Pak Bambang,

 

Kalau kejadiannya di Timor, itu sangat mungkin berhubungan dengan mud volcano 
juga. Jalur gununglumpur terkaya di wilayah Indonesia dan sekitarnya antara 
lain terdapat di wilayah ini sejak dari perairan Sawu sampai ke sekitar 
Wetar-Romang-Damar di timurlaut Timor membentuk kelurusan barat baratdaya-timur 
timurlaut. Gununglumpur di sini erat berkaitan dengan gerak diapir, sesar 
mendatar besar, dan kompresi akibat benturan Australia ke Timor sejak Pliosen. 
Bahkan, mélange di sini pun diyakini dibawa oleh gerak diapir ini. Rakyat Tmor 
menyebut gununglumpur di wilayah ini sebagai “poton”.

 

Salam,

awang

 

From: Bambang Pujasmadi [mailto:[EMAIL PROTECTED] 
Sent: Thursday, June 28, 2007 9:36 C++
To: [email protected]
Subject: Re: [iagi-net-l] Interpelasi Lapindo-mitos

 

Mitos bahwa mata air berhubungan dengan laut ternyata bukan monopoli orang Jawa 
saja. Di dataran Aroki, Kab. timor Tengah Utara juga ada kejadian serupa. 
Dataran tersebut dikelilingi oleh pegunungan sehingga banyak sumur artesis yang 
beberapa diantaranya mengeluarkan air asin.. Masarakat setempat beranggapan 
keluarnya air asin tersebut karena ada saluran bawah tanah yang menghubungkan 
langsung ke laut (padahal elevasi dataran jauh di atas muka laut). Sehingga 
pernah ada kejadian sekitar 1989, semua penduduk di dataran tersebut mengungsi 
di pegunungan di sekelilingnya karena ada isu gempa bumi, yang akan 
mengakibatkan dataran tenggelam dan terisi air laut... 

Tapi dengan adanya isu tersebut mengakibatkan banyak kebun mangga yang masak 
dipohon ditinggalkan begitu saja. 

 

 


Awang Harun Satyana <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

        Wah Pak Chairul Nas masih mengingat tayangan TVRI 20 tahun silam 
tentang “bledug kuwu”, barangkali di tayangan acara tersebut ada penjelasan 
tentang  apa penyebabnya dan sejak kapan dimulai ? Saya dan Pak Dwiyanto 
Rumlan dari PetroChina sedang mengumpulkan fakta maupun mitos tentang bledug 
kuwu. Rakyat di sekitar situ punya legenda tentang bledug kuwu yang kalau 
ditelusuri ternyata jauh ke masa Kerajaan Mataram Kuno (Hindu) masih ada di 
Jawa (732-928 M). Artinya, bledug kuwu mulai sebelum 732 M. Ini beberapa 
petikannya : 

         

        “Kuwu yang pada masa Kerajaan Sanjaya (Mataram Kuno, 732M - 928M) 
dalam sejarah merupakan kota kecil tetapi penting pada masa itu. Letaknya masih 
dalam wilayah Kabupaten Grobogan. Kuwu adalah bekas Ibukota Kawedanan Kradenan. 
Pada jaman kerajaan Mataram pernah beribukota di Medangkamulan (Medang I Bumi 
Mataram) yang berjarak 1,5 km dari Kuwu. Karena perkembangan ilmu pengetahuan 
saat itu belum mengenal metodologi ilmiah untuk mencari tahu tentang Bledug 
Kuwu, maka pendekatan yang paling kondusif saat itu adalah melalui mitos, dan 
sebagian orang sampai sekarang masih mempercayai mitos Bledug Kuwu tersebut. 
Menurut cerita turun temurun yang beredar di kalangan masyarakat disitu, Bledug 
kuwu terjadi karena adanya lubang yang menghubungkan tempat itu dengan laut 
Selatan. Entah kenapa setiap ada mitos kelautan mesti dihubungkan dengan laut 
selatan, meskipun tempatnya lebih dekat dengan laut utara pulau Jawa, seperti 
Bledug Kuwu yang sebenarnya lebih dekat dengan Pantai Kartini di Rembang atau 
Pantai di Pati daripada ke Parangtritis. Jauh sekali kan ?. Konon lubang itu 
adalah jalan pulang Joko Linglung dari Laut Selatan menuju kerajaan Medang 
Kamulan setelah mengalahkan Prabu Dewata Cengkar yang telah berubah menjadi 
buaya putih di Laut Selatan. Joko Linglung konon bisa membuat lubang tersebut 
karena dia bisa menjelma menjadi ular naga yang merupakan syarat agar dia 
diakui sebagai anaknya.”

         

        Harus ada yang mau meneliti secara ilmiah bledug Kuwu, mengambil contoh 
semburan lumpurnya, menganalisisnya, melakukan interpretasi bawah permukaannya, 
dll. Ini akan bermanfaat untuk pemahaman gejala erupsi gununglumpur secara 
keseluruhan di wilayah Depresi Kendeng. Dari data seismik tahun 1989 dan 2004 
di wilayah Purwodadi yang memotong Bledug Kuwu nampak sangat jelas bahwa Bledug 
Kuwu benar2 merupakan gununglumpur yang mengerucut di puncaknya. Titik bledug 
kuwu adalah puncak semburannya. Dan, di wilayah ini  bledug Kuwu tidak 
sendiri, masih ada beberapa kenampakan gununglumpur/diapir yang mati di bawah 
permukaan (seperti blind fault) maupun naik ke hampir permukaan.

         

        Salam,

        awang

         

        From: Chairul Nas [mailto:[EMAIL PROTECTED] 
        Sent: Wednesday, June 27, 2007 8:19 C++
        To: [email protected]
        Subject: [iagi-net-l] Balasan: Re: [iagi-net-l] Interpelasi Lapindo

         

        Rekan-rekan anggota IAGI yg tercinta,
        Pemerintah, dalam hal ini Dept ESDM, memang layak untuk diminta 
bertanggung jawab atas tenggelamnya begitu banyak rumah dan lahan penduduk di 
Porong - Sidoardjo; bukan atas  terjadinya semburan lumpur  panas itu. Karena 
menyemburnya LUSI, menurut saya, adalah lebih berupa gejala geologis seperti 
halnya "mud volcano" di Purwodadi yg pernah ditayangkan pd TVRI 20 tahun silam. 
Masih segar pd ingatan saya, waktu saya menonton TVRI saat itu mereka 
menyebutnya sebagai kejadian "bleduk kuwu". Kesalahan fatal karena kebodohan 
dan kelambanan adalah: mengambil kesimpulan ttg kejadian semburan LUSI amat 
sangat terlambat, sehingga waktu terlalu banyak dihabiskan untuk upaya 
penghentian semburan. Dua pekan setelah semburan berlangsung, saya berdebat 
keras dgn kolega saya yg ahli perminyakan di Trisakti; waktu itu saya katakan 
"mau bor miring - bor hantu blau kek - semburan ini tidak akan bisa dihentikan, 
karena ini adalah lebih berat ke gejala geologis atau gejala alam - lebih baik 
simpulkan saja bhw tidak bisa dihentikan, lalu fokuskan upaya kpd pembenahan 
lumpur yg keluar itu - mau disalurkan kemana ? - kita berpacu dgn waktu - 
pemerintah harus berani dan tegas". Tapi hal itu tidak dilakukan oleh ESDM, 
maka tanggunglah resikonya sekarang. Menurut pendapat saya, bukan BP Migas yg 
hrs bertanggung jawab - yg harus bertanggung jawab adalah sejumlah departemen 
terkait seperti ESDM, KLH, dan lain-lain.
        
        Semoga bermanfaat, terutama bagi anggota DPR-RI yg kebetulan dapat 
membaca surat ini.
        
        Wassalam,
        Chairul Nas
        
        [EMAIL PROTECTED] wrote:

        Presiden Harus Minta Pertangunjawaban BP Migas
        Rabu, 27 Juni 2007 | 01:55 WIB
        
        TEMPO Interaktif, Jakarta:Presiden seharusnya meminta
        pertanggungjawaban Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak
        dan Gas Bumi (BP Migas) atas semburan lumpur panas Lapindo di
        Porong, Sidoarjo, Jawa Timur. Semburan lumpur dikarenakan BP
        Migas tidak melakukan pengawasan dan peringatan pada saat
        pengeboran.
        Pengamat perminyakan Kurtubi menyatakan, seharusnya BP Migas
        memberikan peringatan kepada Lapindo Brantas pada saat
        pengeboran tidak memasang selubung (casing). Padahal pengawasan
        kepada kontrak kerja sama minyak dan gas bumi, kata dia,
        menurut Pasal 41 Ayat 2 dan Pasa 44 Ayat 22 Undang-Undang
        Minyak dan Gas Bumi No 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas
        bumi merupakan tugas dan tanggung Jawab BP Migas.
        "Yang memberikan peringatan pada saat tidak memasang casing
        adalah Medco sebagai patner di Lapindo Brantas dan bukan BP
        Migas," kata Kurtubi kepada Tempo, Selasa (26/6).
        Menurut Kurtubi, Presiden harus segera melakukan tindakan untuk
        meminta pertanggungjawaban BP Migas. "Jika tidak, maka Presiden
        bisa dituntut pertanggungjawaban sesuai Pasal 43 Ayat 3
        Undang-Undang No. 22 Tahun 2001" ujarnya. Menurut pasal itu,
        kata dia, BP Migas dalam melaksanakan tugasnya bertanggungjawab
        kepada presiden.
        Wakil Kepala BP Migas Abdul Muin mengatakan, pengawasan yang
        dilakukan pihaknya adalah pada saat pengajuan program kerja dan
        anggaran, perencanaan proyek dan pelaksanaan pengadaan barang.
        "BP Migas mengawasi apakah sudah sesuai dengan ketentuan yang
        berlaku atau tidak," katanya kepada Tempo, Selasa (26/6).
        Sedangkan pengawasan operasional harian, kata Muin, menjadi
        tanggung jawab kontraktor kerja sama. Begitu juga dengan pada
        saat pengeboran, apakah kontraktor memasang casing atau tidak
        juga menjadi tanggung jawab kontraktor. "Kami mengawasi pada
        saat tender casing, apakah sudah sesuai dengan ketentuan atau
        tidak," ujarnya.
        Sebelumnya, Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) telah mengeluarkan
        hasil pemeriksaan atas semburan lumpur panas Lapindo.
        Berdasarkan hasil audit BPK Departemen Energi dan Sumber Daya
        Mineral dan BP Migas tidak melakukan pengawasan atas kegiatan
        eksplorasi Sumur Banjarpanji-1 (BJP-1) sesuai dengan ketentuan.
        ALI NUR YASIN
        
        
        
        
        >> Nambahin dikit Mas Oki, ini sedikit OOT/bukan berhubungan
        >> dgn geologi.
        >>
        >> Pagi hari ini di kantor, teman-teman rame pada nanya: " ...
        >> kenapa Mr. Imam Augustino masih bisa menjawab sambil
        >> tersenyum di tengah penderitaan orang banyak seperti itu??"
        >> Wah wah wah, ... ini sih masalah kultur. Rada susah
        >> menjelaskannya tapi intinya begitulah, kebanyakan
        >> ekspresi/mimik orang Indonesia selalu "senyum" dan "ceria"
        >> meski isi pernyataannya menyedihkan atau tidak mengenakan.
        >> Jadi blm tentu bisa ditafsirkan "tersenyum di atas
        >> penderitaan org lain".
        >>
        >>
        >> On 18/06/07, oki musakti wrote:
        >>>
        >>> Sedikit menyimpang,
        >>> Tadi malam musibah Lusi ditayangkan di acara 60 Minutes
        >>> nya
        >>> channel 9 Australia.
        >>> Seperti biasa fokus bahasannya lebih pada sisi human
        >>> interest terutama masalah lebih dari 40 ribu pengungsi
        >>> yang sampai sekarang belum terurus dengan baik serta
        >>> adanya
        >>> Australian connection dalam bentuk participating interest
        >>> Santos di sini.
        >>>
        >>> Dari sisi sudut pandang, acara ini jelas-jelas
        >>> mengopinikan
        >>> bahwa Lusi adalah kesalahan drilling dari Lapindo.
        >>> Salah satunya disebutkan: 'The world's top experts agree
        >>> this was the straight out human error — most likely a
        >>> failure to shore up the walls of the bore hole with a
        >>> protective casing. '.......mungkin ini maksudnya adalah
        >>> 'top expert' yang gak hadir dalam seminar Lusi di BPPT....
        >>>
        >>> Buat saya ada satu hal yang sangat mengganggu: Narasumber
        >>> utama dalam acara ini adalah Dr Mark Tingay dari Adelaide
        >>> Uni. Sependek pengetahuan saya, belum pernah dengar Pak
        >>> Tingay ini melakukan penelitian di Sidoardjo. Kalau lihat
        >>> lontaran2 beliau, itu keliahatannya banyak yang langsung
        >>> diambil dari berbagai diskusi diberbagai milisout dari nya
        >>> Pak Dhe Vicki.
        >>>
        >>> Samasekali gak ada pendapat dari geologist Indonesia
        >>> apalagi pendapat resmi tim IAGI. Yang sudah berbulan-bulan
        >>> banting tulang melakukan penelitian disana.
        >>>
        >>> Kesimpulan dan moral of the story: Kita belum
        >>> dianggep.......
        >>>
        >>> Salam
        >>> Oki
        >>>
        >>> Unnatural disaster Sunday June 17, 2007
        >>> [image: Sidoarjo, East Java, Indonesia (AAP)]
        >>> Reporter: Peter
        >>> Overton>>>>> Producers: Howard Sacre

  

  _____  

Need a vacation? Get great deals to amazing places 
<http://us.rd.yahoo.com/evt=48256/*http:/travel.yahoo.com/;_ylc=X3oDMTFhN2hucjlpBF9TAzk3NDA3NTg5BHBvcwM1BHNlYwNncm91cHMEc2xrA2VtYWlsLW5jbQ-->
 on Yahoo! Travel. 

Kirim email ke