> Thx Awang
si Abah _________________________ Abah, > > > > Migrasi adalah salah satu faktor dari empat penyusun bangunan bernama > evolusi. Tiga faktor yang lain adalah seleksi alam, aliran genetika, dan > mutasi. Mengapa mereka bermigrasi ? Dalam evolusi, penyebabnya bisa dibagi > menjadi "push and pull factors". Faktor pendorong (push) menyebabkan > manusia tak betah di wilayahnya karena banyak hal, maka ia akan pergi ke > tempat lain. Faktor penarik (pull), manusia melihat di wilayah lain > mungkin kehidupan lebih baik, maka ia akan bermigrasi ke wilayah tersebut. > > > > Dengan berkembangnya zaman, faktor2 ini akan semakin kompleks. Untuk early > human population, jelas faktor2 ini sederhana saja. Barangkali, push > factors untuk mereka adalah : persaingan dengan sesama, bencana alam, > kondisi primitive. Pull factors di tempat lain bisa : enjoyment, family > link, security. > > > > Genographic project - suatu proyek raksasa untuk memetakan gen manusia di > seluruh dunia yang telah dimulai pada akhir 1990-an - sangat membantu > kita melacak rute migrasi manusia purba. Ketika manusia purba pertama > meninggalkan Afrika puluhan ribu tahun yang lalu, bermigrasi ke tempat2 > lain, mereka meninggalkan jejak genetic yang masih bisa dilihat sampai > sekarang. Dengan memetakan kenampakan dan frekuensi marker genetic pada > manusia-manusia masa kini di seluruh dunia, para ahli molecular > paleo-anthropologists dapat memperoleh gambaran kapan dan ke mana > manusia-manusia purba ini keluar dari Afrika dan mengembara ke mana. > > > > Dari peta migrasi manusia purba yang terbaru (2006), diketahui bahwa tak > ada lautan luas yang dilintasi oleh para nenek moyang manusia ini. Dari > Afrika mereka keluar terutama ke wilayah Eropa melalui pinggiran Laut > Tengah. Yang menuju Asia, mereka melalui wilayah > Mesopotamia-India-Malaya-Indonesia. Dan saat itu, migrasi besar2-an > terutama terjadi pada zaman glasiasi, saat jembatan darat banyak terbentuk > di wilayah laut yang kita kenal sekarang. Perahu pasti diperlukan, tetapi > bukan perahu untuk melewati lautan luas, hanya perahu untuk melewati celah > laut yang sempit. > > > > Seperti migrasi orang Cina ke Siberia (jadi orang Eskimo) di sana, lalu > menyeberangi land-bridge di Bering Sea sekarang, masuk ke Alaska, dan > terus menyusuri pantai menuju Amerika Utara dan akhirnya Amerika Selatan - > menjadi orang Indian di sana. Tak ada perahu yang diperlukan melintasi > samudera. Hipotesis Thor Heyerdhal tentang orang2 Amerika Selatan yang > menyeberangi Pasifik untuk menduduki gugusan kepulauan mikronesia di barat > Pasifik (yang lalu dicobai sendiri oleh Thor dan rekan2nya dengan > menggunakan rakit dari kayu balsa Kon Tiki) telah gugur oleh penelitian > biomolekuler mitokondria beberapa tahun yang lalu - bahwa penduduk > mikronesia berasal dari Asia - bukan dari Amerika Selatan. Implikasinya : > mereka tak perlu kapal besar melintasi Pasifik dari Amerika Selatan. > > > > Dengan kata lain, bisa dibilang bahwa migrasi manusia purba hampir > seluruhnya lewat daratan atau celah laut sempit saja. Tak ada teknologi > maju pada zamannya yang diperlukan. Kecepatan migrasi mereka pun lambat, > hanya 2-5 km sehari. > > > > Salam, > > awang > > > > > > > > From: [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED] > Sent: Friday, July 13, 2007 10:39 C++ > To: [email protected] > Subject: RE: [iagi-net-l] Ribuan Gunung Ribuan Artefak : Prasejarah Gunung > Seribu (Sewu) > > > >> > Awang > > Pertanyaan bodoh , degan kemapuan teknik seperti dua juta tahun ang lalu > ,"Bagaimanakah mereka bisa menyebrangi lautan". (1).Untuk alasan aa mereka > cape cape jalan jalan (walau mungkin secara bertahap) sejauh itu ? (2) > > si Abah > (yang masih bingung apa benar Adam da Hawa itu manusia pertama ?) > _____________________________________________________________________ > > Abah, >> >> >> >> Salah satu perdebatan yang paling sengit dalam paleo-antropologi (studi >> tentang asal manusia) adalah tentang asal-usul manusia modern, Homo >> sapiens. Untuk hal ini terdapat dua mazhab besar pemikiran : (1) >> penganut >> "out of Africa theory", dan (2) penganut "multiregional origin". Kira2 >> 100 >> ribu tahun yang lalu, dunia kita diduduki oleh berbagai hominid : di >> Africa dan Middle East ada Homo sapiens; di Asia, Homo erectus; di >> Eropa, >> Homo neanderthalensis. >> >> >> >> Tetapi, 30,000 tahun yang lalu taxonomic diversity ini "tiba-tiba" >> hilang >> dan manusia atau hominid di seluruh dunia berevolusi menjadi bentuk2 >> yang >> secara anatomic dan tingkah lakunya sudah seperti manusia modern >> sekarang. >> Bagaimana mekanisme transformasi ini melahirkan dua mazhab pemikiran di >> atas ? >> >> >> >> (1) Out of Africa theory: homo sapiens muncul di Africa dan bermigrasi >> ke >> seluruh dunia menggantikan semua spesies hominid sebelumnya, termasuk >> Homo >> erectus. (2) Multiregional theory: Homo erectus meninggalkan Africa 2 Ma >> untuk menjadi Homo sapiens di berbagai tempat di dunia. >> >> >> >> Aspek2 kritis teori out of Afrika : >> >> - Setelah Homo erectus bermigrasi keluar dari Afrika, berbagai >> populasi secara reproduksi menjadi terisolasi, dan berevolusi saling >> tidak >> bergantung sehingga akan menjadi spesies2 yang macam-macam seperti >> manusia >> Neanderthal (ini serangan buat multiregional), >> >> - Homo sapiens hanya terjadi di Afrika, lalu menyebar keluar, >> >> - Homo sapiens tersebar keluar dari Afrika dan menggantikan semua >> populasi manusia yang ada di wilayah yang didatangi tanpa mengadakan >> interbreeding (perkawinan campur antar spesies) >> >> - Variasi manusia modern terjadi belum lama ini (recent) >> >> >> >> Aspek2 kritis teori multiregional : >> >> - Aliran gen antara wilayah2 yang secara geografik terpisah akan >> mencegah spesiasi (pembentukan spesies baru) (ini serangan untuk out of >> Africa), >> >> - Semua manusia berasal dari spesies Homo erectus yang >> meninggalkan Afrika dua juta tahun yang lalu, >> >> - Seleksi alam dalam populasi regional, yang terjadi sejak >> migrasi pertama, bertanggung jawab bagi timbulnya variasi regional (ras) >> seperti yang kita lihat sekarang, >> >> - pembentukan Homo sapiens tak mesti terbatas ke satu tempat, >> tetapi bisa di mana saja di mana manusia pernah hidup. >> >> >> >> Manakah yang benar di antara dua kontroversi ini ? Bukti2 anatomik, >> arkeologi, dan gen akan menjawabnya. Dalam pengamatan saya, secara kasar >> bisa dibilang bahwa 80 % ahli paleoantropologi mendukung "out of Africa" >> theory. Lebih2 kemajuan pemetaan gen manusia (genome project) 2-4 tahun >> belakangan ini sangat mendukung "out of Africa". Bukti2 anatomik, >> arkeologi, dan gen menunjukkan bahwa manusia modern adalah produk >> evolusi >> yang sangat resen berasal dari model Out of Africa. Jarang saya >> menemukan >> buku paleoantropologi popular yang tidak menganut out of Africa. >> >> >> >> Ini berimplikasi kepada hominid2 di Indonesia : bahwa semua Homo erectus >> di Trinil dan semua turunannya di Solo dan Wajak punah pada suatu zaman >> di >> sekitar 30.000 tahun yang lalu dan digantikan oleh manusia modern yang >> datang dari Afrika. Homo floresiansis yang umurnya 50.000-20.000 tahun >> menjadi menarik statusnya, kapan2 kita bisa bahas lagi si hobbit ini.. >> >> >> >> Salam, >> >> awang >> >> >> >> > From: [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED] >> Sent: Wednesday, July 11, 2007 3:08 C++ >> To: [email protected] >> Subject: Re: [iagi-net-l] Ribuan Gunung Ribuan Artefak : Prasejarah >> Gunung >> Seribu (Sewu) >> >> >> >>> >> >> Awang >> >> Sangat menarik mengikuti ceritera arkeologi ini , dan tentunya kita >> tidak >> perlu berkecil hati bahwa buku geologi "kalah" bersaing di Toko Buku. >> Hal ini tentunya karena arekologi masih "dekat" degan manusia sekarang , >> walaupun gempa dan tsunami malahan masih berlangsung dan menghantam kita >> sampai saat ini. >> "Out of Afrika Theory ", apakah itu ? Apakah theory yang menyatakan >> bahwa >> homo erectus "lahir " di Afrika ? dan bukan hasil evolusi regional dari >> manusia kera ? >> >> si Abah >> >> _________________________________________________________________________ >> >> >> >> >> Sebuah buku baru (2007) tentang geologi dan arkeologi bisa dilihat di >>> toko-toko buku besar. Buku ini berjudul, "Ribuan Gunung, Ribuan Alat >>> Batu >>> : Prasejarah Song Keplek, Gunung Sewu, Jawa Timur", diterbitkan oleh >>> KPG >>> (Kepustakaan Populer Gramedia) yang bekerja sama dengan banyak lembaga >>> : >>> Ecole Francaise de'Extreme-Orient, Institut de Recherche pour le >>> Developpement, Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional >>> (Puslitbang Arkenas), dan Forum Jakarta-Paris. Buat rekan-rekan yang >>> kemarin ini (mid-Juni 2007) sempat ke pameran buku selama seminggu di >>> Istora Senayan, beruntunglah karena buku ini dijual dengan harga >>> discount >>> yang lumayan. Buku ini semula adalah disertasi doktor Hubert Forestier >>> dari Museum National d'Histoire Naturelle, Paris yang mengajukan >>> disertasinya pada tahun 1998 di Paris. Buku diterjemahkan oleh tiga >>> orang >>> dan disunting oleh Prof. Dr. Truman Simanjuntak, ahli arkeologi >>> terkenal >>> dari Puslitbang Arkenas. >>> >>> >>> >>> Dalam pengamatan saya, tahun-tahun belakangan ini buku-buku populer >>> maupun >>> teknis tentang kepurbakalaan Indonesia masuk ke toko-toko buku umum. >>> Sebelum ini, ada Prasejarah Asia Tenggara (Belwood, 2004), buku bagus >>> dan >>> sangat lengkap - patut menjadi referensi-tentang kepurbakalaan >>> Indonesia >>> dan sekitarnya, lalu ada "Prasejarah Gunung Sewu" (Ikatan Ahli >>> Arkeologi >>> Indonesia, 2004) yang memuat puluhan artikel hasil penelitian arkeologi >>> di >>> Gunung Sewu, disunting oleh Prof. Truman Simanjuntak dkk. Lalu, tahun >>> lalu >>> pun ada "Arcahaeology, Indonesian Perspective : R.P. Soejono >>> Festschrift" >>> (LIPI dan International Center for Prehistoric and Austronesian >>> Studies, >>> 2006) yang memuat 45 paper penelitian arkeologi di Indonesia (ada tiga >>> artikel geologi di dalamnya). Buku ini pun disunting oleh Prof. Truman >>> Simanjuntak dkk. "Festschrift" (jerman) adalah mélange dalam bahasa >>> Prancis, atau bancuh dalam bahasa Indonesia alias bunga rampai atau >>> anthology - kumpulan tulisan macam-macam. >>> >>> >>> >>> Buku-buku tentang prasejarah Cekungan Bandung hasil penelitian KRCB >>> (Kelompok Riset Cekungan Bandung -Budi Brahmantyo, T. Bachtiar dkk.) >>> juga >>> bisa ditemukan di Gramedia Bandung (kalau masih ada). Menggembirakan, >>> buku-buku kebumian sudah masuk ke toko-toko buku umum. Hanya, bidang >>> arkeologi kelihatannya lebih agresif dibandingkan bidang geologi. >>> >>> >>> >>> Kembali ke buku Prasejarah Song (Gua) Keplek, Gunung Sewu (Forestier, >>> 1998, 2007), ini adalah buku yang bagus dan komprehensif walaupun >>> teknis. >>> Meskipun wilayah penelitiannya lebih kepada industri litik Song Keplek >>> termasuk analisis detail tipologis ribuan alat batu yang ditemukan di >>> gua >>> ini, cukup banyak keterangan tentang tatanan geologi dan arkeologi >>> Gunung >>> Sewu secara umum. Gunung Sewu adalah salah satu "taman firdaus" >>> prasejarah >>> Indonesia. >>> >>> >>> >>> "Bahan alat-alat serpih ini semestinya berasal dari Pegunungan >>> Selatan", >>> demikian kurang lebih kata-kata salah seorang perintis penelitian >>> arkeologi Indonesia G.H.R. von Koenigswald ketika dia menemukan artefak >>> serpih di Bukit Ngebung, Sangiran pada tahun 1934. Setahun kemudian, >>> Koenigswald bersama M.W.F. Tweedie dari museum Raffles di Singapura >>> mengunjungi wilayah Punung, Pegunungan Selatan, dan di situlah taman >>> firdaus situs arkeologi paleolitik yang sangat kaya baru terbuka : Kali >>> Baksoko. Betapa senangnya Koenigswald kala itu, konon kabarnya sampai >>> ia >>> menggelar pertunjukan wayang tujuh hari tujuh malam untuk masyarakat >>> Punung. Kala itu, 3000 artefak telah berhasil ditemukan dari wilayah >>> Punung. Dan lebih dari 70 tahun kemudian sampai sekarang melalui >>> berbagai >>> penelitian arkeologi yang intensif kita menjadi tahu bahwa wilayah >>> Gunung >>> Sewu adalah suatu wilayah kompleks hunian prasejarah yang sangat luas, >>> intensif, dan berkesinambungan dalam rentang Plistosen-Holosen. >>> >>> >>> >>> Proses adaptasi terhadap lingkungan dan pengaruh luar telah menciptakan >>> dinamika budaya yang berkembang, mulai dari yang bercorak paleolitik, >>> mesolitik-preneolitik, neolitik, sampai paleometalik pada masa >>> prasejarah. >>> Manusia datang ke wilayah ini dan mendiami lembah-lembah sempit di >>> antara >>> perbukitan karst yang membentuk gua-gua dan daerah aliran sungai >>> seperti >>> Lembah Sungai Baksoko. Ketersediaan berbagai sumberdaya, seperti batuan >>> yang baik untuk perkakas, air, fauna, dan flora di lingkungan >>> sekitarnya >>> menjadi penopang kehidupan berkelanjutan dalam rentang ratusan >>> ribu-jutaan >>> tahun. >>> >>> >>> >>> Gunung Sewu dikenal sebagai tempat yang secara geologi dan geografi >>> terpisah dari bagian Pulau Jawa lainnya. Daerah ini terjal dan >>> memanjang >>> antara Parangtritis dan Pacitan. Di tengah-tengah iklim yang cukup >>> kering >>> sepanjang tahun, relief bukit-bukit kapur yang bentuknya tidak seragam >>> dan >>> menghadap ke Lautan Hindia menyediakan banyak gua, aliran sungai serta >>> rijang. Rijang berkualitas baik ini dipakai manusia prasejarah untuk >>> membuat berbagai perkakas yang diperlukan. Gunung Sewu adalah tempat >>> ideal >>> bagi hunian masa lalu, bukit-bukitnya sangat sering didatangi oleh >>> manusia >>> prasejarah dari periode manapun. Alat-alat bifasial, kapak, dan aneka >>> ragam alat padat merupakan karya dan jejak-jejak yang ditinggalkan oleh >>> Homo erectus, sebagai pembawa ketrampilan teknis dan kebudayaan >>> Acheulean >>> (Acheulean = sekuen kebudayaan Paleolitik Bawah yang dicirikan oleh >>> perkakas kapak genggam dan kapak pembelah). >>> >>> >>> >>> Benda-benda padat Acheulean yang juga ditemukan orang di Eropa, Afrika, >>> negara-negara Iran-Irak, India, Nepal dan Cina lalu Indonesia >>> menunjukkan >>> bukti kedatangan Homo erectus setelah perjalanan jauh yang dimulai >>> sedikit >>> kurang dari dua juta tahun yang lalu dari daratan Afrika ("out of >>> Africa" >>> theory). Dan, justru di alur Sungai Baksoko, yang terletak tidak jauh >>> dari >>> kota Pacitan inilah perkakas Acheulean ini ditemukan. Situs ini >>> kemudian >>> menjadi sangat terkenal di dunia arkeologi dan memberikan nama pada >>> salah >>> satu kebudayaan Paleolitik Bawah yang termasyur : kebudayaan >>> Pacitanian. >>> >>> >>> >>> Dan itu ada di Pacitan, Jawa, tak jauh dari kita. Semoga kita mengenal >>> dan >>> menghargai situs-situs penting buat dunia ini. Buku-buku arkeologi yang >>> belakangan banyak diterbitkan sangat membantu pengenalan akan hal itu. >>> >>> >>> >>> Salam, >>> >>> awang >>> >>> >>> >>> >> >> > >

