitarnya, lalu ada "Prasejarah Gunung Sewu" (Ikatan Ahli
>> Arkeologi
>>
>> > Indonesia,
2004) yang memuat puluhan artikel hasil penelitian
>>
arkeologi
>> di
>> > Gunung Sewu, disunting
oleh Prof. Truman Simanjuntak dkk. Lalu, tahun
>> lalu
>> > pun ada "Arcahaeology, Indonesian Perspective : R.P.
Soejono
>> Festschrift"
>> > (LIPI dan
International Center for Prehistoric and Austronesian
>>
Studies,
>>
>> > 2006) yang memuat 45 paper
penelitian arkeologi di Indonesia (ada tiga
>> > artikel
geologi di dalamnya). Buku ini pun disunting oleh Prof. Truman
>> > Simanjuntak dkk. "Festschrift" (jerman) adalah
mélange dalam bahasa
>> > Prancis, atau bancuh dalam
bahasa Indonesia alias bunga rampai atau
>> > anthology -
kumpulan tulisan macam-macam.
>> >
>> >
>> >
>> > Buku-buku tentang prasejarah Cekungan
Bandung hasil penelitian KRCB
>> > (Kelompok Riset Cekungan
Bandung -Budi Brahmantyo, T. Bachtiar dkk.)
>> juga
>> > bisa ditemukan di Gramedia Bandung (kalau masih ada).
Menggembirakan,
>> > buku-buku kebumian sudah masuk ke
toko-toko buku umum. Hanya, bidang
>> > arkeologi
kelihatannya lebih agresif dibandingkan bidang geologi.
>>
>
>> >
>> >
>> > Kembali
ke buku Prasejarah Song (Gua) Keplek, Gunung Sewu (Forestier,
>> > 1998, 2007), ini adalah buku yang bagus dan komprehensif
walaupun
>> teknis.
>> > Meskipun wilayah
penelitiannya lebih kepada industri litik Song Keplek
>> >
termasuk analisis detail tipologis ribuan alat batu yang ditemukan di
>> gua
>> > ini, cukup banyak keterangan tentang
tatanan geologi dan arkeologi
>> Gunung
>> >
Sewu secara umum. Gunung Sewu adalah salah satu "taman firdaus"
>> prasejarah
>> > Indonesia.
>>
>
>> >
>> >
>> >
"Bahan alat-alat serpih ini semestinya berasal dari Pegunungan
>> Selatan",
>>
>> > demikian
kurang lebih kata-kata salah seorang perintis penelitian
>>
> arkeologi Indonesia G.H.R. von Koenigswald ketika dia menemukan
>> artefak
>> > serpih di Bukit Ngebung, Sangiran
pada tahun 1934. Setahun kemudian,
>> > Koenigswald bersama
M.W.F. Tweedie dari museum Raffles di Singapura
>> >
mengunjungi wilayah Punung, Pegunungan Selatan, dan di situlah taman
>> > firdaus situs arkeologi paleolitik yang sangat kaya baru
terbuka :
>> Kali
>> > Baksoko. Betapa
senangnya Koenigswald kala itu, konon kabarnya sampai
>> ia
>>
>> > menggelar pertunjukan wayang tujuh hari
tujuh malam untuk masyarakat
>> > Punung. Kala itu, 3000
artefak telah berhasil ditemukan dari wilayah
>> > Punung.
Dan lebih dari 70 tahun kemudian sampai sekarang melalui
>>
berbagai
>> > penelitian arkeologi yang intensif kita
menjadi tahu bahwa wilayah
>> Gunung
>> > Sewu
adalah suatu wilayah kompleks hunian prasejarah yang sangat luas,
>> > intensif, dan berkesinambungan dalam rentang
Plistosen-Holosen.
>> >
>> >
>>
>
>> > Proses adaptasi terhadap lingkungan dan pengaruh
luar telah
>> menciptakan
>> > dinamika budaya
yang berkembang, mulai dari yang bercorak paleolitik,
>> >
mesolitik-preneolitik, neolitik, sampai paleometalik pada masa
>> prasejarah.
>> > Manusia datang ke wilayah ini
dan mendiami lembah-lembah sempit di
>> antara
>>
> perbukitan karst yang membentuk gua-gua dan daerah aliran sungai
>> seperti
>>
>> > Lembah Sungai
Baksoko. Ketersediaan berbagai sumberdaya, seperti
>> batuan
>> > yang baik untuk perkakas, air, fauna, dan flora di
lingkungan
>> sekitarnya
>>
>> >
menjadi penopang kehidupan berkelanjutan dalam rentang ratusan
>> ribu-jutaan
>> > tahun.
>> >
>> >
>> >
>> > Gunung Sewu
dikenal sebagai tempat yang secara geologi dan geografi
>>
> terpisah dari bagian Pulau Jawa lainnya. Daerah ini terjal dan
>> memanjang
>>
>> > antara
Parangtritis dan Pacitan. Di tengah-tengah iklim yang cukup
>>
kering
>> > sepanjang tahun, relief bukit-bukit kapur yang
bentuknya tidak seragam
>> dan
>> > menghadap
ke Lautan Hindia menyediakan banyak gua, aliran sungai serta
>> > rijang. Rijang berkualitas baik ini dipakai manusia
prasejarah untuk
>> > membuat berbagai perkakas yang
diperlukan. Gunung Sewu adalah tempat
>> ideal
>>
> bagi hunian masa lalu, bukit-bukitnya sangat sering didatangi oleh
>> manusia
>> > prasejarah dari periode
manapun. Alat-alat bifasial, kapak, dan aneka
>> > ragam
alat padat merupakan karya dan jejak-jejak yang ditinggalkan
>> oleh
>> > Homo erectus, sebagai pembawa
ketrampilan teknis dan kebudayaan
>> Acheulean
>>
> (Acheulean = sekuen kebudayaan Paleolitik Bawah yang dicirikan oleh
>> > perkakas kapak genggam dan kapak pembelah).
>> >
>> >
>> >
>>
> Benda-benda padat Acheulean yang juga ditemukan orang di Eropa,
>> Afrika,
>> > negara-negara Iran-Irak, India,
Nepal dan Cina lalu Indonesia
>> menunjukkan
>>
> bukti kedatangan Homo erectus setelah perjalanan jauh yang dimulai
>> sedikit
>> > kurang dari dua juta tahun yang
lalu dari daratan Afrika ("out of
>> Africa"
>> > theory). Dan, justru di alur Sungai Baksoko, yang terletak
tidak jauh
>> dari
>> > kota Pacitan inilah
perkakas Acheulean ini ditemukan. Situs ini
>> kemudian
>>
>> > menjadi sangat terkenal di dunia arkeologi
dan memberikan nama pada
>> salah
>> > satu
kebudayaan Paleolitik Bawah yang termasyur : kebudayaan
>>
Pacitanian.
>>
>> >
>> >
>> >
>> > Dan itu ada di Pacitan, Jawa, tak jauh
dari kita. Semoga kita mengenal
>> dan
>> >
menghargai situs-situs penting buat dunia ini. Buku-buku arkeologi
>> yang
>> > belakangan banyak diterbitkan sangat
membantu pengenalan akan hal itu.
>> >
>> >
>> >
>> > Salam,
>> >
>> > awang
>> >
>> >
>> >
>> >
>>
>