Mitos bahwa mata air berhubungan dengan laut ternyata bukan monopoli orang Jawa 
saja. Di dataran Aroki, Kab. timor Tengah Utara juga ada kejadian serupa. 
Dataran tersebut dikelilingi oleh pegunungan sehingga banyak sumur artesis yang 
beberapa diantaranya mengeluarkan air asin.. Masarakat setempat beranggapan 
keluarnya air asin tersebut karena ada saluran bawah tanah yang menghubungkan 
langsung ke laut (padahal elevasi dataran jauh di atas muka laut). Sehingga 
pernah ada kejadian sekitar 1989, semua penduduk di dataran tersebut mengungsi 
di pegunungan di sekelilingnya karena ada isu gempa bumi, yang akan 
mengakibatkan dataran tenggelam dan terisi air laut... 
  Tapi dengan adanya isu tersebut mengakibatkan banyak kebun mangga yang masak 
dipohon ditinggalkan begitu saja. 
   
   
  
Awang Harun Satyana <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
        v\:* {behavior:url(#default#VML);}  o\:* {behavior:url(#default#VML);}  
w\:* {behavior:url(#default#VML);}  .shape {behavior:url(#default#VML);}        
        Wah Pak Chairul Nas masih mengingat tayangan TVRI 20 tahun silam 
tentang “bledug kuwu”, barangkali di tayangan acara tersebut ada penjelasan 
tentang  apa penyebabnya dan sejak kapan dimulai ? Saya dan Pak Dwiyanto 
Rumlan dari PetroChina sedang mengumpulkan fakta maupun mitos tentang bledug 
kuwu. Rakyat di sekitar situ punya legenda tentang bledug kuwu yang kalau 
ditelusuri ternyata jauh ke masa Kerajaan Mataram Kuno (Hindu) masih ada di 
Jawa (732-928 M). Artinya, bledug kuwu mulai sebelum 732 M. Ini beberapa 
petikannya : 
   
  “Kuwu yang pada masa Kerajaan Sanjaya (Mataram Kuno, 732M - 928M) dalam 
sejarah merupakan kota kecil tetapi penting pada masa itu. Letaknya masih dalam 
wilayah Kabupaten Grobogan. Kuwu adalah bekas Ibukota Kawedanan Kradenan. Pada 
jaman kerajaan Mataram pernah beribukota di Medangkamulan (Medang I Bumi 
Mataram) yang berjarak 1,5 km dari Kuwu. Karena perkembangan ilmu pengetahuan 
saat itu belum mengenal metodologi ilmiah untuk mencari tahu tentang Bledug 
Kuwu, maka pendekatan yang paling kondusif saat itu adalah melalui mitos, dan 
sebagian orang sampai sekarang masih mempercayai mitos Bledug Kuwu tersebut. 
Menurut cerita turun temurun yang beredar di kalangan masyarakat disitu, Bledug 
kuwu terjadi karena adanya lubang yang menghubungkan tempat itu dengan laut 
Selatan. Entah kenapa setiap ada mitos kelautan mesti dihubungkan dengan laut 
selatan, meskipun tempatnya lebih dekat dengan laut utara pulau Jawa, seperti 
Bledug Kuwu yang sebenarnya lebih dekat dengan Pantai
 Kartini di Rembang atau Pantai di Pati daripada ke Parangtritis. Jauh sekali 
kan ?. Konon lubang itu adalah jalan pulang Joko Linglung dari Laut Selatan 
menuju kerajaan Medang Kamulan setelah mengalahkan Prabu Dewata Cengkar yang 
telah berubah menjadi buaya putih di Laut Selatan. Joko Linglung konon bisa 
membuat lubang tersebut karena dia bisa menjelma menjadi ular naga yang 
merupakan syarat agar dia diakui sebagai anaknya.”
   
  Harus ada yang mau meneliti secara ilmiah bledug Kuwu, mengambil contoh 
semburan lumpurnya, menganalisisnya, melakukan interpretasi bawah permukaannya, 
dll. Ini akan bermanfaat untuk pemahaman gejala erupsi gununglumpur secara 
keseluruhan di wilayah Depresi Kendeng. Dari data seismik tahun 1989 dan 2004 
di wilayah Purwodadi yang memotong Bledug Kuwu nampak sangat jelas bahwa Bledug 
Kuwu benar2 merupakan gununglumpur yang mengerucut di puncaknya. Titik bledug 
kuwu adalah puncak semburannya. Dan, di wilayah ini  bledug Kuwu tidak 
sendiri, masih ada beberapa kenampakan gununglumpur/diapir yang mati di bawah 
permukaan (seperti blind fault) maupun naik ke hampir permukaan.
   
  Salam,
  awang
   
    From: Chairul Nas [mailto:[EMAIL PROTECTED] 
Sent: Wednesday, June 27, 2007 8:19 C++
To: [email protected]
Subject: [iagi-net-l] Balasan: Re: [iagi-net-l] Interpelasi Lapindo

   
  Rekan-rekan anggota IAGI yg tercinta,
Pemerintah, dalam hal ini Dept ESDM, memang layak untuk diminta bertanggung 
jawab atas tenggelamnya begitu banyak rumah dan lahan penduduk di Porong - 
Sidoardjo; bukan atas  terjadinya semburan lumpur  panas itu. Karena 
menyemburnya LUSI, menurut saya, adalah lebih berupa gejala geologis seperti 
halnya "mud volcano" di Purwodadi yg pernah ditayangkan pd TVRI 20 tahun silam. 
Masih segar pd ingatan saya, waktu saya menonton TVRI saat itu mereka 
menyebutnya sebagai kejadian "bleduk kuwu". Kesalahan fatal karena kebodohan 
dan kelambanan adalah: mengambil kesimpulan ttg kejadian semburan LUSI amat 
sangat terlambat, sehingga waktu terlalu banyak dihabiskan untuk upaya 
penghentian semburan. Dua pekan setelah semburan berlangsung, saya berdebat 
keras dgn kolega saya yg ahli perminyakan di Trisakti; waktu itu saya katakan 
"mau bor miring - bor hantu blau kek - semburan ini tidak akan bisa dihentikan, 
karena ini adalah lebih berat ke gejala geologis atau gejala alam - lebih baik
 simpulkan saja bhw tidak bisa dihentikan, lalu fokuskan upaya kpd pembenahan 
lumpur yg keluar itu - mau disalurkan kemana ? - kita berpacu dgn waktu - 
pemerintah harus berani dan tegas". Tapi hal itu tidak dilakukan oleh ESDM, 
maka tanggunglah resikonya sekarang. Menurut pendapat saya, bukan BP Migas yg 
hrs bertanggung jawab - yg harus bertanggung jawab adalah sejumlah departemen 
terkait seperti ESDM, KLH, dan lain-lain.

Semoga bermanfaat, terutama bagi anggota DPR-RI yg kebetulan dapat membaca 
surat ini.

Wassalam,
Chairul Nas

[EMAIL PROTECTED] wrote:
  Presiden Harus Minta Pertangunjawaban BP Migas
Rabu, 27 Juni 2007 | 01:55 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Presiden seharusnya meminta
pertanggungjawaban Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak
dan Gas Bumi (BP Migas) atas semburan lumpur panas Lapindo di
Porong, Sidoarjo, Jawa Timur. Semburan lumpur dikarenakan BP
Migas tidak melakukan pengawasan dan peringatan pada saat
pengeboran.
Pengamat perminyakan Kurtubi menyatakan, seharusnya BP Migas
memberikan peringatan kepada Lapindo Brantas pada saat
pengeboran tidak memasang selubung (casing). Padahal pengawasan
kepada kontrak kerja sama minyak dan gas bumi, kata dia,
menurut Pasal 41 Ayat 2 dan Pasa 44 Ayat 22 Undang-Undang
Minyak dan Gas Bumi No 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas
bumi merupakan tugas dan tanggung Jawab BP Migas.
"Yang memberikan peringatan pada saat tidak memasang casing
adalah Medco sebagai patner di Lapindo Brantas dan bukan BP
Migas," kata Kurtubi kepada Tempo, Selasa (26/6).
Menurut Kurtubi, Presiden harus segera melakukan tindakan untuk
meminta pertanggungjawaban BP Migas. "Jika tidak, maka Presiden
bisa dituntut pertanggungjawaban sesuai Pasal 43 Ayat 3
Undang-Undang No. 22 Tahun 2001" ujarnya. Menurut pasal itu,
kata dia, BP Migas dalam melaksanakan tugasnya bertanggungjawab
kepada presiden.
Wakil Kepala BP Migas Abdul Muin mengatakan, pengawasan yang
dilakukan pihaknya adalah pada saat pengajuan program kerja dan
anggaran, perencanaan proyek dan pelaksanaan pengadaan barang.
"BP Migas mengawasi apakah sudah sesuai dengan ketentuan yang
berlaku atau tidak," katanya kepada Tempo, Selasa (26/6).
Sedangkan pengawasan operasional harian, kata Muin, menjadi
tanggung jawab kontraktor kerja sama. Begitu juga dengan pada
saat pengeboran, apakah kontraktor memasang casing atau tidak
juga menjadi tanggung jawab kontraktor. "Kami mengawasi pada
saat tender casing, apakah sudah sesuai dengan ketentuan atau
tidak," ujarnya.
Sebelumnya, Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) telah mengeluarkan
hasil pemeriksaan atas semburan lumpur panas Lapindo.
Berdasarkan hasil audit BPK Departemen Energi dan Sumber Daya
Mineral dan BP Migas tidak melakukan pengawasan atas kegiatan
eksplorasi Sumur Banjarpanji-1 (BJP-1) sesuai dengan ketentuan.
ALI NUR YASIN




>> Nambahin dikit Mas Oki, ini sedikit OOT/bukan berhubungan
>> dgn geologi.
>>
>> Pagi hari ini di kantor, teman-teman rame pada nanya: " ...
>> kenapa Mr. Imam Augustino masih bisa menjawab sambil
>> tersenyum di tengah penderitaan orang banyak seperti itu??"
>> Wah wah wah, ... ini sih masalah kultur. Rada susah
>> menjelaskannya tapi intinya begitulah, kebanyakan
>> ekspresi/mimik orang Indonesia selalu "senyum" dan "ceria"
>> meski isi pernyataannya menyedihkan atau tidak mengenakan.
>> Jadi blm tentu bisa ditafsirkan "tersenyum di atas
>> penderitaan org lain".
>>
>>
>> On 18/06/07, oki musakti wrote:
>>>
>>> Sedikit menyimpang,
>>> Tadi malam musibah Lusi ditayangkan di acara 60 Minutes
>>> nya
>>> channel 9 Australia.
>>> Seperti biasa fokus bahasannya lebih pada sisi human
>>> interest terutama masalah lebih dari 40 ribu pengungsi
>>> yang sampai sekarang belum terurus dengan baik serta
>>> adanya
>>> Australian connection dalam bentuk participating interest
>>> Santos di sini.
>>>
>>> Dari sisi sudut pandang, acara ini jelas-jelas
>>> mengopinikan
>>> bahwa Lusi adalah kesalahan drilling dari Lapindo.
>>> Salah satunya disebutkan: 'The world's top experts agree
>>> this was the straight out human error — most likely a
>>> failure to shore up the walls of the bore hole with a
>>> protective casing. '.......mungkin ini maksudnya adalah
>>> 'top expert' yang gak hadir dalam seminar Lusi di BPPT....
>>>
>>> Buat saya ada satu hal yang sangat mengganggu: Narasumber
>>> utama dalam acara ini adalah Dr Mark Tingay dari Adelaide
>>> Uni. Sependek pengetahuan saya, belum pernah dengar Pak
>>> Tingay ini melakukan penelitian di Sidoardjo. Kalau lihat
>>> lontaran2 beliau, itu keliahatannya banyak yang langsung
>>> diambil dari berbagai diskusi diberbagai milisout dari nya
>>> Pak Dhe Vicki.
>>>
>>> Samasekali gak ada pendapat dari geologist Indonesia
>>> apalagi pendapat resmi tim IAGI. Yang sudah berbulan-bulan
>>> banting tulang melakukan penelitian disana.
>>>
>>> Kesimpulan dan moral of the story: Kita belum
>>> dianggep.......
>>>
>>> Salam
>>> Oki
>>>
>>> Unnatural disaster Sunday June 17, 2007
>>> [image: Sidoarjo, East Java, Indonesia (AAP)]
>>> Reporter: Peter
>>> Overton>>>>> Producers: Howard Sacre



       
---------------------------------
Need a vacation? Get great deals to amazing places on Yahoo! Travel. 

Kirim email ke