Benar Frank, tapi sand- sand tersebut, tidak setebal lebih dari 3000 feet.  
3000 feet di kedalaman 6000 '  sekitar 700- 750 millisecond (twoway time,) dan 
kalau tidak ada bedding maka zona setebal itu kira- kira bentuknya dalam 
seismic character seperti apa?. apakah ada yang bisa mengatakan itu adalah 
sand?. Saya kira tidak (kecuali sdh ada contoh).

Jadi explorationist Lapindo tidak salah interpretasi.

Salam

Yanto Salim.



----- Pesan Asli ----
Dari: Franciscus B Sinartio <[EMAIL PROTECTED]>
Kepada: [email protected]
Terkirim: Minggu, 1 Juli, 2007 2:07:17
Topik: Re: Hal: [iagi-net-l] Interpelasi Lapindo


Pak Yanto Salim,
sand seperti ini banyak sekali terdeposit di antara paleo-high dari limestone2 
yang ada di daerah tsb.  kemungkinan besar termasuk daerah kerja PetroChina di 
Jatim.
 
fbs


----- Original Message ----
From: yanto salim <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Saturday, June 30, 2007 1:01:25 AM
Subject: Hal: [iagi-net-l] Interpelasi Lapindo


Pak Awang,
Benar sekali "Mother earth" is un-predictable yang bisa kita lakukan adalah 
prediksi dari data yang ada, walaupun VSP dilaksanakan ternyata tidaka ada 
satupun perkiraan VSP yang mendekati (ada 3 prediksi).
Tambahan saja, dengan adanya high absorbent di dekat permukaan energy seismik 
sudah tidak sampai dan sebetulnya juga di perparah dengan adanya sand setebal 
lebih dari 3000 feet. Seperti dikatakan ini adalah sand yang diketemukan  
pertama kali, jadi tidak ada referensi dan tentunya tidak akan terinterpretasi 
(walaupun data seismiknya berkwalitas baik).
 
 
Salam,
 
Yanto

----- Pesan Asli ----
Dari: Awang Satyana <[EMAIL PROTECTED]>
Kepada: [email protected]
Terkirim: Kamis, 28 Juni, 2007 3:23:05
Topik: Re: [iagi-net-l] Interpelasi Lapindo


Pak Arman,
 
Dari seismiknya gak terlalu jelas bahwa ada lapisan pasir setebal itu. Di 
permukaan banyak breksi volkanik yang akan menyerap banyak energi gelombang 
seismik, sehingga kualitas data seismik bisa memburuk jauh ke bawah. Design 
casing BJP-1 disusun dengan referensi utama sumur Porong-1 yang tak ada lapisan 
pasirnya, sehingga terjadi perbedaan jauh antara prognosis stratigrafi dengan 
kenyataan stratigrafi. 
 
Saat menembus pasir di kedalaman sekitar 8500 ft (8581 ft tepatnya) di mana 
diprediksi top gamping Kujung akan muncul, dilakukan beberapa kali stop 
drilling untuk cek sampel, tetapi tetap muncul 95 % batupasir dan 5 % gamping. 
Bor dilanjutkan sampai kedalaman 8750 ft. Stop drilling lalu dilakukan VSP. 
Dari data VSP didapat tiga kemungkinan top Kujung limestone : 8800 ft, 9400 ft, 
atau 9600 ft. Maka diputuskan untuk bor terus sampai ketemu gamping Kujung. 
Kita tahu batupasir ternyata muncul terus sampai kedalaman sekitar 9283 ft, 
ketika cutting gamping dominan lalu di TD sumur 9297 ft total loss. Apakah 
gamping Kujung sudah tertembus ? Tidak tahu. Apakah itu sampel gamping Kujung I 
? Tidak tahu, saya pikir bukan, lebih muda atau jauh lebih muda. 
 
Bisa Pak Arman lihat, prosedur standar sudah dijalankan, memang harus VSP atau 
check shot dulu bila lapisan yang diharapkan tidak muncul-muncul. Secara 
regional, sekarang kita bisa memahami mengapa batupasir volkanik itu muncul di 
lokasi BJP. BJP adalah reef paling selatan dan itu sangat dekat dengan lidah 
pasir volkanik dari volcanic arc Intra-Miosen. Reef-reef di utara yang sezaman 
dengan BJP tak akan punya lidah pasir volkanik semacam itu, terlalu jauh. Tapi, 
kita tak bisa memperkirakannya sebelum drilling. Kita bisa melihat ada 
kemungkinan impurities itu (lihat paper saya di Satyana, 2005, IPA : 
"Tectono-volcanic setting on Oligo-Miocene carbonates of Java"), tapi tak bisa 
memperkirakannya justru muncul di BJP. No one knows perfectly how Mother Earth 
operates. Tapi, sekarang kita tahu bahwa semua reef di pinggir selatan Kendeng 
Deep akan berpotensi ditutupi lidah pasir volkanik, semakin ke baratdaya dari 
BJP semakin besar risikonya.
 
salam,
awang
 
 
"Sunaryo Arman C." <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Pak Awang,

Ini agak melenceng sedikit dari topik utama, saya sebetulnya ingin tanya dari 
dulu tapi nggak sempat nulisnya. Di presentasinya Pak Rudi dulu ditunjukkan 
diagram prognosis vs actual dari sumur BP-1 yang saya lihat sangat berbeda, 
dalam arti batuan yang didapat sangat berbeda dengan yang diharapkan, Pak Awang 
bilang ada 3000 ft (1000 m) batupasir yang tidak diharapkan. Apakah pernah 
diadakan penelitian kenapa kok bisa begitu besar perbedaannya? 1000m batupasir 
kan mustinya mudah terlihat di seismik. Pada saat pengeboran dan diketahui ada 
penyimpangan dari prognosis apakah tidak dilakukan VSP atau check shot yang 
bisa digunakan sebagai bahan re evaluasi sebelum mengebor lebih jauh? Saya 
tanya ini karena dari pengalaman saya dulu kalau ada penyimpangan sampai 
beberapa puluh feet saja, kita akan berhenti dulu untuk run VSP atau check 
shot, dari situ kita mengambil keputusan apa yang akan dilakukan selanjutnya.

Arman 


----- Original Message ----
From: Awang Harun Satyana 
To: [email protected]
Sent: Tuesday, June 26, 2007 9:27:59 PM
Subject: RE: [iagi-net-l] Interpelasi Lapindo


BPMIGAS punya Bidang Operasi di mana di dalamnya ada Divisi Operasi
Lapangan. Divisi ini memonitor semua kegiatan operasi lapangan (survai
dan pemboran) yang sedang dilakukan Kontraktor. Kontraktor wajib
melaporkan kemajuan pekerjaan lapangannya ke divisi ini, juga ke divisi
lain yang berkaitan. Mengapa wajib ? Sebab, itu sesuai dengan amanat PP
42/2002 tentang BPMIGAS BAB IV Pasal 12 Huruf C : "Dalam menjalankan
tugas, Badan Pelaksana memiliki wewenang : mengawasi kegiatan utama
operasional kontraktor Kontrak Kerja Sama"

Apakah BPMIGAS bertanggung jawab kepada pelaksanaan operasi Kontraktor ?
Tidak diatur di aturan manapun. Tetapi bunyi kontrak PSC term antara
BPMIGAS dengan Kontraktor Section V tentang Rights and Obligations of
the Parties, Butir 5.2.4 : CONTRACTOR shall : be responsible for the
preparation and execution of the Work Program, which shall be
implemented in a workmanlike manner by appropriate scientific methods.
Apakah bunyi ayat ini bisa dipakai untuk dasar pertanggungjawaban
Kontraktor dalam keamanan drilling operation ? Saya pikir tak serta
merta, biar saja pihak Legal yang menyatakannya.

Kalau BPMIGAS tidak menyetujui BJP-1 dibor (tetapi Lapindo bisa saja
tetap mengebor BJP-1 hanya secara sole risk), kalau Kabupaten Sidoarjo
tidak memberikan izin lokasi kepada Lapindo untuk mengebor BJP-1, tentu
BJP-1 tidak akan dibor. Divisi Eksplorasi BPMIGAS menyetujui BJP-1 dibor
karena BJP-1 punya alasan eksplorasi yang baik dan secara teknis valid.
Dalam spirit meningkatkan produksi migas Indonesia, yang menjadi tujuan
Pemerintah Indonesia, BJP-1 layak disetujui. Divisi Eksploitasi BPMIGAS
telah mengecek design casing-nya dan dinyatakan aman.

Belum terpasangnya casing 9 5/8" sering dipakai sebagai alasan penyebab
semburan LUSI yang menurut satu versi disebabkan UGBO (underground blow
out). Mari kita lihat casing program yang diajukan Lapindo dan sudah
disetujui BPMIGAS. Casing 9 5/8" akan dipasang setelah sekian ft masuk
ke objektif utama yaitu batugamping Kujung I, diperkirakan depth casing
shoe tersebut adalah 8500 ft. Yang terjadi justru sejak dari kedalaman
sekitar 6000 ft muncul batupasir volkanik yang sama sekali tidak
diprediksikan kehadirannya. Saat kedalaman 8500 ft tercapai, batupasir
pun masih muncul, membuat tak mungkinnya menaruh casing shoe di lapisan
pasir. BPMIGAS pun memahami mengapa casing 9 5/8" tak diturunkan sesuai
program sebab tak ada satupun yang memprediksi kehadiran lapisan
batupasir setebal lebih dari 3000 ft tersebut. 

Secara administrasi BPMIGAS terlibat dalam persetujuan pemboran BJP-1,
secara administrasi Kabupaten Sidoarjo pun terlibat dalam pemberian izin
lokasi BJP-1. Kalau PSC Term Section V Pasal 5.2 Butir 5.2.4 bisa
dipakai sebagai acuan pertanggungjawaban Kontraktor atas keamanan
pelaksanaan operasi, maka Lapindo yang bertanggung jawab akan operasi
pemboran BJP-1. BPMIGAS memonitor kemajuan operasi BJP-1. Lapindo telah
melakukan program pemboran sesuai program yang diajukannya, modifikasi
harus dilakukan dalam penurunan casing 9 5/8" karena munculnya lapisan
pasir di tempat yang diperkirakan top Kujung di mana shoe 9 5/8" tadinya
mau dipasang.

Pertanyaannya : apakah PSC Term Section V Pasal 5.2 Butir 5.2.4 punya
sangsi hukum perdata maupun pidana ? Saya pikir tidak. 

Laporan Pemeriksaan BPK RI atas kasus LUSI (saya sudah mempelajarinya)
dan pendapat Pak Kurtubi boleh saja menyalahkan Departemen ESDM dan
BPMIGAS atas kelalaian pengawasan pemboran eksplorasi BJP-1. Tetapi,
sebaiknya sebelum berpendapat harap dipahami dulu aspek
legalitas/pidana/perdata PSC Term dan semua PP terkait serta kasus
lapangan BJP-1.

Salam,
awang

-----Original Message-----
From: Rovicky Dwi Putrohari [mailto:[EMAIL PROTECTED] 
Sent: Wednesday, June 27, 2007 7:52 C++
To: [email protected]
Subject: Re: [iagi-net-l] Interpelasi Lapindo

Mungkin kasus keterlibatan BPMIGAS hanya admin saja ?

rdp
"lebih prihatin penanganan ketimbang penyidikan"
====
Polisi Belum Temukan Keterlibatan BP Migas dalam Kasus Lumpur
Juni 27th, 2007

Selasa, 26 Juni 2007 | 17:10 WIB

TEMPO Interaktif, Surabaya:
Kepolisian Daerah Jawa Timur belum menemukan bukti keterlibatan Badan
Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (BP Migas) dalam
kasus semburan lumpur PT Lapindo Brantas di Porong, Sidoarjo.
Ketiadaan bukti ini membuat polisi kesulitan mengaitkan peran BP Migas
ke dalam kasus semburan lumpur, serta menjerat para pimpinannya
menjadi tersangka.

"Kami belum menemukan bukti konkret keterlibatan BP Migas," kata
Kepala Satuan Tindak Pidana Tertentu Polda Jawa Timur Ajun Komisaris
Besar I Nyoman Sukena saat dihubungi Tempo, Selasa (26/6) siang. Baca
entri selengkapnya > http://hotmudflow.wordpress.com/


On 6/27/07, [EMAIL PROTECTED] wrote:
> Presiden Harus Minta Pertangunjawaban BP Migas
> Rabu, 27 Juni 2007 | 01:55 WIB
>
> TEMPO Interaktif, Jakarta:Presiden seharusnya meminta
> pertanggungjawaban Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak
> dan Gas Bumi (BP Migas) atas semburan lumpur panas Lapindo di
> Porong, Sidoarjo, Jawa Timur. Semburan lumpur dikarenakan BP
> Migas tidak melakukan pengawasan dan peringatan pada saat
> pengeboran.
> Pengamat perminyakan Kurtubi menyatakan, seharusnya BP Migas
> memberikan peringatan kepada Lapindo Brantas pada saat
> pengeboran tidak memasang selubung (casing). Padahal pengawasan
> kepada kontrak kerja sama minyak dan gas bumi, kata dia,
> menurut Pasal 41 Ayat 2 dan Pasa 44 Ayat 22 Undang-Undang
> Minyak dan Gas Bumi No 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas
> bumi merupakan tugas dan tanggung Jawab BP Migas.
> "Yang memberikan peringatan pada saat tidak memasang casing
> adalah Medco sebagai patner di Lapindo Brantas dan bukan BP
> Migas," kata Kurtubi kepada Tempo, Selasa (26/6).
> Menurut Kurtubi, Presiden harus segera melakukan tindakan untuk
> meminta pertanggungjawaban BP Migas. "Jika tidak, maka Presiden
> bisa dituntut pertanggungjawaban sesuai Pasal 43 Ayat 3
> Undang-Undang No. 22 Tahun 2001" ujarnya. Menurut pasal itu,
> kata dia, BP Migas dalam melaksanakan tugasnya bertanggungjawab
> kepada presiden.
> Wakil Kepala BP Migas Abdul Muin mengatakan, pengawasan yang
> dilakukan pihaknya adalah pada saat pengajuan program kerja dan
> anggaran, perencanaan proyek dan pelaksanaan pengadaan barang.
> "BP Migas mengawasi apakah sudah sesuai dengan ketentuan yang
> berlaku atau tidak," katanya kepada Tempo, Selasa (26/6).
> Sedangkan pengawasan operasional harian, kata Muin, menjadi
> tanggung jawab kontraktor kerja sama. Begitu juga dengan pada
> saat pengeboran, apakah kontraktor memasang casing atau tidak
> juga menjadi tanggung jawab kontraktor. "Kami mengawasi pada
> saat tender casing, apakah sudah sesuai dengan ketentuan atau
> tidak," ujarnya.
> Sebelumnya, Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) telah mengeluarkan
> hasil pemeriksaan atas semburan lumpur panas Lapindo.
> Berdasarkan hasil audit BPK Departemen Energi dan Sumber Daya
> Mineral dan BP Migas tidak melakukan pengawasan atas kegiatan
> eksplorasi Sumur Banjarpanji-1 (BJP-1) sesuai dengan ketentuan.
> ALI NUR YASIN
>
>
>
>
> >> Nambahin dikit Mas Oki, ini sedikit OOT/bukan berhubungan
> >> dgn geologi.
> >>
> >> Pagi hari ini di kantor, teman-teman rame pada nanya: " ...
> >> kenapa Mr. Imam Augustino masih bisa menjawab sambil
> >> tersenyum di tengah penderitaan orang banyak seperti itu??"
> >> Wah wah wah, ... ini sih masalah kultur. Rada susah
> >> menjelaskannya tapi intinya begitulah, kebanyakan
> >> ekspresi/mimik orang Indonesia selalu "senyum" dan "ceria"
> >> meski isi pernyataannya menyedihkan atau tidak mengenakan.
> >> Jadi blm tentu bisa ditafsirkan "tersenyum di atas
> >> penderitaan org lain".
> >>
> >>
> >> On 18/06/07, oki musakti wrote:
> >>>
> >>> Sedikit menyimpang,
> >>> Tadi malam musibah Lusi ditayangkan di acara 60 Minutes
> >>> nya
> >>> channel 9 Australia.
> >>> Seperti biasa fokus bahasannya lebih pada sisi human
> >>> interest terutama masalah lebih dari 40 ribu pengungsi
> >>> yang sampai sekarang belum terurus dengan baik serta
> >>> adanya
> >>> Australian connection dalam bentuk participating interest
> >>> Santos di sini.
> >>>
> >>> Dari sisi sudut pandang, acara ini jelas-jelas
> >>> mengopinikan
> >>> bahwa Lusi adalah kesalahan drilling dari Lapindo.
> >>> Salah satunya disebutkan: 'The world's top experts agree
> >>> this was the straight out human error - most likely a
> >>> failure to shore up the walls of the bore hole with a
> >>> protective casing. '.......mungkin ini maksudnya adalah
> >>> 'top expert' yang gak hadir dalam seminar Lusi di BPPT....
> >>>
> >>> Buat saya ada satu hal yang sangat mengganggu: Narasumber
> >>> utama dalam acara ini adalah Dr Mark Tingay dari Adelaide
> >>> Uni. Sependek pengetahuan saya, belum pernah dengar Pak
> >>> Tingay ini melakukan penelitian di Sidoardjo. Kalau lihat
> >>> lontaran2 beliau, itu keliahatannya banyak yang langsung
> >>> diambil dari berbagai diskusi diberbagai milisout dari nya
> >>> Pak Dhe Vicki.
> >>>
> >>> Samasekali gak ada pendapat dari geologist Indonesia
> >>> apalagi pendapat resmi tim IAGI. Yang sudah berbulan-bulan
> >>> banting tulang melakukan penelitian disana.
> >>>
> >>> Kesimpulan dan moral of the story: Kita belum
> >>> dianggep.......
> >>>
> >>> Salam
> >>> Oki
> >>>
> >>> Unnatural disaster Sunday June 17, 2007
> >>> [image: Sidoarjo, East Java, Indonesia (AAP)]
> >>> Reporter: Peter
> >>>
Overton >>>>>
Producers: Howard Sacre
> >>> ,
> >>> Julia
> >>>
Timms >>>>>
*At first, we thought this can't be true, it's like some
> >>> sort of pre-historic disaster movie. But it's real all
> >>> right. A gigantic volcano of steaming hot mud as far as
> >>> the
> >>> eye can see.* It's already swamped a dozen villages on the
> >>> Indonesian island of Java - and we mean swamped. Houses,
> >>> factories, mosques, everything just swallowed by this
> >>> relentless tide. Forty thousand people have been left
> >>> homeless, without jobs, without hope. And the really
> >>> infuriating thing is, geologists are 99 percent certain
> >>> it's not a natural disaster. It's man-made. The prime
> >>> suspect is a big mining company with strong Australian
> >>> connections. *Transcript* PETER OVERTON: The world has
> >>> never seen anything like this - a gargantuan fountain of
> >>> mud gushing from the bowels of the earth. Some days, the
> >>> crater surges wildly, on other days it quietens down, but
> >>> it never stops. Too thick to drain away, it's burying
> >>> everything in its path. This is a tragedy of errors backed
> >>> by Australian money. A story of cover-up and suffering
> >>> that
> >>> goes all the way to Indonesia's presidential palace. Look
> >>> -
> >>> our first glimpse. There it is, there. DR MARK TINGAY:
> >>> Yeah, it is a huge, huge eruption. PETER OVERTON: Those
> >>> houses would just be inundated inside. DR MARK TINGAY:
> >>> They
> >>> are gone inside. They're just full - full of mud. Three
> >>> hundred and sixty degrees all around you for kilometres,
> >>> is
> >>> mud. PETER OVERTON: Even for a top geologist, this site
> >>> defies belief. Dr Mark Tingay, from Adelaide University,
> >>> couldn't wait to see the grand-daddy of all mudflows on
> >>> Indonesia's main island of Java, just west of Bali. It's
> >>> so
> >>> unpredictable, we're allowed just a few minutes at the
> >>> crater. DR MARK TINGAY: It's just incredible the amount of
> >>> mud and stuff that's coming out of here - all this fluid.
> >>> PETER OVERTON: A boiling, bubbling cauldron, about 100
> >>> metres across. This is extraordinary. DR MARK TINGAY: This
> >>> is amazing. This is certainly the biggest mud volcano
> >>> crater I've ever seen and I've seen some of the biggest
> >>> natural ones in the world. PETER OVERTON: How hot is it,
> >>> Mark? DR MARK TINGAY: This would be - I'd say the
> >>> temperature ranges from about 70 to 100 degrees Celsius so
> >>> it's very, very hot. You wouldn't want to put your hand in
> >>> it! PETER OVERTON: How long can this go for? How long
> >>> could
> >>> this mud keep spewing up from underneath us? DR MARK
> >>> TINGAY: Well, geologically, mud volcanoes could go on for
> >>> hundreds of thousands of years but, in terms of sort of
> >>> man-made eruptions like this, the longest we've seen them
> >>> go for is over 20 years. PETER OVERTON: No-one knows how
> >>> it
> >>> will end, but we do know how it started - with the mining
> >>> company's stuff-up. Here's what happened. This time, last
> >>> year, there were exploring for natural gas just to the
> >>> right of the plume of steam. Around here were rice paddies
> >>> and villages - you can see the roof of the local mosque
> >>> poking up through the mud just over there. Now, when the
> >>> drilling got to nearly 3km under the earth, it struck a
> >>> high-pressure zone and the result was catastrophic. DR
> >>> MARK
> >>> TINGAY: When they were drilling this well, they have
> >>> encountered this chamber, or this very large reservoir of
> >>> a
> >>> highly pressured water. They have lost control there -
> >>> that
> >>> water has started to come up the bore hole and then got
> >>> into another shallower level, brought up - captured all
> >>> this mud, eroded all this mud and clay as its come and
> >>> then
> >>> erupted to the surface. So about 200 metres away from
> >>> where
> >>> they were drilling. PETER OVERTON: The world's top experts
> >>> agree this was the straight out human error - most likely
> >>> a
> >>> failure to shore up the walls of the bore hole with a
> >>> protective casing. DR MARK TINGAY: We're 90 percent
> >>> certain
> >>> that this, that the drilling, is the trigger for this
> >>> event. PETER OVERTON: So, lives lost, thousands of lives
> >>> ruined through ineptitude? DR MARK TINGAY: 'Ineptitude' is
> >>> a pretty strong word, Peter. That is a very hard one
> >>> because we don't know what the conditions were when they
> >>> were actually drilling. However, certainly the only reason
> >>> you don't set casing is to cut costs. Because it takes
> >>> time
> >>> to set casing and time is money when you're drilling.
> >>> PETER
> >>> OVERTON: When it started a year ago, it was a small geyser
> >>> of mud and steam in a rice paddy. After a few days,
> >>> though,
> >>> all hell broke loose, causing a frantic exodus. Levy banks
> >>> and dams built in great haste collapsed just as quickly. A
> >>> year later, 12 villages are buried, 20 factories, roads
> >>> and
> >>> rice fields are inundated and nearly 40,000 people
> >>> displaced. We're not talking a trickle of mud here. We're
> >>> talking about something with enormous power and force
> >>> behind it, aren't we? DR MARK TINGAY: The mud is coming up
> >>> at a great pressure - rates of 100,000 cubic metres a day.
> >>> Now, in sort of layman's terms, that's the equivalent of
> >>> over 100 Olympics swimming pools a day. It is enough to
> >>> sort of fill up a standard house in just a few minutes,
> >>> your living room in 30 seconds. PETER OVERTON: Disasters
> >>> on
> >>> this scale normally attract immediate global aid, but not
> >>> here. The new homeless invent ways to survive. To see the
> >>> mud, there is an unofficial toll. Fifty cents to pass and
> >>> more to park, but can you blame them? Here, everyone is
> >>> fending for themselves but it's hard, hard work. This is
> >>> all to get to that factory that's deep in mud to plunder
> >>> all the lights, the electrical boxes, all the fittings in
> >>> there, then they'll go and sell them and make a quid so
> >>> they can live day-to-day. Today's haul is pretty good and
> >>> should yield a good price. After this, they went next door
> >>> and took away the roof. Sowagee, how quickly did the mud
> >>> come into your home? SOWAGEE (TRANSLATION): In the first
> >>> step was 15 minutes our villages was flooded. PETER
> >>> OVERTON: Sowagee and his family's tiny house was amongst
> >>> the first to go, and they lost everything. SOWAGEE
> >>> (TRANSLATION): I was trying to save my children first and
> >>> then all my stuff later. PETER OVERTON: Sowagee lost his
> >>> job, too, as a construction worker. He took us to his last
> >>> project, repairing a highway which is now the road to
> >>> nowhere, buried for ever. Who do you blame now? SOWAGEE
> >>> (TRANSLATION): This is the mistake of the drilling
> >>> company.
> >>> PETER OVERTON: Lapindo? TRANSLATOR: Lapindo? (SOWAGEE
> >>> NODS)
> >>> PETER OVERTON: Lapindo, an Indonesian mining company, is
> >>> public enemy number one. It's scrawled everywhere you look
> >>> and it's written across the furious faces in a nearby
> >>> shelter for the homeless. Ladies and gentlemen, who do you
> >>> blame for the situation you are in? VILLAGERS: Lapindo!
> >>> PETER OVERTON: Now this is where the waters really get
> >>> muddy. Lapindo, the mining company, says 'We're not to
> >>> blame!' And, wait for this - they say all this destruction
> >>> was triggered by an earthquake in Yogyakarta, 300km that
> >>> way, not by the drilling rig, which was only 200 metres
> >>> away. Did your company cut corners in the drilling
> >>> process?
> >>> IMAM AUGUSTINO: Oh, no. That one is not true. PETER
> >>> OVERTON: Despite mounting evidence, Lapindo boss Imam
> >>> Augustino refuses to budge from the company line that this
> >>> was a natural disaster. Do you believe it was triggered by
> >>> the earthquake? IMAM AUGUSTINO: This triggered by the
> >>> tectonic activities, not only not only the earthquake, but
> >>> these tectonic activities. PETER OVERTON: These tectonic
> >>> activities - you mean the earthquake Yogyakarta? IMAM
> >>> AUGUSTINO: Yeah, yeah. DR MARK TINGAY: It's difficult for
> >>> a
> >>> geologist, like myself, to believe that an earthquake
> >>> 200km
> >>> away and two days prior to the accident would have caused
> >>> such an event. We would have only had shockwaves to the
> >>> equivalent of about Richter scale two at the site where
> >>> the
> >>> eruption took place. Now, that's the equivalent of the
> >>> vibration you get through your feet when you stand next to
> >>> a road and a truck goes by. So it is a very, very light -
> >>> not a strong vibration, by any means. PETER OVERTON: This
> >>> calamity has cost lives, as well as livelihoods. Late last
> >>> year, 13 people died when the mud engulfed a gas pipeline,
> >>> causing a huge explosion. With little doubt that human
> >>> error caused all this mayhem, East Java police began
> >>> investigating. They've gathered a mountain of evidence so
> >>> far and they're still going. Are you one of the 13
> >>> suspects
> >>> being investigated by the police? IMAM AUGUSTINO: Yes.
> >>> Yep.
> >>> It is. PETER OVERTON: How does it feel living with that
> >>> over your head? IMAM AUGUSTINO: Of course, it's very hard.
> >>> PETER OVERTON: You could go to jail. IMAM AUGUSTINO: Yes,

=== message truncated ===




Ready for the edge of your seat? Check out tonight's top picks on Yahoo! TV.





Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru!


                
________________________________________________________ 
Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru! 
http://id.yahoo.com/

Kirim email ke